CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - AKU MASIH PERLU PAPA


__ADS_3

[JANGAN LUPA FOLLOW AKUN AUTHOR]


Dava merenggangkan pelukan Raeviga dan menatapnya.


"Gausah sedih. Aku baik-baik aja kok.." Dava menghapus air mata yang menempel di sudut mata Raeviga. Sedetik kemudian dia mencium bibir Raeviga dan memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Rae. Aku juga tak ingin meninggalkanmu.."


BERSAMBUNG


William masih bersama dengan keluarga Angela. Setelah memberikan kejutan kecil untuk kekasihnya, Siska mengajak lelaki itu untuk makan malam bersama.


"Jadi sekarang sudah baikan?" tanya Siska penuh selidik kearah kedua orang yang duduk di depannya.


Angela tak mengatakan apapun. Dia hanya menutupi wajahnya karena malu. William membenarkan ucapan Siska. William lega, akhirnya hubungan mereka kembali membaik.


"William kamu sudah tau kalo Papanya Sashi sedang dirawat di Rumah Sakit?" tanya Siska lagi membuka obrolan. Makanan masih di hidangkan di atas meja oleh pelayan rumahnya.


Siska hanya berpikir tak ada salahnya jika membuka obrolan sedikit agar keadaan di ruang makan tidak sunyi begitu saja. Apalagi saat ini mereka hanya bertiga saja, Arga masih duduk manis di ruang kerjanya dengan laporan-laporan perusahaan. Setelah mengalihtangankan pekerjaan pada Angela, Arga hanya sesekali memantau kondisi perusahaan. Setidaknya ia tahu bagaimana perkembangan perusahaannya.


William tertegun sesaat mendengar ucapan Siska.


"Aku gak mendapatkan kabar apapun dari Sashi tante. Aku baru mengetahui hal ini.." jawab lelaki itu.


Sudut mata Angela melirik sekilas kearah William. Dia ingin mengajak William untuk mengunjungi Dava setelah makan malam. Diapun juga harus meminta maaf karena prasangka buruknya.


"Ehhmm, nanti...kamu mau gak anterin aku nanti jenguk Om Dava?" tanya Angela sambil melihat kearah kekasihnya.


"Iyaaa" seru William mengiyakan.


Siska tersenyum senang melihat pasangan di depannya ini terlihat akur.


"William memang pria yang baik, dia bisa mengendalikan ego Angela.." pikir Siska dalam hati.

__ADS_1


****


Sashi kembali bersama Andreas setelah pergi dari kantin. Sashi membuka pintu ruang rawat Dava, ia melihat Raeviga tengah duduk sambil menyuapi makanan suaminya.


"Ya ampun sayang, lihat deh pasangan itu..romantis banget. Jenguk papanya aja pake gandengan tangan. Takut ilang ya?" goda Dava ketika melihat Sashi dan Andreas masuk kedalam ruangannya.


Sashi tersenyum kecil begitu pula Andreas.


"Pa, papa bagaimana sekarang? lebih baik?" tanya Sashi sembari melangkah lebih dekat kearah ranjang Dava. Sashi tahu bahwa saat ini Dava berpura-pura baik-baik saja. Namun kenyataannya, dia menahan sakit sendirian saat orang lain tak menyadarinya.


"tentu sayang, Papa selalu sehat. Nih liat otot Papa aja masih kekar.." imbuhnya bercanda. Raeviga menghela napas kecil mendengar perkataan Dava.


"Papa nih kebanyakan becanda. Sashi serius.." Sashi berdiri di samping Dava dengan raut wajah khawatir.


"Papa serius Sashi. Papa sehat. Sebentar lagi pasti Papa sembuh. Kalian gak perlu khawatir. Nyali pria itu besar. Penyakit seperti ini mudah Papa hadapi. Benarkan Andreas?" tanyanya tiba-tiba pada lelaki yang berdiri di samping pintu.


"Hah? Iya..Papa kamu bener Sas. Om Dava pasti segera sembuh" jawab Andreas. Sashi mengerucutkan bibirnya dan menggenggam tangan Dava.


"Papa harus sembuh. Pokoknya gak mau tau Papa harus sembuh.." Sashi menegaskan ucapanya seolah mengancam Dava untuk mengabulkan perkataannya.


"Persis kayak kamu deh" ungkap Dava tersenyum penuh kebahagiaan melihat istrinya.


"Entah berapa lama lagi aku bisa bertahan, Rae. Saat Ragaku tidak bisa menemanimu, aku berharap kamu akan mengerti bahwa hatiku tak pernah meninggalkanmu. Jangan merasa sendiri. Banyak orang di sekelilingmu yang sangat memperhatikan kamu. Aku mencintai..tidak, aku..sangat mencintaimu.."


Sepasang kekasih masuk kedalam ruangan Dava. Raeviga dan yang lainnya menoleh bersamaan kearah dua orang itu yang masih berdiri menutup pintu. Mereka adalah Angela dan William. Angela memberikan bungkusan buah tangan yang dibawanya kepada Raeviga.


"Ini angela? kenapa semakin cantik saja" puji Dava kepada keponakannya. William berdiri di samping kekasihnya. Tangan keduanya yang saling bertautan tak lepas dari perhatian Dava.


"Iya Om. Ini Angela. Keadaan Om Dava bagaimana? sudah baikan?" Angela sekilas melihat kearah Sashi, seolah ingin membicarakan sesuatu yang masih menggantung di hatinya.


"Sudah baik. Om ini baik-baik aja. Kalian itu terlalu berlebihan"


"Papa itu yang terlalu ngeselin. Papa selalu menyepelekan penyakit seperti ini. Ini membahayakan kesehatan papa kalo Papa membiarkan saja" Pekik Sashi yang bersuara tiba-tiba. Dia tak tahan melihat Dava yang seolah kuat dan seakan tak terjadi apapun. Tak ada perkataan dari yang lainnya, mereka bersamaan melihat Sashi yang menahan isak tangisnya dan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

__ADS_1


Raeviga tahu, Sashi saat ini tertekan dengan kondisi Dava. Tak pernah sekalipun Dava mengeluh sakit kepada keluarganya walaupun itu hanya luka kecil. Dava sangat baik menyembunyikan penderitaan yang dialaminya dari keluarga.


"Sayang, Papa baik-baik saja. Kamu liat kan papa sehat" jawab Dava setelah beberapa menit terdiam.


"PAPA LAGI SAKIT SEKARANG, DAN PENYAKIT PAPA INI BISA MERENGUT NYAWA.." Sashi menghentikan ucapannya. Dia tak bisa lagi melanjutkan perkataannya.


"Sashi.." Raeviga akan mengatakan sesuatu namun Sashi telah lebih dulu berlari keluar dengan isak tangisnya yang membasahi wajahnya.


"Andreas, kamu tolong tenangin dia ya. Anak itu pasti sekarang sudah menangis sendiri" pinta Dava pada lelaki yang berdiri berjarak beberapa langkah.


"Iyaa Om. Om tenang Aja. Andreas akan jaga Sashi.." setelah mengatakan hal itu Andreas pamit pergi menyusul Sashi yang telah keluar lebih dulu.


Andreas melangkah cepat dan kedua matanya yang menjelajahi setiap sudut Rumah Sakit. Namun ia tak melihat bayangan Sashi dimanapun. Andreas mengeluarkan ponselnya, ia menelpon Sashi. Panggilan itu tersambung namun Sashi tidak menerima panggilan telepon itu. Sashi ingin sendiri, Dia tidak ingin Andreas atau keluarga terdekatnya melihat ka yang berurai air mata. Sashi berpikir pasti mereka telah menganggap aneh Sashi yang marah,menangis dan pergi begitu saja.


Andreas berjalan kearah taman rumah sakit. Langit malam di taman yang di kelilingi cahaya lampu disekitar taman terlihat sangat indah di malam hari. Tak jauh dari tempat Andreas berdiri, ia melihat Sashi yang duduk di taman sendiri dan menenggelamkan wajahnya di kedua tangannya. Andreas berdiri tepat di depan Sashi yang tidak menyadari kehadiran kekasihnya.


Tangan Andreas mendarat ke ujung kepala Sashi dan mengelusnya lembut.


"Sayang..kenapa disini sendirian?"


Sashi mendongakkan kepalanya melihat kehadiran Andreas di depannya. Sashi menghapus air mata yang membasahi wajahnya dan mengalihkan tatapannya dari Andreas.


"kenapa kamu kesini? tinggalin Sashi sendiri. Wajah Sashi lagi jelek. Aku gak mau kamu liat aku kayak gini.." Sashi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lagi.


Andreas tersenyum melihat kekasihnya. Dia membuka tangan Sashi yang menutupi wajahnya. Andreas menghapus air mata Sashi. Wajah mereka berdekatan. Bibir Andreas dengan lembut menyentuh bibir ranum kekasihnya.


"Sashi, aku ingin kamu kembali tersenyum. Melihatmu seperti ini membuatku sedih.."


BERSAMBUNG


Hai Readers,


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap kalian bisa menikmati cerita ini dengan baik.

__ADS_1


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


__ADS_2