
[JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]
"Ada apa?" tanya Raeviga bingung melihat Dava sejak tadi hanya memandanginya
"Tida ada" Dava mencium kening Raeviga lama dan mendekap tubuh wanita itu dalam pelukannya.
"Selalu tersenyumlah seperti ini. Kamu sudah berhasil mendidik anak-anak kita dengan baik." puji Dava pelan di telinga Raeviga membuat Raeviga tersenyum senang melihatnya.
Episode Sebelumnya
Arka terlihat sibuk dengan pekerjaannya, Pria itu masih berada di Perusahaan cabangnya di Surabaya. Beberapa kali ia memijat keningnya untuk menghilangkan stres dari pekerjaannya.
"Bagaimana target penjualan produk baru ini bisa tidak berjalan sesuai rencana.." keluhnya sendiri di dalam ruang kerjanya.
Seseorang pegawai wanita memperhatikan Arka dari meja kerjanya yang berada di seberang ruangan Arka.
"Ren, apa yang sedang kau lihat?" tegur salah satu pegawai yang duduk di sampingnya.
"Hmmm?" Reni menoleh kearah rekan kerjanya dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.
"Apa yang kamu liat sejak tadi?" ulangnya sambil melihat kearah pandangan Reni yang masih diam-diam menatap Arka.
"Pak Arka? kamu memperhatikan bos kita sejak tadi?" tanyanya lagi pada Reni yang hanya diam beberapa detik.
"Bisakah mengecilkan suaramu..Dasar!"
"Apa kamu tertarik padanya?"
Reni memandangi kembali Arka untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu.
"Maybe..pesonanya sangat menarik perhatianku.." gumamnya kecil.
"Gila! Apa kamu tidak tau jika dia sudah beristri.. bahkan sudah memiliki satu anak.." ucap Sarah, Rekan kerja yang duduk di samping Reni itu nampak terkejut dengan ucapan wanita itu dan mencoba menyadarkan perilaku tidak sopan temannya itu.
"Benarkah? aku tidak mendengarnya. Lalu apa permasalahannya. Jika dia tertarik denganku, aku tak peduli dengan yang lainnya.." setelah menyelesaikan kalimatnya, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan masuk ke ruangan Arka.
"Hei, mau kemana?" bisik Sarah yang melihat Reni berjalan kearah ruangan atasannya.
"Dasar jalang gila!"
Reni telah berada di depan pintu ruangan Arka. Ia mengetuk pintu kaca itu beberapa kali sebelum Arka menyadari kehadirannya.
"masuklah.."
Reni menyunggingkan bibirnya dan masuk ke dalam ruangan Arka.
"Ada apa?" tanya Arka memandanginya sekilas sebelum kembali memperhatikan berkas-berkas penting di mejanya.
"Pak Arka terlihat sibuk, saya berkeinginan membantu. Apa di perbolehkan?" tanya Reni dengan tatapannya yang penuh arti.
__ADS_1
"Membantu? apa tugasmu sendiri sudah selesai?" tanya Arka dan kini kedua matanya melihat kearah Reni yang berdiri di depannya.
"tentu saja selesai.." Reni berjalan menghampiri Arka dan berdiri di sampingnya.
"Jika pekerjaanku belum selesai,mana saya berani untuk meninggalkannya. Sepertinya banyak berkas yang harus anda kerjakan.." Reni sedikit membungkuk dan menumpukan tangannya di pegangan kursi Arka sambil menunjuk kearah berkas-berkas di meja Arka. Kemeja putih dengan kedua kancing atas terbuka itu membuat bagian atas tubuhnya sedikit terekspos saat dirinya membungkuk di samping Arka.
Arka mengalihkan tatapannya ketika pandangannya tak sengaja melihatnya. Reni tersenyum kecil menyadari Arka yang telah melihat belahan dadanya. Wanita itu semakin menggencarkan aksinya untuk merayu Arka secara halus. Ia menyentuh bahu Arka saat mengambil salah satu berkas dari meja atasannya itu.
"Kau bisa pergi sekarang. Aku tak memerlukan bantuanmu.." Arka menjauhkan tangan Reni dari Bahunya.
"..dan kenakan pakaianmu dengan benar. Aku tak ingin "pinta Arka lagi tanpa menatap kearah wanita itu.
Reni terlihat cangung dengan sikap dingin Arka. Ia melirik sekilas kearah Arka sebelum melangkah pergi dari ruangan atasannya.
"dia sangat munafik. Lihat saja,bukan Reni jika tak bisa mendapatkan apa yang ku mau.." gerutunya dalam hati.
*****
William terlihat gelisah di dalam kamarnya, ia mengkhawatirkan kondisi Angela setelah pertengkaran mereka berdua.
"Apa aku harus menghubunginya?" tanyanya pada dirinya sendiri.
William mengacak rambutnya frustasi. Ia meraih ponselnya dan menghubungi Angela. Namun tak ada jawaban dari gadis itu. Angela menangis di pelukan Siska,mamanya dan membiarkan ponselnya terus saja berbunyi.
"terima dulu telepon dari William. Mungkin dia ingin mengatakan sesuatu.." Siska mencoba menenangkan anak gadis semata wayangnya itu.
"Sayang, kamu harus membicarakan ini baik-baik dengan William. Kamu harus mendengarkan alasannya.." Siska mengusap lembut air mata membasahi kedua pipinya.
"Ma, William tak mencintai Angela dengan tulus. Apalagi yang harus di bicarakan.." keluhnya dengan nada yang sedikit meninggi.
"Baiklah,tenangkan dirimu dulu. Istirahat, nanti kita akan membahasnya lagi.."
Angela mengiyakan ucapan Siska dan mulai menutup kedua matanya perlahan. Tangan Angela menggenggam erat jemari Siska.
Arga masuk ke dalam kamar Angela menemui Siska.
"Apa dia sudah baik-baik saja?" tanya Arga yang menatap iba kearah Angela yang sudah tertidur.
"mungkin ini hanyalah salah paham. Dia akan membaik setelah ini.." jawab Siska dan menghampiri Arga yang berdiri di samping pintu.
"Aku berharap seperti itu. Ini pertama kalinya putri kita merasa sakit hati dan di kecewakan.." serunya sambil menutup pintu kamar tidur Angela.
Arga menggenggam telapak tangan Siska dan tersenyum kecil kearah wanita itu.
"Bukankah Angela mirip sepertimu. Dia terlihat kuat walau sebenarnya ia sangat rapuh.."
"..dan keras kepalanya mirip seperti kamu.." ucap Siska membalas perkataan Arga.
Arga tersenyum mendengar jawaban Istrinya. Ia melingkarkan tangannya di punggung Siska.
__ADS_1
"Walaupun keras kepala tapi aku salah satu tipe pria romantis terbatas.." humor Arga membuat tawa kecil dari sudut bibir Siska.
"Bodoh amat.."
****
Bunyi messenger dari ponsel Sashi membuat gadis itu terhenti dari kegiatan kecilnya menonton drama Korea dari laptopnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan sekarang?" isi pesan masuk dari Andreas.
"Lagi nonton dramanya selingkuhanku. Ada apa?" tanya Sashi, gadis itu kembali memutar video itu setelah di jedanya beberapa menit.
"Selingkuhan kamu?inget ya sayang, kamu di larang keras buat lirik-lirik cowok lain" tanya Andreas dari pesan teks yang dikirimnya.
Sashi tertawa geli membaca pesan yang dikirimkan Andreas.
"Itu kalo selingkuhnya diam-diam. Kan kalo Sashi selingkuhnya terang-terangan.."
Andreas menghela napas kesal membaca pesan Sashi dari ponselnya itu. Andreas menghentikan obrolan teksnya dengan Sashi dan memilih berbicara langsung dengan kekasihnya itu.
"Siapa lagi sekarang selingkuhan kamu? Jonsuk Oppa, Lee Minho Oppa atau William Oppa?" tanya Andreas setelah panggilan ponselnya terhubung dengan Sashi. Dari balik teleponnya, Andreas mendengar suara gelak tawa dari Sashi.
"Dasar gila, kenapa kamu menambahkan nama William disana? jadi kamu berharap aku berselingkuh dengan William? baiklah.." Sashi nampak tersenyum kecil mengusili Andreas.
"Dasar Betina, berhenti bermain-main seperti ini denganku.Aku tak menyukainya mengerti?" Wajah Andreas terlihat karena keusilan kekasihnya itu.
"Aku hanya bercanda sayang. Dasar pria posesif. Jadi kenapa kamu meneleponku?" tanya Sashi kembali ke pembahasan utama.
" Ayo makan malam di luar.."
"Sayang sekali sepertinya malam ini aku tidak bisa. Kak Marsha akan datang dengan Arsha jadi mama memintaku untuk makan malam bersama.." jawab Sashi menolak ajakan Andreas. Pria itu nampak kecewa karena rencana dinner-nya dengan Sashi telah gagal.
"Minggu depan bagaimana?" ajak Andreas lagi.
"Baiklah setuju.."
"I Miss u.."
"me too.." jawab Sashi sebelum panggilan telepon itu berakhir.
BERSAMBUNG
Hai readers, terima kasih sudah senantiasa menunggu cerita ini. Aku berharap cerita ini bisa menghibur kalian dan semoga kalian sehat selalu.
Happy reading~
Caramellow
Instagram : @ilyuaml1
__ADS_1