
"Sepertinya aku tidak bisa menemani kamu, Sayang"
"Kenapa?"
"Kenapa Ma?"
tanya mereka serempak pada Raeviga dan melihat kearahnya bersamaan.
[EPISODE SEBELUMNYA]
Wajah Dava terlihat tak senang dengan penolakan Raeviga. Dia hanya ingin Raeviga ada di sampingnya. Permintaan yang sederhana namun istrinya sama sekali tidak peka dengan hal itu.
"Aku sepertinya harus membantu Sashi terlebih dahulu. Dia membutuhkanku dua hari nanti" jelas Raeviga mengutarakan maksudnya.
"Aku? Mama akan membantu Sashi tentang apa?" tanya Sashi yang tidak menyadari maksud ucapan Raeviga. Begitu pula dengan Dava, Arka dan Laili yang belum mengetahui permasalahan Sashi.
"Bukankah kamu harus menyelesaikan hasil rancangan desain kamu yang ingin di lombakan? Mama akan membantumu nanti." jelas Raeviga pada Sashi.
"Apa kamu butuh asisten pribadi sayang? Papa bisa kirimkan orang yang telah profesional buat kamu" jawab Dava yang telah mengerti tujuan penolakan Raeviga.
Sashi menolak bantuan yang di berikan oleh Dava. Karena gadis itu telah berkomitmen jika Pekerjaannya hanya akan di peroleh oleh usahanya sendiri tanpa harus mengandalkan koneksi dari orang tuanya.
"Menurut Sashi, pegawai di butik Sashi sudah cukup membantuku. Mereka juga sangat profesional dalam bekerja" tolak Sashi dengan halus. Sashi melihat kearah Raeviga yang duduk disampingnya.
"Mama juga sepertinya harus temani Papa. Sashi pasti jarang berkunjung ke Papa dua hari nanti karena pekerjaan Sashi. jadi tolong wakilkan itu untuk Sashi. Papa pasti butuh teman disana"
"Tapi Sas.. dengan bantuan Mama kamu bisa lebih cepat selesai juga"
"Rae, jangan khawatir Oma, Marsha dan Arka juga pasti akan membantu Sashi. Banyak orang yang akan membantunya nanti" timpal Oma Laili pada menantunya.
"Aku juga akan selalu membantu Sashi, Tante Rae" ucap Andreas tiba-tiba yang berdiri di depan mereka.
"Andreas!" Sashi berlari menghampiri kekasihnya dan memeluknya. Ia tersenyum manja pada Andreas.
__ADS_1
"Aku akan membantunya 24 jam Tante"
"bohong. Tadi pagi aja udah ninggalin" celetuk Sashi menimpali ucapan Andreas.
"Kan urusan kerjaan sayang" jawab Andreas sambil membelai lembut puncak kepala Sashi. Tatapan Andreas tak lepas dari wajah kekasihnya.
Raeviga mengalah. Ia tahu keluarganya akan selalu membantu satu sama lain. Raeviga menyutujui permintaan Dava untuk menemani suaminya di Rumah Sakit. "Kalo begitu aku akan menemani nanti disana, Dav"
Senyum Dava mengembang mendengar jawaban Raeviga. Ia membentuk tanda 'oke' lewat jari tangannya.
"Tuan Dava, anda harus beristirahat. Kondisi anda belum stabil. Jadi lebih baik luangkan waktu untuk beristirahat terlebih dahulu" suara Dokter Rayhan yang telah berdiri di depan Dava terdengar oleh Raeviga dan keluarganya.
"Dokter Rayhan benar Pa. Papa harus istirahat dulu. Rindunya di simpan buat besok aja" Arka menggoda kebucinan Dava.
Atau mungkin memang pria di keluarga Dewantara memiliki sifat 'kebucinan' berlevel tinggi. Mereka tidak bisa lepas dari kekasihnya bahkan hanya untuk satu hari.
"Sampai ketemu besok istriku"
"Iya, Papa Dava" jawab Sashi dan Arka bersamaan menggantikan Raeviga. Panggilan video itu di tutup dengan tawa kecil di antara mereka.
Apakah aku harus berbicara jujur saja? aku yakin Marsha akan mempercayainya.
"Kamu tau pegawai yang pernah meneleponku kemarin malam. Dia.."
"Arka hampir saja di perkosa sama pegawainya sendiri. Suami kamu itu polos banget. Oma sampai heran, kenapa bisa punya cucu seperti dia. Bagaimana kalo saat itu Oma gak ada? bisa berhasil wanita ular itu merencanakan ulah gilanya" Dengusnya kesal memotong ucapan Arka. Laili trlihat marah mengingat perbuatan Reni kepada Arka.
"Oma, bisa tidak bicaranya di halusin dikit. Arsha kalo denger gimana" Arka menutup kedua telinga Arsha saat Neneknya itu mengatakan kata 'diperkosa' dengan begitu lantang. Bahkan Andreas mengerutkan dahinya bingung mendengar pernyataan aneh Laili.
"Emang bisa ya? cowok yang di lecehkan oleh wanita?" Andreas menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran bodoh di otaknya itu.
Raeviga tidak bisa menangkap sinyal pembicaraan yang di lontarkan Laili. Begitu pula Sashi dan Marsha. "Maksud Mama, pegawai Arka berbuat macam-macam dengannya?"
"Iya, Rae. Putramu ini dengan mudahnya terjebak dengan permainan wanita ular itu"
__ADS_1
Marsha menatapnya khawatir. Tangannya menyentuh wajah Arka untuk melihat paksa kearahnya. "Tapi bukan kamu kan yang membuat pegawai kamu jadi terobsesi sama kamu, sayang?"
"Tidak sayang. Aku bahkan tidak pernah sedikitpun berpikir untuk menggodanya."
Marsha menelisik lewat tatapan Arka saat ini. Dia akan mengetahui lewat sudut mata Arka jika pria di depannya ini telah berbohong.
Namun tidak, Arka berkata jujur. kedua matanya menatap lurus pada wajah Marsha. Saat suaminya itu berbohong, bola matanya tidak akan berani menatap lekat padanya.
"Tenang Sha, Arka tidak akan mencintai wanita seperti itu. Kamu lebih baik dari wanita ular itu" sahut Laili mencoba mendinginkan suasana.
Marsha melepaskan tangannya dari wajah Arka. Sashi dan Andreas yang sedari tadi hanya diam memperhatikan meraih tangan Andreas dan menggenggam telapak tangannya erat.
"Sayang, kamu juga harus hati-hati ya sama pegawai di kantor kamu. Jaga hati, jaga mata. Gak boleh liat-liatan lebih dari 5 menit. Buat Jarak sekitar satu meter, terus kalo bisa wajah kamu di tutup aja pakai...," Andreas menutup mulut Sashi yang terus saja memberikan saran tak masuk akal padanya. Ucapannya juga membuat Raeviga dan yang lainnya beralih fokus menatapnya.
"Kamu ngomong ngelantur ya" Andreas melepaskan tangannya dari bibir Sashi dan membuat gadis itu mengerucut kesal.
"Aku serius Andreas. Denger ya, cewek jamana sekarang itu berani-berani. Mereka lebih suka cowok orang daripada pilih yang jomblo"
"Bener juga sih kata Sashi. Kamu juga mulai hati-hati sayang. Tuh, di Instagram sama tiktok juga isinya begituan" sahut Marsha membenarkan anggapan Sashi. Arka dan Andreas hanya bisa berkata lirih mengiyakan ucapan dari kekasih mereka.
"Tapi Mama lega kalo Arka baik-baik aja. Jika Oma tidak ada disana kamu bisa dalam masalah Arka.."
"Jadi ingat ya Kak Andreas ucapan Sashi. kalo ketemu sama cewek siapapun jaga jarak, kecuali sama Sashi. Atau gimana kalo Sashi ikut aja ke kantor tiap kali Kak Andreas disana? Kan mereka bisa jauh-jauh tuh dari Kamu"
Andreas mengacak rambut Sashi gemas. Memiliki Sashi seolah dunianya telah sempurna. Wanita di sampingnya itu mampu membuatnya bahagia tiap kali ada di dekatnya.
"Jadi gimana kalo kita Nikah aja? Setidaknya bisa mengurangi 50% persen cewek yang deketin aku" Pernyataan itu serentak membuat keluarga Dewantara melihat kearah Andreas. Sashi terdiam, terkejut dengan ucapan yang di lontarkan Andreas tiba-tiba.
BERSAMBUNG
Akankah kali ini Sashi menerima lamaran Andreas? atau lagi-lagi hanya di gantungkan? Tunggu Nanti malam.
Udah mencapai ending nih. Menurut kalian, lebih baik Sad Ending, Happy Ending atau malah Gantung? Beri komentar kalian ya.
__ADS_1
Hai Readers.
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA