CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 89. AJARAN MBAK RETNO


__ADS_3

Bram duduk sebagai imam, dia menggunakan sarung milik almarhum abah yang masih tersimpan di lemari.


Aisyah duduk sebagai makmum dalam mukena putih bersihnya, mengikuti gerakan Bram yang memimpin dengan khusuk di depannya. Bram sungguh terharu bahkan hampir menitikkan air matanya. Pertama kali dalam hidupnya mengimami istrinya sendiri.


Begitu banyak waktu terbuang sia-sia dalam perjalanannya mengejar kenikmatan dunia, mengubangi diri dalam maksiat sehingga dia lupa kalau dulu dia adalah seorang imam dalam keluarga, seorang imam yang tak pernah mengimami orang lain.


Betapa damai hatinya berjamaah seperti ini dan melantunkan segala puja puji pada sang pencipta bersama-sama dengan orang yang di cintainya.


Tuhan menjodohkannya pada seseorang yang begitu polos nyaris tak tercoret cela, dan kesadaran membangunkannya untuk kembali ke jalan yang telah lama di lupakannya.


Semua terasa aneh, saat dia dengan khusuk memimpin istrinya, Aisyah dalam sujud seakan sedang menunjukkan jalan Allah yang senantiasa dirindukan setiap orang di dunia ini.


Bibir Bram gemetar melafalkan kalimat Al-fatihah. Betapa khusuknya Bram dalam sholatnya malam ini.


Diah tak bisa menjabarkan perasaannya, ketika rasa tenang yang aneh itu merasuk jiwanya, betapa dia di hantar begitu dekat pada Allah, ketika usai sholat itu dia berbalik dan Aisyah beringsut padanya, menciumi punggung tangannya dengan takzim.


Di ciumnya dengan lembut dahi Aisyah, di ucapkannya sebaris do'a seraya dia meletakkan bibirnya di dahi Aisyah,


"Ya Allah, satukan kami selama dalam kebaikan, dan pisahkan kami selama dalam kebaikan. Berilah istriku umur panjang dan ketaatan padaMu, lancarkan semua rizkiku dalam kehalalan, berikan aku kesabaran dan kebijakan dalam membimbingnya sehingga aku bisa membahagianya dunia dan akherat. Amin ya Allah."


...***...


Bram duduk di pinggir tempat tidur, menatap Aisyah yang baru selesai melipat sajaddah dan melepaskan mukenanya.


"Kita akan tidur di sini?" Bram mengerutkan kening, baru memikirkan bagaimana bisa dia tidur di tempat tidur yang hanya muat satu orang ini.


"Bagaimana lagi? Mas Bram mau kita tidur di bawah?" Aisyah memasukkan lipatan sajjadah dan mukena ke dalam lemari.


"Memangnya ada bed yang lain?" Tanya Bram. Aisyah menggeleng sambil menunjukkan sebuah tikar yang tergulung di sudut kamar.


"Kita bisa menggelar tikar itu, kalau dipan Aisyah tidak muat untuk berdua." Usul Aisyah.


Bram mengerutkan dahinyanya, dan menggeleng tanda menolaknya, dia menggoyang-goyangkan tubuhnya yang tinggi besar itu. Bunyi sedikit berderit terdengar.


"Mas Bram sedang apa?" Tanya Aisyah.


"Test Drive." Jawab Bram sekenanya.


"Test Drive? mas Bram test drive di atas tempat tidur? Seperti mau mengenderai motor saja." Oceh Aisyah.

__ADS_1


"Kamu motornya." Sahut Bram terkekeh merasa lucu dengan ucapannya sendiri, selera humornya kelas tua, sementara si gadis belia ini hanya nyengir tak mengerti.


"Ayolah, kemari..." Bram merentangkan tangannya dengan tak sabar. Dia ingin segera memeluk istrinya itu.


"Tunggu sebentar..."


"Apa lagi?"


"Aku akan membuatkan susu dulu."


"Susu? untuk siapa? bukankah Tito sudah kamu ungsikan menginap di rumah mpok Mumun malam ini."


"Susu untuk mas Bram." Jawab Aisyah pendek.


"Eh, susu untukku? Aku tak suka minum susu. Aku sukanya minum kamu saja."


"Tapi, itu susu di berikan mbak Retno, katanya harus di minum oleh mas Bram."


"Hahhh...susu dari mbak Retno?" Bram melotot dengan curiga.


Aisyah menganggukkan kepalanya dengan tanpa dosa.


"Susu apa?"


"Haaaah...susu kuda liar?" Bram melongo, matanya berkilat. Sedikit tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Kata mbak Retno bagus untuk mas Bram supaya tidak kecapean. Hari ini kan, mas Bram capek seharian jadi pengantin. Nanti mas Bram bisa tidur nyenyak setelah meminumnya." Jawab Aisyah dengan polos, hanya sekedar copy paste penjelasan mbak Retno tadi sore.


"Astaga, si Retno itu bener-bener keterlaluan, dia meragukan kemampuanku, mentang-mentang aku sudah sedikit berumur. Mesinku biarpun sudah sedikit tua masih bagus kali..." Mulut Bram bergumam setengah mengomel.


"Aisyah buatkan susunya dulu, ya?"


"Oh...iya...iya...buatkan cepat. Aku tak sabar meminum susu mbak Retno itu." Sahut Bram sambil menggulung sarung di pinggangnya. Gemad tapi senang. Lumayanlah jaga-jaga, siapa tahu onderlil lama tak terpakai memang perlu sedikit di beri dop!ng@n.


Aisyah segera keluar kamar sementara Bram segera mencari posisi nyaman untuk berbaring, menepuk-nepuk bantal tipis yang akan menjadi tempat mereka berdua meletakkan kepalanya sambil memperkirakan tempat yang pas di mana hari ini ritual hajatan belah duren ini di laksanakan.


Tak berapa lama, Aisyah muncul di depan pintu dengan segelas susu hangat.


"Mas Bram minumlah selagi hangat, aku sudah memanaskannya..." Aisyah memberikan gelas susu itu pada Bram. Dengan segera Bram meraihnya. Bau kecut masuk kerongga hidungnya.

__ADS_1


"Um..." Bram menengaknya, rasanya yang kecut masam itu membuat alis Bram naik tinggi sambil menelannya. Dia berusaha meminumnya, tetapi setengah jalan dia menghentikannya. Rasa susu kuda liar ini memang aneh. Bram yang tidak menyukai susu seketika merasa eneg.


"Kenapa? tidak enak?" Aisyah yang duduk di pinggir tempat tidur tepat di sebelah Bram, menaikkan alis hitam legamnya dengan penasaram pada ekspresi sang suami.


Bram menyodorkan susu yang masih bersisa setengah itu.


"Coba kamu rasa."


Aisyah dengan bingung dan penasaran mencicipinya sedikit.


"Hoeeeek..." Aisyah langsung merasa hendak muntah, ketika susu itu sampai di dalam mulutnya.


"Susunya basi!" Tuduh Aisyah sambil mengeluarkan lidahnya karena rasa asamnya.


Bram tertawa melihat ekspresi Aisyah.


"Aku akan membuangnya." Aisyah hendak berdiri tetapi Bram menahannya.


"Itu memang rasanya Aisyah...namanya juga susu kuda liar."


Bram mengambil gelas dari tangan Aisyah.


"Sini mas Bram habiskan, kasihan lho mbak Retno pasti sudah bersusah payah mencarinya untuk hadiah malam pert@m@ kita." Bram menghabiskannya dengan sekuat jiwa. Hingga susu dalam gelas itu habis tanpa sisa.


"Sekarang kita lihat seberapa besar reaksi kuda liar itu..." Bram meletakkan gelas di tangannya ke meja yang terletak dekat kepala dipan. Lalu dengan perlahan dia duduk di sebelah Aisyah yang tampak menunggu dengan pasrah.


"Istriku Aisyah..." Bram meraih pinggang Aisyah, menariknya lebih dekat. Nafas mereka bertukar hangat, Bram menyusupkan kepalanya ke belakang telinga Aisyah dan menciumi dengan penuh gair@h.


"Apalagi yang di ajarkan mbak Retno padamu?"


"Kata mbak Retno, kalau mas Bram melakukan apapun, pasrah saja. Jangan menjerit, cukup mendes4h" Jawab Aisyah dengan tersipu.


"Astaga, mbak Retno memang guru yang luar biasa, harusnya dia menyandang guru percintaan teladan senusantara!"




(Yeaaaay, khusus senin kita double UP ya🤭🤭🤭 biar pembaca senang dan Votenya di lempar ke Mak Othor ini Yang sabar ya menunggu belah duren, namanya juga pemula si neng Aisyah, harus pelan-pelan ora grasa grusu seperti kata mbak Retno😂🤣🤣🤣)

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis


__ADS_2