
Dava mengakhiri pertemuan meeting-nya lebih cepat hari ini karena mengingat janjinya kepada Raeviga untuk mengecek kandungan sang istri.Lelaki itu berjalan keluar menuju parkiran mobilnya dan memandang ke arah Jalan Raya yang terlihat sedikit ramai.Dava memicingkan kedua matanya ketika menangkap sosok seorang gadis yang sangat di kenalnya masuk ke dalam Restoran yang berada di seberang jalan kantornya.
"Raeviga?" ungkap dava memastikan kembali apa yang di lihatnya.
Dava mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi menuju Restoran Jepang yang berada di seberang jalan.
Tangan Dava mengepal keras ketika melihat sosok Arga yang sedang bersama dengan Istrinya.Sorot kedua mata Dava menatap tajam kebersamaan mereka dan senyum yang saling ditorehkan satu sama lain.
"Brengsek!" pekik Dava masih dengan menatap tajam kepada mereka berdua.
Dava melangkahkan kaki nya dengan cepat masuk ke dalam Restoran itu ketika melihat Arga mengenggam telapak tangan Istrinya.Ia membuka pintu Restoran itu dengan amarah yang telah mencapai puncaknya.
Brukk
Raeviga terkejut ketika tiba-tiba pukulan keras mengenai Arga.Raeviga semakin membelalakkan kedua matanya ketika melihat Dava yang meninju keras wajah Arga.Pukulan keras itu terus mendarat bebas pada wajah Arga.Seperti orang yang telah kesetanan Dava bisa menangkis beberapa tangan yang melerainya.Emosinya tak terkendalikan jika itu tentang gadis yang telah menjadi istrinya.
Beberapa kali tinju itu melayang pada wajah Arga hingga lelaki itu akhirnya bisa mengimbangi pukulan Dava dan membalas dengan keras pukulan Dava padanya.
Raeviga menjerit tertahan ketika Dava terjatuh tersungkur ke lantai karena pukulan Arga,begitu pula dengan pengunjung Restoran itu yang kebanyakan para wanita telah berlari keluar restoran ketika terjadi pergulatan itu.
Dava meraih kerah baju Arga dan membalas pukulannya,pergulatan itu terus terjadi hingga merusak semua properti Restoran itu,Raeviga meraih lengan Dava untuk menghentikannya,namun seolah telah tersulut oleh emosi Dava mengibaskan lengannya dengan keras mengenai perut Raeviga.
Gadis itu tersungkur ke lantai memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.Cairan merah segar mengalir dari rahim Raeviga hingga terus mengalir mengenai pahanya.Raeviga merintih kesakitan menahan sakit yang luar biasa.
"Rae.."pekik Dava melihat Raeviga terjatuh karena ulahnya.
"Aaakhh!!" Rintih Raeviga menahan sakitnya.
__ADS_1
Dava menatap panik kondisi istrinya,sebuah mobil ambulan datang dengan beberapa mobil polisi.Dava menggendong Raeviga dengan cepat dan meletakkannya pada brankar ambulan.Dava mengenggam tangan Raeviga dengan kuat dan menitikkan air mata melihat kondisi Istrinya.
"Gue minta maaf Rae.." Dava mencium tangan Raeviga lama.Gadis itu kini hanya setengah sadar dan menatap samar wajah Dava di sampingnya.
_______________
Dava memegang kepalanya frustasi menunggu Raeviga yang berada dalam penanganan dokter.Sudah dua jam lamanya Dava menunggu dengan sangat khawatir.
Laili,ibu Dava duduk di hadapan anaknya dengan khawatir.
Dan begitu pula dengan Arga yang memantau dari jauh keadaan Raeviga.Dia berharap semua akan baik-baik saja,tentang Raeviga,Dava dan malaikat kecil mereka yang berada di perut Raeviga yang baru di ketahuinya ketika melihat pendarahan Raeviga.
Jerome keluar dari ruang penanganan darurat setelah 3 jam Dava menunggu dengan khawatir.
"Je,istri gue baik-baik aja kan?" tanya Dav panik.Begitu juga dengan Laili dan Arga yang menunggu jawaban Dokter itu.
"Tapi maaf gue gak bisa nolong bayi elo,Dav.."
Dava menjatuhkan tubuhnya lemas mendengar pernyataan Jerome yang menohok hatinya.Dia meninju keras tembok di sampingnya hingga tangan itu memerah dan berdarah.Namun seolah mati rasa,Dava semakin meninju keras tembok itu tanpa rasa sakit yang di deritanya.Pernyataan Jerome tentangnya bayinya adalah kenyataan pahit yang harus di terimanya.
"AKKKHH!!!" teriak Dava frustasi.Laili merangkul Dava menenangkannya.
Arga yang mendengar pernyataan itu juga merasa berduka dan bersalah.Jika dirinya tidak meminta bertemu dengan Raeviga mungkin bayi dan kandungan Raeviga akan baik-baik saja.
Raeviga menahan isak tangisnya sedari tadi.Gadis itu juga tidak bisa menyokong tubuhnya bersender pada tembok sebelah pintu kamar itu ketika mendengarkan pernyataan yang menyakitkan itu.
"Istrimu sudah bangun,kau bisa menemuinya.."ucap Jerome lagi.
__ADS_1
Dava mengangguk dan bergegas menemui istrinya.
Dava mendapati Raeviga sedang meringkuk sedih di sebelah pintu.Lelaki itu memeluk Raeviga dengan erat.Menenggelamkan wajahnya mencoba menguatkan mereka berdua.Kenyataan tentang kehilangan bayi pertama mereka membuat luka di hati masing-masing.
Kepala Raeviga terasa berat,pandangannya sangat buram dan beberapa detik kemudian ia terjatuh dalam pelukan Dava.
"Rae.." seru Dava ketika tubuh Raeviga telah lemas.
________________
Malam semakin larut,laili menyuruh Dava untuk beristrahat di rumah dan mengantikan Dava untuk menemani menantunya.Namun Dava menolak dengan keras permintaan mamanya dan tetap ingin menjaga Raeviga di sampingnya.Laili menatap iba kepada kedua anaknya,rasa sakit dan terpukul sangat terlihat jelas di wajah keduanya.
Laili meninggalkan ruangan itu,membiarkan Dava menemani Raeviga.Dava mengenggam tangan Raeviga yang masih belum sadarkan diri.
Raeviga terbangun dari pingsannya,ia menatap Dava yang tertidur dengan mengenggam telapak tangannya.Raeviga kembali menangis mendengar kenyataan pahit yang telah terjadi padanya.Ia telah kehilangan buah hatinya,malaikat kecil yang kelak akan menghiasi tawa keluarga kecilnya.
Air mata itu terus menetes deras membasahi pipinya.Raeviga menoleh menatap wajah Dava yang sudah terlihat sembab.Kejadian tadi pagi yang membuatnya kehilangan malaikat kecilnya membuat percikan amarah pada Dava.Emosi lelaki di sampingnya itu telah membuatnya kehilangan bayi dalam kandungannya.
Raeviga melepaskan genggaman tangan Dava pada telapak tangannya.Gadis itu beranjak dari ranjang tempat tidurnya tanpa suara dan menganti pakaian rumah sakit itu dengan dress yang terakhir kali dia gunakan.Raeviga berjalan tertatih menuju pintu kamar.Ia menoleh sebentar kepada Dava yang masih tertidur pulas dengan posisi duduk.
Raeviga menerawang jauh tentang kebersamaannya bersama Dava hingga saat ini,namun keras kepala dan egois dalam diri Dava membuat Raeviga mengambil keputusan ini.Kini berada jauh dari Dava adalah keputusan terbaik yang akan di ambilnya.Melihat Dava sekarang hanya akan membuat hatinya merasa sakit karena telah membuat Bayi dalam kandungannya meninggal.
Raeviga telah keluar dari ruangan rawatnya,ia berjalan tertatih-tatih tanpa alas di kakinya.Sesekali ia menumpu tangannya pada tembok karena rasa sakit pada rahimnya yang masih belum sembuh total.
Malam semakin larut dan udara terasa dingin,gadis itu telah keluar dari rumah sakit.Ketika hendak melanjutkan langkahnya sebuah tangan meraih pergelangan tangan Raeviga membuat gadis itu terkesiap.
"Lo ngapain malem-malem di sini,Rae?"ucap lelaki itu dengan rasa khawatir.Sedangkan gadis itu terkejut menatap lelaki yang sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG