
[ JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]
Malam dingin yang tak lagi sunyi itu mereka habiskan dengan menikmati potongan daging barbeque dan juga cerita-cerita manis yang disematkan di dalam obrolan mereka. Sesekali Arka terlihat melingkarkan tangannya pada bahu Marsha dan menciumnya singkat. Raeviga yang diam-diam menatap wajah Dava dan tersenyum kecil menatapnya dan juga Arga yang selalu mengenggam tangan istrinya saat mereka berdekatan.
(Episode sebelumnya)
Angela terbangun dari tidurnya dengan wajah sumringah merah merona. Ia merenggangkan tubuhnya dan mengingat kembali kejadian semalam bersama William. Malam yang panjang dan mengesankan bagi dirinya dan William.
Kilas balik
Setelah ungkapan cinta William di pesta perusahaan. Angela nampak malu-malu saat bertatap muka dengan William.
"Jadi sekarang kita pasangan kan?" tanya William pada Angela.
Angela mengalihkan tatapannya dari kedua sudut mata William.
"Dasar bodoh, kenapa masih harus bertanya" gumam Angela tak bersuara.
"Angela, kamu tak ingin menjawab pertanyaanku?" tanya william yang masih menunggu jawaban Angela
Angela mengangguk kepalanya menjawab ucapan lelaki yang kini berada di hadapannya Tanpa menunggu lama William mengecup singkat kening Angela dan memeluknya. Ia terlihat senang dengan jawaban yang di berikan Angela.
Flashback End
"Jadi sekarang aku sudah punya pacar.." seru gadis itu sendiri dengan senyuman kecil yang tak lepas di bibirnya.
Angela meraih ponselnya yang ia letakkan di sudut tempat tidurnya. Ia melihat notifikasi pesan masuk di handphonenya.
"Haruskah aku menyapanya pagi ini?" tanyanya sendiri. Ia membuka kolom chat William dan mulai mengetik beberapa kalimat.
William, apa kamu sudah bangun?
"Akhh tidak kalimatnya terlalu kuno. Haruskah aku bilang sayang? beb?" gumamnya lagi. Ia menghapus pesan yang telah ia kirimkan 10 detik yang lalu.
Angela mencoba menulis beberapa kalimat lagi di ponselnya.
sayang, kamu sudah bangun kan?
Angela telah menulis beberapa kata lagi untuk William namun ia masih ragu untuk mengirimnya.
"Apa ini sudah sesuai? apa tidak memalukan jika wanita dulu yang menyapa. Haruskah ku biarkan william yang menghubungiku dulu?" serunya lagi. Gadis itu terlihat dilema dan merasa bimbang. Ia memandangi layar ponselnya lama tanpa mengirimkan kalimat yang ia tulis pada William.
Suara alarm di ponselnya yang bergetar membuat Angela tak sengaja menyentuh tombol send di ponselnya sehingga kalimat itu telah terkirim pada William.
Angela akan menarik ulang pesannya itu namun William telah membaca pesan yang dikirimkan Angela padanya.
Terlihat pemberitahuan di ponsel Angela jika william sedang membalas pesan masuknya. Tak lama sebuah pesan terkirim ke Angela dari William.
Sudah sayang. Kamu sudah makan? kita sarapan di luar mau?" tanya William lewat pesan chatting-nya pada Angela.
Senyum Angela semakin mengembang melihat pesan yang dikirimkan William. Angela mengiyakan tawaran kekasihnya dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Sama halnya dengan Angela, senyum William pun tak bisa lepas sedari tadi.Ia memandangi lama pesan masuk dari Angela untuknya.
"Bukankah aku sangat beruntung memilikinya.." seruny sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
...****************...
Berbeda dengan William, Arka telah bersiap dengan kemeja dan celana formalnya untuk bekerja. Kali ini Marsha terlihat berat meninggalkan suaminya yang akan melakukan perjalanan bisnis keluar kota hingga beberapa hari.
Marsha mendekati Arka yang tengah sibuk merapikan pakaiannya. Marsha yang telah berdiri di samping Arka ikut membantu pria itu bersiap.
"Berapa lama kamu akan pergi?" tanya Marsha sambil membantu Arga memakai setelan jasnya.
"Mungkin 7-9 hari sayang. Kamu tau kan sejak Papa memilih untuk istirahat sementara dari urusan bisnis. Perusahaan di Surabaya sedikit lengah dari pantuan kita. Ada beberapa masalah perusahaan yang membutuhkan penanganan langsung.." jelas Arka rinci. Marsha hanya memanggut-mangutkan kepalanya menjawab ucapan Arka.
Arka melihat kearah Marsha. Ia menyadari jika suasana hati Marsha saat ini sedang tidak baik. Arka menyentuh wajah Marsha dan mengarahkan wajah wanita itu untuk menatapnya.
"Kenapa kamu terlihat sedih?" tanya Arka dengan nada suaranya yang hangat.
"Entahlah. Aku merasa berat untuk melepasmu pergi. Bisakah pulang lebih cepat.." pinta Marsha sambil memeluk lengan Arka.
Arka tersenyum menenangkan.
"Sayang, aku juga berharap masalah perusahaab terselesaikan dengan cepat. Aku juga tidak ingin berpisah terlalu lama sama aku dan Arsha"
"Janji?" Marsha menunjukkan jari kelingkingnya agar Arka berjanji padanya.
Arka mengaitkan jari kelingkingnya di jari yang sama pada Marsha.
"Aku usahakan pulang cepat.." Arka mencium kening Marsha lama. Arka berjalan keluar dari kamar ditemani Marsha.
"Gabisa sayang. Aku harus mengisi beberapa seminar di kampus. Walaupun sekarang aku tidak mengajar lagi tapi aku ingin ilmuku terus berguna.." keluh wanita itu dengan wajah murungnya.
"Yaudah iya. Aku juga gak pernah ngelarang kamu sayang.Raka akan selalu mendukung apapun asal semua itu terbaik buat kamu.."
Marsha mengenggam tangan Arka hingga di depan pintu rumah mereka.
"Arsha masih tidur sayang?" tanya Arka yang tak melihat keberadaan putrinya sama sekali.
"Iya, sepertinya semalam dia kelelahan bermain.."
"Yaudah aku berangkat ya sayang. Inget selalu kunci rumah walaupun kamu ada di dalam. Jangan tidur larut malam juga. Jangan kelelahan waktu ngisi seminar nanti sayang.." Arka menyentuh wajahnya dan mengatakan berbagai hal pada istrinya.
"Iya sayang. Kamu juga, jaga kesehatan kamu disana.." Balas Marsha sembari memeluk suaminya sejenak.
Marsha melambaikan tangannya kearah Arka yang sudah masuk ke dalam mobil. Supir pribadi keluarga Hermawan terlihat sudah siap mengantar Arka ke Bandara. Mobil yang di tumpangi Arka telah meghilang dari pandangan Marsha. Namun wanita itu masih berdiri disana sejenak.
"Kamu baru saja pergi dan aku sudah kembali merindukanmu, Arka..."
...****************...
Di sebuah rumah sakit seorang pria tengah duduk mencemaskan keadaannya. Ia menunggu penjelasan dokter akan penyakit yang di deritanya.
__ADS_1
"Tolong rahasiakan ini semua dari keluarga saya, Dok. Mereka tidak perlu tau tentang penyakit ini. Aku tidak ingin menjadi beban untuk mereka" terangnya memohon.
"Tapi pak, anda sangat butuh support keluarga saat ini. Penyakit yang anda derita sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan"
"Dokter Rayhan. Kita sudah berteman sejak lama. Atas nama pertemanan kita tolong berjanjilah kepadaku..." pinta pria itu lagi.
Dokter yang duduk di hadapannya menatap sedih kearah pria itu.
"Baiklah, tapi jika kondisimu memburuk aku harus tetap menghubungi salah satu keluargamu.."
"Terima kasih dokter Rayhan.." ucap Pria itu sambil menatap lesu kearah walpaper ponselnya sejenak.
"Aku tak akan meminta sesuatu yang berlebihan. Kali ini, bantu aku untuk tetap hidup beberapa tahun lagi tuhan.." pintanya tanpa bersuara.
Di Rumah Sakit yang sama terlihat Sashi bersama Andreas berjalan kearah meja CS Rumah Sakit (Customer Service).
"Bentar aku tanya dulu ruangannya dimana ya sayang.." ucap Andreas sembari mendekatkan langkahnya ke meja itu.
"Saya ingin menjenguk pasien atas nama Tuan Axel Prasetya.."
"Baik, mohon tunggu sebentar.." wanita dari layanan informasi mulai mencari nama telah disebutkan oleh Axel.
"Ruang Dahlia di lantai 2, VIP ROOM No. 2" jelas wanita pada Andreas.
"terima kasih.."
Pria itu sedikit terkejut dengan kehadiran Sashi dan Andreas saat ini. Ia bersembunyi di balik dinding pembatas di ruangan itu.
"Apa yang mereka lakukan disini?" gumamnya sendiri sambil memperhatikan langkah Sashi dan Andreas yang telah berjalan melewatinya tanpa menyadari keberadaannya saat ini.
Sashi-Andreas menunggu lift rumah sakit terbuka untuk naik ke lantai dua sesuai yang di sebutkan oleh customer servis rumah sakit.
"Andreas, tapi tante Maura tidak apa kan?" tanya Sashi khawatir.
"Ku harap masih baik-baik saja sayang" seru Andreas sambil menggaitkan tangannya di telapak tangan Sashi.
Sashi dan Andreas telah sampai di ruang rawat VIP. Mereka masuk bersamaan dan melihat Maura masih terbaring lemah di ranjang. Terlihat Papa Andreas, Axel menunggu dengan setia di samping Maura.
"Pa, Mama gak apa kan?" wajah Andreas terlihat cemas mengkhawatirkan kondisi Mamanya.
"Dokter mengatakan jika darah mama kamu terlalu rendah sehingga membuatnya jatuh pingsan. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik..." jelas Axel sesuai pada Andreas sesuai apa yang disampaikan dokter padanya.
"Syukurlah.." Sashi bernapas lega mendengarnya.
BERSAMBUNG
Hai readers, maaf ya kalau sering terlambat update. Karena jujur untuk dapat waktu luang untuk menulis aku masih susah untuk mengaturnya. Waktuku banyak terbuang dengan jam kuliah, kerja dan hal-hal kecil seperti urusan keluarga. Jadi kalau mau nulis aku pasti tengah malem atau jam selesai subuh :(
Mohon dimaklumi ya :) terima kasih
Happy reading~
__ADS_1
Caramellow
Plis Vote, Like dan kasih komentar juga buat episode ini.