CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH

CINTA DALAM BUTIRAN TASBIH
BAB 70. PESAN MAAF YANG TAK SAMPAI


__ADS_3

Sebelum meninggal, Ani memohon kepada Faraz untuk kembali kepada Atifa, istri yang di tinggalkannya.


"Bang, aku mau kamu kembali pulang pada kak Atifa...sampaikan permintaan maafku padanya." Ucap Ani dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.


"Aku telah berdosa padanya, mungkin azab sedang menimpaku karena telah merampasmu dari kak Atifa." Ani tersedu dengan tubuhnya yang jauh lebih kurus meski hanya dalam tiga minggu.


Makanan yang masuk ke perutnya, akan segera di muntahkannya, dia bertahan hanya minum air tanakan beras dengan sayur yang di haluskan.


Jika tekstur makanan itu keras maka lambung Ani akan mengembalikannya ke kerongkongannya.


Penyakit itu aneh, tetapi begitulah adanya, mereka sudah berusaha semaksimal mungkin bahkan menginfus Ani di rumah, karena biaya rawat inap rumah sakit telah menguras tabungan mereka dalam sekejap. Hidup mereka pas-pasan, sementara Faraz harus mengurus anak mereka yang masih kecil sambil menjaga bengkel sepeda yang dalam sehari kadang tak ada orang yang datang memakai jasanya.


"Ani, aku tak mungkin kembali pada Atifa, aku bahkan telah menceraikannya lewat surat dan mengijinkannya menikah dengan lelaki lain, mungkin sekarang dia telah bahagia bersama laki-laki lain." Sahut Faraz.


"Kalau begitu, setidaknya mohon sampaikan permintaan maafku jika kamu bertemu dengannya. mohon kak Atifa mengampunilah aku, supaya aku tak lagi tersiksa seperti ini. Aku takut semua derita kita datang dari do'a kak Atifa di seberang sana."


"Kamu akan sembuh, Ani..."Tukas Faraz, jiwanya serasa tercabik-cabik tapi bukankah nasi telah jadi bubur?


"Aku bermimpi beberapa malam ini, tinggal di sebuah ruangan gelap, hanya melihat cahaya dari satu celah atap. Di sana dingin sekali, sangat dingin. Lalu aku mendengar yang tangisan perempuan yang memanggil nama bang Faraz dari balik dinding yang dingin itu. Sungguh, aku merasa mungkin aku telah membuat kak Atifa benar-benar menderita karena perbuatanku."


"Itu hanya mimpi, dik..."


"Tidak bang Faraz, aku telah memikirkannya dengan keras, musibah deni musibah, kesusahan demi kesusahan tak pernah berhenti mengikuti kita. Bang Faraz pulang saja kepada kak Atifa, aku tak lagi menahan bang Faraz untuk tinggal..."

__ADS_1


"Dik..."


"Hubungan yang dilandasi dosa ini tak akan berhasil, merampas kebahagiaan orang lain dengan menyakitinya, hukumannya ternyata lebih menyakitkan, bahkan Tuhanpun sedang memberiku siksaan seperti ini di dunia, tak ku tahu bagaimana aku jika di akherat nanti. Aku sudah mencoba untuk tenang dan tidak memikirkannya tetapi tetap saja tak bisa..."


"Dik, semua sudah terlanjur, kita tak bisa menoleh ke belakang lagi."


"Tidak, bang Faraz, aku sudah membayangkan jika ini tak kulakukan padamu, mungkin tak akan seperti ini. Andai saja aku tak membuatmu harus meninggalkan kak Atifa, mungkin tak akan begini." Dengan menekan sakit pada perutnya yang mulai menjalari, Ani menangis dalam pelukan Faraz.


"Aku ikhlas Kak Faraz pergi, aku tak akan mempersulitmu lagi dengan pilihan, aku akan membuatnya mudah. Kita harus memperbaikinya meski sedikit terlambat, aku tahu ini salah tetapi Bang Faraz tak harus tinggal lagi. Aku bagaimanapun juga keadaanku, tak usah khawatir lagi. Adka sudah cukup besar, aku sudah menghubungi panti asuhan tempatku tinggal dulu, mereka siap menampung Adka dan aku serta Aqsa. Aku bekerja di sana sambil memperbaiki diriku." Ani tersedu, sesal itu seperti membakar separuh jantungnya.


"Tidak Ani...aku akan tetap tinggal divsini, aku akan tetap bersamamu, Adka dan Aqsa, tak ada tempat untukku kembali lagi. Atifa mungkin sudah membenciku."


"Bang Faraz, masa depan yang ku impikan memudar menjadi hitam, mungkin aku harus mencintaimu dengan cara lain. Aku hanya ingin meminta maaf kepada kak Atifa..."


Malam itu menjelang subuh, usai sholat subuh, yang di imami oleh Faraz, Ani meninggal dunia dalam pelukannya masih dengan mukena lengkap dengan menangis memegang perutnya yang katanya sakit seperti di tusuk-tusuk.


...***...


Aisyah menatap wajah ayahnya yang terbaring di atas bangsal rumah sakit, sudah satu hari satu malam setelah dia pingsan di depan rumahnya dalam pertemuan pertama dengan Aisyah, Bram membawanya segera ke rumah sakit.


Dokter mengatakan ayah Aisyah shock berat, di tambah dengan penyakit anemianya yang cukup berat, sehingga dia sedikit sulit cepat pulih.


Wajah ayahnya sungguh berbeda dari terakhir kali dia melihatnya. Wajah itu penuh kerutan-kerutan halus, kulitnya legam bekas sengatan matahari dengan tubuh ringkih tak terawat. Dulu, kulit ayahnya bersih dan pakaiannya selalu rapi. Bahkan Aisyah menganggap ayahnya adalah laki-laki tertampan di dunia yang pernah dilihatnya.

__ADS_1


Perlahan dengan gemetar, jemarinya memegang tangan ayahnya, jemari kurus dengan kuku yang menghitam.


Setetes air matanya jatuh, dia seperti melihat bagaimana penderitaan telah menghajar kehidupan ayahnya.


"Ayah, apa yang terjadi dalam perjalanan hidupmu? Apakah tak lebih pahit dari apa yang aku dan ibu jalani? Kenapa hidup kita harus seperti ini, ayah? kenapa keluarga kita harus bertemu kepahitan yang luar biasa." Bibir Aisyah bergumam gemetar.


Tak ada sahutan hanya helaan nafas yang teratur di barengi dadanya yang turun naik di balik selimut putih.


Tangan ayahnya terasa dingin, dia seperti memegang kayu. Pertama kali dia benar-benar menyentuh orang yang paling disayangi dan di bencinya dalam hidupnya. Aisyah tanpa sadar membelainya.


Betapa sesungguhnya, dia merindukan orang ini, siang dan malam. Setiap dia mengatakan dia membenci ayahnya, sedalam rasa yang sama rasa rindu menghantam dadanya.


Tiba-tiba, tangan ayahnya bergerak, dia menggeliat.


"Dik..." Bibir kecoklatan sang ayah bergerak sedikit.


Aisyah tertegun sesaat dan menarik tangannya dengan cepat sambil menyeka air matanya.


Dia kembali duduk dengan tegak, matanya tak lepas dari gerakan ayahnya.


"Dik Atifa..." Des4h Faraz lirih tanpa membuka mata.


__ADS_1


Terimakasih sudah membaca novel dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full.......


...Jangan Lupa dukungannya, yah untuk novel ini, Vote, like dan komennya, biar othor tetap semangat menulis😂...


__ADS_2