CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - DINNER CRUISE


__ADS_3

[ JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR]


"Kamu aneh deh. Tiba-tiba bucin gini.." keluh Sashi pelan.


Namun di balik ekspresi wajah mengeluhnya, Sashi tersenyum kecil melihat sikap Andreas yang seperti itu kepadanya.


EPISODE SEBELUMNYA


"Dasar ya wanita kalau pasangannya tiba-tiba manja malah pura-pura marah. Padahal tuh di dalem hati lagi senyum-senyum sendiri.." seru lelaki itu sambil menatap gadis yang dalam pelukannya.


Sashi tertawa mendengar ucapan Andreas. Perkataan yang di ucapkan Andreas sangat tepat mengambarkan keadaan Sashi saat ini. Gadis itu terlihat senang saat Andreas memeluknya dan memperhatikannya seperti ini.


"Sayang, kamu masih lama kah mengerjakan ini?" tanya Andreas yang mulai terlihat bosan menemani Sashi tanpa melakukan apapun.


"Hmm, masih banyak yang harus dikerjakan" jawab Sashi sambil berbalik menatap Andreas.


"Kenapa kamu bosen ya nungguin aku kayak gini?" tanya gadis itu dengan ekpresi wajah yang di buat kecewa.


"Bukan bosen sama kamu sayang, tapi aku bosen cuma ngeliatin kamu aja tanpa ngapa-ngapain.." sahutnya cepat.


Sashi menurunkan pandangannya ke tangan Andreas yang masih memeluk pinggangnya.


"Gak ngapa-ngapain gimana, lah itu tangan kamu dari tadi peluk pinggang aku terus.."


Seketika Andreas menatap kedua tangannya yang memeluk pinggang Sashi lekat. Lelaki itu membenarkan ucapan Sashi, namun yang sebenarnya ia inginkan bukan hanya seperti ini. Andreas ingin mereka menikmati hari Anniversary mereka seharian, melakukan banyak hal romantis.


"Yaudah deh, kamu lanjutin lagi kerjaannya Aku tunggu disana ya" Andreas menunjuk kearah kursi yang tadi dipakainya duduk.


Sashi mengangguk pelan sembari memperhatikan Andreas yang melepaskan pelukannya di pinggangnya. Sashi memperhatikan wajah Andreas yang terlihat murung.


Sashi berbalik menatap manekin dan kain-kain di depannya. Beberapa menit kemudian, gadis itu menghentikan pekerjaannya dan memikirkan sesuatu.


"Apa aku terlalu bersikap dingin padanya? wajahnya terlihat kecewa" pikirnya dalam hati. Gadis itu berbalik berjalan kearah Andreas yang sedang memainkan ponselnya.


"Kak, Yuk jalan-jalan sekarang. Aku udah merasa bosen sama kerjaan.." ajak Sashi yang sudah berdiri di hadapan Andreas.


Andreas seketika berwajah bingung mendengar ucapan Sashi. Lelaki itu mengerutka keningnya dan menatap wajah kekasihnya itu.


"Kenapa kok natapnya gitu?" tanya Sashi pada Andreas.


"Gak apa, kenapa jadi tiba-tiba gitu. Beberapa menit yang lalu kamu bilang banyak kerjaan" jawab Andreas yang masih menatap wajah kekasihnya.


"Ya kan aku bilang bosen. Yaudah yuk, aku mau siap-siap nutup butik dulu.." serunya sembari mengambil kunci butiknya.


Andreas mengiyakan ucapan Sashi dan berjalan mengikuti gadis itu.


"Kita mau kemana?" tanya Sashi pada kekasihnya itu.


"Hmm.." Andreas melihat jam di tangannya.


"Bentar ya, aku telepon sekretarisku dulu." ucap Andreas sambil berjalan menjauh beberapa langkah dari Sashi.

__ADS_1


"Dia mau ngapain sih?" gumam Sashi pelan.


"Halo,tolong kamu batalkan reservasiku di restoran dan sebagai gantinya aturkan reservasi Dinner Crush sekarang. Aku tunggu kabarmu secepatnya" Pinta Andreas pada Sekretaris pribadinya.


Andreas mengakhiri panggilan teleponnya setelah mendapat jawaban dari sekretarisnya.


"Udah yuk.." ajak Andreas sembari mengenggam tangan Sashi.


"Mau kemana? langsung ke restoran?" tanya Sashi yang masih penasaran. Apalagi melihat gelagat mencurigakan saat Andreas menelepon Sekretarisnya.


"Udah ikut aja" jawab Andreas singkat sembari membukakan pintu mobilnya untuk Sashi.


Tak berselang lama, mobil milik Andreas mulai berjalan meninggalkan butik milik Sashi.


...****************...


Hari sudah menjelang sore, Angela masih berada di kantornya walaupun beberapa pegawai sudah pulang sedari tadi. Hanya beberapa satpam dan petugas kebersihan yang masih berada di dalam perusahaan itu.


Setelah Arga memberikan kepercayaan penuh kepada Angela untuk mengelola perusahaan junk food. Membuat Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk perusahaan.


Angela mengalihkan perhatiannya dari layar komputer ketika terdengarbsuara panggilan telepon. Ia melihat nama William di layar ponselnya.


"Halo" seru Angela memulai pembicaraan. Sebenarnya gadis itu masih enggan untuk berbicara dengan William setelah kejadian kemarin tentang pernyataan cinta William yang tiba-tiba.


"Jel, kamu sibuk? Nanti malam bisakah kmmu temani aku ke sebuah pesta rekan kerjaku?" tanya William sedikit ragu.


Angela nampak berpikir sejenak. Sedangkan di seberang telepon Angela, William nampak gusar akan jawaban Angela nantinya.


William menghela napas lega.


"Terima kasih, aku akan jemput kamu jam 7 malam..." imbuhnya. Terlihat senyuman kecil di sudut bibirnya. Angela mengiyakan ucapan William.


Panggilan telepon seketika hening setelah Angela mengiyakan ajakan William.


"Ehmm, Angela. Tentang pernyataanku kemarin.." ucapan William terpotong oleh perkataan Angela yang menyela tiba-tiba.


"Maaf, bisakah untuk tidak membahasnya. Aku sedang sibuk sekarang, kabari aku jika kamu sudah berangkat menjemputku nanti.." sela Angela cepat.


"Ekkh..hmm, baiklah." jawab William singkat.


Panggilan telepon itu berakhir dengan cepat. William masih melihat kearah layar ponselnya dan bergumam sendiri.


"Apa dia benar-benar tidak tertarik denganku?"


Di sisi lainnya, sama seperti halnya William. Angela terlihat memikirkan sesuatu.


"Maaf, tapi aku tidak ingin menjadi pelarianmu"


Setelah panggilan teleponnya dengan William 30 menit yang lalu, Angela tidak lagi dapat berkonsentrasi dengan pekerjaan seperti sebelumnya.


"Astaga, kenapa aku terus memikirkannya" keluhnya sembari membereskan peralatan kerjanya.

__ADS_1


Angela memutuskan untuk kembali ke rumah karena saat ini ia sama sekali tidak bisa fokus dengan pekerjaannya.


...****************...


Raeviga terlihat menyiapkan beberapa hidangan dan makanan ringan untuk menantu, anak dan cucunya Arsha. Dava yang juga berdiri di samping Raeviga ikut membantu istrinya.


"Pa, tolong kompornya nyalain ya.." pinta Raeviga pada suaminya.


"Iya sayang. Puternya ke kanan kan ma?" tanya Dava yang terlihat asing dengan hal-hal yang berbau dapur.


"Iya pa, apinya kecilin aja ya. Terus tolong ambilkan spatula sama frying pan, Pa.." ucap Raeviga sambil menunjuk kearah benda yang di minta.


"itu bumbunya di oseng ya,Pa. Aku mau buat adonan kue dulu.." setelah mengatakan hal itu, Raeviga meninggalkan Dava dan beralih ke meja dapur yang letaknya tak jauh dari penggorengan.


"Hukk,huk.. Ma, kenapa asap bumbunya kayak gini. Bumbunya gosong.." seru Dava sembari mengibas-ngibaskan tangannya menyingkarkan asap bumbu yang menyengat.


"Ya, ampun Pa. Kenapa bisa gitu. Matiin Pa Apinya.." ucap Raeviga yang berjalan kearah Dava.


"Udah sayang.."


Raeviga melihat kearah frying pan di depannya.


"Tapi waktu di oseng udah di kasih minyak? kok frying pannya jdi item gitu.." imbuh Raeviga bingung.


"Minyak? lah kamu gak bilang sayang. Ya aku langsung masukin aja.." jawab Dava yang menemukan titik masalahnya.


"Astaga sayang, yang namanya dimasak ya pakai minyak dong" seru Raeviga sambil menahan senyuman di bibirnya.


"Kalo mau diketawain, ketawa aja Ma. Gausah di tahan-tahan" protesnya kesal.


"Maaf Pa. Gabisa nahan ketawa..." balas Raeviga dengan senyumannya yang terlihat jelas.


"Wajarlah kan aku gak pernah masak-masak gini. Kan Papa bagian cari uang aja,Ma. Ya resiko Mama dong kalo ada yang salah. Siapa suruh minta Papa bantuin masak" ucap Dava membela diri dan tersenyum melihat kekonyolannya sendiri.


"Iya deh Mama nih yang salah.."


Tak berselang lama, suara ketukan pintu membuat keduanya berhenti berdebat.


"Kayaknya Arka sama istrinya udah dateng Pa. Mama buka pintu dulu ya.." Raeviga akan berjalan menuju pintu depan namun Dava menghentikannya.


"Biar Papa aja, Ma. Kamu lanjutin masak ini aja deh.." ucap Dava sebelum pergi menuju pintu depan rumahnya.


"Pa, Ma. Ini Arka.." kata Arka sambil mengetuk pintu rumahnya.


"Iya tunggu.." sahut Dava dengan lantang.


"Halo Arsha, duh Kakek kangen nih.." sambut Dava ketika pintu telah dibukanya.


"Aaaadah..jaaiih.." celoteh Arsha yang seolah membalas ucapan Kakeknya.


Arka dan Marsha ikut tersenyum memperhatikan Arsha yang terlihat bahagia berada di pelukan Kakeknya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2