CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 60. TAKUT KEHILANGAN


__ADS_3

Mpok ndak curiga apa? itu wak Agil bisa kaya raya, duitnya ndak habis-habis tujuh turunan datangnya dari mana?"


"Dari mane?"


"Mpok kok jadi orang polos banget macam kertas ulangan ndak ada jawabannya."


"Memangnya kenapa?" Mpok Mumun melotot dengan antusias, khas gaya emak-emak ghibah.


"Dia ada pesugihan!"


"Astagfirullah...." Mpok Mumun membeliak,


"Eh, tapi apa hubungannya pesugihan sama ngawinin Aisyah?"


"Wak Agil tiap tujuh tahun sekali harus ngawinin perawan, itu tumbal pesugihannya."


"Astagfirullahaladzim...!" Mpok Mumun sampai lupa untuk menutup mulutnya mendengar gosip hangat yang di ceritakan Mbal Retno dengan bersemangat.


"Dulu, istri keduanya setelah bu Hasni meninggal pas lahiran menurut cek en ricek gara-gara waktu di kawinin sudah ndak perawan lagi, terus yang tadi itu, yang ikut sama bu Hasni itu sebenarnya istri ketiganya, di kawininnya delapan tahun yang lalu dari kampung sebelah. Terus, setahun yang lalu, kabarnya dia mau ngawinin anak perawan kang Memet, eh belum sempat di kawinin, si anak baru lulus SMA itu keburu kabur sama pacarnya."


Bram dan Aisyah hanya saling pandang, mereka hanya bisa mendengar tanpa bisa menyela, mbak Retno tampak begitu bersemangat bercerita dengan mpok Mumun.


"Ret, kamu jangan asal ngomong, lho. Kalau kagak bener, dosa lu...!" Mpok Mumun mendelik kepada mbak Retno.


"Ish...mpok ndak percaya? Inget ora setahunan ini tambak wak Agil sering merugi? Malah ada satu tambaknya bulan kemarin, ndak ada angin ndak ada badai eh ikan-ikannya mati semuanya, satu kolam ndak bersisa. Itu konon hasil terawangan, karena pesugihannya minta anak perawan, telat setahun dari perjanjian." Mbak Retno menarik sudut bibirnya dengan mata terpicing, gayanya sangat meyakinkan.


"Pantesan bu Hasni ngotot mau ngawinin Aisyah sama wak Agil, dia kan tahu Aisyah belum pernah kawin, masih perawan ting ting! Ck...ck...jadi orang kok syirik begitu biar bisa banyak duit, kaga inget dosa apa, ya?" Mpok Mumun menggeleng-gelengkan kepalanya, dua orang itu kemudian baru menyadari Bram dan Aisyah hanya melongo melihat keasyikan mereka bergosip.

__ADS_1


"Astagfirullah mbak Retno, tidak baik membicarakan orang, apalagi berita yang tidak tentu kebenarannya." Bram menaikkan alisnya, mbak Retno langsung tersipu di tegur oleh Bram.


"Iya, nih...Retno memang mulutnya kayak reporter aja, kagak tau dari mane-mane, ada aja bahan gosipnya." Mpok Mumun meruncingkan mulutnya bergaya cuci tangan.


"Ih, tapi itu rahasia umum, lho. Aku ndak bakal cerita kalau ndak ada sumber validnya. Kenal Mbok Iyut, mantan pembantu bu Hasni...?"


"Ho'oh!" Mpok Mumun menyambar seketika lupa dengan teguran Bram.


Mata Aisyah melotot pada Mbak Retno sambil melirik Bram, memberi kode keras, jangan bergosip di depan Bram.


"Eh, kita lanjutkan di rumahku, yuk mpok. Sambil ngerujak mangga muda dari kebonnya bang Mamat. Biar kita tinggalin dulu yang lagi ada janji ta'arufan ini. Siapa tahu ada yang mau di omongin." Mbak Retno menarik tangan Mpok Mumun meninggalkan Bram dan Aisyah yang masih berdiri di teras rumah selepas mengantar pak RT dan bu RT tadi sebagai tamu terakhir sebelum Mpok Mumun dan Mbak Retno.


Sesaat mereka saling mencuri pandang, ketika punggung mbak Retno dan mpok Mumun sudah tak kelihatan.


"Mas Bram..." Aisyah menundukkan kepalanya sambil meremas ujung kerudungnya.


"Ya..."


"Melakukan apa?"


"Harus berbohong, kalau mas Bram mau..."


"Aku tidak berbohong."


"Hah!" Aisyah mengangkat wajahnya yang merona.


"Aku serius ingin menjadikanmu istriku..."

__ADS_1


"Mas Bram?"


"Jika kamu bersedia tentunya." Bram tersenyum, sambil menahan tangannya sendiri yang begitu gatal ingin menyentuh dagu Aisyah.


Dengan dada bergemuruh sendiri, dia beristiqfar dalam hati, sebagai laki-laki yang pernah begitu piawai urusan perempuan tentu saja masih ada sedikit godaan di hatinya untuk menyentuh, meski itu niat tak lebih karena dia gemas sekali melihat wajah Aisyah yang polos menatapnya dengan terpana itu.


"Mas Bram se...serius...?"


"Kamu kira aku main-main?" Tanya Bram dengan mimik kecewa.


"Ta...tapi..."


"Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia..." Bram menatap Aisyah tak berkedip.


"Ke..kenapa mas Bram melakukannya?" Tanya Aisyah dengan suara gemetar.


"Karena...saat aku mendengar ada orang lain ingin menikahimu rasanya aku mau mati." Jawab Bram, perlahan.


"Kau tahu mengapa?" Bram balik bertanya.


"Kenapa?" Tanya Aisyah dengan polos.


"Karena aku mencintaimu, Aisyah." Jawab Bram dengan tegas.



(Sudah double UP ya hari ini, khusus buat para pembaca kesayangan akak💟😆)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏...


__ADS_2