
Di tatapnya wajah yang kini menua, banyak waktu telah merampas masanya dan Atifa dalam keyakinannya mempercayai Faraz kembali.
Tetapi, saat dia kembali...Atifa telah mati rasa, bahkan kini Faraz serupa sosok asing yang tak dikenalnya, rindunya menguap begitu saja seperti embun di terik pagi.
"Tidak, aku tak lagi menginginkannya, aku tak lagi mengenalnya, aku tak lagi ingin bersamanya..." Hatinya menjerit seakan berontak dalam kelukaan.
Seharusnya dia memeluk Faraz, menciuminya sampai puas karena inilah orang yang di tunggunya atau...atau memukulnya dengan kuat dan menyerapahinya dengan sejuta kesakitan.
Tapi, apa yang kemudiam bisa di lakukannya, saat melihat wajah yang tak berdaya itu?
Perlahan tangan Atifa terulur, menyentuh pundak Faraz dengan gemetar
"Kak..." Suara Atifa terdengar untuk pertama kalinya, keluar dari mulutnya.
Faraz mendonggakkan kepalanya, mereka bertemu pandang beberapa saat.
"Kak Syarif..." Panggilnya, sambil membelai pipi Faraz dengan lembut, menumpahkan sedikit rasa yang masih tersisa. Dia sungguh tahu itu adalah Faraz, tapi hatinya menolak untuk menunjukkan bahwa dia mengenalinya sekarang.
"Kak Syarif, katakan pada Kak Faraz..." Ucapnya dengan senyum yang terkembang aneh, betapa nyeri hatinya saat berpura-pura tak mengenali Faraz lagi.
"Aku sudah lelah menunggu..." Bisiknya parau. Itulah kejujuran yang ingin di ucapkannya. Dia ingin Faraz mendengarnya, meski dia seolah sedang menitipkan pesan pada sang kakak.
"Atifa...ini aku...ini aku Faraz." Faraz menangis meraung di kaki Atifa, tetapi Atifa seperti bersembunyi di belakang pintu, mengintip dan bersiap untuk menutupnya.
"Ampuni aku, dik...tolong ampuni aku...tolong..." Faraz melolong, terlihat menyedihkan.
"Kak Syarif, kamu benar kak, aku telah membayar mahal untuk cintaku pada kak Faraz. Katakan saja padanya, aku sudah ikhlas, jangan pernah kembali lagi." Ucap Atifa kemudian, dia telah membuang waktu begitu lama menunggu seseorang yang ternyata tak lagi ada di hatinya.
Dia tersesat begitu lama dalam perasaannya sampai tak menyadari cintanya pada Faraz telah mati.
__ADS_1
Waktu mengikis semua perasaannya pada Faraz tanpa di sadari olehnya sendiri.
"Isah..." Atifa menoleh kepada putrinya yang cantik itu. Dilihatnya luka dan kesedihan yang lebih dalam pada binar mata anak yang telah ditelantarkannya karena keegoisannya menuruti perasaannya sendiri.
"Ibu lelah, ibu mau tidur..." Atifa beranjak tertatih ke tempat tidur kayunya di saksikan oleh beberapa pasang mata yang tak berkedip menatap ke arahnya.
Dia kemudian berbaring menghadap dinding seperti patung, airmatanya mengalir deras menatap tembok yang telah sepuluh tahun mengurungnya dalam kesepian dan ilusinya sendiri.
"Maafkan aku kak Faraz, aku tak ingin kembali lagi padamu, aku tak ingin menghinakan diriku lagi dengan menghiba-hiba pada takdir supaya membuatmu mencintaiku. Kau pergi terlalu lama dan sekarang kamu begitu asing bagiku. Ku sangka cintaku begitu besar padamu tetapi ternyata aku salah, keegoisanku saja yang ku kira adalah cinta."
Seharusnya kesadaran itu di milikinya sepuluh tahun yang lalu tapi Atifa menyesatkan dirinya dalam fikirannya sendiri, jadilah dia kehilangan kewarasannya.
"Aku mencintaimu dengan besar, tapi itu dulu...aku bahkan lupa bagaimana rasanya pelukanmu saat aku tertawa dan menangis. Aku akan berusaha memaafkanmu seperti besarnya hati Aisyah menerimamu, tapi aku tak pernah bisa berjanji untuk benar-benar bisa melakukannya. Tapi, seumur hidup aku tak pernah bisa memaafkan diriku karena begitu memujamu."
Apa yang di inginkan hati tak selalu selaras dengan apa yang dilihat mata. Ketika kita ingin semuanya itu sama, maka kita akan gila.
"Aisyah anakku sayang, beri aku waktu mengingat semuanya lagi, ingatanku seperti kaca buram, kadang datang kadang hilang kadangkala seperti bayang-bayang. Aku akan berusaha untuk menyembuhkan diriku, meski aku tahu aku tak lagi sama seperti dulu. Ingatan dan emosiku, seperti ombak di lautan, datang dan pergi tanpa bisa aku mengendalikannya. Tapi aku berjanji, aku akan menebusnya dengan selalu berada di sampingmu saat kamu membutuhkan aku."
...***...
Siang yang cerah itu, di cafe tempat Bram mengatur pertemuan sekaligus makan siang bersama keluarganya.
Atifa datang bersama Aisyah, sementara Faraz telah berada di sana lebih dulu di jemput oleh Bram.
Aisyah menolak Bram mengambilnya, dia mengatakan akan datang bersama seseorang.
Bram mengira Aisyah datang dengan mpok Mumun atau bestienya mbak Retno, mereka sungguh tak menyangka jika Aisyah datang dengan ibunya.
Atifa dalam dengan kerudung putihnya tampak begitu hidup, Faraz terpana saat melihatnya memberi salam kemudian mengambil tempat duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Apa kabarmu, kak?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu di tanyakan Aisyah padanya, dan itulah kalimat pertama yang di ucapkannya di depan Faraz.
"Ba...baik. Alhamdulilah sangat baik..." Jawab Faraz terbata-bata, salah tingkah dengan merapikan pecinya.
"Kita tidak perlu membicarakan apapun hari ini selain tentang kebahagiaan anak kita, Aisyah." Ucapnya setengah bergumam.
Dokter telah mengijinkan Atifa di bawa oleh Aisyah, satu hari ini saja memang, mereka masih memantau kestabilan emosi Atifa, tetapi dari catatan kesehatannya dalam 3 bulan terakhir kemajuan yang di tunjukkan Atifa membuatnya di beri kesempatan keluar untuk pertama kali.
Aisyah berbekal beberapa butir obat penenang bahkan obat tidur untuk menjaga hal-hal yang mungkin terjadi dan tak di inginkan.
Atifa sangat tenang, senyumnya tipis mengembang dan seolah dia tak pernah mengalami gangguan jiwa.
"Ibu sudah cukup sehat untuk bersama kita." Ucap Aisyah sambil mencium punggung tangan ayahnya, dia tahu pandangan mata ayahnya bertanya banyak.
Aisyah sudah menghubungi ayahnya dan menceritakan sedikit tentang kesadaran ibunya yang tiba-tiba, dan Aisyah meminta ayahnya untuk tidak membicarakan apapun yang mungkin membangkitkan emosi sang ibu.
Bram menciumi tangan Atifa dengan takzim, dia menatap Aisyah sesaat dengan tatapan tak percaya.
"Mas Bram, ibu telah tahu dengan hubungan kita, beliau bahkan memberi restunya sebelum aku mengatakan jika mas Bram ingin...ingin melamarku hari ini secara resmi pada mereka." Aisyah tersenyum sedikit jengah di tatap Bram begitu rupa.
Kebahagiaan itu datang, selalu tepat pada tempatnya, Bram bersyukur atas semua hal yang di laluinya.
Dia telah bermunajat di sepertiga malamnya bahkan kadang di separuh harinya hanya untuk memohon jalan yang lurus untuk jodohnya dengan Aisyah.
Dan Tuhan telah mengabulkannya!
(Kita masuk ke babak baru cerita Bram dan Aisyah ya, sudah tidak ada air mata lagi😅😅😅 author janji readers bakak ketawa terus bersama pasangan beda usia ini, yuk siapkan votingnya besok yaaa buat mas Bram dan Aisyah❤️☺️)
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis