
Meskipun temannya Mega, gue tetap gak percaya. Bakal gue ikutin terus kalian.
🌷🌷🌷🌷
Genta sedikit melirik dan tersenyum ke Lena. Lena hanya diam dan membuang muka. Genta langsung membuka obrolan.
"Rumah kalian pada di mana?" tanya Genta.
"Siapa Kak?" tanya Wina.
"Kalian berdua." Jawab Genta.
"Aku dikit lagi Kak, perumahan Jaya Bakti yah," sahut Wina.
"Satunya lagi? kok aku perhatiin diam aja dari tadi?" tanya Genta.
"Perkampungan rawa bungur." Sahut Lena singkat.
"Maklum Kak, Lena habis dihukum, gara-gara ada yang iseng di sekolah, gara-gara sepatu Lena bolong dan rombeng," sahut Mega.
"Kok begitu? jahat banget sih, teman kalian," Sahut Genta.
"Iya, Kak." sahut Mega.
"Mega!" Colek Lena.
"Kenapa Len? emang benar kan?" tanya Mega.
Sepertinya Lena ini gadis sederhana, kasihan juga kalau lihat dari penampilan dia, tapi dia itu cantik, mau bantu, tapi gak enak, baru kenal.
"Ini mau antar siapa dulu?" tanya Genta.
"Aku dulu Kak!" sahut Wina.
"Oke, kasih tahu jalannya yah!" sahut Genta.
"Yah, bulpoint gue hilang!" sahut Lena.
"Kok bisa?" tanya Mega.
"Ini lo lihat!" sahut Lena menunjukkan tasnya.
"Ya, ampun Lena, kenapa lo gak bilang, gue ada tas, mau?" tawar Mega.
"Gue juga banyak, kalau lo mau Len." Sahut Wina.
"Kalian pada baik banget sih, makasih yah, Win, gue dari Mega aja, thanks banget ya Ga!" sahut Lena.
Aduh, gue kok jadi sedih ya, gue benar-benar salut banget sama Lena, tas bolong gitu masih aja dipakai, pasti gak ada uang untuk beli.
"Lena, aku punya bulpoint banyak, mau!" sahut Genta.
"Ambil Lin! malu-malu!" sahut Mega.
"Wina enggak?" tanya Wina.
"Ini buat lo!" sahut Mega.
"Makasih Kak Genta." Sahut Lena.
"Makasih ya Kak Genta, ganteng deh!" sahut Wina.
🌷🌷🌷🌷
Gak lama, mobil Genta berhenti. Wina turun di depan perumahan. Mobil Genta lanjut berjalan menuju rumah Lena. Lena gelisah karena Genta melihat di kaca spion ke arah Lena.
Ngelihatin terus sih, aduh.
"Hmmm... Kayanya Kak Genta suka sama Lena." Sahut Mega.
"Stop___ di sini aja Kak!" sahut Lena.
"Gak sampai dalam Len?" tanya Mega.
__ADS_1
"Enggak usah, biar gue jalan aja, makasih ya Kak Genta, Mega." Sahut Lena.
Saat Lena berjalan, Genta masih melihat ke arah Lena sambil tersenyum. Mega langsung mengagetkan Genta.
"Woy! Kak Genta naksir sama Lena?" tanya Mega.
"Iya Ga, kayanya Lena itu perempuan baik, sejak awal jumpa, aku udah suka sama dia." Sahut Genta.
"Pantes, dari tadi ngelihatin Lena terus." Sahut Mega.
"Iya, kaya ada yang beda aja sama dia, tolong bantu dong, supaya aku bisa dekat dengan Lena!" minta Genta.
"Gak gampang buat dapatin dia Kak, soalnya lumayan banyak yang suka." Sahut Mega.
"Jelas, karena dia perempuan beda, pokoknya ada suatu yang beda aja." Sahut Genta.
Ngapain mobilnya masih berhenti di situ sih? jangan-jangan temannya itu suka lagi sama Lena. Gue harus cepat-cepat ini nembak Lena.
🌷🌷🌷🌷
Lena pun sampai di rumah dan mencium tangan Ibunya. Lena melihat dagangan Ibunya sangat ramai, Lena langsung membantu Ibunya.
"Assalamu'alaikum, Bu, maaf Lena lama pulangnya." Sahut Lena mencium tangan Ibunya.
"Wa'alaikumsalam, gak apa-apa sayang, sana ganti baju terus makan!" perintah Ibunya.
"Nanti aja Bu, Lena mau bantu Ibu! kasihan Ibu kerepotan." Sahut Lena.
"Nanti baju kamu kotor Nak! ganti dulu, istirahat, makan! biar Ibu sendiri." Sahut Bu Yani.
"Assalamu'alaikum." Sahut Dimas tiba-tiba datang dan mencium tangan Bu Yani.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Lena dan Ibunya.
"Biar Dimas bantu Ibu, Dimas Bisa kok!" minta Dimas.
"Dimas! kok tiba-tiba lo ada di sini sih? mau ngapain?" tanya Lena.
"Lena, kok kamu gitu sih? Dimas mau main gak boleh, biarkan dia main!" sahut Bu Yani.
"Modus!" sahut Lena.
"Sini Bu, Dimas bantu!" tawar Dimas.
"Udah gak ada yang beli, habis semua yang beli, kamu masuk aja, Lena, ajak masuk dong! kasih air minum, bikinin teh!" perintah Ibunya.
"Iya Bu!" sahut Lena.
🌷🌷🌷🌷
Dimas masuk dan duduk di bangku. Lena datang membawa es teh untuk Dimas. Dimas tersenyum melihat Lena. Dimas langsung meminumnya sambil memandangi Lena.
"Kenapa? ada yang aneh? seram banget sih ngelihatinnya!" sahut Lena.
"Astaghfirullah, sepatu gue lupa dilepas, sory yah! ha-ha-ha." Sahut Dimas.
"Wah, lo parah banget sih, lepas sana! gue yang ngepel ini tahu gak! gue mau ganti baju dulu!" sahut Lena.
"Lupa gue, habis lihat kecantikan lo!" sahut Dimas.
"Sekali lagi ngomong kaya gitu, gue timpuk lo!" sahut Lena.
"Ha-ha-ha, dipuji gak mau, aneh!" sahut Dimas.
"Nak, kok dilepas? gak apa-apa, pakai aja Nak, Lena itu, jangan di dengarin! ini ada gorengan dimakan yah!" sahut Bu Yani.
"Wah, Ibu, repot-repot segala, gak usah repot-repot Bu!" sahut Dimas.
"Gak apa-apa, cuma gorengan aja kok!" sahut Bu Yani.
🌷🌷🌷🌷
Gak lama, datang Lena. Membawa buku pelajaran, Dimas langsung kaget melihat Lena membawa semua buku. Padahal Dimas tadi hanya basa-basi agar bisa dekat dengan Lena.
__ADS_1
"Banyak banget Len? ini mau lo pelajarin semua?" tanya Dimas.
"Iya, lo pilih dulu mau yang mana? kan lo bilang mau belajar, ya udah ayo!" sahut Lena.
"Tapi gak sebanyak ini kali, ya kali gue belajar semuanya!" sahut Dimas.
"Jangan banyak cincong! cepat! cepat!" sahut Lena.
Lena dan Dimas akhirnya belajar bersama. Lena memberi tahu apa yang kurang dimengerti Dimas. Dimas semakin mencintai Lena, Dimas memandangi wajah Lena dengan sangat dekatnya.
Prak...
"Aduh... sakit Lena!" sahut Dimas.
"Lo ngapain lihatin gue kaya gitu? lo mau meseum sama gue ya?" tanya Lena.
"Siapa yang mau meseum sih? kan gue merhatiin lo lagi jelasin." Sahut Dimas.
"Lihatin nya ke sini, bukan ke wajah gue!" sahut Dimas.
"Iya, iya, Nenek!" sahut Dimas.
"Ih... ngeselin!" sahut Lena.
Gue senang banget bisa berdua sama lo kaya gini, gue gak rela lo jadi milik orang lain, dari sejak kecil gue cinta sama lo, dulu cita-cita gue, supaya nikah sama lo.
"Dimas! Dimas! kenapa sih? melamun mulu sih?" tanya Lena.
"Gue boleh ngomong sama lo gak?" tanya Dimas.
"Ngomong apa?" tanya Lena.
"Gue... gue... gue..." sahut Dimas pelan.
🌷🌷🌷🌷
Saat Dimas mau menyatakan cinta ke Lena, ponsel Lena berbunyi. Ternyata dari Mega, Mega izin meminta nomor Lena untuk Genta. Lena mengizinkannya.
"Len, lo lagi apa?" tanya Mega.
"Lagi belajar, kenapa?" tanya Lena.
"Sama siapa?" tanya Mega.
"Sama Dimas, tadi Dimas ke sini, minta ajarin pelajaran, kan lo tahu sendiri, nilai dia jeblok, he-he," sahut Lena tertawa kecil.
"Oh, sama Dimas, gini Len, tadi Kak Genta naksir lo tahu, dia minta nomor lo, boleh gak?" tanya Mega.
"Naksir? baru pertama ketemu naksir?" tanya Lena.
"Iya, dia baik kok, pokoknya baik banget," sahut Mega.
"Lo jomblangin gue gitu?" tanya Lena.
"Dekat aja dulu sih!" sahut Mega.
"Jangan kasih dulu nomor gue!" minta Lena.
"Yah, udah gue kasih, sory ya, he-he." Sahut Mega.
"Yah, lo, gimana sih? tanya dulu dong!" sahut Lena agak kesal.
"Sory, habis bawel dia, nanyain mulu! sory ya Len!" sahut Mega.
"Ya, udah, mau gimana lagi, udah lo kasih!" sahut Lena.
🌷🌷🌷🌷
Setelah lama telepon, Lena menghampiri Dimas. Lena menanyakan soal tadi ke Dimas. Dimas seperti gugup.
"Sory, lama! Mega telepon, tadi mau ngomong apa? gue apa sih?" tanya Lena.
Bersambung...
Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰
__ADS_1