
Andreas tersenyum melihat kekasihnya. Dia membuka tangan Sashi yang menutupi wajahnya. Andreas menghapus air mata Sashi. Wajah mereka berdekatan. Bibir Andreas dengan lembut menyentuh bibir ranum kekasihnya.
"Sashi, aku ingin kamu kembali tersenyum. Melihatmu seperti ini membuatku sedih.."
[EPISODE SEBELUMNYA]
Andreas melepaskan ciuman dari Sashi sesaat. Kedua mata mereka bertemu, Andreas membelai lembut wajah Sashi. Tatapannya tak lepas dari wajah gadis itu.
"Aku takut Papa.."
Andreas memeluk Sashi. Sesekali tangannya menghapus air mata yang masih jatuh membasahi wajahnya.
"Om Dava akan baik-baik saja. Dokter akan menjalankan operasinya dengan hati-hati. Kita hanya perlu berdoa agar Om Dava di beri kesembuhan.." ucap Andreas sembari memeluk wanitanya.
Dari kejauhan sepasang kekasih juga sedang memperhatikan mereka saat ini. Terlihat William dan Angela berdiri tak jauh dari mereka.
"Apa Sashi akan baik-baik saja? Dia terlihat terpukul dengan penyakit Om Dava. Ini memang terlalu berat untuk dia jalani.." tanya Angela pada William yang setia berdiri di sampingnya.
"Kamu benar. Sashi terlihat rapuh. Tapi aku yakin Andreas akan membuat Sashi mampu menghadapi semua ini" jawab kekasih Angela itu.
Sashi melihat kearah Andreas. Isak tangisnya telah berhenti, Ia menggenggam tangan Andreas dengan kedua tangannya.
"Terima kasih, Kak Andreas selalu ada untuk Sashi.."
Andreas mengusap lembut wajah Sashi dan mencium dahinya. "Terima kasih juga telah menjadi bagian dari hidupku"
Sashi dan Andreas akan berlalu pergi. Saat mereka membalikkan badan, mereka melihat William dan Angela terlihat menunggunya.
"Kak Angela sama William kenapa kesini?" tanya Sashi yang berjalan mendekat menghampiri mereka.
"Angela ingin mengatakan sesuatu sama kamu" tunjuk William pada kekasihnya.
Sashi mengerutkan dahinya. "Tentang apa?"
"Aku ingin minta maaf karena aku telah egois dan menuduh kamu berselingkuh dengan William. Aku tau apa yang aku pikirkan ini sangat salah. Maafkan aku Sas.." ucap Angela merasa bersalah.
Sashi tersenyum menenangkan. Ia memeluk Angela. "Kak Angela pasti sangat mencintai William. Sashi tau itu kok..." ucapnya sambil melepaskan pelukannya dari Angela.
Sashi melihat kearah William sekilas dan menggenggam tangan Andreas erat.
__ADS_1
"William bukan tipeku. Hatiku udah memilih Andreas, dan kurasa selamanya akan tetap dia.." ucapnya sambil menatap Andreas.
Andreas tersenyum geli. Untuk pertama kalinya Sashi berkata sangat manis di depan umum seperti ini. Biasanya gadis itu hanya mengatakan hal itu diam-diam dan hanya bisa di dengar oleh Andreas saja.
"Jadi sekarang semuanya sudah jelas kan? jadi sayang.. mulai saat ini kamu gak boleh cemburu-cemburuan lagi. Oke?" William nampak menjahili Angela dan menggodanya.
Angela mengangguk dan tersenyum melihat William.
"Duh leleh kalo di tatap lama-lama sama kamu.." seru William yang kembali membuat Angela baper.
"Mulai deh mulut buayanya.." timpal Angela.
Sashi dan Andreas tertawa bersamaan melihat tingkah konyol William pada kekasihnya. Setelah Angela dan William berpamitan pergi untuk pulang, Sashi kembali masuk ke dalam rumah sakit bersama Andreas.
"Om Dava operasi jam berapa?"
"Besok Pagi"
"Kamu akan menginap lagi di rumah sakit?"
Sashi mengangguk pelan dan di dalam hatinya terus saja berdoa untuk kesembuhan Dava.
Arka bersama dengan Marsha dan putrinya. Seperti Sashi, Pria yang telah beristri itu juga terlihat mencemaskan operasi Papanya nanti. Marsha duduk di samping suaminya yang terlihat sibuk mencari informasi seputar kanker yang di derita Dava.
"Sayang, kamu tidak lelah? sedari sore kamu terus saja melihat ke layar ponsel. Istirahatlah sebentar.." pinta Marsha. Arka menatap istrinya, dia menganggukkan kepalanya dan merentangkan lengannya agar Marsha bisa tidur dalam pelukannya.
Arka meletakkan ponselnya di atas nakas. Arka akan bersiap tidur, namun suara dering telepon di ponselnya membuat keduanya melihat bersamaan kearah ponsel Arka.
"Siapa yang menelfon malam-malam seperti ini Mas?" tanya Marsha pada Arka.
Arka mengedikkan bahunya dan mengambil ponselnya kembali.
Arka melihat nomor tanpa nama yang saat ini terlihat di layar ponselnya. Marsha yang berada di dekatnya juga ikut melihat kearah ponsel Arka.
"Halo?" suara Arka saat memulai obrolan.
"Halo. Selamat malam Pak Arka. Saya Reni, pegawai Pak Arka dari Perusahaan di Surabaya. Apakah besok saya bisa bertemu dengan Anda? ada sesuatu yang harus saya sampaikan"
"Tentang Apa? jika ini masalah perusahaan kamu bisa mengirimkannya saja lewat Email. Saya akan membacanya nanti.."
__ADS_1
"Saya bisa membawanya langsung pak. Saya sudah di Jakarta Saya bisa memberikan laporan-laporan itu besok. Apakah besok ada waktu?" tanya Reni yang terlihat tersenyum penuh arti.
"Kamu ke Jakarta hanya untuk mengirimkannya padaku langsung?" tanya Arka yang masih tidak mengerti dengan situasinya saat ini.
"Tentu saja pak. Saya sangat berdedikasi tinggi dengan pekerjaan.." jawaban Reni membuat Arka nampak kagum dengan kegigihan pegawainya itu dalam bekerja.
"Baiklah, kita akan bertemu di kantor pusat besok pagi"
"Baik pak"
"Terima kasih Reni. Saya sangat kagum dengan cara kerjamu"
Dari balik teleponnya, Reni nampak tersenyum puas dengan permainan yang sedang ia mainkan sekarang.
"Sebentar lagi, saya akan memiliki anda. Tuan Arka Dewantara.." desisnya dalam hati dan tersenyum licik.
"Terima kasih kembali pak" setelah mendengar balasan dari Reni, Arka mengakhiri panggilan teleponnya dan meletakkan kembali di atas Nakas.
"Tadi siapa mas?" tanya Marsha pada suaminya.
"Pegawai kantor, dia ingin mengirimkan laporan perusahaan kepadaku besok" Arka membaringkan tubuhnya kembali dan tidur memeluk Marsha.
"Dia pegawai dari Surabaya?" tanya Marsha lagi yang terlihat mencurigakan sesuatu.
"Iya, dia berinisiatif untuk mengantar laporan langsung dan menjelaskan beberapa hal penting katanya.." jawab Arka lagi dengan kedua matanya yang telah tertutup.
"Dia wanita?" tanya Marsha lagi. Namun kali ini Arka tidak menjawab seperti sebelumnya. Tidak ada jawaban dari pria itu. Dia telah tertidur lelap dengan memeluk Marsha.
"Siapa dia? Apa dia seorang wanita? untuk apa dia jauh-jauh hanya mengantarkan laporan tanpa ada perintah dari atasan?" pikir Marsha sendiri. Marsha melihat kearah Arka yang tertidur. Wajah terlihat tenang saat pria itu tertidur. Semakin hari hidup bersama Arka, membuat rasa cintanya semakin besar pada suaminya. Marsha mencium pipi Arka dan menatap lama wajahnya hingga ia tertidur lelap.
Di tempat lain, Reni tersenyum licik membayangkan dirinya yang akan bersama Arka suatu saat nanti.
"Aku sudah jatuh cinta denganmu Pak Arka. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan anda"
BERSAMBUNG
Hai Readers,
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap kalian bisa menikmati cerita ini dengan baik.
__ADS_1
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)