
Faraz menatap wajah Aisyah dan Bram bergantian, tangannya gemetar memegang tongkat besi yang telah di belikan Bram untuknya mengganti tongkat kayunya yang entah di mana setelah dia pingsan dan di bawa ke rumah sakit, tiga hari yang lalu.
"Kita akan menemui ibumu di sini?" Mata Faraz menatap ragu pada Aisyah sambil menatap tulisan besar di depan tembok tinggi itu "PANTI REHABILITAS MENTAL RUH SIHIYA"
Dia telah mengenakan baju bersih yang rapi dengan peci warna hitam yang di belikan Aisyah, terlihat jauh lebih baik dari penampilannya saat pertama bertemu dengan Aisyah.
Aisyah menganggukkan kepalanya sambil memencet bel yang melekat di tembok.
"Atifa di sini?" Tanyanya dengan gugup.
Aisyah tak menjawab, Bram hanya diam, dia tak ingin mendahului Aisyah dalam hal apapun untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Beberapa menit kemudian mereka memasuki sebuah lorong aetelah pintu di buka oleh seorang petugas yang tampak begitu akrab mengenal Aisyah.
"Ayah, sepuluh tahun yang lalu..." Aisyah berdiri di depan pintu sebuah kamar dengan wajah yang membeku.
"Ayah telah meninggalkan ibu di sebuah tempat beserta kenangannya, dan...ibu tak pernah pergi dari tempat dan waktu yang sama. Dia tetap menunggu di sana, di tempat di mana ayah berjanji akan kembali." Ucap Aisyah dengan sedih.
Faraz menatap Aisyah termangu mencoba meraba maksud dari gadis itu.
"Dari kemarin ayah bertanya tentang ibumu, tetapi kamu tak menjawab apapun."
"Karena aku tak tahu harus menjawab apa." Sahut Aisyah.
"Jika ayah bertemu ibu hari ini, aku sungguh berharap ibu kembali dan mengakhiri semua penantiannya. Entah apa yang terjadi, aku sungguh berharap ayah mengembalikan ingatan ibu."
Aisyah membuka perlahan gagang pintu dan di sana, dan pemandangan pertama di dalam ruangan yang tak seberapa besar itu, Atifa sedang duduk di kursi menghadap jendela, tubuhnya tegak dengan kepala menatap lurus keluar, menatap langit sore.
Atifa dengan kerudung hitamnya seperti seseorang yang sedang berkabung.
"Ibu..." Panggil Aisyah, memecah sunyi.
Tubuh itu tak bergeming, seolah tidak mendengar apa-apa.
"Assalammualaikum Ibu, ini Isah..." Aisyah berjalan mendekati kursi sang ibu, membungkuk dan mencium tangan yang seperti manequin itu.
"Seseorang yang ibu tunggu, sepuluh tahun yang lalu...datang menemui ibu." Bisik Aisyah dengan suara parau.
__ADS_1
Atifa menatap sesaat pada Aisyah sebelum menatap kembali ke arah jendela, tanpa ekspresi.
Dengan perlahan, Aisyah memutar kursi kayu yang di duduki ibunya itu, tubuh Atifa tidak berat, karena badannya lebih ramping dari Aisyah.
Faraz masih berdiri di depan pintu bersama Bram, tubuh Faraz gemetar saat beradu pandang dengan tatapan kosong Atifa.
"Dik...?" Panggil Faraz dengan takut-takut. Tetapi yang di panggil tak merespon.
"Ada apa denganmu, dik?" Tanyanya dengan suara sengau, antara tangis dan ketakutan.
Atifa menatap Faraz begitu lama, hampir tak berkedip, bibirnya terkatup rapat.
"Ibu? Apakah kamu ingat padanya?" Tanya Aisyah sambil memeluk leher ibunya, air mata jatuh di kerudung ibunya yang hitam legam.
Atifa tak menjawab, matanya tertumbuk lurus pada Faraz, mata itu sempat berkilat seperti kaca, seolah terpana.
"Dia...dia ayah, yang selalu ibu tunggu siang dan malam." Bisik Aisyah parau di telinga ibunya.
"I...Isah? I...Ibumu?" Faraz mendekat, dengan langkah pendek dan satu-satu.
"Ibu kehilangan ingatannya setelah ayah meninggalkan ibu." Aisyah berusaha mengatakan kalimat itu dengan tabah.
"Ibu hanya tahu menunggu ayah, dia menjadi lupa pada dirinya sendiri. Bahkan kami...kami telah kehilangan Faiq."
"Fa..Faiq?"
"Faiq adalah anak yang ayah tinggalkan tanpa sempat ayah lihat wajahnya karena masih berada di dalam kandungan. Dia adikku, anak istimewa yang tampan. Dia telah berjalan lebih dulu menuju surga."
"Bagai...mana bisa?"
"Ibu melemparnya lewat jendela karena kehilangan ingatannya."
Faraz tersungkur di depan kaki Atifa yang duduk tak bergeming. Tangisnya pecah, dengan punggung yang gemetar karena tangisan, kepalanya hampir menyentuh lantai dalam sesal dan sedih yang tak terkatakan. Dia tak bisa menyangkal jika merasa bahwa telah membunuh anak kandungnya sendiri lewat tangan istrinya, Atifa.
Atifa tidak akan melakukannya jika tidak karena perbuatannya. Faraz benar-benar shock, tubuhnya berguncang, hidupnya terasa mati dalam penyesalan.
Perlahan tangan Atifa terulur, menyentuh pundak Faraz.
__ADS_1
"Kak..." Suara Atifa terdengar untuk pertama kalinya.
Faraz mendonggakkan kepalanya, bersamaan dengan Aisyah yang tertegun seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Kak Syarif..." Panggilnya, sambil membelai pipi Faraz. Aisyah seketika seperti di hempaskan kembali dalam kecewanya, ibunya tidak mengenal ayahnya tetapi melihat Faraz sebagai sosok kakaknya.
"Kak Syarif, katakan pada Kak Faraz..." Ucapnya dengan senyum yang terkembang aneh seperti orang yang menahan nyeri sementara setitik air bening jatuh di sudut matanya seolah ada setitik kesadaran muncul tetapi dia masih tersesat di dalam fikirannya sendiri.
"Aku sudah lelah menunggu..." Bisiknya parau.
"Atifa...ini aku...ini aku Faraz." Faraz menangis meraung di kaki Atifa, dia tak ingat lagi jika dia adalah seorang laki-laki.
"Ampuni aku, dik...tolong ampuni aku...tolong..." Faraz melolong, dia tak pernah bermimpi satu kesalahannya telah membuat hidup Atifa demikian hancur bahkan seorang anak menjadi tumbal atas perbuatannya, sebuah dosa yang di kiranya hanya dia memikul balasnya, ternyata seluruh keluarganya adalah korban yang menderita.
"Kak Syarif, kamu benar kak, aku telah membayar mahal untuk cintaku pada kak Faraz. Katakan saja padanya, aku sudah ikhlas, jangan pernah kembali lagi."
Kata-kata itu terdengar begitu menyedihkan di telinga, seperti di ucapkan orang normal tetapi mata itu tak berkedip hampa.
"Isah..." Atifa menoleh kepada Aisyah, mata itu menatap Aisyah dengan pandangan berbeda.
"Ibu lelah, ibu mau tidur..." Dia beranjak dan berdiri lalu tanpa di bantu oleh siapapun, dia beranjak ke tempat tidur kayunya.
Berbaring menghadap dinding. Tanpa bergerak lagi.
Tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Atifa, dia benar-benar seolah menutup pintu untuk kesadarannya sendiri. Dia tak lagi menoleh pada semua orang.
Aisyah terduduk di lantai, kakinya gemetar hanya menatap ayahnya yang terus menangis dalam sesal, dia tak pernah menyangka perbuatannya di masa lalu telah membuat Atifa menderita seumur hidup.
(Hari ini double UP ya buat yang kangen Bram, si duda yang tak sabar menikah lagi🙏😅 Yuk, Di Vote semuaaaaaaaa☺️☺️☺️)
*Racun cinta itu lebih kejam dan mematikan dari bisa ular, dia membunuh perlahan dari dalam pada orang yang yang tak punya penawarnya. Apakah penawarnya? Penawarnya hanya do'a, kesabaran dan keikhlasan, berserahlah pada Pencipta, karena dari sanalah segala sesuatunya berasal termasuk perasaan Cinta*
Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......
...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...
__ADS_1