
"Baik Nyonya, perintah Anda akan segera saya laksanakan"
"Omaa? kenapa Oma disini? dan kenapa Arka bisa ada disini?" ucap Arka yang terbangun setelah beberapa menit.
[EPISODE SEBELUMNYA]
"Dasar anak bodoh! kenapa bisa terjebak dengan permainan licik pelakor" gerutu Laili pada Arka yang memegangi belakang lehernya yang terasa sakit.
"Apa maksud Oma? dan di ruangan siapa aku sekarang. Bukankah aku kesini karena Reni meminta bantuan ku?" gumamnya memikirkan kembali kejadian yang ia alami sebelumnya.
"Kamu adalah Direktur Perusahaan. Tapi bisa-bisanya kamu tertipu," Laili memberikan kamera milik Reni yang di gunakan untuk merekam aksinya itu.
Arka mengambil kamera itu dan melihat rekaman di dalamnya. "Sial, wanita tak tau diri! jadi dia hanya mempermainkan ku?"
Laili tak mengatakan apapun. Dia hanya memandangi kepolosan Arka sekarang. "Arthur, bantu Arka untuk keluar dari tempat ini" pinta Laili pada salah satu Bodyguard lain yang menunggu di samping pintu.
"Baik Nyonya. Mari Tuan berdirilah perlahan" ucap Pria dengan lengan kekarnya yang berotot.
"Aku bisa sendiri" Arka beranjak dari tempat tidur dan menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku.
"Oma, Apa Marsha dan yang lainnya mengetahui hal ini? Marsha akan kecewa jika mendengar masalah ini. Aku tak ingin membuatnya sedih"
"Tidak ada yang mengetahuinya. Oma tidak akan menceritakannya. Papamu baru saja pulih dari penyakitnya, jika Raeviga mengetahui masalahmu itu akan menjadi beban untuknya lagi" ucapnya sambil melangkah keluar dari ruangan Reni di susul oleh Arka di belakangnya.
"Maaf Oma, Arka telah bertindak dengan ceroboh" Arka berjalan beriringan dengan Laili.
"Lain kali perhatikan semuanya terlebih dahulu. Banyak musuh di sekitarmu yang hanya berpura-pura baik di depanmu. Seorang Direktur harus bisa mengerti hal itu"
"Iya Oma.."
****
Setelah Dava terbangun pasca operasi tumor otak yang di jalaninya. Kondisi Dava masih memerlukan perawatan intensif untuk pemulihannya. Raeviga kembali pulang dengan Marsha, Arsha dan Sashi. Ada batasan kunjungan karena kondisi Dava masih belum dalam kondisi stabil sepenuhnya. Masih harus di lakukan Fisioterapi dan Observasi lainnya untuk membantu pemulihan kondisi Dava.
"Ma, besok mama ke rumah sakit jam berapa?" tanya Sashi.
"Kunjungan pasien setelah istirahat siang. Mungkin Mama akan pergi sebelum jam 1"
"Apa Papa ada minta sesuatu Ma? biar Marsha membelikannya untuk Papa" sahut Marsha yang duduk di kursi kemudi.
"Dia hanya ingin nasi Padang buatan Mama, Marsha"
"Seperti Papa mertua merindukan aroma masakan Mama"
Mobil Marsha berhenti di depan gerbang rumah keluarga Dava. Seorang pelayan membuka gerbang rumah itu dan mempersilahkan mobil Marsha untuk masuk.
__ADS_1
"Mampirlah ke rumah Marsha. Apa Arka tadi mengatakan sesuatu kepadamu? kenapa dia tiba-tiba pergi begitu saja" ucapnya sambil turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Marsha juga tidak tau Ma. Arka tidak mengatakan apapun padaku. Mungkin ada urusan bisnis yang harus dia selesaikan"
"Bener kata Marsha, Ma. Sepertinya Arka lagi ada urusan penting"
"Tante, Arsha juga mau es krim" celoteh gadis kecil itu saat melihat Sashi membawa sebuah es krim di tangannya.
Sashi tersenyum kecil melihat Arsha. Ia membungkuk sedikit dan memberikan es krim itu pada Arsha. "Makannya sambil duduk ya cantik"
"Iyaa Tante cantik" balas Arsha dengan senyum lebarnya hingga gigi-gigi kelincinya terlihat.
"Marsha, kamu disini aja ya. Nunggu Arka datang juga" pinta Raeviga pada menantunya.
"Iya Ma"
Arka masih berada di dalam mobilnya bersama Laili. Arka masih terlihat kesal dengan kejadian yang baru saja dia alami. Dia masih tidak percaya jika pegawainya melakukan hal senekat itu.
"Sudahlah, Wanita juga telah Oma selesaikan dengan pihak kepolisian. Lain kali kamu haru lebih berhati-hati" ucap Laili menenangkan Arka.
"Iya Oma. Arka hanya masih tidak menyangka jika Reni berbuat senekat itu"
"Bahkan lebih banyak orang yang lebih berbahaya dari Reni, Arka. Jika kamu tidak berhati-hati kamu akan benar-benar terjebak"
"Oma benar, di dunia ini orang bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apapun. Bahkan banyak orang yang mengabaikan peraturan hanya untuk kepentingan pribadinya" ucap Arka dalam hati.
****
"Dokter, apa Istri saya sudah pulang?" tanya Dava di saat pemeriksaan kondisi tubuhnya bersama dokter Rayhan.
"Iya Dav. Batas untuk kunjungan telah habis. Raeviga akan kembali lagi besok"
Dava nampak tidak senang dengan perkataan Dokter Rayhan. "Apakah disini tidak ada pelayanan VIP? Aku butuh dia buat menemaniku, Dokter. Aku merasa kesepian tanpanya."
Dokter Rayhan tertawa kecil mendengar gerutu Dava. Umur Dava sudah tidak lagi muda namun perasaannya pada Istrinya masih berkembang setiap harinya.
"Perasaan cintamu buat Raeviga itu membuatku iri Dava. Sepertinya aku perlu belajar banyak kepadamu"
"Itu tidak benar Dokter Rayhan. Anda bukan belajar kepadaku tetapi pada Istri anda. Mengerti tentang perasaannya, keinginannya. Pasti saat ini istri anda menunggu kedatangan suaminya yang tidak kunjung pulang dari seminggu yang lalu"
"Kamu benar Dava. Sepertinya akhir-akhir ini hubunganku dengan istriku sedang tidak sehat. Aku seharusnya bisa mengerti dia dengan baik. Terima kasih atas sarannya."
"Tidak masalah. Jadi kamu bisa membantuku untuk memberiku pelayanan VIP?" tanya Dava dengan penuh harap. Bertemu dengan Raeviga yang hanya bertemu beberapa jam saja tidak mengobati rasa rindunya pada Raeviga.
"Baiklah, aku akan mengaturnya untukmu."
__ADS_1
"Aku memang dokter yang bisa ku handal kan"
Dokter Rayhan tersenyum tipis dan akan melangkah pergi dari ruangan Dava namun langkahnya terhenti kembali karena permintaan Dava lagi. "Bisakah kamu meminjamkan ku sebuah Laptop. Aku ingin melakukan panggilan video dengannya."
Dokter Rayhan mengangguk mengiyakan dan keluar dari ruangan Dava untuk mengambil Laptop di ruangannya. "Dasar bucin tua..."
*****
Arka masih di dalam mobil bersama Laili. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Marsha yang saat ini bersama dengan Raeviga dan Sashi.
"Halo, sayang" seru Arka saat suara Marsha terdengar di telinganya.
"Sayang, kamu pergi kemana aja? Aku dan yang lain sudah pulang karena waktu kunjungan telah habis. Mama Raeviga akan ke rumah sakit lagi besok siang." jelas Marsha pada sang suami.
"Benarkah? aku kira kamu masih di rumah sakit" ucap Arka sambil memutar kemudinya berbalik arah.
"Kenapa putar balik Arka?" tanya Laili pada Arka yang masih menelpon istrinya.
Marsha mendengar samar-samar suara wanita di dekat Arka. Dia mengerutkan keningnya dengan prasangka buruk di hatinya tentang Arka.
"Sayang, kamu sama siapa di mobilmu? Aku mendengar suara wanita." ucap Marsha.
"Iya, aku memang bersama dengan seorang wanita. Aku bersama Oma"
Dari seberang telepon Arka, Marsha bernapas lega mendengar. Seharusnya ia tidak berpikir buruk pada Arka.
"Kenapa kamu bisa bersama Oma?" tanya Marsha lagi.
"Aku akan menceritakannya nanti. Tapi dimana kamu sekarang?"
"Aku di rumah Mama Rae.."
"Baiklah aku akan kesana bersama Oma.."
"Hati-hati sayang"
"Iyaa.." Panggilan terputus,
Arka menoleh kearah Laili yang duduk di sampingnya. "Oma, aku harus menjelaskan apa nanti pada Marsha? haruskah aku mengatakannya dengan jujur apa yang terjadi?"
"Fokuslah berkendara. Biar Oma memikirkannya sebentar"
BERSAMBUNG
Hai Readers.
__ADS_1
[ MAU KASIH INFO AJA KALO NOVEL INI BAKAL SEGERA SAMPAI PADA TITIK AKHIR. JADI JANGAN SAMPAI KETINGGALAN BUAT BACA. VOTE SEBANYAK MUNGKIN BIAR AKU BISA UPDATE GILA]
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA