
"Fer, lo gak kesambet kan?" tanya Mega.
"Banyak omong lo! makan aja!" sahut Ferdi.
"Ya ampun, galak amat!" sahut Mega.
Gue masih gak percaya Ferdi bisa berubah drastis kaya gitu, ah, biarin ajalah, yang penting sahabat gue Lena gak ada yang musuhin, kecuali Nenek peyot Chika.
"Ferdi! dasar pea lo yah! baju gue basah gini nih!" sahut Chika tiba-tiba datang dan marah-marah pada Ferdi.
"Mau gue siram lagi!" sahut Ferdi.
"Ikh... apa lo tukang gorengan ngelihatin gue!" sahut Chika.
Apa? Ferdi sampai guyur Chika sama air? wah, jangan-jangan ada maksud nih orang, kalau gue tegur di sini takut ribut lagi, Lena, kenapa sih buat dekatin lo aja banyak cobaan.
"Dimas, mau gak?" tanya Mega.
"Eh, jangan coba-coba lo kasih banci kaleng itu!"
sahut Ferdi.
"Ferdi, jangan gitu, mubazir kalau gak ke makan, gak apa-apa bagi Dimas yah!" minta Lena.
"Hah? kalau kamu yang minta, gak apa-apa, kasih aja!" sahut Ferdi.
"Hmmm... ha-ha-ha, apa Fer? gue gak salah dengar? lo bilang ke Lena kamu? aku? ha-ha-ha," sahut Mega tertawa terbahak-bahak.
"Bisa diam gak lo, ketawanya!" sahut Ferdi.
"Ferdi, lo naksir Lena? Lena itu pacar saudara gue, jangan macam-macam lo!" sahut Mega.
"Bodo amat, sebelum janur melengkung siapa aja dekatin Lena bebas!" sahut Ferdi.
"Gue mau ke toilet!" sahut Lena.
"Silakan Lena!" sahut Ferdi tersenyum.
Sebenarnya Dimas mau ikutin Lena, tapi Dimas takut banyak yang kepo. Apa lagi Mega. Dimas hanya gelisah dan stres mikirin banyak yang dekatin Lena.
Kalau gue ikutin Lena, pasti banyak yang kepo dan ikutin juga, apa lagi Mega, astaga Lena, kenapa banyak banget yang naksir lo sih, stres gue.
"Dimas! ini! kan udah dikasih sama Ferdi." Sahut Mega.
"Ogah! gue makanan gitu bisa beli!" sahut Dimas.
"Dasar lo gak ada terima kasihnya! oh, iya Ci, gue mau tanya sama lo, kesukaan Lena apaan? lo kan dekat nih sama Lena?" tanya Ferdi.
"Mau tahu jawabannya apa? cari mbah google!" sahut Dimas bangun dan keluar kelas.
"Dasar, Banci lo!" sahut Ferdi menendang meja.
"Dimas! lo mau kemana?" tanya Mega.
"Ngapain sih lo ikutin gue mulu Ga!" sahut Dimas.
"Emang kenapa sih Dim?" tanya Mega.
"Gue mau buang air kecil, lo mau ikut!" sahut Dimas.
"Oh, ya udah, sana! he-he," sahut Mega.
"Eh, Mega, Dimas, lagi pada ngapain?" tanya Lena.
__ADS_1
"Ini, Dimas mau ke toilet Len," sahut Mega.
Ah, gara-gara Mega, gue gak bisa ngomong dan dekat sama Lena.
"Gue masuk yah!" sahut Lena.
"Sana lo!" sahut Dimas ke Mega.
"Lena, bantu, gue dong!" sahut Mega.
"Bantu apa?" tanya Lena.
"Gimana caranya biar gue dekat sama Dimas, bantu!" minta Mega.
"Iya nanti yah, kalau ada waktu ngobrol sama Dimas, pasti gue bantu!" sahut Lena.
"Ngapain sih lo, mau sama banci kaya gitu? Mendingan lo sama Agung kalau gak Johan! jomblo." Sahut Ferdi.
"Ogah!" sahut Mega.
"Wey, gak bisa, Yayang Mega itu punya gue!" sahut Riki nimbrung.
"Riki, apaan sih, lo, gue itu, suka sama Dimas, bukan sama lo!" sahut Mega.
"Kamu mah begitu Yayang Ega," sahut Riki.
"Ha-ha-ha," sahut Ferdi dan teman-temannya tertawa.
"Diam Lo!" sahut Riki.
Bel masuk pun berbunyi, Dimas dan Anak-anak lainnya pada masuk kelas. Dimas tersenyum pada Lena. Tapi Lena tidak membalasnya. Lena sedang memikirkan Genta dengan penyakit yang dialami Genta.
Kak Genta sekarang lagi apa? udah makan sama minum obat belum? kok tiba-tiba gue kepikiran Kak Genta yah, kok gue jadi timbul rasa kangen gini sih, perasaan gue sama Dimas kejam hilang seakan ditelan ombak, pikiran gue sekarang tertuju ke Kak Genta.
"Ikh....." teriak Lena.
"Lena! kenapa kamu? teriak sendirian?" tanya Bu Patmi.
"Ha-ha-ha," tawa Anak-anak lainnya.
"Mungkin gorengannya gak laku kali Bu, ha-ha-ha," Ledek Chika.
"Lena, kamu kangen Dimas yah! ini Dimas! kan bukan tadi habis istirahat bisa ngobrol!" ledek Bu Patmi.
"Bukan sama Dimas Bu, sama saya!" sahut Ferdi.
"Wow, fansnya Lena banyak juga yah, nambah satu orang!" sahut Bu Patmi.
Chika kesal melihat orang banyak yang muji-muji Lena. Chika dengan raut wajah kesal dan jutek.
Sebal, semua orang kenapa pada muji dia? padahal cuma Anak tukang gorengan, masih cantikan gue, Chika gitu.
Mega memperhatikan Dimas memandangi Lena terus, Mega langsung menepak bahu Dimas.
"Dimas! lihatin papan tulis itu!" sahut Mega.
Lena kenapa yah? kok teriak gitu? nanti gue tanya ah, Dimas selalu mandangin Lena terus, bikin gue ilfil aja.
🌷🌷🌷🌷
Gak lama, Genta sampai di sekolah Lena. Kali ini Genta tidak mengendarai mobil. Tapi Genta menggunakan motor gede dan keren. Sebelum ke sekolah Lena, Genta ke rumah Lena pamit pada Bu Yani untuk membawa Lena jalan-jalan. Genta menunggu Lena sampai bel berbunyi. Sambil mencari warung untuk ngopi.
__ADS_1
Gue mau hari ini, kencan pertama gue sama Lena dengan motor kesayangan gue ini, gue mau hari adalah hari terindah buat gue sama Lena.
Bel sekolah Lena pun berbunyi, karena Bel sekolah terdengar sampai luar. Genta membayar kopinya dan bersandar di motornya. Genta merasa deg-deg-kan ingin bertemu pujaan hatinya.
"Lena, pokoknya gue minta teraktir makan sama Kak Genta!" sahut Mega.
"Terserah Kak Genta nanti," sahut Lena.
"Emang Lena udah jadian sama Kak Genta?" tanya Wina.
"Iya, ketinggalan berita sih lo yah! Dimas! ayo! pokonya lo juga harus ikut! ini kan jadian sahabat lo Lena, ikut yah!" minta Mega.
"Ga, gue gak bisa! maksa banget!" sahut Dimas.
"Lo harus ikut titik, kasihan tuh Lena cemberut!" sahut Mega.
"Iya, iya!" sahut Dimas.
Malas banget gue kalau sampai ketemu cowok tengil itu lagi, ini cewek maksa banget sih.
"Iya, Dimas, masa lo gak mau ikut juga, nanti gue bisa sedih." Sahut Lena.
"Gue ikut Len!" sahut Dimas.
Chika melihat langsung melotot ke arah luar. Chika langsung memata-matai dengan raut wajah kesal dan iri.
Siapa sih itu? ganteng banget dan keren, kenapa sih, Anak tukang gorengan itu banyak banget disukai cowok keren. Sedangkan gue cantik kenapa gak ada yang suka.
"Hallo Kak, kok bawa motor sih? cie... cie... cie... biar romantis yah, atau biar nempel, ha-ha-ha," sahut Mega.
"Bisa aja kamu!" sahut Genta sambil menarik tangan Lena.
Pamer banget si, si tengil ini, bikin gondok aja, gue juga bisa bawa motor gede kaya gini punya, pakai narik-narik tangan Lena segala lagi, gak kuat gue.
"Kamu gimana di sekolah? baik-baik aja kan?" tanya Genta memegang pipi Lena.
Ya Allah, kok gue jadi deg-deg-kan gini sih, dada gue berdetak kencang banget, ada apa dengan gue. Tapi tadi gue kangen banget sama Kak Genta.
"Ah, so sweet banget, Dimas kita kapan kaya mereka?" tanya Mega.
"Apaan sih lo! Uweek!" sahut Dimas kesal.
"Aku baik-baik aja Kak," sahut Lena langsung memerah wajahnya.
"Aduh, kalian bikin iri aja deh!" sahut Wina.
"Bohong Lena Kak, dia tadi diusilin sama Anak sekelas kita, bukunya Lena diinjak-injak, Lena diam aja! untung ada Dimas yang nolongin sampai Anak itu dibawa ke ruang BK.
"Ya ampun sayang, tapi kamu gak apa-apa kan? Dimas makasih yah!" sahut Genta.
"Hmmm..." sahut Dimas.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
Sambil menunggu cerita Cinta dan Detik Terakhir boleh yuk mampir ke cerita aku yang lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰
-Ta'aruf Cinta
-Cinta Cowok Dingin
__ADS_1
-Cinta gadis bisu