Cinta Dan Detik Terakhir

Cinta Dan Detik Terakhir
Part 7


__ADS_3

Lena kenapa menghindar dari gue sih, salah gue apa.


"Dimas, ayo!" ajak Mega.


"Lena kenapa sih Ga, kok dia menghindar dari gue, salah gue apa?" tanya Dimas.


"Gue gak tahu Dim," sahut Mega.


"Len, lo kenapa gak bareng sama Mega sama Dimas sih?" tanya Wina.


"Nanti gue jelasin!" sahut Lena.


🌷🌷🌷🌷


Saat Lena dan Wina keluar gerbang, Lena dan Wina melihat ada Genta yang sedang duduk di tangga luar sekolah. Raut wajah Lena merah saat melihat Genta.



"Len, temannya Mega, dia mau nunggu Mega kali yah?" tanya Wina.


"Iya, kali Win." Sahut Lena.


"Hai, kalian kok cuma berdua? Mega mana?" tanya Genta.


"Dia di belakang Kak, bareng sama teman kita yang satunya!" sahut Wina.


"Oh, kalian mau pulang? apa mau kemana? nunggu Mega?" tanya Genta.


"Enggak Kak, kita mau pulang, sebentar lagi kali Lena sampai sini! kita duluan yah!" sahut Lena.


"Tunggu! mau aku antar gak?" tanya Genta.


"Bukannya kakak nunggu Mega?" tanya Wina.


"Enggak, mau ketemu kalian juga!" sahut Genta.


🌷🌷🌷🌷


Saat itu, Mega ada di dalam mobil Dimas. Dimas kaget ternyata Lena bersama temannya Mega. Raut wajah Dimas kesal, harusnya pulang bersama Lena, ini sama Mega, karena kemauan Lena.


"Dim, berhenti! gue mau nyamperin teman gue dulu!" sahut Mega.


"Hai, Kak udah dari tadi?" tanya Mega.


"Iya, kamu sama siapa?" tanya Genta.


"Dimas, lagi pendekatan Kak, Wina, lo sama gue aja yuk! biarin Lena sama Kak Genta, lo harus ngerti dong Win!" ajak Mega menarik Wina.


"Mega, Wina! gue di tinggal!" teriak Lena.


Kok Mega sengaja banget sih, dekatin Lena sama temannya itu! ah... Lena gue bingung harus gimana.


"Woy, lo jahat banget pada yah! Dimas! gue ikut yah!" sahut Lena.


"Dimas! jalan!" minta Mega.


"Tapi Lena?" tanya Dimas.


"Jalan!" minta Mega.


"Eh.. eh.. woy!" sahut Lena kesal.


"Kenapa? di tinggal yah? sama aku aja yuk!" ajak Genta.


"Hmm... aku naik angkot aja Kak," sahut Lena.


"Udah sama aku aja yuk! aku janji gak akan macam-macam! benaran!" sahut Genta.

__ADS_1


"Sebentar Kak!" sahut Lena mengambil uang saku di kantong bajunya hanya ada seribu rupiah, kurang buat naik angkot, kalau jalan lumayan jauh mana sendiri.


"Kenapa? gak cukup kan buat naik angkot? please sama aku yuk! suwer aku gak ngapa-ngapain kamu kok!" sahut Genta tersenyum.


"Iya deh, maaf Kak ngerepotin!" sahut Lena.


"Ah... enggak kok!" sahut Genta.


"Kenapa buka pintu belakang? duduk di depan sama aku! emang aku supir kamu!" sahut Genta tersenyum.


Akhirnya, Genta dan Lena berangkat. Lena masih agak takut dengan Genta dan hanya diam. Genta langsung membuka pembicaraan.


"Biasa emang kalau pulang naik apa?" tanya Genta.


"Naik angkot Kak, tapi uang aku hilang, mungkin jatuh, saat tadi bertengkar." Sahut Lena.


"Bertengkar? kenapa kok bisa? maaf nih, kepo!" sahut Genta.


"Ceritanya panjang Kak, jadi di kelas aku itu, ada yang usil, dia sering bully aku, ya mentang-mentang aku miskin, masa dia gak bisa ngerjain soal di papan tulis, suruh nyanyi, terus dia nyalahin aku? itu sih salah dia sendiri kenapa gak belajar," sahut Lena.


"Sabar yah! mungkin dia terbiasa enak hidupnya, saking enaknya, dia sombong, jadi bodoh dalam belajar, banyak kok orang seperti itu!" sahut Genta.


"Iya, Kak, Kak Genta udah lama kenal Mega?" tanya Lena.


"Udah, kan aku saudaraan sama dia! Mamahnya Mega, itu adiknya Papah aku, aku dekat sama Mega, udah seperti adik dan Kakak aja!" sahut Genta.


"Oh, gitu? Mega gak pernah cerita, bilangnya Kak Genta teman katanya!" sahut Lena.


"Aneh, rada-rada kan si Mega! ha-ha-ha, oh, iya, cowok yang tadi sama Mega siapa? cowoknya?" tanya Genta.


"Itu sahabat aku! sahabat sejak kecil, Mega suka sama dia, namanya Dimas, mangkanya sengaja banget aku ditinggalin!" sahut Lena.


"Sabar yah, Mega emang agak eror, tapi baik. Kamu sendiri gimana? udah punya pacar?" tanya Genta.


"Belum Kak," sahut lena.


"Kakak sendiri gak jalan sama pacarnya? nanti kalau ketahuan ngantar aku, pacarnya marah," sahut Lena.


"Aku jomblo, belum punya punya pacar, lagi cari yang pas aja," sahut Genta melirik ke Lena.


"Oh, Kak Genta kuliah?" tanya Lena.


"Iya." Sahut Genta.


"Kenapa belum punya pacar? kan di kampus banyak cewek-cewek?" tanya Khalisa.


"Kampus aku tuh, cewek-cewek begitu, sukanya hanya belanja-belanja, matre, gak benar-benar, mangkanya aku kurang suka," sahut Genta tersenyum.


"Oh..." sahut Lena.


"Kamu sendiri kenapa gak pacaran?" tanya Genta.


"Siapa yang mau sih Kak, cewek miskin kaya aku, lagian aku masih sekolah," sahut Lena.


"Kalau ada orang yang benar-benar suka sama kamu gimana? mau terima apa adanya!" sahut Genta.


"Jalanin aja! asal dia mau menerima aku apa adanya," sahut Lena.


"Gitu yah?" tanya Genta.


🌷🌷🌷🌷


Dimas marah-marah pada Mega, karena udah tega ninggalin Lena. Dimas cemberut pada Mega.


"Lo tega yah, tinggalin teman lo sendiri!" sahut Dimas.


"Lena gak sendiri, pasti ada teman gue, teman gue baik, gak mungkin Lena di apa-apain, kenapa sih lo!" sahut Mega kesal.

__ADS_1


"Niat lo apa? ninggalin Lena sama teman lo?" tanya Dimas.


"Gue mau dekatin Lena sama teman gue, Kak Genta, emang salah?" tanya Mega.


"Salah lah, lo tahu gak? gue suka sama Lena! ya gue sakit hati lah, Lena sama orang lain!" sahut Dimas.


"Apa? lo suka sama Lena?" mata Mega berlinang.


"Gue turun sekarang!" sahut Mega kesal.


"Mega! kok gue di tinggal!" sahut Wina.


"Lo sama dia aja!" sahut Mega.


"Kenapa sih Win teman lo aneh!" sahut Dimas.


"Gue bingung sama kalian, aneh!" sahut Wina.


"Justru gue yang aneh!" sahut Dimas.


"Eh, emang lo benaran suka sama Lena?" tanya Wina.


Waduh, gawat kalau sampai Wina ngomong ke Lena, harusnya gue yang nembak, jadi Wina yang ngasih tahu, gak mau gue.


"Enggak! gue salah ngomong!" sahut Dimas.


"Serius?" tanya Wina.


"Iya, salah ngomong," sahut Dimas.


🌷🌷🌷🌷


Lena dan Genta sampai dekat rumah. Genta pun ikut turun bersama Lena. Genta mengikuti langkah Lena.


"Kak, mau ngapain?" tanya Lena.


"Mau ikut kamu, emang gak boleh main?" tanya Genta.


"Boleh, tapi rumah aku jelek lho!" sahut Lena.


"Emang masalah? gak masalah kan sama aja!" sahut Genta.


"Assalamu'alaikum, Bu," sahut Lena dan Genta mencium tangan Bu Yani.


"Wa'alaikumsalam, ini siapa ya? Ibu baru lihat!" tanya Bu Yani.


"Temannya Lena Bu, Genta." Sahut Genta.


"Teman sekolah?" tanya Bu Yani.


"Bukan Bu, Kak Genta saudaranya Mega," sahut Lena.


"Oh, gitu, ayo silakan masuk! masuk!" sahut Bu Yani.


"Silakan Kak, begini rumahnya!" sahut Lena.


"Iya, gak apa-apa kok," sahut Genta.


"Ibu bikinin es yah!" sahut Bu Yani.


"Jangan repot-repot Bu, ya Allah," sahut Genta.


Ya Allah, sederhana sekali rumahnya. Lena beruntung punya Ibu yang perhatian sama dia dan sayang.


Bersambung...


Terima kasih teman-teman dan readersku sudah ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya gak ngebosenin dan bisa menghibur ya, di tunggu episode selanjutnya ya🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2