
"Apa yang Arka lakukan dengannya?"
Wanita itu nampak menelpon nomor yang telah mengirimkan pesan itu.
"Selidik siapa sebenarnya wanita itu dan laporkan secepatnya kepadaku".
[EPISODE SEBELUMNYA]
****
Operasi pengangkatan tumor Dava masih berjalan. Dokter mencukur habis rambut kepala Dava agar bisa menjalankan proses pembedahannya.
"Pisau bedah.." ucap sang Dokter pada Asisten di belakangnya.
Dengan lihai dan teliti Dokter mulai melakukan proses pembedahan di tengkorak kepala Dava. Mikroskop khusus dan Lampu fluorensence dengan cahaya biru mulai menyinari tulang tengkorak untuk proses pengambilan tumor yang ada di dalam kepalanya Dava. Operasi berjalan lancar, namun beberapa menit kemudian terjadi masalah ketika proses penutupan kembali tulang tengkorak.
"Dokter, tekanan darah pasien tiba-tiba turun"ucap salah satu dokter yang memantau grafik tekanan dari monitor khusus yang ada di sampingnya.
"Hentikan Operasi di bagian kepala. Berikan aku alat penunjang untuk jantung.." ucap dokter itu lagi.
Suara sirine darurat di ruang operasi membuat Raeviga dan yang lainnya merasa cemas.
"Ma, apa Papa baik-baik saja? Kenapa sirine darurat berbunyi?" tanya Sashi pada Raeviga yang juga sangat mencemaskan suaminya.
"Mama yakin Papa kamu bisa bertahan sayang.." Raeviga menggenggam erat telapak tangan Sashi.
Tak lama seorang dokter datang dengan terburu-buru. "Dokter, apa yang terjadi. Apa Dava akan baik-baik saja?" tanya Arga saat salah seorang dokter akan masuk ke ruang operasi.
"Saya Dokter ahli Jantung. Saat ini tekanan darah Pasien menurun. Saya akan menjelaskan nanti setelah operasi selesai" Dokter itu segera masuk ke dalam ruangan setelah mensterilkan tubuhnya.
Tak lama Arka datang dengan terburu-buru dan menghampiri Keluarganya. " Maaf, tadi aku ada urusan bisnis sebentar. Apa Operasi Papa berjalan lancar?" tanya Arka melihat kearah Marsha dan Sashi.
"Terjadi masalah. Semoga Papa akan baik-baik saja" jawab Marsha pada suaminya. Sedangkan Sashi terlihat menangis tersedu-sedu di pelukan Raeviga.
Arka menghampiri Raeviga dan menanyakan sesuatu yang selalu menjadi beban pikirannya akhir-akhir ini. "Sejak kapan Papa sakit Ma? kenapa Mama menyembunyikan ini dari Arka"
Raeviga menggelengkan kepalanya. "Bahkan Papamu juga tidak menceritakan penyakitnya itu pada Mama Arka. Kami baru mengetahuinya saat dia sudah dalam kondisi terpuruk" ungkap Raeviga.
__ADS_1
Terlihat linangan air mata jatuh dari kedua sudut mata Arka. Arsha, putri kecilnya berlari memeluk Papanya. "Kenapa semuanya menangis? apa Kakek akan pergi jauh? kenapa Papa juga ikut menangis?" ucap gadis kecil itu dengan tangan mungilnya yang menghapus air mata Arka.
Arka tersenyum kecil menenangkan putrinya. "Kakek sedang sakit. Tapi Kakek tidak akan pernah pergi jauh.."
Dua jam telah berlalu, namun belum ada tanda-tanda dari Dokter tentang kondisi Dava yang masih dalam proses Operasi. Dokter masih menetralkan tekanan darah Dava sebelum memulai kembali penutupan tulang tengkorak pasca pembedahan.
"Tekanan darah telah mencapai titik normal." ucap salah seorang perawat.
"Baik, lanjutkan lagi penutupan tulang kepala"
"Baik dokter"
"Berikan aku alat kurung metal.."
"Baik dokter"
"Penutupan tulang telah selesai. Proses akhir untuk menjahit akan di lanjutkan oleh Dokter Teddy" tunjuk Dokter Rayhan.
"Baik Dokter. Suster, tolong pantau terus keadaan tekanan darah dan jantung" ucap Dokter Teddy yang mulai mengambil alih tugas Dokter Rayhan.
"Baik dokter.."
Dokter Rayhan menghampiri keluarga Dava yang terlihat cemas menunggu kabar Operasi yang di jalani Dava.
"Selama Nyonya, operasi telah berhasil. Saya harap Tuan Dava kondisinya segera stabil. Saat ini Dokter sedang melakukan penjahitan di kulit kepala Tuan Dava. Saya rasa Tuan Dava akan sadar setelah dua jam kemudian karena saat ini masih dalam pengaruh bius" jelas Dokter Rayhan rinci. Karena ia tahu bahwa saat ini keluarga Dava menunggu informasi lengkap tentang kondisinya.
"Terima kasih dokter. Anda sangat berjasa dengan penyembuhan Dava. Beri tau saya jika rumah sakit ini memerlukan dana bantuan atau apapun. Aku akan membuka kedua tanganku untuk membantunya" ungkap Arga dengan tulus.
"Terima kasih kembali tuan Arga. Anda dan keluarga telah membantu banyak di rumah akut ini" ucap Dokter Rayhan sambil menerima uluran tangan Arga.
****
Dava masih terbaring lemah. Ia masih tak sadarkan diri dari pengaruh obat bius pasca operasi. Raeviga menggenggam tangan Dava erat seraya mulutnya yang tak ada hentinya untuk berdoa. Siska dan keluarga kecilnya juga terlihat menemani Dava. Sashi berdiri di samping Raeviga. Sudah dua jam lamanya namun Dava masih belum membuka kedua matanya.
"ini sudah dua jam Ma, tapi kenapa Papa belum sadar juga?" tanya Sashi khawatir.
"Kita tunggu beberapa jam lagi Sas. Mungkin pengaruh obatnya masih ada" timpal Siska yang duduk tak jauh dari Sashi berdiri.
__ADS_1
Tangan Dava perlahan bergerak. Jadi jemarinya membalas genggaman tangan Raeviga.
"Dava kamu sudah sadar? kamu bisa dengar suara aku sayang?" Raeviga beberapa kali mengulang kalimatnya. Namun tak ada sahutan dari Dava. Kedua kelopak matanya perlahan terbuka.
"Kita panggil dokter Ma. Papa sudah sadar" pinta Arka sambil menekan Bel Alarm pasien yang ada di sudut ranjang Dava.
Tak lama Dokter Rayhan dan dua orang suster datang untuk memeriksa Dava.
"Tuan Dava..Tuan Dava.. anda bisa mendengar suara saya? anggukan kepala jika anda bisa mendengarnya?"
Dava menganggukkan kepalanya. Kedua matanya telah terbuka. Namun ia nampak silau dengan cahaya di ruangan itu.
"Cahayanya..silau.." ucap Dava sambil memicingkan kedua matanya.
"ini mungkin efek samping pasca operasi tuan Dava. Ini akan hilang setelah 2 hari. Suster tolong buat cahaya di kamar ini sedikit remang.." pinta Dokter Rayhan pada salah satu wanita yang berdiri di belakangnya.
"Baik dokter"
"Apa ada keluhan lain tuan Dava?"
"Sedikit sakit di bagian kepala saya"
"Benar Tuan. Ini karena efek dari jahitan di kepala anda. Saya akan resepkan segera beberapa obat untuk anda"
"terima kasih dokter" ucap Raeviga.
Dava melihat sekelilingnya. Terlihat banyak orang yang berdiri di memandanginya. Raeviga mengusap wajah Dava yang kini tidak memiliki rambut di kepalanya sama sekali.
"Sayang, kamu sudah berhasil melaluinya. Kamu hebat" puji Raeviga pada suaminya. Namun Dava melihat Raeviga dengan tatapan asing. Seolah mereka tak pernah bertemu sebelumnya.
Dava menyingkirkan tangan Raeviga yang menyentuh wajahnya.
"Kamu siapa? apa kita pernah bertemu? Kalian apa keluargaku? Aku siapa?" tanya Dava linglung. Seolah ia telah melupakan semua kenangan yang pernah ia lewati sebelumnya.
BERSAMBUNG
Hai Readers,
__ADS_1
[ MAU KASIH INFO AJA KALO NOVEL INI BAKAL SEGERA SAMPAI PADA TITIK AKHIR. JADI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN BUAT BACA. VOTE SEBANYAK MUNGKIN BIAR AKU BISA UPDATE GILA]
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA