Cinta Dan Detik Terakhir

Cinta Dan Detik Terakhir
Part 55


__ADS_3

"Mih, Kak!" sahut Kiran.


"Ngapain lo masuk! keluar gak!" bentak Ferdi.


"Hiks-hiks-hiks." Kiran menangis keluar.


"Ferdi! kamu kebangetan banget sih!" sahut Mamihnya Ferdi.


"Kiran, Kiran, sini Nak! kamu yang sabar yah, jangan dipikirkan apa kata Kakak kamu! sekarang, kamu ganti baju dan makan yah!" sahut Mamihnya Ferdi.


"Mih, aku Anak Mamih kan? tapi kenapa Kak Ferdi benci sama aku?" tanya Kiran.


"Anak Mamih dong, cuma, kalian beda Ayah aja, sebelum Mamih menikah dengan Papih kamu, Mamih sudah menikah dengan Papihnya Ferdi duluan sayang." Sahut Mamihnya Ferdi.


"Kenapa Mamih pisah sama Papihnya Kak Ferdi?" tanya Kiran.


"Nanti kalau kamu sudah besar, kamu akan tahu! sekarang ganti baju, makan yah!" minta Mamihnya Ferdi.


☀☀☀☀


Di kediaman rumah Genta. Bu Susi telah pulang dari Singapura. Bu Susi marah-marah dengan Bi Rahmi, karena Genta tidak pulang-pulang. Lalu Pak Miko membela Bi Rahmi.


"Pah, Mamah pulang!" teriak Bu Susi.


"Sudah pulang kamu? puas kamu enak, jalan-jalan, terus kamu gak memperhatikan Anak?" tanya Pak Miko marah-marah.


"Apa sih, Pah! Mamah baru pulang, bukan disambut, malah diomel-omelin!" sahut Bu Susi.


"Kapan sih, Mamah berubahnya? gak usah kerja, cukup Papah yang kerja, Mamah urus Genta, tapi Mamah gak pernah mau nurut sama Papah!" sahut Pak Miko.


"Terus Mamah harus jadi Ibu rumah tangga gitu? ogah banget Mamah! Mamah juga ingin punya uang sendiri Pah, gak harus minta sama Papah! mana Genta? Rahmi! mana Genta?" tanya Bu Susi.


"Saya kurang tahu Nyonya, Den Genta gak bilang apa-apa." Jawab Bi Rahmi.


"Masa kamu gak tahu, Anak saya kemana? bisa gak sih, kamu ngurus Anak saya!" sahut Bu Susi.


"Mamah gak usah salahkan Bi Rahmi! salahkan diri Mamah sendiri, yang kurang peduli sama Anak! Bi Rahmi sana ke belakang! gak usah peduliin ucapan dia!" perintah Pak Miko.


"Papah! Papah ada main apa sama Rahmi? sampai segitunya belain Rahmi, jangan-jangan Papah sengaja yah, Genta gak ada, Mamah gak ada, berdua-dua sama Rahmi?" sahut Bu Susi.


Prak....


"Hati-hati kalau bicara!" Pak Miko menampar Bu Susi.

__ADS_1


"Papah jahat! jahat! hiks-hiks-hiks... Papah sudah berani menampar aku!" sahut Bu Susi langsung masuk kamar.


"Buka Mah! Papah minta maaf! Mamah itu ngeselin! Mamah sudah tuduh Papah yang enggak-enggak! buka Mah!" minta Pak Miko.


Lalu Bu Susi membuka pintu kamar dan menangis. Pak Miko menenangkan Bu Susi yang menangis.


"Mah, udah dong! jangan nangis terus! Maafin Papah yah!" sahut Pak Miko.


"Maafin Mamah juga, udah nuduh Papah!" sahut Bu Susi.


"Papah sudah maafin! oh, iya, kita jalan-jalan aja yuk! untuk dua minggu! selama ini kan kita jarang jalan-jalan!" sahut Pak Miko.


"Tapi Genta belum pulang Pah." Sahut Bu Susi.


"Genta kemarin sudah telepon Papah, katanya ada touring sama teman-temannya, jadi untuk beberapa hari, Genta gak pulang, Mamah mau kan?" tanya Pak Miko.


"Kenapa Papah gak bilang sama Mamah? kalau gitu kan Mamah gak usah marah-marah ke Rahmi Pah." Sahut Bu Susi.


"Ya udah, gak usah dipikirkan! besok berangkat yuk! kita ke Dubai!" Sahut Pak Miko.


Kasihan sekali Den Genta, orang tuanya asik-asikan jalan-jalan, sedangkan Anaknya sakit, mereka tidak tahu, dasar orang tua Aneh.


☀☀☀☀


"Emang dasar yah, orang gua gak punya hati!" sahut Genta.


"Kenapa sayang? kok marah-marah gitu?" tanya Lena.


"Orang tua aku, malah mikirin jalan-jalan, bukan mikirin Anaknya, gimana gak kesal coba? aku mengaharapkan Mamah perhatian telepon aku, ini gak sama sekali, Mamah dan Papah itu sama! kalau tahu kabar aku sehari, itu mereka gak akan telepon lagi, aku tuh ingin, ditanya, kapan kamu pulang, udah makan apa belum? ini gak sama sekali, hiks-hiks-hiks." Sahut Genta menangis.


"Sabar sayang, meskipun orang tua kamu gak ada di samping kamu, tapi aku dan Ibu, selalu ada buat kamu!" sahut Lena menghapus air mata Genta.


"Makasih sayang, aku cengeng yah?" tanya Genta.


"Iya, cengeng! malu ih... lelaki habisnya nangis!" sahut Lena.


"Gimana gak nangis, kamu gak ngerasain apa yang aku rasain! karena kamu punya Ibu yang sayang dan baik hati, gak seperti aku!" sahut Genta.


"Kamu gak boleh berucap kaya tadi, kamu harus bersyukur atas nikmat yang Allah berikan! aku yakin, orang tua kamu, suatu saat nanti bisa berubah!" sahut Lena.


"Makasih ya Yang, kamu sudah ngajarin aku arti sebuah kesabaran." Sahut Genta.


"Sama-sama sayang, setiap hidup pasti ada lika-liku, gimana kita jalaninya semua!" sahut Lena.

__ADS_1


"Siap Bu Guru! ini kamu lihat! aku udah gak nangis, aku senyum buat wanita yang terindah dalam hidup aku!" sahut Genta.


"Masa sih?" tanya Lena sambil tersenyum.


"Benaran lah..." sahut Genta.


"Seandainya, orang tua kamu misahin kita gimana? aku udah takut, orang tua kamu gak setuju!" sahut Lena.


"Aku gak peduli sama mereka! jika dia gak setuju, aku akan nekat pergi dari rumah!" sahut Genta.


"Jangan sayang, itu gak baik!" sahut Lena.


"Aku gak suka dikekang, sampai mati pun, aku akan perjuangkan kamu!" sahut Genta.


"Tapi restu orang tua itu, yang kita harapkan!" sahut Lena.


"Kalau restu dia bukan buat kita berdua, kalau buat orang lain, buat apa sayang, kalau emang nanti aku lepas semua fasilitas semua dari orang tua aku, kamu mau kan tetap bersama aku?" tanya Genta menatap Lena.


"Mau sayang, aku cinta sama kamu, bukan karena harta, tapi aku cinta sama kamu, karena hati kamu baik, bisa nyaman sama kamu, itu yang bikin aku bahagia, karena harta, gak akan bisa kita bawa mati! aku mau hidup seadanya sama kamu!" sahut Lena tersenyum.


"Alhamdulillah, aku akan berusaha, dengan keringat aku sendiri, aku akan bahagiakan kamu, sampai kapan pun, aku akan berjuang buat kamu!" sahut Genta.


"Aku selalu dukung kamu sayang. Janji! kita sehidup semati!" minta Lena sambil menunjukkan kelingkingnya ke arah Genta.


"Aku janji!" sahut Genta menyatukan kelingkingnya dengan kelingking Lena.


"He-he-he..." Lena dan Genta tertawa sambil berpelukan.


"Aku sayang kamu, setiap hari, kata sayang kamu itu gak akan pernah aku lupa ucapin!" sahut Genta.


"Aku juga sayang kamu! makasih yah, sudah mau menerima aku apa adanya!" sahut Lena.


"Iya sayang, kita sama-sama menerima kekurangan kita, aku juga makasih kamu mau menerima cinta aku, meskipun aku sakitan, aku bahagia banget!" sahut Genta.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Cinta dan Detik Terakhir, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu cerita Cinta dan Detik Terakhir boleh yuk mampir ke cerita aku yang lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰


- Ta'aruf Cinta


- Cinta Cowok Dingin

__ADS_1


- Cinta Gadis Bisu


__ADS_2