CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 18. TAK BISA MEMBELI RASA


__ADS_3

Keringat di dahi Bram sebesar biji jagung, bukan karena tentengannya dalam dua kantong plastik kiri kanan itu, tetapi karena berdesakan di dalam pasar yang cukup ramai tadi.


Seumur hidup Bram tak pernah merasakan sensasi seperti tadi, mengikuti kemana langkah Aisyah.


Sebenarnya Aisyah menolak Bram membawa belanjaannya,


"Saya bisa sendiri, mas..." Kata Aisyah.


"Di mana harga diriku sebagai lelaki jika membiarkanmu menenteng belanjaan segitu banyak, sementara tanganku sendiri kosong. Aduh, Aisyah...tolong jangan permalukan aku." Bram melirik ke kiri dan kanan, dia malu sendiri karena merasa tatapan orang seolah heran melihat dirinya hanya mengikuti langkah Aisyah tetapi membiarkan perempuan itu membawa sendiri kantong belanjaannya.


Bram tak putus terpesona dengan sikap Aisyah, bahkan saat dia memilih beberapa macam sayuran, perempuan cantik ini berbicara santun pada siapapun dan selalu tak lupa mengucapkan terimakasih setelah selesai membayar.


Bram sendiri setelah menerima sesuatu jarang sekali mengucapkan kata keramat itu, dia merasa telah membayar jasa atau barang yang di terimanya jadi tak perlu baginya berbasa-basi dengan kata terimakasih.


Tetapi pengalaman yang paling tidak mengenakkan bagi Bram ketika masuk ke pasar ikan, bau amis seolah menyeruak ke udara.


"Astaga, Aisyah...bagaimana kamu bisa tahan berbelanja begini." Keluh Bram sambil menutup hidungnya


"Aku setiap hari selalu singgah ke pasar ini sebelum membantu mbok Tiah memasak ke warung mengambil pesanan ikan, ayam dan daging. Jadi, tak ada yang aneh lagi..."


"Tapi, bau amis ini..."


"Mas Bram tidak pernah ke pasar?"


"Tidak."


"Kata abah mas Bram pernah menikah..."


Bram sempat tertegun mendengar kalimat yang di ucapkan Aisyah dengan malu-malu itu. Tampak sekali Aisyah sendiri kurang nyaman dengan ucapannya, tapi dia keceplosan begitu saja.


Dia hanya mendengar abah mengatakan sambil lalu kalau Bram bisa hampir tiap pagi muncul di beranda rumah mereka setelah kadang-kadang membantu abah membersihkan mesjid setelah usai sholat subuh karena dia sudah duda.


"Iya, tapi apa hubungannya dengan pasar?"


"Istri mas Bram tidak pernah ke pasar?" Tanya Aisyah dengan polos.

__ADS_1


"Itu...eh...aku tidak terlalu tahu..." Bram menjawab dengan salah tingkah.


"Mas Bram tidak pernah menemani istri mas Bram ke pasar?" Tanya Aisyah lagi terlihat heran.


"Eh, tidak...sebenarnya tidak pernah...biasanya Bi Irah mungkin yang ke pasar, aku belum pernah melihat Diah pergi ke pasar." Bram menjelaskan dengan sedikit bingung, entah memang Diah yang tak pernah ke pasar atau dia yang jarang berada di rumah sehingga tak tahu jika mantan istrinya itu pernah pergi ke pasar.


"Istri mas Bram tidak pernah ke pasar?" Tanya Aisyah dengan polosnya.


"Tidak...maksudku...pernah tapi ke swalayan mungkin..." Bram tergagap, dia benar-benar tak bisa menjelaskan apa-apa soal sederhana yang di tanyakan Aisyah.


"Oh, memang kalau orang kaya jarang mau ke pasar seperti ini." Aisyah tersenyum, menyudahi pembicaraan mereka soal pasar ini karena melihat Bram seperti kehilangan kata-kata.


Bram sendiri meski memaksa ingin membayar belanjaan Aisyah, di tolak perempuan ini dengan keras.


"Aku mempunyai uang sendiri, mas."


"Tapi aku ingin membayarnya."


"Aku sudah sangat tertolong mas Bram mau mengantarkan bahkan menemaniku ke pasar hari ini. Jadi, mas Bram tidak usah membayar apapun."


"Tidak usah, mas. Uangku juga lebih dari cukup. Aku sudah menyisihkan dari gajihku secara khusus untuk membuat masakan kesukaan abah di hari ulang tahunnya."


Bram benar-benar tak tahu harus berkata apa, hanya untuk belanjaan tidak melebihi dua ratus ribu itu, Aisyah telah menyisihkan uang dari kebutuhan mereka sehari-hari.


Dia tak pernah berfikir, betapa berartinya sejumlah uang seperti itu untuk orang-orang tertentu.


"Tapi itu sungguh tak seberapa..."Bram mengeluarkan uang dari dompetnya, beberapa lembar merah tetapi Aisyah sekali lagi menolaknya.


"Aku tahu ini tidak seberapa untuk mas Bram tetapi aku merasa lebih bahagia bisa memberikan sesuatu di hari ulang tahun abah ini, yang benar-benar dari hasil kerja kerasku. Meski mungkin hanya memasakkan sebuah menu makan siang yang lebih spesial dari biasanya, tetapi aku bisa membahagiakannya tanpa harus menadah tangan pada orang lain, itu sangat istimewa." Kalimat penolakan itu terdengar halus tetapi tegas bahwa dia tak mau menerima uang pemberian Bram.


"Tapi..."


"Mas Bram, rasa banggaku bisa menunaikan tugasku sebagai anak, melihat senyum abah adalah kepuasan tersendiri. Aku telah menjanjikan abah jauh-jauh hari, membuatnya semur jengkol, opor daging dan lontong sayur kesukaannya di hari ulang tahunnya, biarkan aku menepatinya dengan usahaku sendiri."


Bram benar-benar terkesima berkali-kali, pertama kali dia bertemu perempuan yang menolak uang atau pemberian darinya, kemudian dia baru tahu betapa berarti nilai uang bagi orang-orang yang hidupnya sungguh sederhana seperti Aisyah, dan hal lain yang membuatnya merasa dirinya begitu kecil, uang tak bisa membeli rasa puas dan bangga dari seorang Aisyah untuk membahagiakan orang tuanya.

__ADS_1


"Terakhir, kita ke tempat daging, letaknya di bagian ujung pasar ikan ini." Kata Aisyah dengan wajah berbinar. Dia mengangkat sedikit roknya yang panjang karena lantai yang basah. meski tak lebih dari mata kaki.


Suara para pedagang bersahutan ramai dengan para pembeli, Bram merasa kepalanya pusing, bau keringat orang-orang bercampur baur dengan bau ikan dan ayam potong.


Pasar ini sungguh luar biasa di mata Bram. Wajahnya memerah karena sedikit rasa mual.


"Mas Bram tidak keberatankan membawa kantong belanjanya? atau aku bisa membawa satu kantong itu supaya mas Bram...."


"Oh, tidak apa-apa. Masa membawa belanjaan seringan ini aku tidak bisa, jangan meremehkanku begitu." Bram memotong kalimat Aisyah sambil mengikuti langkah Aisyah, sesekali dia khawatir ketika Aisyah harus berdesakan dengan beberapa pembeli melewati blok lapak-lapak jualan itu.


Aisyah segera menyapa seorang penjual daging yang sepertinya audah sangat di kenalnya.


"Assalammualaikum Mang Diding, sekilo ya..." Aisyah menunjuk paha sapi yang bergantung di depannya.


"Eh, neng Aisyah..." Mang Diding yang berperawakan gempal dan tidak terlalu tinggi itu menyambutnya dengan riang.


"Sekilo aja, neng?"


"Iya,"


"Tumben?"


"Oh, ini untuk konsumsi sendiri, bukan untuk warung jadi cuma sekilo saja...."


"Bukan itu, neng..." Mang Didin menyengir lucu. Alis Aisyah bertaut bingung melihat wajah mang Diding.


"Maksud mang Diding, tumben hari ini bawa suami?" Goda mang Diding, matanya melirik pada Bram yang ada di belakangnya, menenteng dua kantong kresek ukuran sedang dengan bermacam isinya.


Wajah Aisyah memerah, semerah jambu matang.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2