
Resepsi pernikahan Bram dan Aisyah diselenggarakan di sebuah ballroom hotel. Detilnya diatur sedemikian rupa meski terlihat simpel namun begitu elegan.
Dekorasi di dominasi warna putih dan softpink yang lembut. Para tamu adalah kerabat dan keluarga besar dari Bram serta teman dan kolega bisnis papa Bram dan Bram sendiri.
Keluarga Aisyah yang datang memang bisa di hitung dengan jari karena memang tak banyak, tak lupa ada mbak Retno yang hadir mengenakan gaun malam berwarna putih yang sedikit seksi. Ada pula mpok Mumun dengan segala keribetannya.
^^^
Mbak Retno^^^
Adka yang memakai pakaian semi jas biru malam itu tampak dewasa dari pada usianya.
Dia terlihat tampan dari biasanya dan menempel seperti perangko kemanapun Mbak Retno berjalan.
"Eh, ngapain kamu kayak bebek dari tadi, ngikutin terus?" Mbak Retno melotot pada Adka.
"Adka gak ngikutin mbak, cuma kebetulan dari tadi di belakang mbak." Pemuda tanggung itu berkelit.
"Tapi perasaan dari tadi kamu ngekorin mbak, deh?"
"Perasaan mbak aja." Jawab Adka sambil menaikkan bahunya. Tak bisa di tampik malam ini Adka terlihat tampan.
...Adka...
"Coba terima tamu saja sana, biar kamu ndak gabut begitu." Omel mbak Retno.
"Dah banyak yang terima tamu, tapi yang jagain mbak gak ada..."Si Adka mulai nyengir dengar berani.
"Oalaaah, anak bawang mulai berani godain orangtua, ya?" Mata cantik mbak Retno makin melotot.
"Jangan panggil Adka anak bawang terus mbak, Adka tahun depan dah duapuluh, lho..." sungut Adka.
"Hey, sayangku...jangan sombong soal umur, tahun depan embak sudah tiga dua!"
"Masaaaa....?" Adka terlihat berpura-pura terkejut, dia membeliak jenaka, anak ini biasanya pendiam tetapi malam ini terlihat lebih berani.
__ADS_1
"Masa apanya? Ndak percaya?"
"Kayaknya salah dukcatpil catatin tahun lahir mbak..."
"Eh?"
"Masa tiga dua wajahnya madih dua tiga?"
Serta merta wajah mbak Retno memerah. Salting dibuat anak kemarin sore ini lebih berasa dari pada di godain om-om.
"Sembarangan kalau nyocot. Mau ta keluarin KTP mbak opo, hah?"
"Gak usah, mbak. Nanti aja keluarin KTPnya, nunggu di KUA." Seloroh Adka sambil menyeringai sebelum dia ngacir menuju tempat dimana ayahnya Faraz terlihat kesulitan sedang berusaha duduk di sebelah kursi Atifa yang malam itu tak kalah anggunnya dalam balutan kerudung warna cream bersih.
"Astagfirullah..." Mbak Retno mengurut dadanya, anak itu akhir-akhir ini memang menjadi dekat dengannya apalagi sejak dia sekarang tinggal bersama ayahnya di rumah lama Aisyah, di belakang mesjid.
Beberapa kali setiap adzan sholat, Adka juga sering mengumandangkan suaranya yang merdu. Anak itu, sholatnya baik dan santun, dia selalu menundukkan kepala di depan orangtua, hanya pada mbak Retno kadang-kadang dia lupa menunduk.
Di depan, Atifa melenparkan senyumnya, membaur dengan baik bersama kerabat Bram. Dia tak banyak bicara, tetapi senyumnya selalu tersungging lebar. Di sebelahnya, Faraz kadang kala tak berkedip mencuri pandang pada Atifa.
Pengantin belum tiba di ruangan itu tetapi para tamu sudah cukup banyak yang hadir. Tak terkecuali Raka yang hari itu tiba dengan menggandeng istrinya Sarah.
...Sarah...
^^^
Raka^^^
Dalam balutan gaun flowers yang sederhana, Sarah benar-benar elegan. Rambutnya ditata sedemikian rupa, tidak berlebihan malah berkesan sederhana. Raka dalam tampilan formal seperti biasa, menebar senyumnya yang manis itu.
Sarah dan Raka memang tamu tak biasa mengingat perseteruan yang terjadi antara Raka dan Bram di nasa lalu. Bagaimanapun, Bram pernah melarikan tunangan Raka. Tetapi, Raka adalah orang yang berbesar hati, dia tak pernah menyimpan dendam untuk kejadian di masa lalu. Dengan senang hati dia menghadiri undangan pernikahan Bram meski bukan perkara mudah membujuk Sarah untuk hadir.
Soal hati perempuan kadang tak mudah untuk melupakan, bagaimana Sally dan Bram pernah membuat kenangan buruk untuk keluarganya.
"Tak ada salahnya datang dan memberi restu untuk orang yang telah menyakiti kita di masa lalu. Bagaimana kita memaafkan kadang lebih penting dari pada mempertunjukkan sakit hati. Kita harus move on dengan kehidupan kita dari pada menyimpan marah untuk sesuatu yang telah usai. Sally telah bahagia bersama suaminya, kita berduapun telah bahagia dengan kehidupan kita. Menghadiri sebuah undangan tak akan membuat kita kehilangan sedikitpun dari kebahagiaan kita." Ucapan Raka itu tentu saja meluluhkan hati Sarah yang kadang keras itu.
__ADS_1
Sarah dan Raka memang di takdirkan satu sama lain untuk saling menguatkan.
Tak berselang lama, Diah dan Doddy pun tiba, pasangan itu sempurna. Sambil menggandeng Bella yang terlihat begitu percaya diri dalam gaun malamnya yang lucu, putri Bram dan Diah itu terlihat sumringah . Diah memeluk Sarah dengan senang, setidaknya tekah berbulan-bulan mereka tak pernah berjumpa. Sejak Diah resign dari pekerjaannya sebagai asisten Sarah, mereka memang jarang bertemu, apalagi Sarah sering bolak balik ke Kanada.
Diah
Doddy
Diah adalah mantan istri yang begitu besar hati setelah tersakiti begitu besarnya bertahun-tahun, dia menerimanya bahkan dengan bahagia menghadiri pernikahan mantan suaminya.
Takdir telah membayar lunas setiap air matanya dengan kehadiran Doddy, yang mencintainya dengan sempurna. Keikhlasannya membuang semua akar pahit yang pernah ada.
Doddy dan Raka sudah begitu akrab, saat bertemu mereka selalu terlibat pembicaraan bisnis, apa lagi mereka berdua sedang terlibat dalam satu projek yang sedang berjalan dengan salah satu pengusaha asal kalimantan.
"Pak Januar sepertinya akan hadir di sini juga. Aku dengar dia di undang oleh Bram, sepertinya mereka juga rekan bisnis." Doddy berucap sementara Raka mengedarkan pandangan pada tamu undangan yang hadir. Tak ada yang dikenalnya.
"Ya, aku rasa kita harus menaikkan keseriusan kita soal tanah yang di tawarkan oleh pak Januar itu. Tempatnya strategis untuk membangun permukiman elite, mengingat di dekat area perusahaan batu bara yang besar." Sahut Raka, dia melirik sesaat pada istrinya yang terlihat senang bercerita sesuatu dengan Diah tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Suara tepuk tangan riuh tiba-tiba membungkamkan keasyikan para tamu yang memang tak terlalu banyak itu.
Aisyah seperti seorang ratu berjalan sambil memegang lengan Bram. Wajahnya yang cantik itu seperti boneka.
Perhatian semua orang tertuju pada kedatangan sepasang pengantin itu, sementara Bram tersenyum lebar dengan dagu terangkat, seolah begitu bangga berjalan sambil menggandeng istrinya memasuki ruangan ballroom. Dalam jas resmi, Bram terlihat berwibawa, matanya yang tajam itu berbinar hangat.
Bram menyembunyikan ketegangannya supaya Aisyah tidak gugup berjalan di sampingnya.
Tito dengan tuxedo hitamnya yang lucu berjalan di belakang, ketika melihat Tito datang, Bella segera berlari menyongsong dengan raut riang, lalu menyusupkan jemari mungilnya ke lengan Tito.
"Bella juga mau di gandeng seperti umi. Bella mau jadi pengantin." Celotehnya. Tanpa Malu, Tito menggandeng Bella lalu berjalan dengan dada di busungkan. Tentu saja adegan kecil itu mengundang tawa para tamu yang gemas melihat tingkah dua anak itu.
...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full..........
__ADS_1
...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis...