
Rindu Aisyah pada Bram adalah rindu yang tak terucap, bahkan Brampun tak pernah menyadarinya.
Saat seseorang begitu merindu dalam diamnya, Bram tengah berdiri dengan tegak, melepaskan tangan anaknya Bella bertepatan dengan tepuk tangan riuh para tamu setelah mendengar pidato Doddy, sang pengantin pria yang telah mengundangnya ke pesta resepsi pernikahan mantan istrinya Diah.
Saat Bram sedang berada di rumah Aisyah, dia menerima sebuah foto undangan dari nomor tak dikenalnya.
Foto undangan Resepsi pernikahan Doddy dan Diah.
Dia yang sedang duduk di atara para tetangga Aisyah terpana, untung saja acara doa itu baru saja usai.
"Datanglah ke resepsi pernikahan kami, jika ada waktu. Kedatanganmu adalah sebuah restu."
Doddy Al-fadjri
pesan WA itu dari Doddy!
Bram tercenung dia tahu benar Diah telah melaksanakan ijab qobul di Mekkah bersama Doddy, tapi dia sama sekali tak menyangka kalau Doddy akan menghubunginya begini dengan mengirimkan sebuah undangan resepsi.
"Jangan salah paham dengan undangan ini. Sebagai orang yang berjanji pada Diah untuk membahagiakannya di masa depan, aku tetap menghormati masa lalunya. Kedatanganmu, berarti bahwa tak ada yang mesti ku cemaskan dari sebuah kenangan lalu. Kita adalah orang yang terlibat dalam hidup Diah, tetapi mungkin dalam takaran perasaan yang berbeda. Terimakasih atas restumu. Kupastikan Diah bahagia denganku."
Bram tak membalas semua kalimat yang terasa seperti tikaman di jantungnya itu.
"Terimakasih atas undangannya. Aku ridho dunia akherat jika Diah bahagia denganmu."
Tulis Bram, kemudian.
"Terimakasih."
__ADS_1
Hanya itu, pesan yang di kirim Doddy kemudian.
Dan malam ini, Bram berada di Ballroom hotel mewah itu, memenuhi undangan resepsi Pernikahan Diah, setelah pergelutan bathinnya sendiri. Dia tidak mengkhawatirkan Diah, hanya saja dia lebih takut dengan dirinya yang tiba-tiba merasa goncang menyaksikan bagaimana mantan istrinya itu di sunting oleh Doddy dengan begitu sempurnanya.
Dulu, dia hanya memberikan sebuah pernikahan sederhana, ijab qobul tanpa resepsi pada Diah.
Dan hari ini dia menyaksikan Diah benar-benar di istimewakan oleh Doddy.
Memang benar pepatah lama, seorang perempuan jika bertemu laki-laki yang tepat maka dia akan di ratukan.
Suara lagu berkumandang dalam musik yang syahdu, pasangan pengantin itu turun berdansa, atas permintaan MC. Diah meletakkan tangannya di leher Doddy sementara tangan Doddy mendekap mesra pinggang Diah.
Bram menatap dari jauh bagaimana wajah Diah yang tersenyum malu-malu, hal itu mau tidak mau membuat Bram mengalihkan pandangannya kepada laki-laki yang berdiri di depannya sementara kedua tangannya tersembunyi dalam saku celanannya, dalam wajah dingin menatap Bram.
"Raka..."
Ini adalah kali pertama dia berhadapan langsung sejak belasan tahun silam, tentu saja dia tak pernah berniat untuk bertemu dengan Raka setelah dia melarikan tunangan laki-laki ini sebelum pernikahannya.
Mata Raka tak berkedip menatapnya, dan Bram tak terkejut dengan itu. Dia berselingkuh dengan tunangannya dan membawa lari pasangannya itu adalah perbuatan yang nyaris tak bisa di toleransi.
(Cerita pertemuan Raka di resepsi Diah bisa di baca di bab 267 "Menikahi Tunangan Adikku" Ekstrapart Special Diah dan Doddy🤗 yang lupa-lupa ingat boleh buka kembali kusah perjalanan cinta Diah dan Doddy di sana🙏)
...***...
"Kemudian, aku menyadari satu hal...dalam hidup, aku harus berjumpa dengan orang yang salah sebelum aku bertemu orang yang tepat. Dan aku sungguh senang, kamu membawa pergi orang yang salah dari hidupku, dengan demikian aku tak perlu menghabiskan waktuku bersama orang yang salah."
Kalimat yang di ucapkan Raka itu masih mengiang di telinga Bram saat dia keluar dengan tergesa dari Ballroom upacara.
Nafasnya terengah, dia hanya teringat mata Diah yang menatapnya dari kejauhan, air matanya jatuh di sudut matanya. Begitu saja.
__ADS_1
"Apakah Diah juga orang yang salah? ataukah...ataukah aku lah orang yang salah bagi Diah?" Bram menggigit bibirnya sendiri, yang terasa kebas. Pembicaraan singkatnya dengan Raka tadi begitu membekas di hatinya. Rasa berdosa menusuk-nusuk kalbunya terdalam.
"Diah sudah bahagia, aku melihat sendiri, bagaimana dia telah bahagia Ya, Allah." Bram menundukkan wajahnya.
Dia bahkan meninggalkan ruangan itu tanpa bertemu langsung dengan kedua mempelai.
Bram tahu, kehadirannya sudah bukan hal yang berarti bagi Diah. Perempuan yang pernah menemani hidupnya hampir sewindu itu, telah benar-benar bahagia. Tanpanya hidup Diah jauh lebih baik.
Sesaat Bram bersandar di dalam lift, sendiri. Wajah Aisyah mendadak muncul di benaknya, menangis di pundaknya. Gadis itu begitu rapuh.
Dan dia kemudian ingat, ini malam terakhir tahlilan di rumah abah.
Malam ini dia memutuskan untuk menghadiri resepsi Pernikahan Diah hanya untuk Doddy tahu, dia merestui mereka dan tentunya terakhir kali dia melihat Diah sebelum dia yakin, mantan istrinya itu benar-benar telah bahagia bersama suaminya yang baru.
Tak ada lagi hutang rasa untuk masa lalunya, Diah berhak bahagia. Dan dia sekarang mengikhlaskannya. Seperti yang di katakan abah dulu padanya, sebaiknya dia berdamai dengan masa lalu dengan menerima keadaan selapang mungkin maka hidupnya akan lebih tenang.
Dilihatnya jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya. Hampir jam 10 malam. Tahlilan itu pasti sudah usai dari tadi.
Dia sadar tak ada gunanya menangisi masa lalu, kesalahan silam tentunya harus di bayar di masa sekarang.
Di ambilnya ponsel dari dalam saku celananya ketika dia melangkah keluar dari hotel, dia berniat untuk menelpon Aisyah menanyakan jalannya acara tahlilan tanpa dirinya.
Tetapi seketika matanya terpaku,
ada satu pesan masuk dari Aisyah!
(Yuk, yang penasaran apa isi pesan dari Aisyah, pantengi terus ya novel ini😄 jangan lupa bunga, kopi, tips atau apalah bagi yang ada😄 Gak ada jg gak apa2, like dan komennya pun membuat mak othor bahagia...untuk semangat otewe double UP hari ini 🤗🤗🤗)
__ADS_1
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...