CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 11. AISYAH


__ADS_3

Setelah dua puluh lima menit Bram menunggu di dalam mobil, Aisyah muncul dengan wajah sedikit memerah, bajunya sedikit basah pada bagian lengannya.


"Maaf, membuatmu menunggu." Aisyah masuk ke dalam mobil, wajahnya terlihat sedikit tegang.


"Tidak apa-apa." Bram tersenyum, dia cukup menikmati kesendiriannya dalam mobil, bahkan dia beberapa saat sempat tertidur dengan menyanderkan kepalanya di kursinya.


"Aku harus memandikan ibu sebentar, hari ini dia tidak mau di urus oleh perawat." Tanpa di minta Aisyah menjelaskan. Bram hanya manggut-manggut, dia tidak enak melihat Aisyah tampak begitu tak nyaman padanya.


"Ibu sudah begitu dari sepuluh tahun yang lalu." Aisyah berucap bersamaan dengan mobil itu meninggalkan pelataran panti rehabilitasi mental itu.


"Dia sudah sakit sejak aku berusia sebelas tahun." Aisyah menundukkan wajahnya terlihat berat, seolah beban itu mengantung demikian lama.


"Sepuluh tahun yang lalu, dia hampir binuh diri karena depresi berat, sejak di tinggal oleh ayahku menikah lagi."


Suara Aisyah terdengar dalam volume kecil tetapi sanggup membuat Bram terkesima. Pikirannya segera melayang pada Pak Syarif.


Bagaimana mungkin lelaki baik hati dan bijak yang membuat suatu kesalahan demikian besarnya? Membuat istrinya depresi dengan begitu besarnya, sampai-sampai mengalami gangguan jiwa?


Bram tak bisa berkata-kata, mendengar lelaki yang diam-diam di kaguminya itu, bahkan hampir sama dengan dirinya dalam pengalaman menyakiti perempuan.


Begitu munafiknyakah manusia, sehingga bibirnya penuh dengan ilmu, sikapnya penuh dengan adap tetapi kehidupannya bahkan lebih kelam dari manusia yang lainnya?


Bram merasakan rasa dingin sampai ke sumsumnya, dia tak berkedip menatap jalanan raya yang pagi ini mulai ramai.

__ADS_1


"Ayahku tergila-gila pada seorang perempuan di tempatnya merantau, dia menikahinya diam-diam, sementara ibu sedang hamil adikku." Aisyah berucap getir, sambil merapikan tangan bajunya.


Tampak sekali, dia telah begitu lama memendam cerita masalalunya itu, dan diamnya Bram tanpa terlihat kepo dengan kehidupannya meakipun dia telah menunggu begitu lama di pelataran panti itu, entah mengapa membuat Aisyah tak bisa menahan diri untuk berbicara tentang dirinya.


Sesuatu yang tak pernah di lakukannya selama ini, yaitu mencerita kisah masalalunya pada orang lain yang bahkan begitu asing padanya.


Hanya, karena dia telah terbiasa melihat laki-laki yang begitu tulus datang setiap pagi membantu abah, mendengarkan wejangan-wejangan abah dan juga satu-satunya orang yang Aisyah lihat begitu berat beban hidupnya. Melihat mata Bram dia seolah sedang menyelam pada dasar hatinya sendiri.


Dia merasa sepenanggungan dengan bagaimana beratnya berdamai dengan masa lalu, berusaha menerima satu kenyataan pahit, menelan penyesalannya dengan rasa sakit dan berusaha berjuang bangkit dari keterpurukan.


Perasaan seperti itu begitu sakit, tidak semua orang mengerti bagaimana sakitnya, kecuali orang yang benar-benar pernah merasakan pengalaman begitu getir dalam hidupnya.


"A...abah pernah menikah lagi?" Akhirnya Bram tak bisa menahan diri untuk bertanya, dia hampir berat mengucapkannya. Rasanya begitu sakit saat merasakan kesempurnaan seseorang di mata kita menjadi retak, sementara kita berharap dia adalah pelita tak bercela yang kita percayai sekarang.


Apakah karena semua alasan aib di masa lalunya, abah begitu tolerir dengan setiap kesalahan yang dilakukannya?


"Abah tidak pernah menikah sejak bibiku meninggal." Jawab Aisyah.


Bram menolehkan kepalanya sebentar kepada Aisyah sedikit bingung demi mendengar jawaban gadis itu, mata mereka bersirobok pandang, yang segera membuat Aisyah cantik itu tertunduk.


"Abah merawatku, sejak aku berusia sembilan tahun, ketika ibuku dinyatakan mengalami gangguan mental dengan melempar adikku yang baru dilahirkannya selama dua minggu dari jendela kamarnya." Suara Aisyah terdengar gemetar, kenangan buruk di masa kecilnya itu tiba-tiba membuatnya gemetaran sendiri.


Bram hampir tersedak oleh rasa terkejut mendengar pernyataan Aisyah, dia menatap pada Aisyah, sekarang benar-benar terpana, hampir saja dia menginjak pedal rem karena rasa terkejut.

__ADS_1


"Abah adalah kakak satu-satunya dari ibuku, dia mengambilku sebagai anaknya, merawat dan membesarkanku bersama kak Rahimah, anak kandungnya sendiri. Bibiku telah meninggal lama, saat aku masih balita, bahkan aku tak ingat bagaimana wajah bibiku itu. Yang ku tahu, abah lima tahun merawat bibiku yang lumpuh sampai dia meninggal. Abah adalah orang yang tersabar yang pernah aku kenal." Suara Aiayah perlahan menjadi tenang, meski matanya berkaca-kaca, dia tampak segera menguasai diri untuk terlihat kembali tenang.


"Abah bukan ayah kandungmu?" Tanya Bram, berusaha mentingkronkan semua penjelasan Aisyah.


"Bukan, dia adalah paman yang melebihi seorang ayah bagiku." Aisyah menjawab sambil menggelengkan kepalanya, dia tampak berusaha menahan kabut yang menggumpal di permukaan matanya supaya tidak mencair dan menjadi air mata.


"Abahlah alasanku untuk bisa menjalani hidupku sekarang, menerima kenyataan hidupku yang pahit dan menata setiap kehidupan masa laluku. Abah membuat aku percaya bahwa Allah memberiku ujian hidup begitu besar karena Allah percaya aku mampu menanggungnya. Abah yang menanamkan kembali perasaan memaafkan, meskipun rasanya berat menerima kehidupan keluargaku yang luar biasa berantakannya ini menjadi suatu pengalaman hidup. Aku bahkan tak tahu bagaimana hidupku, jika bukan Abah yang menyelamatkanku dari semua trauma itu." Akhirnya Aisyah tak bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata.


Rasa lega menggerayangi lubuk hati Bram, meski merasa sakit saat mendengar bagaimana masa lalu Aisyah begitu beratnya bahkan semenjak masa kanak-kanaknya.


Bram lega, karena Pak Syarif benar-benar seorang teladan yang tak bercela. Dia menyesal telah bersuudzon dengan fikirannya sendiri tentang laki-laki tua itu beberapa saat yang lalu.


"Abah yang memintaku tetap merawat ibu, apapun yang terjadi padanya, karena sebagaimanapun keadaannya, dia tetap adalah ibu yang melahirkanku dan mencintaiku, meskipun...meskipun ibu juga hampir mencelakakan aku setelah membunuh adik bayiku." Bibir Aisyah bergerak gemetar dan sedikit pucat, suaranya parau. Kenangan itu membersit lewat, dan ketakutan yang sama itu masih saja dirasakannya, seolah-olah kejadian itu baru kemarin terjadi.


(Di Bab selanjutnya author akan menceritakan tentang sekilas masa lalu Aisyah di waktu kecil, ya๐Ÿ™๐Ÿ˜Š


Jangan lupa VOTE novel ini, supaya Author semakin semangat UP. Mudah-mudahan bisa dobel UP hari ini ๐Ÿ˜Š Kisah sebenarnya di mulai dari beberapa bab ini, dan othor janjikan kisah Bram berbeda dari kisah di novel akak yang lain๐Ÿคญ)



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2