
"Sini Len!" ajak Genta memegang tangan Lena.
"Kak, aku benaran takut ketinggian," sahut Lena.
"Kamu gak akan jatuh kok, bawa rileks aja, kan ada aku, gak mungkin aku biarin kamu jatuh," sahut Genta tersenyum.
"Coba kamu pelan-pelan lihat ke bawah, indah banget!" sahut Genta.
"Iya Kak," sahut Lena.
"coba sini tangan kamu, kalau kamu takut, kamu bisa pegang tangan aku, sekuat-kuatnya, atau pegang lengan aku aja gak apa-apa," sahut Genta pelan-pelan memegang tangan Lena.
"Iya Kak, indah banget, Kakak sering ke sini?" tanya Lena.
"Ini tempat aku kalau lagi menyendiri, cuma aku dan kamu yang tahu tempat ini," sahut Genta.
"Kenapa hanya aku? kenapa Kakak gak bawa cewek lain ke sini?" tanya Lena.
"Karena aku gak percaya sama cewek lain, mana mau cewek lain mau diajak ke sini! cewek lain hanya maunya ke mall, shopping, beda sama kamu, kalau kamu pasti suka, iya kan?"sahut Genta tersenyum.
"Iya Kak, aku suka banget, Astaghfirullah, kok hidung Kakak berdarah, sebentar aku ambil tisu!" sahut Lena.
🌷🌷🌷🌷
Lena mengambil tisu dalam tasnya, dan membersihkan hidung Genta yang keluar darah. Lena jadi sedih melihat Genta berlinang air mata.
"Sebaiknya kita pulang Kak, Kakak sakit!" sahut Lena sedih.
"Enggak, aku masih mau di sini, kalau pulang percuma, Mamah ngomel terus, gak apa-apa kan kamu temanin aku di sini!" Genta memegang tangan Lena yang membersihkan darah dan Genta menatap Lena.
"Kenapa Kak? kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Lena.
"Aku boleh bilang sesuatu sama kamu!" tanya Genta.
"Bilang apa Kak?" tanya Lena.
"Aku cinta sama kamu Len, kamu mau gak nerima aku? maaf, ini terlalu cepat, karena aku yakin kamu cewek yang aku cari selama ini, aku gak pernah ngerasain cinta seperti ini sebelumnya, aku gak bisa nahan perasaan ini lagi sama kamu, sebelum aku mati, aku ingin punya pacar yang setia biar aku bawa sampai surga!" sahut Genta.
"Tapi Kak, aku gak cocok buat Kakak, Kakak tahu aku miskin, hidup apa adanya, jelek, terus aku masih sekolah, Kak Genta pasti bercanda yah! gak mungkin Kak Genta suka sama orang kaya aku gini!" sahut Lena.
__ADS_1
"Lihat aku Len, lihat! aku tulus sama kamu, aku bakal tunggu kamu sampai kamu lulus, aku gak peduli kamu dari kalangan apapun, mau jelek atau apa, tapi perasaan gak bisa dibohongin kalau udah cinta, kamu gak jawab sekarang juga gak apa-apa, aku tunggu jawabannya! tapi ikhlas bukan karena kamu kasihan karena aku sakit, tapi ketulusan kamu," sahut Genta.
"Aku gak gitu kok Kak, kasih aku buat jawab ya Kak, kalau sudah siap, aku bilang!" sahut Lena.
"Iya, gak apa-apa, kalau kamu nolak juga gak apa-apa, kita masih bisa jadi sahabat, iya kan?" tanya Genta.
Tapi aku belum ngerasain cinta sama Kak Genta. Gimana ini, Dimas aja aku belum jawab.
"Kenapa melamun?" tanya Genta.
"Gak apa-apa kok Kak, tunggu aku dua hari ya Kak jawabannya!" sahut Lena.
"Kamu cinta sama Dimas yah?" tanya Genta.
"Enggak Kak, aku salah kalau cinta sama Dimas, Mega suka sama Dimas, jadi aku gak mau jadi penghalang mereka," sahut Lena.
"Kalau kamu mau perjuangkan sama Dimas gak apa-apa, yang penting aku udah lega, aku bisa nyatain perasaan aku sama kamu, yah, meskipun baru beberapa hari kenal," sahut Genta.
"Enggak Kak, biarin Mega yang perjuangin Dimas, aku yang ngalah, he-he," sahut Lena.
Lena, meskipun kamu nolak nanti, aku bakal tetap cinta sama kamu. Meskipun hati kamu belum cinta sama aku.
🌷🌷🌷🌷
"Ha-ha-ha, mana? katanya mau buktiin, omdo lo! dasar banci!" sahut Ferdi, Dimas hanya diam tidak membalas.
"Dim, lo kenapa sih? kenapa lo kalah?" tanya Mega.
"Iya, Dim, apa karena Lena gak ada?" tanya Riki.
"Iya, Dim, lo kenapa sih?" tanya Alwi.
"Dim, kan ada gue yang semangatin lo! hah? Kak Genta upload nih, kalau dia lagi jalan sama Lena, so sweet banget sih, tempatnya." Sahut Mega.
Lena gimana sih? katanya mau bantu Ibunya, tapi dia malah jalan sama cowok lain. Len lo udah sakitin hati gue! lo udah lupain gue.
"Dimas! lo mau kemana?" panggil Mega.
"Udah, Yayang Mega sama Aa Riki aja yuk!" ajak Riki.
__ADS_1
"Ogah!" sahut Lena.
"Ha-ha-ha, kasihan banget sih, lo selalu di tolak!" sahut Alwi.
"Gak apa-apa, cinta itu, butuh perjuangan," sahut Riki.
"Tapi, si Mega suka sama Dimas," sahut Alwi.
"Dimas gak suka sama Mega, dia suka sama Lena! semoga aja Lena mau sama Dimas." Sahut Riki.
"Ha-ha-ha, mendingan lo sama Wina, cantik lho!" sahut Alwi.
"Lo aja sama Wina! hati gue, tetap Mega!" sahut Riki.
🌷🌷🌷🌷
Genta dan Lena akhirnya pulang, Genta mengantarkan Lena pulang. Saat sampai rumah, barang-barang Lena habis dibuangin oleh Pak Darto, Pak Darto itu yang punya kontrakan. Bu Yani memohon-mohon sambil menangis. Lena lari sambil menghampiri Pak Bu Yani. Pak Darto menjelaskan kalau Bu Yani belum bayar kontrakan selama enam bulan. Genta kaget melihat semua ini.
"Ibu! hiks-hiks-hiks, kenapa Ibu? kenapa dibuangin semua?" tanya Lena.
"Ibu belum bayar kontrakan Nak, selama enam bulan, jadi Pak Darto ngusir kita, hiks-hiks-hiks," sahut Bu Yani menangis.
"Pak Darto! hiks-hiks-hiks, Lena mohon beri waktu kami Pak, kasihan Ibu saya! Lena janji akan bayar semua ke Pak Darto!" sahut Lena memohon di kaki Pak Darto.
"Dengar Lena! Ibu kamu tidak membayar kontrakan selama enam bulan, kurang sabar apa saya? kamu jangan sombong, uang dari mana kamu, kamu aja masih sekolah! pergi kamu!" sahut Pak Darto menendang Lena.
"CUKUP! bapak ini gak punya pendidikan yah! seenaknya ngusir orang susah? tega sekali Bapak buang-buangin barang orang? tindakan Bapak bisa saya laporin ke polisi lo!" sahut Genta.
"Siapa kamu, jangan sok jadi pahlawan! malah kamu yang bisa saya lapor ke polisi! sudah kalian pergi sana! kamu juga! gak usah jadi pahlawan, kalau bisa bayarin sih gak apa-apa!" sahut Pak Darto.
"Berapa kontrakan Bu Yani selama enam bulan? saya bayar!" sahut Genta.
"Nantangin dia! ha-ha-ha, duit dari mana kamu bocah! jangan belagu! kamu sanggup bayar dua juta lima ratus? sanggup?" tanya Pak Darto.
"Ini uang kontrakan Bu Yani! saya lebihin untuk bulan kedepannya jadi lima juta! sebenarnya kontrakan begini gak layak buat mereka berdua, saya bisa aja bawa mereka yang lebih layak dari rumah Bapak, karena saya kasihan sama anda, dan saya juga bisa laporkan ini ke hukum, tapi saya masih punya hati nurani gak seperti Bapak yang gak punya hati Nurani!" sahut Genta, Pak Jarot hanya melamun dan merasa bersalah.
"Maafkan saya Nak, jangan laporkan saya ke polisi! saya janji gak akan ulangin lagi!" sahut Pak Jarot.
"Kenapa minta maaf sama saya? minta maaf sama mereka!" perintah Genta.
__ADS_1
Bersambung....
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰