CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - PERNYATAAN MENYAKITKAN


__ADS_3

[UDAH FOLLOW BELUM? UDAH BERGABUNG DI GRUP CARAMELLOW? YANG BELUM GABUNG DULU YA]


Andreas mengecup kening Sashi singkat.


"Om Dava akan segera baik-baik saja"


Sashi mengangguk menguatkan dirinya. Telah banyak orang yang menyemangatinya. Arka juga telah mengatakan Jika Dava akan sembuh. Sashi tahu bahwa Papanya bukan orang lemah. Dava akan segera sembuh. Semua akan tetap seperti dulu. Tidak akan ada yang pergi atau meninggalkan.


"Sashi tau papa kuat. Papa akan baik-baik saja"


[Episode sebelumnya]


Arka dalam perjalanan menuju bandara, ia meninggalkan barang dan berkas kantornya di Surabaya.


"Selesaikan urusan kantor yang belum selesai di tangani. Kirimkan hasil laporan ke email saya. Jika ada waktu saya akan mengeceknya ulang. Kamu mengerti kan?" tanya Arka dari balik teleponnya pada orang kepercayaannya di kantor.


"baik pak, saya laksanakan sesuai perintah. Semoga Tuan Dava segera sembuh"


"Terima kasih atas kerjasamanya. Aku mempercayakanmu."


Panggilan terputus. Arka nampak gelisah. Sejak panggilan teleponnya dengan Sashi satu jam yang lalu pikirannya nampak gelisah. Ia berharap Papanya baik-baik saja.


Dering panggilan masuk dari handphonenya berbunyi. Ia melihat nama Marsha di layar ponselnya.


Marsha


"halo sayang?" ucap Arka ketika panggilan itu tersambung.


"Halo, Kamu sudah tau kabar dari Papa kan? papa pingsan dan sekarang sedang di rumah sakit" jelas Marsha dengan nada gelisah dan sedikit berisik. Marsha mengendarai mobilnya ke tempat Rumah Sakit.


"Aku sudah tau. Sekarang aku juga sedang perjalanan pulang." jelas Arka.


"baiklah"


"Sayang, kamu lagi dimana? suaranya sangat berisik. Apa di Rumah Sakit?" tanya Arka pada istrinya.


"Aku masih perjalanan kesana. Aku juga membawa Arsha bersamaku"


"Kamu menyetir sendiri?" tanya Arka khawatir. Entah mengapa jika Marsha mengendarai mobilnya sendiri tanpa ada pengawas, pria itu nampak gelisah. Karena dia tau, perusahaannya sedang bersaing dengan perusahaan lain. Bahkan lawannya itu beberapa kali menggunakan cara licik untuk menjatuhkan perusahaan keluarganya.


"Sayang, menyetir dengan hati-hati. Seharusnya kamu pergi dengan supir keluarga. Kita akan berbicara lagi setelah kamu sampai nanti."

__ADS_1


"Aku terburu-buru tadi. Lagi pula aku terbiasa dengan mengemudi sendiri"


"Aku tau tapi aku mencemaskan kondisi kalian"


"Maaf tuan, ini sudah sampai bandara. Barangnya akan saya turunkan terlebih dahulu" potong supir pribadi Arka.


"baiklah, saya akan menyusul nanti" jawab Arka pada supirnya.


"Sayang, aku sudah sampai Bandara. Aku akan menelponmu lagi nanti. Kabari orang rumah kalo ada apa-apa. Mengerti?" pinta Arka pada Marsha.


"Aku tau. Take care honey"


"Miss you"


****


Andreas telah berada di Rumah Sakit bersama dengan Sashi dan Raeviga. Kedua wanita itu terlihat duduk di kursi ruangan tunggu. Nampak jelas kegelisahan di kedua raut wajahnya. Sashi menghela napas panjang, ia memeluk Raeviga erat dan menyembunyikan isak tangisnya.


"Kenapa papa lama mah.." ucap Sashi di tengah isak tangisnya.


Raeviga membelai lembut punggung Sashi untuk menenangkan putrinya. Raeviga tau ia juga rapuh melihat kondisi Dava namun dia berusaha menguatkan dirinya untuk kedua anaknya.


Tak berselang lama, Marsha datang bersama dengan Arsha. Gadis kecil itu tersenyum ketika melihat nenek dan tantenya walaupun saat ini mereka tengah resah dengan kondisi Dava.


"Ma.." panggil Marsha pada ibu mertuanya dan duduk di samping Raeviga. Raeviga mengenggam tangan Marsha.


"Apa sudah ada kabar dari Dokter?" tanya Marsha memecah keheningan di ruangan itu.


Raeviga menggelengkan kepalanya pelan.


"belum"


Marsha melihat kearah sebuah ruangan tempat dimana Dokter masih menangani kondisi Dava.


"Apa beberapa hari ini Papa sakit Ma?" tanya Marsha lagi. Ia tak menyangka jika Ayah mertuanya bisa sakit tiba-tiba seperti ini bahkan pria itu selalu mengatakan jika kondisinya baik-baik saja.


Raeviga terisak. Ia seakan menyalahkan dirinya karena kondisi Dava. Dia telah mengabaikan kondisi suaminya. Bahkan ia tak menyadari jika kondisi Dava semakin memburuk. Ia telah gagal menjadi istri yang baik untuk Dava.


Seorang perawat keluar bersama Dokter Rayhan dan berjalan menghampiri Raeviga dan keluarganya. Sontak mereka berdiri dan menanyakan keadaan Dava.


"Dokter Rayhan apa yang terjadi dengan suami saya. Apa dia baik-baik saja" tanya Raeviga cemas.

__ADS_1


"Saat ini kondisinya baik-baik saja. Kami sudah menjalani pemeriksaan MRI di otaknya. Namun ada sesuatu penting yang harus saya bicarakan kepada anda Nyonya"


"Apa yang terjadi Dok? penyakit apa yang di deritanya?" tanya Raeviga. Dalam hati dia berharap tak ada hal buruk yang akan menimpa Dava.


"Saya akan mengatakan ini secara pribadi kepada Anda, yang pasti secepatnya Tuan Dava harus menjalani operasi pengangkatan tumor otaknya" ucapan Dokter Rayhan sontak membuat Raeviga terduduk lemas. Begitu pula dengan yang lainnya. Andreas berjalan menghampiri Sashi dan memeluknya.


"Semua akan baik, aku percaya Om Dava bisa melewatinya" seru Andreas sembari membelai lembut pangkal rambut Sashi.


"Aku takut Papa.." Sashi tak bisa lagi melanjutkan perkataannya. Pernyataan Dokter Rayhan membuatnya berpikir negatif dengan kondisi Papanya.


"Aku tidak ingin kehilangan Papa.." Sashi memeluk erat Andreas menyembunyikan isak tangisnya yang mengalir tanpa henti. Sashi menyadari dia memang wanita lemah. Seharusnya saat ini ia bisa menguatkan dirinya dan juga Raeviga. Namun tubuhnya terasa mati rasa, ia tak mampu untuk menguatkan Raeviga sedangkan ia memerlukan orang lain untuk menjadi sandarannya saat ini.


"Dokter akan melakukan yang terbaik untuk memulihkan kondisi Om Dava. Tenanglah" ucap Andreas lagi.


"Apa Nyonya Raeviga berkenan untuk ke ruangan Saya. Saya perlu membicarakan hal ini terlebih dahulu" pinta Dokter Rayhan lagi.


Raeviga mengangguk lemah. Ia berjalan menuju ruangan Dokter Rayhan bersama dengan Marsha.


***


"Tuan Dava telah di diagnosis menderita


tumor otak sejak 6 bulan yang lalu. Namun dia menolak perawatan medis dan meminta saya untuk menyembunyikan penyakitnya dari keluarganya. Saat ini Tuan Dava telah masuk ke stadium 2 atau diffuse astrocytoma. Ini masih termasuk gejala ringan namun jika terus saja di biarkan akan berakibat fatal" jelas Dokter Rayhan.


"Kenapa Dava ingin menyembunyikan ini Dok. Kenapa dia harus menyembunyikannya" Raeviga terlihat frustasi dengan kondisi Dava. Ia meyadari betapa ganasnya penyakit yang di derita Suaminya. Bahkan persentase untuk sembuh sangatlah kecil. Ia tidak ingin kehilangan Dava secepat ini. Banyak hal yang masih ingin ia lewati bersama dengan suaminya. Kematian memanglah sebuah takdir. Namun bukan seperti ini takdir yang ia harapkan untuk hubungannya.


"Tolong segera lakukan proses pengangkatan tumornya,Dok." pinta Marsha.


"Jangan ambil Dava dari sisiku,tuhan. Aku membutuhkannya. Dia adalah nafas dari kehidupan keluarga dan hatiku." serunya dalam hati.


BERSAMBUNG


Hai Readers,


[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]


maaf ya udah buat kalian menunggu lama.


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)

__ADS_1


__ADS_2