
"sayang..."panggil Dava yang sedang duduk diatas ranjangnya.Sedangkan Raeviga berada di dalam kamar mandi.
"Iyaa.."jawab Raeviga dari balik kamar mandinya.
"masih lama ya"keluh Dava sembari membuka berkas-berkas saham perusahaan.
"kenapa?"
"Kangen.." jawab Dava sembari tertawa kecil menunggu respon dari Istrinya.Namun tidak ada jawaban dari Raeviga membuat Dava berdecak kesal.
"Sayang aku kangen!"ungkap sedikit meninggikan nada suaranya.
"Iyaa.."jawab Raeviga singkat.
"Kok cuma iya doang?"keluh lelaki itu tak terima.
Namun lagi-lagi tidak sahutan dari wanita yang sedang berada di dalam kamar mandi itu.
"Sayang.." panggil Dava lagi dengan nada lebih keras.
Beberapa detik kemudian,Raeviga telah keluar dari kamar mandi itu dengan hanya berbalut handuk di tubuhnya.
"kenapa?"tanya Raaeviga sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
Dava menelan salivanya menatap tubuh Raeviga di depannya dengan aroma wewangian dari sabun yang di pakainya.Membuat Dava tak tahan untuk tidak menerkamnya.
"Rae,di punggungmu masih ada sisa sabunnya"keluh Dava tiba-tiba dengan sorot mata yang sudah memperhatikannya sedari tadi.
"serius? dimana?"tanya Raeviga sambil meliukkan tubuhnya di depan kaca.
"Ya gak keliatan sayang,sini aku bersihin"ujar Dava menawarkan diri untuk membantunya.
Raeviga menganggukkan kepalanya dan berjalan menuju Dava yang sedang bersandar di ranjangnya.
Tatapan kelaparan Dava tak lepas dari tubuh Raeviga yang berjalan ke arahnya.
Raeviga sudah berada membelakangi Dava dengan duduk di ranjangnya.
Dava tersenyum dengan sorot matanya yang sudah kegirangan seolah siap menerkam mangsanya.
Kedua tangan Dava sudah mendarat pada pinggang Raeviga dengan erat membuat gadis itu terkejut dibuatnya.
"Rae,pake sabun apa?"ungkapnya yang telah menempelkan hidungnya pada punggung halus kuning langsat Raeviga.
Raeviga menggeliatkan tubuhnya dengan pelukan Dava di pinggangnya dengan erat.Membiarkan Raeviga menggeliatkan di pelukannya,Raeviga yang telah terbuai dengan permainan Dava mulai memutar tubuhnya menghadap ke arah suami yang berada di belakangnya.
Dava tersenyum tipis melihat Raeviga yang telah ikut dalam permainannya.Dava menatap penuh cinta kepada Istrinya
Sebuah takdir yang indah dalam hidupku karena aku bisa memilikimu,Rae...
__ADS_1
Tangan Dava membelai lembut rambut Raeviga yang tergerai dan masih setengah basah itu.Raeviga mendekat kearah telinga Dava dan membuat suaminya itu menatap kecewa mendengar apa yang di katakan oleh Raeviga.
"Aku datang bulan.."seru Raeviga pelan dengan napas yang masih tidak beraturan.
Mampus!
Dava menjambak rambutnya frustasi,kenapa Raeviga meneruskan permainan panas mereka jika tau dia sedang datang bulan,Ck
"beneran?"tanya Dava dengan wajah yang sudah memelas.
Raeviga mengangguk kecil mengiyakan.
"Baru aja tadi.."ungkap Raeviga tenang seolah tak merasa bersalah setelah membuat nafsu birahi Dava terhenti di tengah jalan.
"kenapa gak bilang dari tadi?"keluh Dava sembari mengusap kasar wajahnya.Kalau berakhir seperti ini mana berani Dava mengambil resiko.
Shit!
"lupa tadi mau bilang.Lagian kamu main nyosor aja.."keluh Raeviga sembari memungut handuk yang berada di lantai.
"Yaudah deh.Lagian kenapa sih harus dapet sekarang gak bisa di tunda apa.."ungkap Dava lagi masih tidak terima telah diberi harapan palsu yang menyakitkan itu.
"Ya mana Raeviga tau.Udah Bawaan alam.."ucap Raeviga sambil cekikan melihat Dava yang menatapnya frustasi.
Raeviga telah berpakaian rapi dan mencempol rambutnya.Gadis itu tengah berdiri di depan kaca merias sedikit wajahnya dengan bedak tabur.Menghiraukan Dava yang masih berdecak kesal.
Raeviga menyentuh lehernya yang membekas merah karena ulah Dava padanya.
"Udah biasa sayang.Kan stempel!"seru Dava mengejek Raeviga yang terlihat sangat dongkol.
Pembalasan setimpal
"Huh" gerutu Raeviga menatap kesal pada lelaki itu.Raeviga mengambil pakaian di lemarinya.Menganti bajunya dengan baju turtleneck yang menutupi lehernya.
"Rae.."keluh Dava pada Raeviga yang telah berganti pakaian.
"Apa?"tanya gadis itu sembari mencari handphonenya.
"Linu!"ucap Dava singkat dengan tatapan yang masih kesal karena kesenangannya tertunda.
"Liat ponselku gak?"tanya Raeviga lagi menghiraukan ucapan Dava.
"Tuh di bawah bantal"tunjuk Dava pada bantal yang berada di sampingnya.
"Dasar nenek tua pikun"sindir lelaki itu mengejek Raeviga.
"Mending pikun dari pada mesum"ungkap Raeviga tak mau kalah sembari duduk di samping Dava dan mengambil ponselnya.
Dava tertawa mendengar perkataan istrinya.
__ADS_1
"Rae,linu sumpah!"decak Dava yang masih kesal sambil menatap melas ke arah Raeviga.
"Apanya yang linu? kaki kamu?"tanya Raeviga polos.
Dava menjitak Kepala Raeviga pelan membuat gadis itu mengerutkan bibirnya kesal.
"Gausah sok polos!"keluh Dava melihat tingkah manja Raeviga.
"Sakit.."
"lebih sakit aku,nyilu ini"tunjuk Dava pada hak miliknya membuat Raeviga tertawa melihatnya.
"trus mau gimana? aku kan lagi halangan"jawabnya enteng.
"Ya kamu tadi kenapa diem aja"
"ya kamu tadi kenapa nyosor aja!"bantah Raeviga tak ingin mengalah berdebat.
Dava menarik pinggang Raeviga hingga gadis itu terjatuh dalam pelukannya.
"kamu tuh jadi istri bawel ya!"Raeviga hanya memeletkan lidahnya mengejek Dava mendengar keluhan Dava tentangnya.
"Gausah kayak gitu nanti aku beneran terkam kamu.."Goda Dava dengan tatapan menyeringai pada Raeviga.
"yakin mau nerkam? nanti nyilu lagi loh gak tahan.."balas Raeviga sembari tertawa senang menatap wajah Dava yang kesal.
Dava yang merasa tertantang dengan ucapan Raeviga menarik kepala gadis itu dan akan kembali mencium bibir Raeviga namun Suara ketukan di pintu kamar mereka membuat Raeviga lolos dari serangan Dava.
Raeviga berlari menuju pintu kamarnya ketika Dava telah melepaskan ciumannya sebentar namun Raeviga telah berhasil lolos dari serangannya.
Raeviga membuka pintu kamarnya dan melihat dua pelayan laki-laki pribadi Dava sedang berdiri di depan pintu mereka.
"Maaf Nona,di lantai bawah ada Ny.Laili ingin bertemu dengan nona dan tuan" kata salah satu pelaya yang sepertinya paling senior disini.
"Baik,tunggu sebentar.."Raeviga berjalan menuju Dava yang sedang duduk menatap mereka.
"Ada mama di bawah,kita di suruh turun.."Raeviga menjelaskan kepada Dava sambil mengambil kursi roda yang di letakkan di sebelah lemarinya.
"suruh pelayan itu untuk kembali 10 menit lagi.Aku akan bersiap-siap"
Raeviga mengangguk dan kembali menemui dua pelayan yang masih menunggu di deoan kamarnya.
Raeviga mengatakan sesuai yang di katakan Dava padanya.Pelayan itu mengiyakan dan kembali turun ke lantai bawah.
"kamu mau bersiap-siap apa?"tanya Raeviga binggung setelah menutup pintu kamarnya.Karena Raeviga melihat penampilan Dava sudah cukup rapi tapi mengapa harus bersiap-siap.
Dava mengayunkan telapak tangannya memangil Raeviga.Gadis itu berjalan menuju Dava dan duduk di samping suaminya.
"Untuk ini.."seru Dava dan dengan cepat Dava mencium bibir Raeviga lama menuntaskan ciuman mereka yang tadi tertunda.
__ADS_1
BERSAMBUNG