CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S2 - 16 # ARKA : SALAH PAHAM?


__ADS_3

Arka masih setia berdiri di samping ranjang Arka.Lelaki itu menatap cemas pada.Marsha dan tak pernah melepaskan tatapannya pada tubuh Marsha yang masih dalam pengaruh bius.


"Tuan,apa anda yakin tidak akan duduk sama sekali?"tanya Asisten Arka yang juga ikut berdiri di sebelah kiri ranjang Marsha sembari menahan kram di kakinya yang sejak tadi berdiri.


"Tidak,jika kamu lelah duduklah.."ungkap Arka seolah mengetahui jika Asistennya sejak tadi terlihat tidak nyaman.


"Tidak tuan,saya tidak merasa lelah.."Sangkal pria itu.


Berselang beberapa menit,jemari Marsha yang saat itu di pegang oleh Arka tergerak perlahan.Gadis itu mulai membuka perlahan kedua kelopak matanya yang sejak tadi tertidur.


"Sha,Kamu udah baik-baik saja kan? apa ada yang masih terasa sakit?"tanya Arka yang terlihat sangat khawatir.


"Arka?"seru Marsha ketika pengelihatannya telah kembali normal.


"Iya Sha,ini aku Arka.."balas Arka sembari mengenggam jemari Marsha.


"Aku membencimu.."ungkap Marsha dengan setetes air mata yang jatuh dari ujung mata indahnya itu.


Mendengar hal itu,Arka menghela napas panjang,tampak kesedihan juga tergambar di wajahnya namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman kecil di bibirnya.


"Aku tau.Jika kamu membenciku sakiti saja aku Sha.Kenapa harus menyakiti dirimu sendiri.."balas Arka sembari menatap luka di dahi Marsha yang di balut kasa putih.


"Aku juga tak ingin terluka seperti ini.."keluh Marsha lirih membalas ucapan Arka.


Saat mereka sibuk dengan pembicaraannya,Seorang dokter wanita berhijab bersama satu perawat masuk ke ruangan Marsha.


"Bagaimana kondisi kamu sekarang?"tanya dokter itu sambil meminta Perawat itu untuk menganti cairan infus Marsha yang sedikit lagi telah habis.


"Saya sudah merasa baikan dok.Apa saya boleh pulang sekarang?"tanya Marsha seakan mengharapkan jawaban Dokter itu untuk mengiyakan pertanyaannya.


"Sudah di perbolehkan.Hanya luka ringan di bagian kepala.Aku sudah memeriksanya lagi tidak ada benturan lain selain di bagian kepala saja.Istrihatkan dulu jangan di buat untuk kelelahan ya.."Ucap Dokter yang menangani Marsha sembari memberikan beberapa anjuran untuk gadis itu.


"Tetaplah disini sampai kamu sembuh Sha.."keluh Arka dengan tatapan yang mencob mengintimidasi.


"Aku sudah merasa lebih baik Arka.Tolong tinggalkan aku..."jawab Marsha lagi sembari bangun dari posisi terlentangnya.

__ADS_1


Marsha menyentuh bagian luka di kepalanya karena sedikit merasa pusing.


"Aku akan mengantarmu.."ucap Arka lagi.


"Tidak perlu.."


Marsha meraih tas slempangnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.Sebuah buket bunga yang di belikan Arka kemarin sore.Marsha mengembalikan kembali bunga itu beserta kertas di dalamnya.


"Aku alergi dengan bunga.."keluh Marsha dan berjalan sedikit gontai.keluar dari ruangan rawatnya.Arka mengerutkan kening menatap buket bunga yang berada di atas meja.Lelaki itu mengambil kertas yang terlihat di antara bunga-bunga.Dia membuka amplop surat yang ia berikan kepada Marsha.Terdapat tulisan tangan Marsha di atas kertas putih yang tadinya kosong itu.


"Kamu sudah pernah mengisi hatiku yang saat itu putih seperti kerras ini Arka.Kamu memberiku banyak warna.Bahkan kesedihan yang seketika menghancurkan perasaan itu..."


Arka meremas surat itu dan berlari menyusul Marsha yang beberapa detik yang lalu sudah meninggalkan ruangannya.Lelaki itu mendapati Marsha sedang duduk di kursi ruang tunggu sembari menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangannya.


"Sha.."panggil Arka lembut dan menghampiri gadis itu yang duduk termenung.


Marsha mendonggakkan kepalanya menatap Arka yang sudah berada di sampingnya.


"Kenapa kamu harus kembali muncul di hadapanku lagi Arka.Melupakanmu adalah hal yang tersulit yang tidak pernah bisa aku lakukan sampai sekarang..."


"Sha,kamu salah paham.."ucap Arka sembari menekuk lututnya membuat dirinya bisa menatap wajah Marsha lebih jelas.


"Perasaanku sangat tulus sama kamu.Aku mencintaimu Sha.Sangat mencintaimu..bahkan sampai detik ini.." Arka menyentuh wajah Marsha yang sejak tadi di tundukkan ke bawah.


"Aku selalu ingin bersamamu,Sha."


"Pembohong.Aku melihat sendiri teman-temanmu membuatku menjadi bahan taruhan.." Marsha menyingkirkan tangan Arka yang menyentuh wajahnya.


Arka merapatkan kedua alisnya.Ia memandangi wajah Marsha lekat.


"Apa kamu menyaksikannya sendiri? sampai obrolan itu selesai?" kali ini Marsha yang di buat terdiam dengan pertanyaan yang di lontarkan Arka.


"Aku melihat video yang dikirimkan Angga padaku.Dia mengatakan kepadaku jika kamu menyetujui permainan itu.."


"Angga?"tanya Arka terlihat bingung dengan nama yang baru saja di dengarnya.

__ADS_1


"Apa aku mengenal lelaki itu?"tanya Arka lagi karena ia merasa tidak memiliki seorang teman yang di sebutkan Marsha.


"Dia teman sekelasku.."jawab Marsha lirih.


"Dan kamu mempercayainya?"tanya Arka yang kali jni memposisikan wajahnya lebih dekat pada Marsha.


"Kenapa kamu lebih mempercayainya,Sha? saat itu mungkin memang benar jika temanku mengatakan hal itu kepadaku.Tapi apa video itu memperlihatkan kepadamu apa yang ku katakan kepada mereka?"


Marsha terdiam.Gadis itu kini bergelut dengan emosi dan perasaannya.


Apa selama ini hanyalah salah paham?Apa Angga selama ini yang mempermainkannya?


"Sha,aku akan mengantarmu pulang.Wajahmu terlihat sangat pucat.."ucap Arka lirih.


"Tunggu aku sebentar disini.Aku mengambil kunci mobil dari Asistenku.." Setelah mengatakan kalimat itu Arka pergi menemui Asistennya yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Pak Sam naik taksi ke kantor gak apa kan? nanti Arka akan mengganti uangnya.."pinta Arka sembari mengambil kunci mobil dari tangan Asistennya.


"Tidak masalah tuan.Lebih khawatirkan nona Marsha saja sekarang.Ia terlihat sangat lelah.."jawab lelaki parubaya itu.


Arka menganggukkan kepalanya,lelaki itu kembali pergi ke tempat Marsha yang masih duduk di kursi ruang tunggu.


"Sha,ayo kita pulang.."ajak Arka sembari meraih tangan wanita yang di cintainya.


"Aku bisa pulang sendiri,Ka.."tolak Marsha lagi.Ia masih tidak ingin kembali membuatnya berhutang budi kepada Arka.


Cukup di masa lalu aku jatuh cinta dengan kebaikanmu Ka.Tempat kita berbeda,aku hanya gadis yatim piatu yang selalu bergantung dengan sumbangan dan beasiswa.Aku tidak akan pantas berdiri di sampingmu...


"Enggak akan.Kali ini aku akan mengantarmu pulang."


"Arka!" keluh Marsha kesal melihat lelaki di depannya itu yang sangat keras kepala.


"Marsha aku khawatir sama Kamu.Aku tidak masalah jika sekarang kamu masih membenciku tapi tolong ikutin saja apa yang ku katakan hari ini..."pinta Arka lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari nada bicara Marsha.


Ini adalah hari terakhirku untuk bisa memandang wajahmu yang selalu ku rindukan Marsha.Jadi ku mohon,aku ingin melihat senyum kecilmu itu sebelum aku kembali ke London..

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2