Cinta Dan Detik Terakhir

Cinta Dan Detik Terakhir
Part 21


__ADS_3

Dimas melamun memikirkan Lena, Dimas benar-benar syok dan sakit hati banget melihat kemesraan Lena dan Genta.



Lo tega banget Len, gue yang nanti-nanti cinta lo sejak kecil dan kenal lama, malah ditolak, sedangkan anak tengil itu baru kenal beberapa hari, lo terima, alasan selalu Mega, gue gak bisa sakit hati atau jahat sama lo, gue ingin lo bahagia, jika emang Genta bikin lo bahagia, gue senang, tapi, kalau sampai Genta nyakitin lo, bakal berhadapan sama gue, Gak ada yang boleh bikin lo nangis atau terluka.


"Sayang, kenapa lagi? dari siang kamu belum makan, makan dulu yuk!" ajak Bu Cici.


"Dimas gak nafsu Mah," sahut Dimas.


"Kenapa? pasti masalah Lena? udah dong sayang, jangan kaya gini, kalau Lena nolak, ya udah, kan Mamah pernah bilang, jadi sahabat lebih bagus, karena kamu bakal selalu ada saat dia butuh!" sahut Bu Cici.


"Dimas gak sanggup aja, kalau harus lihat Lena sama cowok lain, hati Dimas sakit, tapi Dimas senang kalau Lena bahagia Mah, awas aja kalau cowok itu sampai nyakitin Lena," sahut Dimas.


"Ya ampun, sayang, segitu besarnya kamu cinta sama Lena, sabar ya sayang, sini Mamah peluk!" sahut Bu Cici.


"Dimas akan berusaha lupain Lena dalam mencintai, Dimas akan rubah cinta Dimas jadi sahabat Lena yang selalu ada Mah," sahut Dimas.


"Nah, gitu dong sayang, Mamah senang dengarnya, sekarang makan yah! Mamah bikinin lauk kesukaan kamu lho! udah, jangan sedih ah, cowok masa nangis!" sahut Bu Cici.


"Gak nangis!" sahut Dimas.


"Mata kamu gak bisa bohong sayang, jagoan Mamah harus kuat!" sahut Bu Cici.


"Kuat kok aku Mah, ha-ha-ha," sahut Dimas sambil berusaha tertawa.


🌷🌷🌷🌷


Setelah selesai jalan-jalan bersama Genta, Genta mengantar Lena pulang, karena sudah larut malam, sekitar jam delapan malam. Tangan Genta tidak pernah melepas tangan Lena, Genta menggenggam tangan Lena erat. Saat mau pulang, Genta terasa sakit di kepalanya. Sampai Lena menangis dan bingung harus bagaimana, Lena membawa Genta ke tempat duduk sementara, sampai rasa sakit Genta hilang.


"Aaahhh..." teriak Genta.


"Astaghfirullah, kenapa Kak? ya Allah, Kak," Lena memegang kepala Genta bingung dan menangis.


"Sakit sayang, Aaahhhh..." sahut Genta.


"Aku harus minta tolong sama siapa ini Kak? ya Allah, hiks-hiks-hiks," sahut Lena menangis.


"Ja-jangan! a-aku gak apa-apa, nanti sakitnya hilang sendiri! tolong ambilin obat aku sayang!" minta Genta.


"Itu ada bangku! kita ke situ aja yuk!" ajak Lena sambil menangis dan merangkul Genta.

__ADS_1


"Jangan nangis sayang, aku gak apa-apa, aku pasti kuat demi kamu!" sahut Genta pelan dan meneteskan air mata.


Lena memberi obat ke Genta dan memberi air, Lena menghapus keringat Genta dengan tisu, Genta bersandar di bahu Lena dan menggenggam tangan Lena, sambil terpejam matanya. Lena memandangi Genta sambil meneteskan air mata.


Ya Allah, sembuhkan kekasih hamba, hiks-hiks-hiks, jangan pernah ambil nyawanya, kenapa saat hamba mulai mencintainya, engkau berikan penyakit yang begitu berat padanya, hamba sudah mencintainya ya Allah, dengan keadaan Kak Genta seperti ini, hamba justru sangat ingin selalu ada didekatnya.


"Sayang, maafin aku merepotkan kamu yah, maafin aku, aku tidak sempurna buat kamu, aku mohon jangan nangis terus!" sahut Genta membuka matanya dan berbicara pelan.


"Janji sama aku Kak, Kak Genta harus sembuh! Kak Genta kenapa berpikiran seperti itu, Kak Genta itu sempurna buat aku, dan gak pernah merepotkan aku, dengar aku ya Kak, aku mencintai Kak Genta!" sahut Lena.


"Apa? coba aku mau dengar sekali lagi!" minta Genta.


"Aku mencintai Kak Genta!" sahut Lena.


"Alhamdulillah, aku bahagia sekali sayang mendengarnya, aku juga mencintai kamu, selamanya!" sahut Genta memegang kepalanya.


"Gimana? masih sakit?" tanya Lena.


"Sedikit sayang, aku kuat! aku kuat!" sahut Genta.


"Kalau gak kuat jangan jalan dulu, aku gak mau kita kenapa-kenapa nanti naik motor Kak!" sahut Lena.


"Gak sayang, aku kuat!" sahut Genta tersenyum.


"Assalamu'alaikum Bu," sahut Lena.


"Wa'alaikumsalam Kak, kemana aja jam segini belum pulang? Ibu khawatir lho!" sahut Bu Yani.


"Sini! aku yang ngomong!" minta Genta.


"Mohon maaf Bu, saya membawa Lena kemalaman yah, soalnya tiba-tiba Lena lapar, jadi kita mampir ke tempat makan dulu! maaf ya Bu! Ibu mau pesan makanan apa? nanti Genta beliin!" sahut Genta.


"Gak Nak, gak usah ngerepotin! maaf Ibu telepon, soalnya khawatir banget!" sahut Bu Yani.


"Maafin saya ya Bu!" minta Genta.


"Gak apa-apa Nak, pulang hati-hati ya Nak Genta, jaga Lena baik-baik!" minta Bu Yani.


"Siap Bu, Genta akan jaga Lena!" sahut Genta.


"Ya udah, gitu aja! Ibu tutup telepon yah! Assalamu'alaikum." Sahut Bu Yani.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." Jawab Genta.


"Ayo kita pulang!" ajak Genta.


"Tapi Kak Genta kan masih sakit," sahut Lena.


"Udah gak sakit lagi sayang!" sahut Genta.


"Benaran?" tanya Lena.


"Benaran sayang, nanti kita mampir ke tukang martabak yah, aku mau beliin makanan buat Ibu kamu!" sahut Genta.


"Kak, jangan ngerepotin!" sahut Lena.


"Ssstttt, pokoknya harus beli!" sahut Genta.


Meskipun kepala aku sakit banget, aku akan tahan buat kamu sayang.


🌷🌷🌷🌷


Lena dan Genta menghampiri motor dan berangkat untuk pulang. Sebelum pulang Genta dan Lena membeli Martabak telur untuk Lena dan Ibunya. Saat dua jam perjalanan, akhirnya Lena dan Genta sampai rumah Lena. Bu Yani sangat berterima kasih banget sama Genta udah repot-repot membelikan Martabak.


"Nak Genta gak usah repot-repot seperti itu, Ibu gak minta apa-apa kok," sahut Bu Yani.


"Gak apa-apa Bu, semua buat Ibu dan Lena, kan saya akan menjadi menantu Ibu!" sahut Genta tersenyum.


"Kak, apaan sih!" sahut Lena.


"Lho, emang benar, kenapa emangnya? gak salah kan Bu?" tanya Genta.


"Iya Nak, gak salah kok!" sahut Bu Yani tersenyum.


"Kak, aku kan jadi malu." Sahut Lena.


Gak lama Genta pamit pulang pada Lena dan Ibunya. Genta mencium tangan Ibunya Lena. Genta seakan berat banget buat ninggalin Lena dan Ibunya pulang.


🌷🌷🌷🌷


Di kediaman rumah Genta, seperti biasa Bu Susi selalu marah-marah pada Genta. Setiap hari Genta pulang malam terus. Bu Susi memarahi Bi Rahmi yang tidak tahu apa-apa. Pak Miko sedang diluar kota saat itu, berangkat sore.


"Kamu didik yang benar dong Anak saya! saya kan titip sama kamu! kalau kerjaan kamu kaya gini, saya akan pecat kamu Rahmi!" bentak Bu Susi.

__ADS_1


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


__ADS_2