CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 53 SURAT DARI ABAH


__ADS_3

Tak berapa lama Aisyah muncul dengan sebuah kotak kayu yang panjangnya kira-kira seukuran kotak sepatu orang dewasa, berwarna cokelat tua.


"Apa ini?" Tanya Bram sambil menatap Aiayah dengan penasaran, ketika Aisyah mengambil tempat duduk di depan Bram.


"Sebuah hadiah yang kuceritakan tempo hari padamu , sesuatu yang sangat ingin di berikan abah tetapi tak sempat diberikannya langsung padamu." Aisyah meletakkan kotak itu perlahan di atas meja kayu di depan mereka.


Bram mengernyit dahi dan mengingat kembali pada hari di mana abah meninggal, dia dan Aisyah sempat bertelponan karena Bram mengabari tentang info mengenai ayah Aisyah. Aisyah mengatakan abah sangat ingin bertemu dengannya untuk memberinya hadiah dan tak sabar bertemu dengan Bram.


"Entah mengapa hari itu, pada saat abah hendak bersiap sholat jumat pada hari wafatnya, beliau memanggilku..." Aisyah memandang lekat pada kotak yang ada di depannya.


"Aku ingat, hari terakhir itu...wajahnya begitu cerah, bahkan senyum tak lepas dari bibirnya." Sudut bibir Aisyah tertarik ke sudut, membentuk ulasan senyum samar.


"Lalu abah memanggilku dan mengatakan padaku, kemarilah Isah duduklah bersama abah, sebentar lagi abah akan pergi ke rumahnya Allah." Isah terdiam sejenak seakan mengingat kembali pada hari itu.


"Ku kira karena hari itu abah akan berangkat sholat jumat, beliau mengatakan itu karena hanya ingin pergi ke mesjid saja. Aku tak pernah tahu jika ternyata itu adalah isyarat bahwa abah akan pergi selama-lamanya." Lanjut Aisyah, matanya bening sedikit berkaca tetapi senyum kecil itu tetap menghias bibirnya.


"Abah tak punya pesan apapun padaku, kecuali mengusap kepalaku dan mencium puncak kepalaku, hal yang di lakukannya hanya pada saat aku masih kecil saja. Tetapi, yang berbeda dia memelukku begitu lama dan mengatakan, Isahku sudah dewasa, aku sangat bangga padamu." Aisyah menarik nafasnya, membiarkan Bram menatapnya dengan lekat hampir tak lepas.


"Tapi sepertinya abah lebih mengingat tentang mas Bram...beberapa kali abah menanyakan kabar mas Bram, dan ketika aku mengatakan, siang itu mas Bram akan datang menemuinya, abah terlihat sangat bahagia. Lalu, beliau memberikan aku kotak ini." Aisyah mendorong perlahan kotak kayu kecoklayltan itu ke hadapan Bram.


"Berikan ini pada mas Bram, andai abah terlambat pulang...katakan padanya, bahwa aku mempercayainya. Hanya itu yang di katakannya. Aku tahu apa maksudnya, tetapi itu lah pertemuan terakhirku dengan abah sebelum mas Bram datang dan membawa kabar berpulangnya beliau..." Aisyah tidak menangis, dia terlihat lebih tegar sekarang.


Sejenak suasana hening, Bram termangu.


"Ambillah kotak ini, mas. Ini pesan abah untuk Mas Bram. Apapun isinya, semoga mas Bram ikhlas menerimanya." Kata Aisyah memecah senyap.


Dengan tangan sedikit gemetar Bram meraihnya.


"Bolehkah...bolehkah aku membukanya?" tanya Bram ragu.


"Barang ini adalah milik mas Bram sekarang karena abah menginginkannya begitu. Terserah mas Bram mau di apakan." Jawab Aisyah.


"Aku akan masuk ke dalam sebentar, barangkali mas Bram ingin minum kopi. Aku akan menyeduhnya untuk mas Bram." Aisyah beranjak pamit, meninggal Bram dengan kotak kayu titipan abah itu.

__ADS_1


Bram meraih kotak itu lebih dekat ke atas pangkuannya, sedikit agak berat yang membuat Bram semakin penasaran apa yang menjadi isinya.


Kotak itu tak berkunci, dengan mengucap bismillah dalam gerak bibir Bram membukanya dengan gugup.


Yang pertama di lihatnya adalah sebuah Qur'an yang tak seberapa besar, tidak terlihat baru tetapi masih bagus, kemudian di bawahnya sebuah sajadah yang terlipat rapi, dalam warna biru pupus dengan rumbai di pinggirnya.


Bram merasakan haru, melihat apa yang sangat ingin di berikan oleh abah padanya, ternyata seperangkat alat ibadah. Abah begitu ingin melihat Bram tetap mengingat Tuhan bahkan saat dirinya tiada lagi.


Bram mengangkatnya hati-hati, menciuminya dengan khidmat.


"Terimakasih, abah...hadiahmu begitu indah." Bisik Bram dengan suara serak. Kemudian matanya tertumpu pada dasar kotak itu, ternyata masih ada yang tersisa di dalamnya.


Sebuah tasbih dari kayu berwarna cokelat muda. Dan selembar surat dalam amplop putih yang terlem rapih.


Bram terpana, abah meninggalkan sebuah surat untuknya?


Jemari Bram terasa kebas, di ambilnya surat itu dan memegangnya beberapa lama.


Dia menatap sejenak ke arah pintu, Aisyah belum nampak akan keluar dari dalam rumah. Bram memutuskan untuk membuka surat abah itu.


Perlahan Bram membuka lipatannya dan matanya tertuju pada tulisan abah yang terlihat indah sepertinya abah mahir dalam tulis menulis, seindah kaligrafi.


Untuk : Anakku Bram


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Saat nak Bram membaca surat abah ini, mungkin abah sedang dalam perjalananan yang sangat jauh menuju tempat di mana istri dan anak abah menunggu.


Sungguh abah menyesal jika tak bisa menemui nak Bram dan memberikan hadiah ini untuk Nak Bram.


Hari ini, saat abah menulis surat ini, tepat 421 hari sejak kita bertemu di dini hari yang indah itu.


Tahukah nak Bram, aku bermimpi malam itu melihat bulan yang tertutup awan hitam dan anehnya aku bisa meraih bulan itu, mengeluarkanya dari kabut dan memeluknya erat.

__ADS_1


Aku melihatmu yang rapuh, yang ketakutan, yang putus asa. Dan melihatmu menangis seolah melihat diriku sendiri di dalam ragaku ini.


Nak Bram, keteguhanmu untuk bertaubat nasuha membuat aku belajar banyak, bahwa dalam hidup ini tak ada yang perlu ku takutkan lagi. Allah tak pernah meninggalkan umatnya di dalam keadaan bagaimanapun, hanya kita lah yang kadang berlari terlalu jauh.


Nak Bram, Aku tak punya apa-apa yang bisa ku berikan sebagai kenang-kenangan padamu, kecuali sebuah Sajjadah yang selama ini menjadi tempatku berlutut mencari wajah Tuhan, menunaikan ibadah, di mana bathinku tenang. Ku harap sajjadah ini akan menemanimu dalam perjalananmu menanggalkan dosa masa lalu.


Nak Bram, Qur'an ini adalah pemberian seorang guru besarku di pesantren dulu, dia adalah mertuaku yang telah menitipkan puteri kesayangannya untukku. Ambillah untukmu dan suatu saat aku berharap kamu bisa mengingat betapa Allah menyayangimu dengan membaca setiap ayat-ayatnya.


Dan...


Terakhir, ada sebuah tasbih yang kubuat sendiri dengan tanganku, ku bentuk dengan kasih sayang, meski aku menyelesaikannya begitu lama tapi akhirnya bisa tepat waktu.


Jangan lupakan Dzikirmu, maka Allah akan mengampunimu semua kesalahanmu, sekalipun dosa kita seperti buih lautan.”


Nak Bram, permintaan terakhirku, ku titipkan puteriku Isah padamu, dan cucuku Tito. Carikan seseorang yang bisa mencintai dan membahagiakan Isahku di dunia serta bisa membimbingnya menuju till janah. Jika ayahnya tak bisa menikahkannya, ku percayakan dirimu menjadi wali untuknya.


Dan untukmu suatu saat nanti,


Jatuh cintalah karena Kamu mencintai Allah, bukan karena kamu mencintai mahluknya baru mencari Allah....


Waalaikumusalam Warahmatullahi Wabarakatuh.


Dari : Abah yang menyayangimu.


Airmata jatuh di sudut mata Bram membaca surat Abah yang bahkan tanpa ada kata selamat tinggal itu.


Di genggamnya erat surat Abah sambil meraih tasbih di dalam kotaknya.


Sementara, Aisyah tergugu di pinggir pintu, memegang baki dengan secangkir kopi di atasnya. Matanya tertuju pada tasbih yang ada di tangan Bram, tasbih yang sama seperti yang di hadiahkan abah padanya, di hari ulang tahunnya, enam bulan yang lalu!



(Yeay, akhirnya double UP yaaaa, janji othor sdh clear 🤭🤭 Yuk jangan lupa dukungannya untuk novel ini, romansa Bram dan Aisyah akan di mulai😅)

__ADS_1


...Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏...


__ADS_2