
Bram duduk dengan canggung tepat di seberangnya duduk pula Diah dan ibu Diah. Sementara di sampingnya Bella bergelayut manja di bahu Bram.
Setelah mengucapkan salam, Bram mengambil tempat dengan tegang.
"Apa kabar, nak Bram?" Itu adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut wanita setengah baya yang berpenampilan sederhana itu. Tak ada kemarahan dari nada suaranya ataupun sorot dendam dari tatapannya seperti yang di sangka Bram.
"Baik, bu." Jawab Bram dengan sedikit gugup.
"Ibu senang melihatmu baik-baik saja." Sahut Bu Hasnah, nama dari ibunya Diah sambil melirik kepada Diah.
Diah sendiri tampak berpura-pura tak melihat lirikan sang ibu. Dia sibuk menyodorkan piring dan sendok ke hadapan Bram.
"Maaf, lama tak bisa mampir kemari." Bram menundukkan wajahnya, dia merasa tak nyaman di tatap oleh bu Hasnah, meski pandangan itu biasa saja tapi terasa menusuk sampai ke jantung.
"Tidak apa-apa. Ibu mengerti."
"Ayah di mana? Tidak makan bersama kita?"
"Kakek Bella sedang tidak enak badan. Beliau beristirahat di kamar, setelah minum obat tadi sepertinya ketiduran. Maklumlah sudah tua, masuk masa pensiun, sepertinya masih kesulitan menyesuaikan dengan kesibukan baru. Kita makan saja sebelum dingin makanannya, tidak perlu menunggu ayah turun." Bu Hasnah tersenyum, sambil mempersilahkan Bram untuk memimpin doa.
__ADS_1
Dengan gemetar Bram memimpin doa sebelum makan, sesuatu yang tak pernah di lakukannya di depan mertuanya bahkan di depan Diah sekalipun.
Diah sejenak terpaku menatap mantan suaminya, banyak kejutan yang di lihatnya dari Bram, perubahan-perubahan yang menurutnya luar biasa untuk orang sedingin Bram dalam rumah tangga mereka di masa lalu.
Dengan sedikit ragu, Diah mendorong tempat nasi ke depan Bram.
"Maafkan saya, bu. Saya merasa menyesal dan bersalah terhadap ibu dan ayah terlebih kepada Diah..." Dengan penuh keberanian Bram mengucapkan permintaan maaf itu, sebuah permohonan yang tak sempat di ucapkanya pada perempuan yang melahirkan mantan istrinya itu saat dia dan Diah memilih bercerai.
"Ibu juga minta maaf..." Bu Hasnah menghela nafas, terdengar berat.
Kalimat yang tak di duga sama sekali oleh Bram.
Bram tak berkedip menatap bu Hasnah dan Diah bergantian, sungguh ini di luar dugaannya sama sekali. Bagaimana mungkin orangtua Diah tak tahu dosa apa yang telah dilakukannya dalam rumah tangganya. Penderitaan apa uang telah di berikannya pada mantan isterinya itu.
"Ibu, tak usah mengungkit masa lalu." Diah berucap sambil mengalihkan pandangannya pada piring nasi Bella mengambilkan ayam ke piring nasi anaknya itu.
"Mas Bram dan aku sama-sama bersalah dalam hal ini, jadi sebaiknya tidak perlu di bicarakan lagi." Tegas Diah tak nyaman dengan situasi yang mendadak tegang antara dirinya dan Bram.
Bram tercengang dengan ucapan Diah, dia tahu benar Diah tak bersalah sama sekali selama ini.
__ADS_1
"Ibu benar-benar ingin minta maaf, dulu tak sempat mengatakannya. Maaf jika ibu tak berhasil mendidik Diah menjadi istri yang baik..."
"Ibu..." Diah menyela berusaha menghentikan ibunya berbicara. Dia tak tega melihat kabut di mata tua ibunya itu.
"Diah selalu mengatakan dia gagal menjadi istri yang baik untukmu. Ibu merasa kegagalannya itu bukan sepenuhnya karena Diah tetapi karena kami orang tua yang..."
"Ibu, sudah...jangan rusak suasana ini. Mas Bram hanya datang sebentar menjemput Bella, ibu tak harus membicarakan hal-hal yang telah lewat. Kami baik-baik saja, perceraian ini membuat kami lebih baik."Diah berucap tajam, menghentikan kalimat yang keluar dari bibir tua yang gemetaran itu.
"Iya, ibu mengerti, nak. Tidak apa-apa, maafkan ibu. Yang penting tali silaturahmi tetap terjaga, seperti yang selalu Diah katakan, hubungan kalian sangat baik karena ingin menjaga Bella bersama-sama meski berpisah. Ibu tak lagi menyesalkan perpisahan kalian, mungkin memang jodoh kalian sudah habis. Tuhan punya rencana lain untuk masa depan kalian masing-masing." Suara itu terdengar hangat, Bram jarang mendengar ibu mertuanya ini dulu berbicara karena mereka adalah keluarga sederhana dan Bram sendiri kadang menyepelekan mereka karena kesombongannya di masa lalu.
Bram terdiam, dia menatap Diah dalam-dalam. Sekali lagi dia tak bisa menahan haru dan terpesonanya pada mantan istrinya itu, seburuk apapun perlakuannya pada Diah, dari perselingkuhannya sampai dengan perlakuannya, mantan istrinya itu tak pernah mengeluh, dia juga tak pernah membicarakan aibnya kepada siapapun bahkan pada orang tuanya sendiri, kecuali dia sering mendapati mantan istrinya itu dulu menangis dalam tahajudnya di tengah malam buta. Dia mungkin hanya mengadu nasib buruknya pada Allah.
Betapa dia kemudian mengagumi kesabaran dan kebaikan Diah sebagai seorang istri yang mungkin akan sulit di temukannya di masa depan, Bram benar-benar mengaguminya sekarang, sayangnya dia baru menyadarinya saat mereka telah mengakhiri pernikahan mereka dengan kata cerai.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...