
Setelah enam bulan Bram memulai usaha kecil-kecilannya itu, dia benar-benar gigih berjuang untuk bisa berubah.
Kalau sebelumnya hampir tiap hari Bram berkunjung ke tempat Abah, sekarang dalam seminggu kadang sekali atau dua kali dia menyempatkan diri ke sana.
Tetapi, dia tak pernah absen untuk melakukan sholat jumat di mesjid tempat Abah.
Kadang dia bertemu Aisyah, kadang tidak. Bram tahu, ada batasan yang tak boleh di lewatinya, Aisyah adalah seseorang yang di hormatinya. Diapun mengurangi bertandang karena tak ingin menjadi fitnah bagi perempuan bersahaja itu. Apalagi mereka berdua berstatus mempunyai anak dari pernikahan masing-masing.
Sekarang, Bram benar-benar fokus menata hidupnya.
...***...
"Selamat sore..." Seorang pelayan toko bunga menyapa Bram.
"Selamat Sore." Bram masuk dengan ragu-ragu.
"Ada yang bisa kami bantu?" Tanya gadis muda itu.
Bram mengedarkan pandangannya ke semua bunga segar yang memenuhi toko itu, beraneka bentuk dan warna sungguh indah dipandang mata.
"Aku mau bunga mawar putih..." Ucapnya ragu, dia masih berusaha mengingat bunga apa yang di sukai oleh Diah.
"Eh, bukan...aster putih."Ralat Bram.
Dia benar-benar harus menguras ingatannya pada bunga kesukaan Diah, untuk hal sesimple itupun ternyata Bram tak punya kenangan berarti.
"Maaf? Mawar atau aster pak?" Tanya penjaga toko itu.
Bram sesaat terdiam, lalu menatap pada mawar yang berada dalam sebuah pot besar.
"Mawar." Akhirnya Bram menjawab dengan yakin.
"Entah apapun bunga yang di sukai Diah, mustahil dia menolak bunga, semua perempuan pasti menyukai bunga " Bram menghibur dirinya sendiri.
"Buatkan sebuah buket bunga mawar putih yang cantik." Pinta Bram kemudian.
__ADS_1
"Baik, pak...untuk siapa kalau boleh tahu? untuk pacarnya atau...istrinya?" Tanya penjaga toko itu sambil tersenyum melihat kebingungan Bram.
Dia sering menerima pelanggan yang berlaku demikian, biasanya seorang pacar atau suami yang sedang ingin mengungkapkan rasa cintanya pada pasangannya.
"Istri...bukan...maksudku teman." Bram menggaruk belakang tengkuknya yang tidak gatal.
Si penjaga toko bunga mengernyit dahinya sambil merangkai beberapa bunga mawar putih. Lalu tersenyum kecil.
"Biar semakin romantis, boleh saya tambahkan baby breath flower?"
Bram hanya mengiyakan saja
pertanyaan gadis itu, sambil duduk di sebuah kursi, menunggu buket bunga pesanannya di rangkai.
Sore ini dia berencana menunggu Diah keluar dari kantornya untuk pulang, dia ingin memberi kejutan untuk mantan istrinya itu.
Mereka lama tidak berkomunikasi selain basa basi biasa soal perkembangan Bella, itupun hanya lewat telpon.
Dia tahu benar, Doddy tak pernah kembali lagi selama 10 bulan ini. Dia yakin, laki-laki itu hanya berbohong soal perasaannya pada Diah, buktinya Doddy sama sekali tak pernah lagi menghubungi Diah setelah mereka berdua bercerai.
Bram merasa bertanggungjawab atas status yang telah di sematkannya pada Diah, dia akan mencoba berbicara lagi pada Diah bahwa dia sebenarnya tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Aisyah seperti mungkin yang di sangkakannya selama ini.
Waktu mungkin sudah membuat Diah bisa membuka kembali pintu hati untuknya, bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak ada niat sama sekali?
"Sudah selesai pak..." Suara penjaga toko bunga itu membuyarkan fikiran Bram yang sedang melanglang buana, kesana kemari.
"Oh, iya...berapa?" Bram berdiri dengan sigap.
"Apa yang harus di tulis di greeting cardnya?" Tanyanya sambil menunjukkan sebuah buket mawar cantik berukuran sedang yang terlihat elegan itu.
"Maksudnya bagaimana?" Tanya Bram dengan bingung.
"Bapak mau mengirimnya untuk siapa? Apakah saya harus menulis tujuan dan ucapannya juga, pak?" Penjaga toko itu balik bertanya.
"Oh, ini sebenarnya untuk mantan istri saya." Bram menjawab malu-malu. Si gadis penjaga toko sekarang benar-benar tak berkedip memandang kepada Bram.
__ADS_1
"Aku tak punya kata yang pantas untuk di tulis. Untuk meminta maaf, rasanya terlalu lebay. Mengatakan cinta, terlalu berlebihan. Mungkin biarkan saja begitu, polos tanpa greeting card." Bram berucap sambil terkekeh, entah mengapa dia merasa lucu dengan tingkahnya sendiri yang seperti baru pertama kali jatuh cinta pada seorang perempuan.
"Baiklah kalau begitu, pak." Penjaga toko itu menganggukkan kepalanya, tetap dal pias bingung.
"Apakah anda punya saran apa yang harus ku katakan saat menyerahkan bunga ini padanya?" Tanya Bram tiba-tiba. Pelayan toko yang masih belia itu menaikkan alisnya.
"Bapak ingin rujuk kembali dengan mantan istri bapak?" Tanyanya dengan bimbang, Bram terkesima mendengar pertanyaan yang spontan itu. Dia sebenarnya belum berani berfikir ke sana, tapi dia hanya ingin mencoba memberikan perhatian pada Diah, sesuatu yang tak pernah di lakukannya.
"Apakah...apakah itu mungkin?" Bram seolah bertanya pada dirinya sendiri, sang penjaga toko bengong sendiri melihat tingkah aneh Bram.
"Saya kuranh tahu kalau itu, pak..." Jawabnya sambil menggelengkan kepalanya. Bram tertawa kecil, menertawakan tingkahnya. Lalu segera menyudahi obrolan mereka dengan menanyakan berapa harga buket itu.
Penjaga toko itu segera menyebutkan nominal yang harus di bayarnya dengan tergesa Bram mengeluarkan dua lembar uang merah dari dompetnya.
"Ini terlalu banyak, pak." Dia menyodorkan kembali selembar uang yang di berikan padanya.
"Tak apa. Itu sebagai tanda puasku, telah di buatkan buket yang begini indah." Sahut Bram sambil berlalu, senyum mengembang di bibirnya.
Di lihatnya jam di pergelangan tangannya, hampir jam empat, dia harus bergegas ke kantor Diah.
Dia tahu Diah pulang jam lima, jika jalan tidak macet dia akan menunggu di cafe depan. Begitu Diah keluar, dia hanya perlu menghampirinya.
Jika Diah berkenan mungkin mereka berdua bisa menghabiskan sore di cafe depan itu sejenak.
Berbicara banyak hal...
...***...
Double UP ya hari ini🙏🤗 tunggu kelanjutannya😍
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1