
"Apakah Doddy akhirnya jujur padamu kalau dia telah mencintaimu sejak lama?"
Pertanyaan itu begitu pelan hampir tak terdengar, tetapi cukup membuat Diah tak berkedip selama beberapa lama.
"Kenapa kamu bertanya tentang dia?" Diah balik bertanya, suaranya seperti tercekat, sesaat dia melirik pada Bella yang nampak sudah menyelesaikan makannya.
"Aku hanya ingin bertanya, jika kamu keberatan menjawab juga tak masalah." Jawab Bram sambil membuang muka dengan tak nyaman, mata Diah bulat bersinar, wajahnya berubah pias.
"Sayang, kamu masuk kamar dulu ya, kumpulkan beberapa boneka yang ingin kamu bawa bersama papa." Diah menarik piring Bella yang sudah kosong isinya kecuali sisa nasi sedikit dan tulang ayam.
Bella melompat dari kursinya dan segera menghambur dengan suara riang, biasanya Diah akan mnegurnya untuk tidak berlari tetapi saat ini dia diam, hanya fokus menatap pada Bram.
"Apakah soal Doddy adalah hal yang penting bagimu? Setelah kita bercerai kita punya privacy sendiri-sendiri. Apapun yang terjadi dalam hidupku bukanlah hal yang penting lagi untukmu ku rasa." Suara Diah terdengar tajam, wajahnya memerah.
Bram terdiam sesaat mencermati wajah yang seketika membeku di depannya itu, kemudian menghela nafasnya.
"Jangan salah paham, aku tak mempermasalahkan kamu dengan siapa dan apa yang terjadi padamu setelah perpisahan kita. Hanya saja..."
Kalimat Bram terputus.
"Hanya saja, jika kamu memilih melanjutkan hidup dengan Doddy maka aku lebih tenang. Aku...aku rasa, dia akan bisa membuatmu bahagia." Kalimat itu pelan tetapi terdengar tulus.
Diah tak menyahut apa-apa, tetapi kebekuan di parasnya mencair. Dia benar-benar tertegun dengan apa yang di dengarnya itu, sebuah kalimat yang seumur hidup tak pernah di mimpikannya keluar dari mulut seorang Bram.
"Sebaiknya, aku dan Bella segera berangkat...hari sudah lewat siang. Aku harus pulang." Bram berdiri dengan suara setengah gagap, dia tak nyaman saat mata Diah memandangnya hampir tak berkedip dari tempatnya berdiri, dengan piring dan sendok kotor milik Bella yang di pegangnya erat tak bergerak.
"Maafkan aku, jika membuatmu merasa tak nyaman dengan pertanyaan lancangku. Lupakan saja." Bram memutuskan kekakuan itu dengan menyudahi makannya yang hanya senpat beberapa sendok saja.
__ADS_1
Dia sudah tak merasa kelaparan lagi.
Diah memalingkan wajahnya, terlihat sedikit canggung dan menganggukkan kepalanya.
"Tunggulah di ruang tamu, aku akan membawa Bella turun." Diah hanya menyusun piring bekas itu dengan seadanya, dia benar-benar terlihat salah tingkah sendiri.
Bram mengiyakan dengan suara hampir tak terdengar. Menggeser kursinya ke belakang, dia akan meninggalkan Diah di ruang makan itu.
"Mas Bram..." Suara Diah terdengar pelan tetapi membuat Bram urung berbalik. Mereka berdua sama-sama berdiri berhadapan berseberangan meja makan.
"Apakah Doddy mengatakan sesuatu padamu?" Tanya Diah tiba-tiba terdengar ragu.
Bram tak menjawab, matanya tertuju lurus pada mata mantan istrinya itu, dia tampak lebih ragu untuk menyaring apa yang akan dia ucapkan pada mata yang tampak berbinar aneh di depannya itu.
"Apakah...apakah kamu....kamu pernah bertemu dengannya?" Pertanyaan berikutnya kemudian menyadarkan Bram bahwa Diah begitu ingin tahu tentang laki-laki itu.
"Aku bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu tepat sebelum kita duduk bersama di depan meja sidang."Jawab Bram, suaranya begitu dalam. Diah tampak menunggu kalimat Bram dengan seksama, menunjukkan betapa dia penasaran dengan itu.
"Dia mengatakan kalau dia telah lama mencintaimu. Tetapi bukan berarti aku mengatakan bahwa ada sangkut pautnya dengan keputusanmu bercerai denganku. Itu hal lain, aku memang telah menciftakan pernikahan yang toxic untukmu jadi Doddy bukan orang yang ada hubungannya dengan semua prahara yang telah ku lakukan." Bram tampak berusaha menjelaskan maksudnya, tatapan Diah terlihat menusuk.
"Hanya saja..." Bram mengalihkan pandangannya kepada semangkok lodeh yang tampak dingin di atas meja.
"Hanya saja, aku ingin memastikan apakah kamu...baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja." Sahut Diah menyela.
"Maksudku, apakah hubungan kalian berjalan baik? Doddy adalah orang yang baik..."Bram berkata dengan salah tingkah.
__ADS_1
Diah diam seribu basa, mata itu berubah aneh, terlihat sedih sesaat kemudian kembali terlihat acuh tak acuh, seakan pembicaraan mereka benar-benar tak penting.
"Aku memang tak seharusnya ikut campur urusan pribadimu." Bram terlihat menyesal dengan obrolan mereka yang terasa begitu salah sekarang. Dia sadar, Diah mungkin merasa risih dengan pertanyaannya.
Bram segera membalikkan badannya, bersiap untuk meninggalkan meja makan itu ketika tiba-tiba dia mendengar suara Diah, tegas meski parau.
"Jika kamu sangat ingin tahu, Doddy tak pernah datang menemuiku lagi setelah aku bercerai denganmu, bahkan dia tak pernah menghubungiku sekalipun sampai hari ini."
Bram terpana, tapi tepatnya terpesona dengan apa yang di dengarnya.
"Tapi...itu tak penting bagiku. Cinta bukan lagi prioritas bagiku, aku punya Bella, aku punya masa depanku sendiri. Orang mungkin datang dan pergi dalam hidupku, memberi harapan dan kemudian hilang. Aku tak akan mudah membuka hati untuk hal yang belum tentu bisa menerimaku dengan baik. Luka satu kali cukup untuk membuatku mengerti, bahwa sakit itu bukan hal yang mudah ku tanggung jika terulang lagi." Suara Diah terdengar datar.
"Tak usah menunjukkan kepedulianmu berlebihan tentang siapa yang membuatku bahagia atau orang mana yang tepat bagiku. Karena suka atau tidak suka kita hanyalah mantan suami istri. Yang membuat kita terhubung sekarang hanya Bella, jadi ku mohon kita menyepakati batas mana kita berdiri." Raut wajah Diah terlihat membeku, tetapi jauh di dasar hatinya dia memendam rindu pada sebuah wajah yang kini bahkan tak ada kabar beritanya.
"Aku telah berhenti bertanya tentang kamu di mana dan dengan siapa ketika lima tahun yang lalu kamu menampar wajahku, saat kamu memutuskan perempuan lain meramaikan pernikahan kita." kalimat itu di ucapkan dengan suara rendah, hampir tak terdengar.
"Ku harap kamu tak lagi bertanya tentang hubunganku dengan siapapun, itu tak membuatku merasa diperhatikan tetapi seolah aku diperlakukan dengan murahan, dengan siapa aku bahagia tak penting lagi ketika kamu memutuskan perempuan lain lebih penting dariku saat menjadi isterimu." Diah berjalan dengan suara langkah yang tegas, menyeret sandal jepitnya di lantai. Dia menuju dapur dengan setumpuk piring di tangannya.
Bram terpaku menatap Diah, tak ada yang salah dengan ucapan mantan istrinya itu tetapi hatinya yang merasa begitu bersalah, telah menoreh luka sebesar ini pada hati perempuan yang pernah menjadi istrinya itu.
...***...
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐ค i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐๐๐๐
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...
__ADS_1