
Tak ada air yang tak beriak, tak ada laut yang tak berombak, tak ada hidup yang tak bertemu ujian.
Setelah sekian tahun pernikahan Atifa dan Faras yang layaknya romeo Julieth itu dan mereka memiliki perkawinan yang hampir tanpa gelombang.
Pada lima belas tahun pernikahan mereka, akhirnya badai itu tiba dan tak bisa di hentikan, memporak porandakan setiap dinding yang telah berusaha mereka bangun bersama.
Setelah tiga tahun merantau di tanah borneo yang kaya itu, Faras mengakui dia telah menikah secara siri dengan seorang janda berprofesi bidan di mana dia tinggal. Bidan muda berstatus janda dengan anak satu.
Memang benar, tidak semua orang sanggup berjauhan dengan pasangannya, meski mungkin dia telah berjanji untuk setia.
Faras tidak kurang ilmu agama yang telah di telannya tetapi jika hanya hanya menelan tanpa mengamalkannya dengan baik, maka serupa air di daun lontar, dia hanya lewat saja.
Tetapi, bagaimana bisa menghakimi seseorang yang merasa dirinya tak salah, Faras mungkin meminta maaf tapi dia tak menyesalinya. Atau, jikapun dia meratap sesal, segalanya mungkin sudah menjadi bubur. Dia merasa maju salah, mundurpun tetap salah.
Ketika Atifa memintanya untuk meninggalkan Ani, istri barunya itu, Faras menggelengkan kepalanya.
"Sebegitu dalamnya kamu mencintai perempuan itu, sehingga begitu sulit kak Faras meninggalkannya?"
"Ini tidak hanya soal cinta, dik. Tapi aku telah menikahinya secara siri." Sahut Faras dia terlihat keberatan.
"Tapi aku juga telah kau nikahi secara sah, bahkan secara agama dan negara. Kita berdua memiliki anak yang kini hampir lulus sekolah dasar. Apakah hakku lebih sedikit dalam menuntutmu meninggalkan perempuan yang mungkin kau ke kenal baru semusim itu?"
"Aku tidak bisa meninggalkannya, tak bisakah kamu permudah saja semuanya, dik. Aku minta terima saja dia sebagai adik untukmu dalam pernikahan kita. Tidak ada salahnya berpoligami dalam agama kita" Faras begitu keukeh mempertahan Ani, terlihat jelas di wajahnya.
"Tidak ada yang salah dengan berpoligami jika itu dilakukan dengan benar! Datang pada istri pertamamu, katakan, jika dia mengijinkan maka tak ada yang salah soal itu."
"Bagaimana aku bisa meminta ijin padamu, aku hampir yakin seratus persen kamu pasti menolaknya"
Atifa menatap tajam kepada suaminya, sepanjang hari kemarin dia sudah menangis sampai kelelahan. Dan hari ini dia keluar kamar, suaminya itu telah menunggunya di kursi mengajaknya bernegosiasi kembali.
" Kak Faras, kakak tahu aku begitu rapuh soal cinta, aku mempercayaimu melebihi aku percaya pada diriku srndiri. Karena itu aku tidak bersedia di madu. Tolong tinggalkan dia, demi aku dan Aisyah dan anak yang ku kandung.aku belum siap untuk berbagi dengan perempuan lain. Aku belum mampu..." Atifa memohon dengan getir, Atifa adalah perempuan polos dan jujur dia akan mengatakan apa yang di rasakannya.
"Dik, beri aku kesempatan."
Melihat Faras begitu teguh mempertahankan istri barunya itu semakin membuat Atifa sakit, hancur dan terbakar oleh cemburu.
__ADS_1
"Kak Faras, apakah kak Faras merasa mampu untuk berbuat adil. Jangan bandingkan dirimu dengan rosul yang mulia. Kamu jauh untuk mampu melakukannya." Atifa memperingatkan, wajahnya yang semula pucat itu sedikit merona, oleh kegeraman hatinya sendiri.
"Ini perkara hatiku sebagai manusia yang jauh dari sempurna, aku tahu aku tak akan mampu menahan perasaanku saat melihatmu bersama perempuan lain. Maafkan aku, aku tak bisa menerima pernikahanmu. Aku sedang hamil besar, aku ingin kamu ada di sampingku tanpa memikirkan siapapun."
"Dik...dia sudah menjadi mualaf demi mengikuti aku..." Desah Faras.
Atifa tercengang sejenak, matanya tak mengerjap beberapa saat.
"Apakah sama nilainya seorang yang datang dan mencintaimu karena Allah dengan perempuan yang meninggalkan Tuhannya demi menghalalkan hubungan dan mengejar nafsu dengan suami orang lain?"
Pertanyaan Atifa itu terdengar begitu pilu, menatap suaminya dengan raut lelah dan menyerah.
Faras diam tak bergeming, dia tak menjawab.
"Aku minta, tinggalkan dia...jika kamu benar-benar mencintaiku."
Itulah pembicaraan terakhir mereka, sebelum kemudian pada malam harinya, Faras hilang dari sebelah Aisyah ketika dia tertidur. Seingat Aisyah ayahnya itu memeluknya dengan erat, dia merasa rambutnya basah, sepertinya ayahnya itu menangis sambil menidurkannya di sela diq membaca sebuah cerita untuk Aisyah.
Dan ketika bangun lewat tengah malam, Aisyah mendapati ibunya menangis, terduduk di lantai, bersandar pada dinding kamar Aisyah. Airmatanya deras keluar bahkan tak berhenti-henti. Matanya yang berair itu kosong menatap ke arah pintu kamar yang terbuka setengah.
Dik Atifa...
Maafkan aku,
Aku tak bisa meninggalkan Ani, jika kamu memintaku memilih meninggalkannya.
Aku mencintainya, seperti dulu aku mencintaimu.
Berat melepas semuanya, tapi aku tahu kamu akan baik-baik saja dengan Aisyah tanpa aku.
Kamu boleh membenciku karena pilihanku ini, tapi aku telah memikirnya sepanjang malam dan aku tak bisa membiarkan Ani menungguku sendiri.
Tak ada kurangnya dirimu sebagai istri, tapi aku yang tak sempurna menjadi suami.
Aku akan pergi, dan mungkin tak pernah kembali, ceritakan pada Aisyah dan anak kita yang akan kau lahirkan, bahwa ayah mereka telah mati, tenggelam dalam rawa-rawa di Kalimantan atau hanyut di bawa arus sungai Barito. Aku tak bisa lagi kembali ketika jalanku sudah terlalu jauh,
__ADS_1
Dik Atifa ku talak dirimu dan ku bebaskan kamu dari semua kewajibanmu sebagai istri bagiku.
Menikahlah dengan orang yang baik, aku akan ridho dunia akherat.
Dariku,
Faras
Sejak hari itu, Aisyah tak pernah melihat lagi ayahnya pulang, dan ibunya itu tenggelam dalam kesedihan yang tak bertepi.
Dia kehilangan semangat hidupnya, di hantam depresi yang berat.
Kesalahan fatal seorang perempuan ketika dia begitu mempercayai laki-laki melebihi dirinya sendiri, ketika cinta dan hidupnya di serahkannya bulat-bulat pada suaminya bahkan tak menyisakan sedikit ruang untuk hatinya, saat dia dikecewakan maka dia akan hancur perlahan dari dalam.
"Seorang istri wajib patuh dan memuliakan suaminya tetapi tidak mencintainya melebihi Tuhannya. Suami adalah manusia, dia bisa mengecewakan kita di suatu titik, saat kita terlalu mendewakannya maka kita akan kehilangan diri dan kewarasan kita."
Kalimat itu terbukti pada Atifa, sepeninggal Faras dia begitu terluka dan kehilangan kepercayaan dirinya.
Dia lupa dirinya sedang hamil besar dan dia menolak makan berhari-hari.
Semandiri apapun wanita, sekuat apapun dia jika soal cinta tak semua orang bisa mengatasi jika tertusuk racunnya.
Kaka Atifa, Syarif berusaha mencari jejak Faras tetapi suami dari adiknya seperti hilang entah kemana. Nomor ponsel tak bisa di hubungi. Syarif berusaha melacak ke tempatnya bekerja tetapi perusahaan menginformasikan Faras telah resign beberapa hari sebelumnya. Untuk alamat tempat tinggalnya mereka hanya bilang, Faras sudah tak tinggal di mess perusahaan lagi karena dia telah keluar.
Aisyah merasakan sakit luar biasa di masa kanak-kanaknya, ayahnya telah menelantarkannya dan ibu yang dalam keadaan hamil tua demi perempuan lain. Dan Aisyah harus menyaksikan keadaan ibunya yang dari hari ke hari semakin murung dan tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Atifa hanya tinggal di kamarnya, mengelus perutnya dan mengatakan,
"Ayahmu akan segera pulang, nak. Jangan keluar dulu sebelum ayahmu tiba."
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
__ADS_1
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...