CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 78 MENJADI INGATANMU


__ADS_3

Atifa tiba-tiba menarik jemarinya dari dalam genggaman Aisyah.


"Dan...ibu akan melakukannya, Isah..." Suara itu terdengar gemetar terucap dari bibir Atifa.


Aisyah terpana, mengangkat wajahnya dan menatap ibunya seakan tak percaya dengan yang di dengarnya.


Tangan ibunya terkepal mengeras dan kemudian Aisyah melihat bagaimana airmata seorang ibu runtuh.


Ibunya itu berdiri dan kemudian menarik tubuh Aisyah yang masih tertegun itu ke dalam pelukannya.


"Ibu...ibu akan mengantarmu pada pernikahanmu, ibu yang akan mendampingimu." Suara itu terdengar pilu, bercampur tangis yang begitu menyedihkan, seakan tangisan itu telah disimpan berabad-abad.


"Ibu?" Aisyah masih tak percaya apa yang terjadi, dia meremas punggung baju ibunya, dia takut sekarang dia sedang bermimpi.


"Isah, maafkan ibu, nak...maafkan ibu..." tangisan ibu Aisyah menyayat hati, badannya terguncang dalam kesedihan.


"Ibu? Ibu? Apa aku sedang bermimpi?" Aisyah menggigit bibirnya sampai merah, tangannya memeluk tubuh ibunya dengan gemetar.


"Maafkan ibu, telah menyusahkanmu, maafkan ibu telah membuatmu cemas begitu lama. Ibu berdosa padamu, nak." Ibu Aisyah terisak sambil memeluk putrinya itu.


"Ibu? Ibu sudah sadar?" Aisyah menarik tubuhnya, menatap tak percaya pada wajah sang ibu yang bersimbah air mata.


"Ibu tak tahu, tetapi setelah hari itu, setelah melihat kak Faraz, aku mengingat semuanya pelan-pelan, aku...aku merasa begitu lama tersesat dalam mimpiku sendiri. Aku lama tertidur, bahkan tak tahu jika putri kecilku telah tumbuh dewasa." ucap Atifa di sela tangisnya.


"Katakan aku tidak sedang bermimpi?" bibir Aisyah gemetaran, dia menatap ibunya tapi pandangan kabur, terhalang oleh air matanya. Dia ingin berlari dan berteriak mengabarkan kepada perawat dan siapapun diluar sana, bahwa ibunya telah sadar tetapi tangan ibunya memegang erat kedua lengannya.


"Ibu tak ingin mengatakan ini dari kemarin padamu karena ibu masih kadang lupa banyak hal. Ibu sedang berusaha mengingatnya. Yang ibu tahu, ayahmu meninggalkan kita, meninggalkan sebuah surat saat ibu sedang hamil besar. Dia mencintai orang lain..." Mata itu mengerjap beberapa kali, menghalau air matanya sendiri tanpa berusaha menyekanya. Kedua tangannya memegang lengan Aisyah tak mau lepas.

__ADS_1


"Tapi...ibu sudah mengikhlaskan ayahmu, ibu tak akan lagi memaksanya untuk mencintai ibu. Jika dia bahagia tanpa ibu, biarlah begitu. Ibu tak ingin menunggu lagi, ibu merasa begitu lelah..." Suara itu serupa bisikan.


"Kemarin, saat kamu membawa ayahmu padaku, aku tersadar...kami telah lama terpisah, dan aku tak lagi ingat punya rasa yang sama padanya." Kalimat yang di ucapkan ibunya demikian teratur, itu adalah ibun yang sangat di kenalnya di masa lalu, yang selalu berbicara lembut padanya.


"Yang ibu tak ingat, kemana anak adikmu? dia di mana? kenangan tentang bayi dalam perut ibu itu seolah hilang begitu susah untuk ibu ingat..." Atifa menatap Aisyah lurus, tatapan yang begitu menghiba dalam kelelahan panjangnya.


Aisyah tak menyahut, dia masih terpana dengan semua kejutan dari perubahan keadaan ibunya yang mendadak itu.


"Apakah adikmu baik-baik saja, Isah? Di mana dia?" Tanya Atifa dengan penuh harap dan rindu yang mengambang.


"Adikku?" Aisyah menggigit bibir bawahnya lagi, membendung sedu tangisnya.


Kepala Atifa mengangguk, dia begitu menunggu jawaban Aisyah.


"Adikku Faiq..." Ucap Aisyah dengan ragu.


"Dia...dia meninggal, kenapa? kenapa dengan adikmu?" pertanyaan seorang ibu yang terluka itu membuat Aisyah merinding.


"Faiq meninggal saat ibu melahirkannya..." Jawab Aisyah, dia terpaksa berbohong pada ibunya, dia sungguh tak ingin melukai perasaan ibunya, membuat ibunya merasa berdosa jika dikatakannya seperti sebenarnya.


"Haaaahhhh..." Atifa tercengang, dia membeliak kepada Aisyah. Lututnya gemetaran, dia terduduk di lantai tapi Aisyah sempat menahannya sehingga badan ibunya tak serta merta menumbuk ke bawah.


"Itu bukan salah ibu, Allah lebih sayang pada Faiq, karena itu Allah memanggilnya lebih dulu. Faiq lebih bahagia di surga." Aisyah berusaha tersenyum, menghibur ibunya, sambil memegang badan sang ibu.


"Ternyata...ternyata adikmu telah meninggal, oh Ya Allah...pantas aku begitu susah untuk mencari ingatan tentangnya. Berusaha mengingat wajahnya pun seperti melihat kaca buram." Atifa memeluk leher Aisyah dan kembali menangis sejadi-jadinya.


"Ibu...ingatan ibu sudah cukup begini saja, ibu tak perlu mengingat hal yang lain lagi. Ini sudah cukup..." Ucap Aisyah dengan gemetar di telinga ibunya.

__ADS_1


"Maafkan ibu, Isah...maafkan ibumu ini. Sedikit ingatan ibu yang kembali. Tapi aku ingin kamu menceritakan pada ibu, bagian-bagian yang ibu lupa."


"Jangan kuatir ibu, aku akan menjadi ingatanmu."


Aisyah balas mendekap badan sang ibu, tangisnya tak bisa di bendung lagi, rasa bahagia itu tak terkatakan, penantiannya yang panjang seolah telah terbayarkan. Ibunya, telah menyadari dirinya, setidaknya dia mengenal Aisyah dengan benar.


"Terimakasih ibu telah kembali..."


Aisyah teringat semua petuah Abah di saat beliau masih hidup,


"Isah sayang, Do'a-do'a yang di panjatkan dengan tulus akan di jawab Tuhan dengan berbagai cara. Kita mungkin bisa merencanakan banyak hal tetapi Tuhanlah yang empunya kuasa. Tak ada yang mustahil di dunia ini jika Allah berkehendak."


"Apakah rencana Tuhan selalu baik, abah?" Tanya Aisyah dengan polos di masa kecilnya.


"Rencana Tuhan sesungguhnya tak ada yang tak baik, hanya kita saja yang merasa itu tak baik ketika tidak sejalur dengan fikiran kita. Ketika kita berserah penuh dan berpasrah diri pada Tuhan, maka segala sesuatu yang terjadi akan membuat kita tercengang. Tuhan tahu yang terbaik buat kita, segala sesuatunya tak pernah benar-benar di ambil dari kita ketika kita merasa kehilangan, Tuhan hanya meminjamnya untuk menguji kita, dia akan mengembalikannya berlipat ganda tanpa kita sadari. Kenapa Tuhan melakukannya? Supaya, kita tak lupa bersyukur pada-Nya"


Meski seseorang telah tiada, tetapi ajaran yang baik darinya tak pernah mati.



...***...


(Flasback saat Atifa pertama kali melihat wajah Faraz dari POV Atifa satu bab selanjutnya buat yang penasaran kapan kembalinya ingatan Atifa🤗 sebelum kita siap-siap kondangan bang Bram😅😅😅)


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2