CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - MERINDUKAN SENYUMNYA


__ADS_3

[JANGAN LUPA FOLLOW AKUN CARAMELLOW]


"Antar aku langsung ke Rumah Sakit saja Pak. Aku ingin melihat kondisi Papa"


Pak Jo menganggukkan kepalanya menuruti ucapan Arka. Tak berselang lama, mobil itu segera pergi meninggalkan Bandara.


[EPISODE SEBELUMNYA]


William masih berusaha membujuk Angela. Ia ingin menjelaskan kesalahpahamannya tentang Sashi dan dirinya. Namun Angela masih bersihkeras untuk meghindari William.


"Kenapa dia sama sekali tidak menerima panggilan teleponku.." keluh William sembari melihat kearah layar ponselnya. William kembali menelpon seseorang namun bukan Angela. Ia mencoba menghubungi Siska, mama dari Angela. Dia ingin mengetahui kondisi kekasihnya saat ini. Sudah 3 hari Angela mengabaikannya tanpa ada kabar apapun.


"Halo, William.." jawab seorang wanita ketika panggilan telepon mereka terhubung.


"Halo tante, apa saya...bisa bicara dengan Angela?" tanya William sedikit kikuk. Dia tahu jika Siska adalah orang tua dari kekasihnya namun William masih terlihat cangung untuk berbicara dengan calon mertuanya.


"Angela? dia ada di kamarnya. Kenapa tidak menghubunginya sendiri? Tante lihat tadi dia tidak tidur"


"Hmmm.. Angela mengabaikan panggilan telepon saya. Sepertinya.." William menggantungkan ucapannya membuat Siska yang mendengarnya menyadari sesuatu.


"Kalian lagi bertengkar?" tebak Siska.


"Angela hanya salah paham tentang Saya dan Sashi. Sebenarnya saya.." Siska memotong ucapan William. Dia tahu William adalah pria yang baik. Tidak mungkin jika pria itu akan menduakan Angela apalagi dengan saudara sepupunya sendiri. Siska mempercayai keduanya. Sashi dan William.


"Angela memang mudah marah. Tante harap kamu bisa memahaminya. Kamu tunggu sebentar, tante akan berikan telepon ini ke Angela" setelah mengatakan kalimatnya, Siska menaiki anak tangga dan pergi menuju kamar pribadi Angela. Kamar yang dua kali lebih luas dari kamar pribadi Siska dan Arga. Bisa di katakan jika lantai 2 di gunakan sebagai area pribadi Angela. Mulai ruangan musik, ruang belajar, tempat bersantai dan juga kamar pribadinya.


"Angela.." panggil Siska ketika telah berdiri tepat di depan pintu putrinya.


"Iyaa Ma. Tunggu sebentar" jawab Angela ketika mendengar suara Siska dari luar kamarnya. Angela segera membersihkan tisu-tisu yang berserakan di atas kasurnya dan membasuh wajahnya yang terlihat sembab. Dari balik telepon Siska, William bisa mendengar suara kekasihnya itu. Dia merasa sedikit lega jika Angela baik-baik saja.


Angela membuka pintu kamarnya. Siska memicingkan kedua matanya melihat Angela yang terlihat berantakan. Namun Siska tak mengatakan apapun mengenai hal itu.


"Ada apa ma?" tanya Angela


"Ada telepon dari William. Dia mencemaskanmu" Siska memberikan ponselnya pada Angela.

__ADS_1


Angela menolak panggilan telepon William. Ia meminta Siska untuk menutup panggilan itu.


"Angela gak mau"


"Sayang, William mau menjelaskan sesuatu. Gak baik mengabaikan seseorang seperti itu." ucap Siska memberi nasihat.


Angela menghela napas kecil ia meraih ponsel Siska dan mendekatkan di telinganya. Siska melangkah pergi membiarkan mereka menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi. Angela kembali menutup pintu kamarnya dan duduk di atas tempat tidurnya.


"Halo" seru Angela. Perasaannya sedikit tergerak. William belum mengatakan apapun namun rasa hangat menjalar di dalam hatinya. Ia merindukan lelaki itu. Namun rasa rindu itu telah di kalahkan oleh keegoisannya.


"Angela, kamu masih marah? aku merindukanmu" jawab William ketika mendengar suara gadis yang di rindukannya.


"Aku juga" batinnya.


Angela tak menjawab ucapan William. Ia hanya diam mendengarkannya. Gadis itu membalas ucapan William dalam hati. Berharap lelaki itu mengerti. Bahwa ia saat ini terlalu malu untuk bertemu dengannya. Bahkan dia telah membuat kekacauan pada hubungan mereka dan juga Sashi. Angela menyadari jika dia telah bersalah. Memicu kesalahpahaman diantara mereka. Namun Angela terlalu gengsi untuk mengatakan jika dirinya memang bersalah.


"Angela kamu masih mendengarkanku? aku ingin mendengar suaramu. Aku ingin mengatakan jika kamu hanya salah paham mengenai aku dan Sashi. Maaf jika kedekatanku membuatmu merasa tidak nyaman"


"Aku tau aku salah. Maafkan aku.." batin Angela lagi.


"Dasar cowok aneh" umpatnya dalam hati.


"Jika kamu tak membalas ucapanku sama sekali aku akan menerobos masuk ke dalam rumahmu dan menculikmu pergi. Kamu mau?"


Angela mengerutkan keningnya. Senyumnya masih tak lepas dari bibir ranumnya.


"Berbicaralah lebih lama lagi. Aku merindukanmu.." gumam Angela tanpa bersuara.


Suara ketukan pintu membuat Angela sedikit terkejut. Ia melihat kearah pintu kamarnya dan berjalan kearah pintu.


"Ada apa ma?" tanya Angela, namun ia mematung sejenak karena suaranya memantul dari teleponnya. Angela semakin di buat bingung ketika tidak ada sahutan dari seseorang di balik pintu kamarnya. Hanya terdengar ketukan pintu beberapa kali dan suara itu juga terdengar lewat panggilan telepon yang masih terhubung dengannya.


Angela membuka pintu kamarnya, gadis diam membisu melihat William sudah berdiri di depannya dengan rangkaian bunga mawar dengan berbagai macam warna. William mengakhiri panggilan teleponnya dan tersenyum menatap kearah Angela.


"Selamat sore kesayangan.." celetuk William dan memberikan bunga itu untuk Angela.

__ADS_1


"Sejak kapan kamu berdiri disini?" tanya Angela sedikit kikuk di buatnya. Angela menerima bunga itu dari William dan menutupi wajahnya yang memerah karena malu.


"cantik sekali" puji William saat melihat Angela.


****


Arka telah sampai di depan Rumah Sakit. Ia melangkah masuk ke meja bagian informasi & pelayanan.


"Pasien bernama Dava Hermawan. Di ruangan mana dia di rawat?" tanya Arka pada seorang pria yang terlihat sibuk dengan dokumen di atas mejanya.


"tunggu sebentar" Pria itu segera menginput nama yang di sebutkan Arka.


"Ruang Anyelir VIP lantai 2. Saat ini pasien masih menjalani pemeriksaan Lab." jelasnya. Setelah mendengar jawaban petugas itu, Arka berjalan menuju lift yang tak jauh dari tempat itu.


Lift membawa Arka naik ke lantai 2.Pintu Lift terbuka, Ruangan serba putih dan hanya ada beberapa ruang rawat dan meja customer service menyambut kedatangan Arka. Tak jauh dari tempatnya berdiri, dia melihat Marsha dan juga putrinya sedang duduk di ruang tunggu bersama Raeviga dan Laili.


Arka bergegas menghampiri mereka.


"Ma, bagaimana kondisi Papa?" tanya Arka membuat mereka melihat kearahnya.


"Arka.."


"Papa sudah pulang"


BERSAMBUNG


Hai Readers,


[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]


maaf ya udah buat kalian menunggu lama.


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)

__ADS_1


__ADS_2