
Bram duduk dengan gelisah di kursi cafe seberang kantor Rudiath-Wijaya Group. Begitu lama dia tak pernah ke sini, hampir setahun, tak ada yang berubah banyak.
Kursinya, mejanya...hanya pelayannya yang sepertinya bukan orang yang sama yang pernah di lihatnya.
Waktu cepat sekali berlalu, dan dalam waktu yang singkat itu dia mengalami banyak hal dalam hidupnya.
Kali ini dia duduk di out doornya, persis di depan cafe meski agak tersembunyi di belakang pamflet menu besar yang di dirikan di sudutnya.
Dia melirik jam tangan di pergelangan tangannya, sekali lagi entah untuk keberapa kali sejak dia duduk setengah jam yang lalu. Kopinya sudah bersisa hampir dasar gelas saja, roti bakar yang di pesannya sebagai cemilan sudah dingin bahkan tak tersentuh.
Matanya terlalu fokus mengamati ke seberang mencari sosok yang sangat di tunggunya dari tadi, dia sangat gugup sebenarnya tetapi berusaha yakin dia bisa melakukannya.
16.15 WIB.
Bram melihat mobil yang biasa mengantar jemput Sarah tiba, itu mobil kantor yang di kendarai sopir pribadi Sarah , Bram tahu benar.
"Hhhhhh..." Bram menghela nafasnya, jantungnya berdegup lebih kencang, begitu anehnya perasaan itu seperti anak remaja yang sedang menunggu bertemu pacarnya.
Saat Bram berdiri dan memanggil pelayan, hendak meminta bill. Sopir berumur itu keluar, seorang diri. Tak ada Diah.
__ADS_1
Bram terpaku, sedikit bingung, biasanya dulu saat jam begini sopir itu tiba dan Diah akan berjalan di belakangnya. Mengikuti.
'Apakah Diah tidak masuk kantor hari ini?' Bram membatin. Hatinya penasaran dan sedikit cemas, tak bisa bertemu dengan Diah. Dia telah menyiapkan surprise ini sedemikian rupa.
Sambil membayar tagihan kopinya, mata Bram tak lepas dari mobil kantor itu yang tiba-tiba pergi, tanpa Diah.
"Terimakasih, pak. Sebentar kembaliannya."
"Tidak usah, ambil saja untukmu." Bram menyahut tanpa memperhatikan pelayan itu lagi.
"Oh, Terimakasih banyak pak, silahkan mampir lagi." Pelayan cafe itu membungkuk dengan ramah dan sumringah.
Tak berapa lama, pandangan Bram tertumbuk pada sosok yang sedang di tunggunya, berjalan dari pintu lobby dengan anggun.
Diah terlihat begitu cantik dengan rok cream selutut dan kemeja lengan panjang soft pink bergaris vertikal seperti halnya kemeja yang di gunakan Bram hanya saja warnanya berbeda.
Bram tak pernah merasa terpukau pada Diah seperti ini,
'Diah...dia terlihat...terlihat sangat cantik.' Bram tak bisa menahan kekagumannya, entah kemana dia selama ini sampai-sampai tak menyadari jika istrinya itu begitu mempesona.
__ADS_1
Mungkin betul yang di katakan orang seorang suami tak pernah benar-benar memperhatikan istrinya ketika sibuk mengagumi perempuan lain sehingga tak menyadari jika istrinya adalah permata yang berkilau.
Bram mengambil buket mawar di samping kursinya, dadanya bergemuruh aneh, dia bahkan bingung apa yang akan di katakannya pada Diah. Semua skenario yang diaturnya entah mengapa menguap hilang begitu saja.
Di seberang sana, terlihat Diah tiba-tiba mengangkat telponnya, seperti dia menghubungi seseorang atau ada orang yang menghubunginya.
"Diah, tunggulah aku di sana. Tunggu aku sebentar lagi, kita harus bertemu. Banyak yang ingin ku katakan padamu." Gumamnya dalam hati. Di antara rasa gugupnya kini, Bram sungguh tak sabar ingin bertemu dengan Diah.
"Maafkan aku yang tak pernah benar-benar membuka mataku untukmu selama ini. Mulai hari ini, jika kamu memberiku kesempatan aku menjadikanmu ratu satu-satunya dalam hidupku."
Akak sudah memenuhi janji double UP ya hari ini, tapi khusus hari ini karena satu bab sedikit pendek akak langsung triple UP ya🤗 mudah2an besok kita bisa double UP lagi☺️ Jangan lupa Vote yang belum vote🤗 komen dan likenya dari para pembaca tersayang adalah penyemangat othor menulis❤️❤️❤️)
...***...
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...