CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB. 81 BABAK BARU


__ADS_3

Pertemuan itu berlangsung hangat, Bram mengumumkan keinginannya untuk menikahi Aisyah dengan resmi. Dan kedua belah pihak tanpa banyak perdebatan lagi langsung menyetujuinya.


"Jika jodohnya Aisyah sudah sampai saya selaku ibunya, hanya bisa merestuinya dengan do'a." Kalimat itu di ucapkan Atifa dengan lembut sambil memegang dagu Aisyah yang tersipu.


Faraz hanya terlihat bengong, mencuri pandang pada Atifa hampir di sepanjang pertemuan itu, dia menatap Atifa seolah baru pertama kali melihatnya.


Aisyah telah menceritakan awal mula perjumpaannya dengan Bram sepanjang malam, sampai meninggalnya abah, bahkan abah telah mempercayakan Bram menjaganya. Dan Atifa tak keberatan putrinya dipersunting oleh Bram, karena almarhum kakaknya pun begitu percaya pada Bram.


Atifa bisa menerima dia tak lagi satu kapal dalam pernikahan dengan Faraz, dan dia merasa bahwa cukup mereka berdua menjadi orangtua Aisyah tanpa perlu kembali ke biduk yang sama. Dia tak ingin kembali pada Faraz. Dan Aisyah sendiri mengerti benar, luka yang di jahit selalu meninggalkan bekas. Tak pernah benar-benar sembuh. Dia tak memaksa ibunya menerima ayahnya.


"Mama, papa, ayah, ibu...saya rasa semua sudah tahu maksud pertemuan ini." Bram berucap dengan percaya diri.


"Maksudnya, kita bertemu dan saling mengenal satu sama lain, sebagai keluarga baru, kan?" Goda mama Bram sambil melempar senyum pada Atifa dan Faraz, orang tua Aisyah ini terlihat canggung. Penampilan mereka sederhana dan santun, seperti halnya Aisyah.


"Iya, sebenarnya lebih dari itu." Bram tersenyum sambil sempat-sempatnya mengedipkan matanya pada Aisyah.


"Lebih dari itu?" Papa Bram mengernyit dahinya yang sudah berkerut karena usia itu.


"Aku ingin segera menikah dengan Aisyah. Secepatnya." Tandas Bram dengan raut masam mesem.


"Ya, tidak masalah. Kalau kalian berdua siap lahir batin." Sahut papa Bram sambil terkekeh melihat semangat putra semata wayangnya itu.


"Aku sih siap, Pa." Sahut Bram cepat tanpa malu-malu lagi.


"Aisyah bagaimana?" Mama Bram melirik Aisyah yang duduk di seberang meja makan itu, yang tersenyum malu sedari awal dia melihatnya hari ini.


Wajah gadis itu terlihat berbeda dari sebelumnya, terlihat begitu cerah dan bersinar.


"Terserah mas Bram saja."'Jawabnya, sambil memegang pergelangan tangan ibunya, masih saja tak bisa menepis rasa malu jika di tanya soal pernikahan.

__ADS_1


"Kapan ya, hari baiknya kira-kira?" Papa Bram menaikkan alis bertanya pada ayah Aisyah yang tak banyak bicara.


"Semua hari baik, pak...Terserah saja bagaimana baiknya jika mereka sudah siap." Ayah Aisyah menjawab, dia tetap merasa minder melihat orangtua Bram yang penampilannya terlihat eksklusif.


"Tenang pa, aku sudah mengurus semuanya." Sahut Bram dengan wajah sumringah.


"Mengurus semuanya? maksudnya?" Mama Bram bertanya dengan bingung, dia hanya menfengar niat Bram saja untuk menikah dia tak pernah tahu ada persiapan apapun untuk itu.


"Iya, ma. Bram kan bukan baru sekali ini menikah. Sedikit banyak aku tahu apa syarat-syarat untuk menikah." Bram nyengir sedikit malu, sambil menyenggol bahu ibunya.


"Ibu tahu itu. Tapi menikah itu hajatan besar, lho. Masa kamu mengurusnya sendiri?"


"Apa susahnya sih, ma...? Aku sudah menghubungi penghulunya, petugas KUAnya bahkan mesjidnya tempat ijab qobulnya..."


"Astagaaaa...kamu sudah melakukannya? tanpa membicarakan pada kami?" Mama Bram terbeliak pada anaknya yang terlihat sungguh tak sabar dan menurutnya sefikit kurang ajar itu.


"Aku sudah tanya dengan Aisyah, katanya mau pernikahan yang sederhana saja. Ya, sudahlah...aku fikir tidak usah merepotkan mama, papa dan semua orang...jadi ku urus sendiri lah. Mama dan papa, ayah dan ibu tinggal duduk manis saja dan bilang saaaaaah... " Bram menggedikkan bahunya sambil nyengir.


"Memang tidak salah, nak. Tapi kan tidak sebegitunya juga kali. Menikah itu harus musyawarah dulu."Mamanya menyela dengan raut masam pada Bram, sungguh tak enak pada calon besannya karena tingkah anaknya itu.


"Eh, mama. Yang menikah kan aku dan Aisyah, mama tidak perlu heboh begitu, ayah juga sudah oke-oke saja."


"Ayah?" Mama Bram melotot pada suaminya. Papa Bram balas melotot sambil mengangkat bahunya tanda tak tahu apa-apa.


"Maksudku ayahnya Aisyah, ma..." Bram menepuk lengan mamanya, senyam-senyum sambil melirik papa Aisyah.


"Saya terserah anak-anak saja. Dan tentu saja seijin bapak dan ibu juga." Ayah Aisyah menyahut dengan tak nyaman.


"Maunya kapan sih, Bram?" Papa Bram menengahi.

__ADS_1


"Lusa."


"Lusa?! Astaga ini anak, dia kira mau kawinan seperti mau yasinan apa?" Mama Bram entah berapa kali melotot pada anaknya itu.


"Nikahan, ma." Protes Bram.


"Nikahan, kawinan sama saja." Gerutu sang mama.


Aisyah, ibu dan ayahnya hanya bisa menyaksikan perdebatan ibu anak itu, mereka seperti sedang menonton drama keluarga saja.


"Pokoknya lusa jadwalnya ijab qobul, tolonglah jangan di tunda lagi, ma. Kata papa, niat baik untuk ibadah tidak boleh di tunda-tunda, lho. Ya kan, pa?" Bram mengedipkan matanya pada papanya.


Sang Papa tak menjawab apapun kecuali nyengir pasrah pada Bram.


"Ya, tapi...itu bagaimana caranya mempersiapkan pernikahan cuma dua hari? Memangnya sulap apa?"


"Nikah itu tidak ada yang rempong ma, kata pak ustad. Asal ada wali, ada penghulunya, ada saksinya, ada pengantinnya...beres sudah." Bram benar-benar tak sabar sekali.


"Lah, orang-orang, tetangga, kerabat bagaimana? Tidak kamu undang? Mama pakai baju apa? kawinmu pakai EO mana, coba? tidak kamu fikirkan itu? Aisyah juga pasti ingin jadi ratu sehari, anak orang jangan kamu kawinin sembarangan." Mama mengoceh dengan pias tak puas pada keputusan Bram.


"Nikahnya, kami mau privat saja. Hanya ada keluarga dekat saja, tidak usah banyak-banyak. Yang penting Aisyah cepat ku halalkan saja. Untuk resepsinya terserah mama deh, maunya kapan, bagaimana dan dimana, berapa umat yang di undang, siapa saja yang datang terus cateringannya temen mama atau punya pok Mumun juga tidak masalah. Soal gedungnya pakai ballroom hotel atau aula balai desa juga terserah mama dah. Di tambah hiburan pakai biduan dangdut atau sewa band korea, semuanya urusan itu kuserahkan untuk mama. Pokoknya Bram mau nikahan lusa..."


"Astagafirullah, Bram...nyebut nak, nyebut...minta nikah saja mirip ngiklan kampanye." Mama Bram melotot pada si duda yang lagi mode anak kebelet nikah itu. Ngomongnya dalam satu tarikan nafas seperti kereta yang nabrak palang. Ucapan mama Bram itu disambut derai tawa sekelilingnya kecuali Aisyah yang tertunduk dalam-dalam, malunya naudzubillah dengan kelakuan calon suaminya yang super pede dan super maksa itu.



Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis

__ADS_1


__ADS_2