
Akhirnya, di sepakati pernikahan Bram dan Aisyah di lakukan sederhana saja, di mesjid tempat Bram bertemu pak Syarif pertama kali, persis di depan rumah keluarga Aisyah.
Untuk resepsi di atur kemudian, dua minggu sampai sebulan setelahnya.
Meski Bram itu duda tapi anak semata wayang keluarganya, tetap saja mama Bram ngotot ingin di laksanakan meriah. Mengingat dulu, Bram menikah dengan mantan istrinya yang pertama, pernikahan mereka di laksanakan sederhana saja karena tergesa-gesa.
"Mas ini bagaimana sih, mau nikah seperti di kejar hantu?" Aisyah akhirnya bingung sendiri. Setelah memastikan persiapan untuk tempat dan orang-orang yang hadir saat ijab qobul besoknya, dua pasangan itu kelelahan, duduk di sebuah kedai es tempat Aisyah biasa singgah menunggu Tito keluar dari sekolah.
Hari ini pun, mereka berdua menyempatkan diri menjemput Tito dari sekolah setelah dari kantor KUA.
Mpok Mumun dan Mbak Retno proaktif membantu, bahkan bersedia menghias sedikit mesjid di mana Aisyah dan Bram akan di nikahkan besoknya. Dua orang itu paling bersemangat, bahkan Bram memberi kepercayaan Mbak Retno dan mpok Mumun mengatur catering untuk acara itu meski sederhana saja, untuk ijab qobul tak banyak yang di undang.
Setelah selesai Ijab qobul mereka akan makan siang bersama, di rumah Aisyah yang sederhana itu.
Bram dengan keringat sebesar biji jagung, tersenyum puas. Dia tidak mengeluh sedikitpun, meski hari ini macam setrika, ke sana kemari.
Dua gelas es kelapa sudah habis di tengaknya.
"Mas Bram sih suka aneh-aneh, bawa nikah saja seperti kilat." Aisyah menggerutu, sambil mengipas wajahnya yang kelelahan setelah dari KUA, resmi mendaftarkan pernikahan mereka dan meminta jadwal petugas datang besok ke Mesjid yang di tentukan.
Untunglah ada teman sekolah SMP Bram di KUA setempat itu, tempat Bram mengurusnya beberapa hari sebelumnya jadi semua lancar-lancar saja. Hari ini mereka hanya mengantar persyaratan yang kurang saja.
"Mas Brammu ini tak sabar sudah..." Bram menyahut dengan sikap genit.
"Tak sabar sih boleh saja tapi ini kan jadi repot sendiri. Minggu depan juga bisa?"
"Minggu depan kelamaan."
"Kelamaan bagaimana? cuma seminggu?"
"Aku sudah menunggu hari ini hampir setengah tahun, lho. Jadi, tidak ada penundaan-penundaan yang tak perlu."
"Tapi mas Bram jadi kewalahan sendiri, kan? jadi capek sendiri, kan?"
"Aku happy saja, kok. tidak ada capek-capeknya. Dan semuanya sudah beres, kan? Besok kita berdua jadi pengantin, cuma duduk manis saja..." Bram senyam-senyum.
"Tapi..."
__ADS_1
"Tapi apanya?"
"Aisyah besok mengenakan baju apa?" Aisyah tertunduk malu-malu.
"Astaga!" Bram menepuk jidatnya, hal itu tak sempat terfikirkan olehnya.
Dia lupa soal pakaian mereka berdua, menggunakan apa.
"Masa mas Bram pake sarung saja, seperti mau jum'atan?" Aisyah mengerling, mencuri pandang pada calon suaminya yang hari ini terlihat begitu maskulin.
Bram menggunakan celana denim dan kaos lengan panjang hitam. Rambut sedikit acak-acakan mungkin karena kelelahan hilir mudik berurusan.
"Ck...kalau soal bajuku, banyak baju koko lebaran di lemari sepertinya, jarang-jarang ku pakai masih bagus saja. Tak masalah, mau kawin bukan bajunya yang harus baru tapi hatinya yang bersih untuk menyambut hidup baru." Bram tersenyum kecil pada Aisyah yang pura-pura mengalihkan perhatiannya ke gelas es di depannya ketika mata Bram bertemu dengannya.
"Tapi...tapi, kamu bagaimana?" Alis Br naik tinggi. Matanya tak berkedip menatap wajah cantik Aisyah yang di balut kerudung warna soft pink itu. Sepertinya warna ini kalau Bram perhatikan adalah warna favorit Aisyah, gadis itu sering mengenakannya. Dan terlihat cocok dengan wajahnya.
"Aisyah menggunakan baju apa yang cocok?" Aisyah bertanya dengan lugu. Dia tak pernah menikah jadi benar-benar tak tahu harus bagaimana.
Ingatan Bram tertuju pada saat dirinya ijab qobul dengan Diah, mereka juga menikah secara sederhana tetapi Diah telah dipersiapkan begitu rupa oleh orangtuanya, menggunakan baju putih dan kerudung senada.
"Diah!" Otak Bram seperti baru di cerahkan.
"Aku tahu orang yang bisa membantumu." Bram menjentikkan jarinya. Meski sesungguhnya dia sungkan menghubungi Diah setelah Doddy resmi mempersuntingnya. Tapi, dia tahu Diah adalah perempuan yang baik, dia tentu akan mengerti dan yang pasti dia pernah bekerja di butik Sarah, sedikit banyak bisa membantu Aisyah soal pakaian ini.
Di ambilnya ponsel dari sakunya lalu menghubungi sebuah kontak.
Kontak yang pernah mengirimnya undangan pernikahan.
"Hallo..." Suara berat seorang laki-laki, itu suara Doddy.
"Assalammulaikum..."Bram langsung menyambar.
"Ya, wallaikumsalam." Doddy menyahut dengan tenang.
__ADS_1
"Tanpa mengurangi rasa hormatku...eh...maksudku, sebenarnya aku minta maaf jika ini mengganggu." Bram bingung harus memulai dari mana.
"Ya..."Doddy terdengar sedikit bingung di seberang sana.
"Begini, apakah aku bisa meminta bantuanmu sekaligus minta ijin padamu?" Tanya Bram kemudian, meski terdengar ragu.
"Apa yang bisa ku bantu?" Suara Doddy terdengar sedikit bingung, dia tak pernah menerima panggilan dari mantan suami istrinya itu.
"Aku...aku ingin meminta ijin untuk berbicara dengan Diah, kalau boleh..."
"Ha..." suara Doddy terdengar sedikit tertahan, permintaan Bram tentu saja membuatnya sedikit terkejut.
"Aku tahu ini agak lancang tapi aku benar-benar sedang butuh bantuannya. Aku tidak nyaman jika menelponnya tanpa seijin suaminya." Dalih Bram.
"Oh, tentu saja boleh. Aku tidak pernah memutuskan tali silahturahmi kalian hanya karena sekarang aku adalah suaminya." Sahut Doddy kemudian dengan bijak.
"Tapi...kalau boleh tahu, apa yang mungkin bisa kami bantu?" Tanya Doddy lagi dari seberang, suaranya terdengar begitu tenang.
"Aku...aku...hanya mau minta tolong mungkin dia bisa...bisa membantu memilihkan baju untuk dikenakan Aisyah." Bram berusaha menjelaskan dengan terbata-bata, wajahnya merah merona sendiri.
"Aisyah?"
"Iya, Aisyah...calon istriku. Kami akan menikah besok."
"Ooooh..." Suara panjang oh itu menyambut kalimat yang di ucapkan Doddy.
"Tentu saja. Bagaimana kalau sore ini kita bertemu saja, bawa saja calon istrinya. Mungkin nanti lebih leluasa berbicara. Aku akan memberitahukan Diah."
Bram melongo sendiri, satu masalah mungkin terpecahkan tetapi dia terus terang masih bingung dengan pertemuan yang di idekan mendadak itu. Semacam double date, reuni mantan suami istri!
(Sudah ya, othor kasih double UP hari iniš Menjelang unbox!ng ini ada2 saja yah yang belum siapš¤ Yang sabar para pembaca tersayang.
Besok mudah-mudahan sudah ijab qobul si duda yang sukses berhijrah iniš¤£)
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othorš¤ i love you full.......
__ADS_1
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis