CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - PELUKAN HANGAT DAVA


__ADS_3

Arka bergegas menghampiri mereka.


"Ma, bagaimana kondisi Papa?" tanya Arka membuat mereka melihat kearahnya.


"Arka.."


"Papa sudah pulang"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Arsha terlihat senang melihat kehadiran Arka. Ia berjalan perlahan menghampiri Papanya dan merengek ingin di gendongnya. Arka tersenyum melihat Arsha dan mengendongnya dengan satu tangan.


"Masih dalam pemeriksaan. Sebentar lagi kita akan mengetahuinya dari Dokter.." jelas Raeviga. Wanita itu sekarang sedikit lebih tenang daripada sebelumnya. Ia harus terlihat tegar untuk orang-orang di sekitarnya. Raeviga tak ingin menjadi beban diantara cobaan yang harus mereka hadapi saat ini.


Arka menghampiri Marsha dan menngenggam tangannya.


"Bagaimana kabarmu? maaf aku terlalu sibuk urusan kantor" ungkap Arka dengan raut wajah menyesal. Ia menyadari jika sejak berada di Surabaya komunikasinya dengan Marsha sangat terbatas. Terkadang, mereka harus meluangkan waktu yang hanya sedikit untuk bisa berbicara lewat aplikasi videocall ataupun hanya sekedar panggilan suara saja.


"Tidak apa. Aku mengerti" Marsha menyunggingkan bibirnya tipis memperlihatkan lesung pipinya yang membuat semakin terlihat manis.


Arka mencium kening Marsha singkat, dan membelai lembut rambut Arsha yang masih di gendongnya.


Berselang beberapa menit, seorang perawat datang menghampiri mereka.


"Selamat sore Nyonya, Keadaan pasien Dava sudah stabil. Dokter mengizinkan keluarga pasien untuk menjenguknya. Namun mohon maaf pengunjung pasien terbatas, hanya di perbolehkan 1 orang saja" jelas perawat yang masih membawa peralatan medis di tangannya.


"Baiklah"


"Terima kasih" ucap Raeviga yang bersamaan dengan Laili.


"Ma, mama saja yang masuk. Raeviga sama yang lain tunggu disini" katanya pada Laili. Raeviga mengantar Laili hingga ke pintu ruangan rawat Dava karena Laili masih terlihat kesusahan menggunakan kursi rodanya.


Dari celah pintu ruangan Dava, Raeviga melihat Dava terbaring lemah dengan kedua matanya yang masih terpejam dan Dokter Rayhan yang masih memantau kondisinya. Raeviga kembali duduk. Tangannya mengenggam erat berharap semua akan berlalu dengan baik.


****


Andreas melihat Sashi yang makan tanpa selera. Seolah lidahnya terasa keru dan mati rasa. Andreas mengambil sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Sashi.


"Makanlah dengan baik. Jika kamu sakit nanti akan membuat yang lainnya merasa cemas"


Sashi hanya mengangguk kecil dan kembali menyuapkan nasi dengan enggan. Melihat keadaan Sashi yang mash terlihat murung, Andreas mengambil makanan Sashi dan akan menyuapinya. Andreas mendekatkan kursinya agar sedikit lebih dekat dan tangannya bisa menjangkau kearah Sashi.


"Mau kamu apakan?" tanya Sashi masih dengan suara paraunya.


"Mau menyuapimu. Lihat kamu makan dengan tidak berselera. Apa kamu ingin menu yang lain? atau makanan lain? aku bisa memesankannya.."


"tidak perlu, aku makan ini aja" Sashi akan mengambil kembali piring makanannya namun Andreas dengan cepat menghalanginya.


"Biar aku saja" Andreas mulai menyuapi Sashi walaupun dia sedikit malu dibuatnya.


"Biar aku saja Kak Andreas. Banyak yang memperhatikan kita"


Andreas tersenyum senang dan menolak permintaan Sashi.


"Tidak untuk kali ini. Biar saja mereka melihatnya. Aku gak peduli" ucap Andreas santai dan kembali menyuapi Sashi.


"Tapi aku malu"


"Kenapa?" goda Andreas.

__ADS_1


"Ya malu aja. Kan tangannya masih lengkap. Bisa makan sendiri" Sashi berkeras ingin makan sendiri namun Andreas tetap menolaknya.


"Kenapa malu? kan di suapi pacar bukan selingkuhan.." jawaban Andreas membuat Sashi mendengus kesal.


"Ishhh, nyebelin"


"tapi sayang kan" goda Andreas lagi. Membuat Sashi tersipu malu di buatnya.


"Terserah kakak deh" Akhirnya Sashi meyerah. Dia membiarkan Andreas berbuat semaunya.


"Yaudah sekarang Aaaaaa" Andreas mengarahkan sendok yang telah berisi ke makanan ke mulut Sashi.


"Dasar keras kepala" batin Sashi sambil mengunyah makanannya.


"Habisin, setelah itu nanti kembali ke ruangan Om Dava" pinta Andreas melihat nafsu makan Sashi kembali.


Sashi mengangguk mengiyakan ucapan Andreas.


****


Dava perlahan membuka kedua matanya. Ia melihat Laili mengenggam telapak tangannya. Dava mengerjapkan beberapa kali kedua mata memperjelas pandangannya yang masih sedikit buram.


"Ma.." panggil Andreas serak


"Dava, mama senang kamu sudah sadar. Kami mencemaskanmu.." Laili mengusap rambut Dava.


Dava tersenyum menanggapi ucapan Laili.


"Dava baik-baik saja Ma.. Dava sehat.."


mendengar jawaban Dava, Laili memukul bahu Dava pelan membuat lelaki berpura-pura merintih kesakitan.


"Sehat darimana? kenapa kamu menyembunyikan hal ini dari keluarga? apa kamu ini manusia hutan yang tak punya keluarga? kita semua mengkhawatirkan keadaan kamu.." cecar Laili tanpa henti. Raut wajahnya masih terlihat kesal. Dava selalu menyepelekan keadaannya.


"Kamu ya masih sama saja seperti dulu. Pembangkang.."


Dava terkekeh geli. Ia meyentuh tangan Laili dan menenangkannya.


"Mama tenang saja. Dava akan segera sehat"


Laili menghela napas panjang. Ia menghapus air matanya yang tiba-tiba jatuh begitu saja.


"Kamu harus berjanji pada Mama. Mengerti?"


"Iyaa Mama.."


Dava melihat kearah pintu ruangannya namun ia tak melihat kehadiran istrinya.


"Ma, Raeviga dimana? aku merindukannya. Seolah Dava udah lama tak melihatnya. Yang disini.. merindukannya" ucap Dava sambil menyentuh dadanya dan tersenyum tipis.


Dokter Rayhan yang masih berada di tempatnya tertawa mendengar ucapan Dava.


"Ternyata kamu konyol sekali" celetuk Dokter Rayhan. Laili juga ikut tersenyum karenanya.


"Mama akan keluar memanggilnya..." Laili memutar kursi rodanya di bantu Dokter Rayhan yang juga berjalan keluar setelah selesai mengecek kondisi Dava.


Laili melihat Raeviga masih duduk dan menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Sedangkan Arka dan keluarga kecilnya duduk di kursi lain sembari menidurkan Arsha yang terlihat mengantuk.


"Rae, Dava ingin berbicara sama kamu" ucap Laili setelah keluar dari ruangan Dava.

__ADS_1


Raeviga mengangguk dan berdiri dari tempat duduknya.


"Arka kamu pulanglah terlebih dahulu. Kasihan Arsha dan Marsha juga. Kamu juga pasti lelah setelah perjalanan dari Surabaya" pinta Laili pada cucunya.


"Tapi Oma.. Bagaimana keadaan Papa?" tanya Arka cemas.


"Keadaan Dava sudah stabil. Dokter Rayhan sudah melakukan pekerjaannya dengan baik. Kamu istirahatlah,kembalilah besok pagi"


"Tapi Oma bagaimana? Arka juga antar pulang saja" Ajak Arka pada Laili.


"Tidak perlu, Oma sudah ada supir pribadi. Antar saja Oma sampai depan pintu Rumah Sakit.."


"Baik Oma.."


"Mama akan pulang?" tanya Raeviga pada Mama mertuanya.


Laili mengangguk. Ia menyentuh tangan Raeviga.


"Mama akan kembali besok pagi. Tidak apa kan? tubuh Mama sudah sangat tua. Kepala mama terasa berat jika berlama-lama disini. Mama tidak tahan dengan aroma Rumah Sakit"


"Iya Ma, tidak apa. Mama bisa kesini ketika Dava selesai operasi. Perjalanan Mama kesini juga tidak dekat.." saran Raeviga.


"Baiklah, jaga Dava baik-baik. Kabari Mama kondisi Dava juga.."


Raeviga mengiyakannya.


Setelah kepergian keluarganya, Raeviga masuk ke dalam ruangan Dava. Dia melihat Dava tengah duduk dan memegang pisau untuk mengupas Apel yang ada di tangannya.


"Hai sayang, aku tiba-tiba merindukanmu. Seolah aku terbangun dari tidur panjangku.." Dava merentangkan tangannya meminta Raeviga segera mendekat kearahnya.


Raeviga duduk di samping Dava tanpa mengatakan apapun. Ia menatap tajam kearah suaminya. Ia mengambil apel yang di kupas oleh Dava dan mengupaskannya untuk suaminya.


"Baik banget sih. Gak salah pilih istri memang" puji Dava dengan tawa kecil yang memperlihatkan barisan giginya.


Namun Raeviga tak menanggapi ucapan Dava, ia sibuk memotong apel untuknya tanpa mengatakan apapun.


"Kamu marah? kok diem aja? gak kangen aku?"


Raeviga memberikan potongan apel yang di kupasnya untuk Dava dan meletakkan sisanya di atas meja.


"Sayang..jangan marah dong. Abang Dava sedih loh nanti"


Raeviga berdiri dan memeluk suaminya.


"bodoh amat. Rae lagi marah sama kamu"


Dava merenggangkan pelukan Raeviga dan menatapnya.


"Gausah sedih. Aku baik-baik aja kok.." Dava menghapus air mata yang menempel di sudut mata Raeviga. Sedetik kemudian dia mencium bibir Raeviga dan memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Rae. Aku juga tak ingin meninggalkanmu.."


BERSAMBUNG


Hai Readers,


[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]


maaf ya udah buat kalian menunggu lama.

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


__ADS_2