
(Mohon bijak dalam memilih bacaan, bab ini hanya di dedikasikan untuk yang sudah memiliki pasangan sah🙏☺️ semoga menjadi referrensi suami istri saja😅)
Aisyah memejam matanya, di tuntun oleh nalurinya. Dia menahan nafasnya, saat Bram menarik dagunya, lslu menciuminya lagi dan lagi.
"Sayang, kamu boleh membalasnya jika kamu suka..."
"Membalas apa?"
"Ciumanku." Jawab Bram lembut, dia sekarang adalah mentor untuk Aisyah yang minim pengalaman itu.
"Oh..."
Nafas Bram terasa hangat menghembus kulit wajahnya, dengan segenap keberanian Aisyah mengumpulkan keberanian membalas ciuman panas Bram, bibirnya di sasar oleh bibir Bram seketika badannya menegang.
Aisyah yang merasa dadanya berdegup semakin lama semakin kencang, menarik tubuh di depannya itu dkuat-kuat, memeluk Bram erat-erat seolah ingin menyatukannya dengan kulitnya sendiri. Dia sekarang begitu menginginkan sentuhan Bram, untuk memuaskan rasa penasarannya sendiri karena setiap Bram mencumbunya dia begitu menyukainya.
Nafas Bram tersengal, wajah Aisyah sendiri terasa seperti terbakar. Jantung mereka berpacu dalam degup yang semakin kuat tak terkendali.
"Mas Bram..." Aisyah mendesah sambil menerima setiap sentuhan Bram dengan pasrah.
"Hmm..."
"Aku...aku harus bagaimana?" Aisyah berusaha berbicara dengan nafas tersengal, saat tangan Bram berkeliaran di punggungnya melepaskan kaitan penutup gunung pusaka yang tak pernah terjamah siapapun itu.
"Panggil aku Sayang..."Bujuk Bram dengan senyum senang, sungguh dia sangat ingin istrinya itu memanggilnya dengan kata itu.
Aisyah menggigit bibirnya, ketika branya lepas bebas, si puncak itu terlihat menegang. Dan Bram dengan lembut menyapu jarinya di sana, wajah Bram tak kurang merahnya
"Sa...sayang..."Aisyah mengucap satu kata pasrah, nafasnya turun naik saat Bram mendorongnya berbaring dan membenamkan wajahnya di d@danya.
"Aku mencintaimu, mas Bram...akh..." lanjut Aisyah tanpa di suruh lagi, saat mulut Bram menyasar dua gunungan itu bergantian.
Bram semakin bersemangat, dia mendonggak pada Aisyah dengan kagum. Betapa bangga dia mendapat pengakuan cinta dari bibir istri polosnya itu.
Dengan liar Bram naik menghujani bibir Aisyah dengan ciuman.
Panggilan itu begitu indah di telinga Bram, dia benar-benar sangat menginginkan gadis yang telah menjadi istri sahnya memanggil dirinya semesra itu.
"Aku juga mencintaimu, Aisyah sayang..." Bisik Bram lirih di telinga Aisyah. Gadis itu melenguh bernada menyerah saat tangan Bram kemudian berkeliaran penuh gairah dari bagian dadanya pusatnya.
Tubuh Aisyah dan Bram memanas, sekarang Aisyah sudah tak perduli lagi dengan keadaan tubuhnya. Di pasrahkannya tangan terampil Bram menyusuri, menekan, menyentuh bahkan meremas bagian-bagian tubuhnya.
Bram menerima penyerahan diri samg istri dengan senang, dia membenamkan wajahnya di setiap cerukan, lekuk yang di temuinya, menciuminya sampai Aisyah terus berdecak.
__ADS_1
Si mantan Cassanova ini benar-benar ingin membuat Aisyah tak bisa melupakan pengalaman pertamanya itu, dia terus mengeluarkan tiap jurus untuk membuat Aisyah menghiba padanya meski si otong sudah tak sabar keluar dari sarangnya, Bram berusaha menahan diri. M@lam Peng@ntin mereka yang tertunda haruslah lebih panas dari api di kompor.
"Akh, mas Bram..." Aisyah tanpa sadar meremas kepala Bram, rambut hitam Bram acak-acakan di sela jari Aisyah, sementara Aisyah melengkung menahan sensasi luar biasa yang baru di rasanua, saat lid@h hangat Bram memutari puncak gunung merah jambu yang mungil, hal ini membuat Bram terbakar dalam sekejap.
Aisyah mendes@h tak jelas, matanya terpejam ketika dengan nakal jemari Bram sudah menyusuri tempat yang tersembunyi di sela kedua p@h@nya.
Bram benar-benar puas melampiaskan rasa rindu dan penasarannya pada setiap lekuk tubuh istrinya itu.
"Sayang, sekarang adalah waktunya, persiapkan landasan..."bisik Bram sengau di sela nafasnya yang memburu,
"Landasan apa?" Aisyah menyahut menyahut dengah suara terengah-engah.
"Landasan pesawat."
"Hah..."
Bram tak menyahut dia sibuk meloloskan semua perintang pada tubuh mereka berdua.
Dada Bram yang kekar dan kuat itu menindih tanpa permisi membuat kulit mereka bergesek, menyisakan rasa panas dan kesemutan yang tiba-tiba. Panas itu menjalar ke seluruh tubuh Aisyah.
Sekarang Aisyah hanya mendelik dia menggigit bibirnya menahan suara yang berusaha keluar dari sela bibirnya.
Lengan Bram merengkuh tubuh Aisyah, kebahagiaan dan gairah berpadu membakar sepasang suami istri yang di mabuk cinta itu.
Sesuatu yang mengeras menekan, penuh intimidasi membuat Aisyah terpana. Itu si otong sudah lolos dari kandangnya, terasa aneh saat bersentuhan dengan kulit p@hanya.
"Permisi, sayang...otong mau masuk..."Bisik Bram di telinga Aisyah, Wajahnya membesi, tegang dan nafasnya tak lagi beraturan.
"O...otong?"
Aisyah menggigit bibirnya dengan keras saat Bram membuka pah*nya dan membiarkan sesuatu masuk ke sana.
"Mmmmm..." Aisyah meringis.
"Kamu tak apa-apa, sayang?"
Aisyah menggeleng, dia pasrah saja, desakan nalurinya lebih besar dari rasa gugup dan tegangnya.
"Itu akan sakit Aisyah, tapi hanya sebentar saja. Di tahan saja." Wejangan mbak Retno selintas lewat di benaknya, nasehat bercinta sesaat sebelum dia menikah itu ternyata cukup penting sekarang sebagai kekuatan baginya. Dia gugup dan penasaran, itu akan sesakit apa.
"Mmmm...mas..." Aisyah menyeringai ketika si otong mulai menyeruduk.
"Sayang, katakan saja kalau sakit, otong akan mundur."
__ADS_1
Aisyah menggeleng, sambil menggigit bibirnya, terasa sakit, tapi ditahannya karena pada waktu bersamaan dia merasakan suatu kenikm*tan yang aneh dan tak bisa di jelaskannya.
Bram berusaha melakukannya dengan hati-hati saat melihat gadis di bawahnya itu meringis dengan mata terpejam, sekarang Bramlah yang tak bisa menahan geraman dari mulutnya.
Suara desah mereka beradu, berpadu dengan keringat yang membasahi tubuh. Secara naluriah Aisyah hanya menyerah, sementara Bram membimbing istrinya itu terus menuju puncak, memimpin dengan ritme yang hati-hati dan teratur. Dia tak ingin menyakiti Aisyah, setiap gadis itu meringis dia berusaha menahan diri untuk tidak memaksa otong menembus pertahanan Aisyah.
Bram tahu benar, istrinya itu tak pernah di sentuh siapapun karena itu dia memperlakukannya dengan sangat hati-hati.
Semakin lama irama yang perlahan itu kian tak beraturan, suara des@h Aisyah, cengkeraman jari istrinya di lengannya membuat Bram tak bisa membohongi diri, dia begitu bergairah.
Bram menggeram setengah mendesis, sementara Aisyah terpekik, rasa perih yang bercampur nikm*t itu membuat tubuhnya melengkung.
Sesuatu yang hangat dalam warna merah segar merembes perlahan dari tempat si otong berekreasi, menyusuri paha putihnya, jatuh dan menyatu dengan kain sepray berwarna merah jambu pucat itu.
Bram memandang Aisyah dengan rasa puas, mal@m pertama yang tertunda itu, Aisyah telah menyerahkan dirinya secara utuh dan sempurna sebagai istri dan milik Bram seutuhnya.
Wajah Aisyah merah merona, rambutnya setengah basah oleh keringat.
Bram menarik tubuhnya, supaya tak lagi menghimpit gadis yang terkulai lemas di atas tempat tidurnya itu.
Lalu sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Aisyah.
"Terimakasih, sayang...terimakasih istriku...terimakasih." Bisik Bram, sambil menarik kain selimut dan membungkus tubuh mereka berdua yang tanpa bus@n@ itu.
Aisyah tak menyahut dia hanya mengigit bibirnya, menikmati sisa kenikm@tan yang baru pertama kali di rasakannya serta sisa perih setelah semuanya berakhir.
"Kamu tidak apa-apa?" Bram tak bisa menyembunyikan kecemasannya, melihat gadis itu terdiam. Aisyah menggeleng.
Bram menarik tubuh Aisyah ke dadanya. Memeluknya dan terus mencium rambut gadis itu. Aisyah tak menyahut dia masih tak tahu harus mengatakan apa, pengalaman yang baru di lewatinya sungguh luar biasa.
"Aku mencintaimu Aisyah, aku akan menjagamu seumur hidupku. Aku berjanji...aku bersumpah..." Bram mencium puncak kepala Aisyah.
"Aku...aku mencintaimu, mas Bram..." Sahut Aisyah lirih sambil memejam matanya.
Hubungan int!m terindah yang pernah di rasakan Bram setelah banyak pengalaman di rasakannya bersama puluhan wanita yang pernah berada di dalam pelukannya. Aisyah membuatnya merasa percintaan mereka begitu sakral dan murni.
Dia dalam perjalanan taubatnya, di berikan Tuhan jodoh yang benar-benar sempurna.
(Yeay, double UP kan🤣 yang dari kemarin gak sabar membuka puasa Bram dah lunas ya...VOTE yaaaa😁 Mohon maaf atas kebablasan author dalam bab ini. Semoga pengalaman bab Bram dan Aisyah kali ini bisa kita sikapi dengan dewasa🤭
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
__ADS_1
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis