Cinta Dan Detik Terakhir

Cinta Dan Detik Terakhir
Part 32


__ADS_3

Lena memakai sepatu dari koperasi sekolah. Meskipun sepatu warior, hati Lena sangat senang dan bersyukur sekali.


"Bu, Lena masuk kelas dulu Yah, Ibu pulang hati-hati yah!" sahut Lena mencium tangan Ibunya.


"Iya Nak, kamu belajar yang pintar, dan kamu gak boleh sia-siakan semua yang Allah berikan ke kamu, tetap bersyukur dan semangat!" sahut Bu Yani.


"Iya Bu, Ibu yang selalu bikin Lena semangat, dan mengajarkan Lena untuk selalu bersyukur, Lena bangga sama Ibu!" sahut Lena.


"Iya Nak, Ibu juga bangga punya Anak pintar, soleha seperti kamu! Ibu pulang yah!" sahut Bu Yani.


"Iya Ibu, hati-hati! Bu Fitri terima kasih yah!" sahut Lena dan Ibunya.


"Sama-sama Lena, Bu." Sahut Bu Fitri koperasi.


Lena kembali ke kelas, Bu Patmi tersenyum pada Lena dan bangga sama Lena. Bu Patmi memberikan nasihat pada Anak-anaknya yang lain, kalau hidup harus semangat seperti Lena mau susah atau pun senang.


"Permisi!" sahut Lena.


"Silakan Lena, wah, Lena dapat sepatu baru dari koperasi, semangat terus ya Lena, Ibu bangga sama kamu, sampai kepala sekolah mau memberi kamu sepatu, kalau Anak-anak lain itu pasti beli, buat kalian semua, contohlah Lena, meskipun susah, atau pun senang, dengan sepatu butuhnya, Lena tetap sekolah, semangat dan berprestasi di sekolah SMA 50 Jakarta ini, semangat terus ya Lena, pertahankan prestasimu!" sahut Bu Patmi.


"Alhamdulillah, insya Allah Bu!" sahut Lena tersenyum.


Dimas tersenyum memandangi Lena, Dimas itu makin sulit buat melupakan Lena, tapi Dimas harus bisa melupakan, karena Lena sudah menjadi pacar orang lain, Dimas berpikir kalau sampai Lena terluka, dia gak akan segan-segan merebut Lena kembali.



Alhamdulillah, gue senang Len, lo senang, bisa dapat sepatu, gue bangga sama lo Lena, maafin sikap gue tadi udah dingin sama lo. Gue akan selalu ada buat lo, meskipun sulit digapai, kalau sampai lo terluka oleh cowok lain, gue bakal rebut lo kembali, gak peduli gue sama Mega.


"Wah, Len, keren lo yah! gue salut sama Lo Len!" sahut Wina.


"Alhamdulillah, Wina." Sahut Lena.


"Hari ini Chika diskors yah? gak ada kapoknya sih, selalu buat masalah!" Sahut Patmi.


"Mungkin, emang maunya Bu, biar bisa libur, ha-ha-ha." Sahut Ferdi dan teman-temannya sambil tertawa.


"Kamu hafal banget Fer, kamu pacarnya Chika?" tanya Bu Patmi meledek Ferdi.


"Bukan Bu! gak mau saya sama dia!" sahut Ferdi.


"Ah, masa?" tanya Bu Patmi meledek Ferdi.


"Enggak, Ibu!" sahut Ferdi.


"Buat kalian semua juga, janganlah sifat Chika kalian ikutin, kasihan orang tua kalian cari uang, kalau hanya mengecewakan orang tua, meskipun orang tua kaya atau apa, hargai keringat beliau, mungkin lima ratus ribu perbulan bulan buat kalian yang mampu, itu gak seberapa, coba buat Lena, dia gak akan sanggup membayar semuanya segitu, karena dia semangat, mau berjuang, saat masuk sekolah, otaknya memang encer, sampai kepala sekolah itu bangga sama Lena, yang akhirnya, Lena bisa bisa masuk sekolah elite ini! bangga ya Lena!" sahut Bu Patmi tersenyum.


"Alhamdulillah, Bu, semua juga dari Allah, jika kita mau berusaha, itu akan berhasil, karena usaha itu gak akan pernah mengkhianati hasil." Sahut Lena.

__ADS_1


"Bagus! tepuk tangan dulu buat Lena!" sahut Bu Patmi.


☀☀☀☀


Bel istirahat pun berbunyi. Lena seperti biasa, tidak ke kantin, Lena hanya makan bekal pemberian Ibunya. Semua pada menghampiri Lena, apa lagi Ferdi juga ikutan bawa nasi dari rumah, sampai teman-temannya menggoda dan menertawakan Ferdi.


"Len, gue teraktirnya nanti pas pulang sekolah yah!" sahut Mega.


"Iya Ga, gak apa-apa, oh, iya, gue belum ucapin selamat buat lo sama Dimas, selamat ya Dimas dan Mega!" sahut Lena.


"Makasih Len!" sahut Dimas.


"Makasih ya, sahabatku, lo emang sahabat terbaik gue!" sahut Mega memeluk Lena.


"Jadi gue enggak gitu?" tanya Wina.


"Sini, sini!" sahut Mega.


"Selamat ya Mega, lain kali gue pertama dong, kasih tahu!" sahut Wina.


"Wow! lo jadian ceritanya nih!" sahut Ferdi.


"Ferdi, diam ya lo! gak usah ikut campur!" sahut Mega.


"Lo jadian Bro? tega banget sama gue lo!" sahut Riki kesal.


"Ha-ha-ha, kaya film India main kejar-kejaran!" sahut Ferdi.


"Lena, Wina, gue duluan yah," sahut Mega.


"Gue sama siapa Mega!" sahut Wina


"Sama Aa Alwi aja yuk!" ajak Alwi.


"Ogah!" sahut Wina.


"Lena, gue istirahat sama siapa?" tanya Wina.


"Ya udah, sendiri aja dulu sih, gak jauh kan kantin!" sahut Lena.


"Malas ah." Sahut Wina.


"Nih, lo mau makan berdua, ayo! kita bareng-bareng!" ajak Lena.


"Nanti lo gak kenyang lagi!" sahut Wina.


"Kenyang kok, banyak nasinya ini! ayo!" ajak Lena membagi Wina.

__ADS_1


"Lena, gue ikut makan juga yah!" minta Ferdi.


"Lo bawa nasi juga? gitu dong, sini Fer!" sahut Lena.


"Bos! gila lo yah!" sahut teman-temannya Ferdi.


"Sssttt, kalian beli sana ke kantin! besok lo pada harus bawa nasi kaya gue!" perintah Ferdi.


"Ta- tapi Bos!" bantah temannya.


"Sssttt, mau ikutin gak? kalau gak mau, jangan temanan sama gue lagi!" sahut Ferdi.


"Oke, oke, Bos!" sahut teman-temannya Ferdi.


"Bagus!" sahut Ferdi.


"Enak banget nih, Nyokap lo masaknya, besok gue juga bawa nasi deh!" sahut Wina.


"Alhamdulillah." Jawab Lena tersenyum.


"Heh, Lena! semua gara-gara lo yah, teman gue Chika, sampai di hukum sama orang tuanya! dasar lo pembawa sial, mungkin Ibunya kali turunan pembawa sial!" sahut Lia temannya Chika.



"Heh, jaga ucapan lo yah! gue bukan pembawa sial, Chika pantas dihukum, karena dia udah keterlaluan sama gue! dan lo jangan pernah bawa-bawa Ibu gue!" bentak Lena sambil berdiri dan kesal ingin menampar Lia.


"Stop Lena! nanti lo tambah masalah lagi, gara-gara dia! tenangin hati lo yah!" sahut Ferdi memegang tangan Lena yang mau menampar Lia.


"Ha-ha-ha, pembawa sial!" sahut Lia dan teman-temannya sambil tertawa.


"Lo ngapain pegangin tangan gue? mulut dia, emang harus ditampar, dia hina Ibu gue!" sahut Lena.


"Iya, gue tahu, tapi kalau lo tampar dia, ntar Lia laporan ke Pak Jarot, lo kena lagi! tahan dulu emosi lo yah!" sahut Ferdi.


"Ferdi, lo kok jadi bela Lia! sana lo sama geng Lia aja! kasihan Lena tahu! sana lo sama Chika aja, emang harusnya di tampar itu Lena! kesal banget gue!" sahut Wina nyerocos.


"Sssttt, lo makan, makan aja, gak usah nyerocos kaya kereta!" perintah Ferdi.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Cinta dan Detik Terakhir boleh yuk mampir ke cerita aku yang lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


- Ta'aruf Cinta


- Cinta Cowok Dingin

__ADS_1


- Cinta Gadis Bisu


__ADS_2