
Bram terpekur, hatinya terasa nyeri ketika mendengar kalimat terakhir dari pak Syarif, tentang senangnya berkumpul dengan orang-orang yang mencintai kita, karena sekarang dia merasa tak punya siapa-siapa yang sungguh-sungguh mencintainya. Dia telah membuat Beni kecilnya meninggal, Diah sang istri meninggalkannya dan Bella yang kini bersama sang mama.
“Nak, sebentar lagi fajar terbit, sebaiknya kita ke rumah dulu, pagi ini Aisyah akan memasak banyak. Karena hari ini adalah ulang tahun Abah, jadi aku mengundangmu untuk makan bersama kami.” Pak Syarif mengibaskan sarungnya, pertanda dirinya siap untuk bangkit dan beranjak.
Pagi itu Bram mengikuti langkah pak Syarif menuju rumahnya, dan untuk pertama kalinya dia masuk ke rumah sederhana itu setelah sekian lama. Dan duduk di atas kursi tamu dari kayu dengan kanvas tipis di dudukannya. Bukan karena pak Syarif melarang dia masuk tetapi selama ini Bram menolak untuk masuk. Dia lebih senang duduk di selasar rumah, sambil menikmati udara pagi yang segar serta secangkir kopi panas yang di suguhkan kepadanya.
Aisyah tampak manis menyongsong dalam balutan kain sederhana. Dia cantik dalam aura alami yang tak bisa di jabarkan. Di tangannya baki dengan dua cangkir kopi, seperti biasanya.
Setelah membalaskan salam ayahnya itu, dia meletakkan kopi itu di atas meja. Matanya sekilas melirik pada Bram, sekarang dia benar-benar sudah terbiasa dengan kehadiran Bram.
“Abah, Isah akan pergi ke pasar, hari ini Isah akan memasak semur daging untuk ulang tahun abah.” Aisyah berdiri sambil menatap pak Syarif yang mengangkat wajahnya pada gadis itu.
“Ke pasar? Bagaimana dengan Tito? Siapa yang akan mengantarnya ke sekolah?”
“Hari ini hari sabtu, apakah abah lupa? Sekolah Tito hanya lima hari sekolah.” Jawab Aisyah.
“Oh…” pak Syarif mengangguk kepalanya tanda mengerti.
“Masaklah lebih ya, hari ini nak Bram abah undang untuk makan bersama kita.” Ujar pak Syarif.
“Baik, bah.” Aisyah kemudian pamit masuk untuk bersiap-siap berangkat. Bram asyik mendengarkan cerita pak Syarif tentang ayat-ayat yang di kutipnya dari kitab suci, mengenai bersikap sabar.
__ADS_1
“Sabar sebenarnya adalah bagian dari ketaatan kita kepada Tuhan.seperti misalnya, ketika pagi hari cuaca terasa dingin namun kita harus menjalankan kewajiban kita atas perintah Tuhan yakni sholat subuh. Maka, kita harus senantiasa menjalankannya, bersabar dan melawan segala persaan yang bisa membuat kita enggan melakukannya. Puasa juga adalah untuk menguji kesabaran. Jika ingin mendapatkan ridhaNya, maka lakukanlah semua dengan taat dan tulus ikhlas.” Pak Syarif memang tak pernah bosan untuk mengingatkan Bram, dan Bram
sendiri sangat senang mendengar ketika pak Syarif sedang berbicara. Rasanya, dirinya begitu tenang mendengarnya.
Aisyah muncul di ruang tamu dengan kerudung warna cokelat muda hampir krem dan baju warna cokelat longgar, dia terlihat lebih dewasa dengan tampilan seperti itu. Sebuah tas tersampir di bahunya, dia siap untuk berangkat.
“Isah pamit, abah.” Aisyah menjulurkan tangannnya, menciumi tangan pak Syarif untuk pamit sembari mengucapkan salam.
“Kamu pergi sendiri? Tito tidak ikut?” Tanya pak Syarif sambil celingukan melihat ke belakang punggung Aisyah. Biasanya Tito akan ikut kemana uminya itu.
“Tito pagi-pagi sudah pergi tadi, katanya ikut wak Agil menguras kolam ikannya. Hari ini mereka panen di tambak sekaligus menguras kolam. Siang akan pulang.” Jawab Aisyah.
“Isah akan berjalan sampai depan, Isah bisa saja naik ojek atau taksi.”
Pak Syarif sejenak manggut-manggut, tetapi kemudian dia berpaling pada Bram.
“Nak Bram, apakah bisa membantu abah?”
“Tentu saja, bah…apa yang bisa aku bantu?” Bram menjawab tergagap, dia tak menyangka tiba-tiba Pak Syarif bertanya padanya.
“Bisakah nak Bram mengantarkan Aisyah ke pasar? Abah sedikit was-was kalau dia naik ojek.” Permintaan itu terdengar begitu hati-hati.
__ADS_1
'Oh, tentu saja, Bah." Bram menyahut meski dia sempat tercengang mendengar permintaan pak Syarif yang tak di sangka-sangkanya itu.
"Abah, Isah bisa pergi sendiri. Abah dan Pak Bram bisa menunggu di rumah, saya akan segera kembali." Wajah Aisyah memerah, dia tak kalah terkejutnya dengan permintaan ayahnya itu.
"Aisyah, Abah hanya minta tolong nak Bram mengantarmu jika dia tak keberatan. Abah lebih tenang jika kamu pergi di antar nak Bram, dari pada di antar ojek" Pak Syarif berucap lagi.
"Apakah nak Bram tidak keberatan?" Tanya Abah tiba-tiba pada Bram.
"Oh, tentu saja. Saya senang bisa mengantarkan dik Aisyah jika itu bisa membantu." Bram menyahut sedikit tergagap. Entah kenapa dia menjadi gugup, sesuatu perasaan yang tak pernah di rasakannya saat berhadapan perempuan.
Selama ini, dia mampu menundukkan perempuan manapun jika dia mau, tetapi di depan Aisyah yang santun, dia malah tertunduk canggung.
Perempuan jika pandai menghargai dirinya sendiri tentu saja membuat laki-laki menjadi lebih hormat. Bram bahkan hampir tak berani mengangkat wajah untuk melihat Aisyah karena begitu takut tatapannya membuat perempuan itu dan pak Syarif salah paham.
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1