CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 22 KEWAJIBAN BERSAMA


__ADS_3

"Ada apa?" Tanya Bram sungkan, ketika mereka berdua sudah duduk saling berhadapan.


"Apa yang bisa ku bantu?" rasanya aneh memang saat pertanyaan itu keluar dari bibirnya, bersamaan dengan Bella yang menggeliat dari pelukannya.


"Papa, Bella punya boneka baru di belikan mama, papa mau lihat?" Tanya Bella dengan manja.


"Oh, ya? Papa sangat ingin melihatnya." Jawab Bram pada anaknya itu sambil menaikkan alisnya.


Seketika Bella meloncat dari pangkuannya lalu berlari,


"Papa jangan kemana-mana, Bella akan menunjukkannya buat papa." Suara teriakan Bella terdengar menggema di seluruh ruangan sebelum dia menghilang di balik pintu menuju


Sungguh aneh saat mereka di pertemukan setelah perpisahan, mereka seperti dua orang asing.


"Maaf jika ini merepotkanmu." Diah terdiam sejenak, Bram menatap wajah Diah tak berkedip.


"Aku mau bertanya pada mas Bram..."


"Ya?"


"Apakah mas Bram bersedia menjaga Bella selama dua hari ini?" Tanya Diah dengan raut tak nyaman.


"Menjaga Bella?"


"Ya, Ku fikir, kalau Mas Bram tak keberatan mungkin untuk dua hari ke depan Bella dalam pengasuhan mas..."


"Oh, tentu saja. Kenapa tidak?" Sahut Bram segera mematahkan sikap Diah yang tampak ragu.

__ADS_1


"Aku adalah papa Bella, tentu saja aku juga berkewajiban atas Bella."


"Aku minta maaf jika..."


"Tidak apa-apa, Bella akan bersamaku selama dua hari bahkan jikapun kamu perlu waktu lebih, tak perlu tergesa-gesa, aku akan menjaga Bella dengan baik. Mama juga pasti sudah kangen dengan cucunya." Bram menyela, mengusir keraguan yang bergelayut di tatapan Diah.


"Sebenarnya, ada ibu dan bapak di sini bisa menjaga Bella, hanya saja tak ada yang bisa mengantarnya ke sekolah jika aku tinggalkan dengan mereka, Bella sedang ujian tengah semester sekarang." Raut Diah prnuh penyesalan.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa...jangan kamu membuatku merasa bersalah seolah-olah memintaku menjaga Bella itu membebaniku. Bella adalah anakku juga. Seorang anak sudah sepantasnya mendapat perhatian ayahnya. Meski kita telah bercerai tapi anak tetaplah tanggung jawab bersama, bukankah begitu?" Kalimat itu terdengar lugas, Diah terpana seolah-olah bukan Bram yang kini berada di hadapannya.


Tak pernah dia melihat Bram berbicara begitu manis dan bijaknya selama terikat pernikahan dengannya.


"Terimakasih mas sudah membuatku lega." Diah menarik nafasnya.


"Aku senang bisa membantumu. Tidak perlu kuatir, Bella akan baik-baik saja. Jika memang kamu ada perlu, hubungi saja aku jangan sungkan. Aku sekarang hanya pengacara." Bram menaikkan bahunya dengan senyum simpul seolah berusaha mencairkan suasana yang terasa begitu formal.


"Pengacara?"


Tawa Diah berhenti ketika menyadari Bram menggaruk-garuk kepalanya sambil nyengir.


Suasana antara mereka terasa begitu aneh, pertama kali Diah bisa tertawa di depan Bram. Sepanjang pernikahan mereka, ini tak pernah bisa di lakukannya.


Sesaat mata mereka bertemu, Diah tak berkedip memandangi Bram, seolah sedang menyelidiki hatinya.


"Mas Bram belum mandi? Mas sepertinya acak-acakan dan...dan sedikit bau?" Tiba-tiba Diah bertanya hati-hati, alisnya bertaut melihat keringat di dahi Bram.


"Oh, ya?" Bram reflek mengangkat kedua lengannya dan mengendus ke kiri-kanan dengan mimik sedikit malu.

__ADS_1


Hari ini dia hampir sepagian di pasar, berjejal di sana bahkan menyusuri pasar ikan yang sedikit becek. bajunya dari kering sampai basah dan kering lagi di badan.


"Aku hari ini sepanjang pagi berada di pasar." Sahut Bram.


"Pasar?" Diah melongo, seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


"Aku tidak salah dengar, kan?" Diah bertanya sekarang terlihat sekali dia sangat heran.


"Oh, iya. Ke pasar...maksudku aku mengantar teman ke pasar." Jawab Bram dengan gagap, dia batu menyadari jawabannya menuai keheranan dari mantan istrinya itu.


Dia tak pernah sekalipun pergi ke pasar, selama mereka menikah dan setahu Diah Bram juga terlahir dalam keluarga yang cukup kaya mereka punya dua orang pembantu di rumahnya dari kecil, tak ada yang membuatnya harus pergi ke pasar.


"Mengantar seseorang ke pasar? Siapa?" Diah tak bisa menahan diri untuk bertanya karena begitu langkanya mendengar seorang Bram berpergian ke pasar.


Setelah meninggalnya mama Sally beberapa bulan yang lalu, Diah tahu benar bahwa Bram tak lagi berkomunikasi dengan Sally, perempuan yang di selingkuhinya itu. Dan menurut bosnya, Sarah, adiknya Sally itu telah di bawa oleh papa mereka ke Kanada untuk perawatan intensif karena Sally di duga mengalami depresi berat dan mengarah ke gangguan jiwa.


Kabar kehidupan pribadi Bram tidak begitu di ketahui lagi oleh Diah.


Perubahan mereka setelah sekian lama tak saling berbicara sedikit intens seperti sekarang sungguh membuat Diah begitu heran.


Banyak sekali yang berubah dari seorang Bram.


"Teman. Hanya teman." Jawab Bram pendek dan salah tingkah.



Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....

__ADS_1


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...


__ADS_2