
[YANG BELUM FOLLOW AUTHOR AWAS KENA AZAB KOUTANYA CEPET HABIS WKWK]
"Kenapa Dava ingin menyembunyikan ini Dok. Kenapa dia harus menyembunyikannya" Raeviga terlihat frustasi dengan kondisi Dava. Ia meyadari betapa ganasnya penyakit yang di derita Suaminya. Bahkan persentase untuk sembuh sangatlah kecil. Ia tidak ingin kehilangan Dava secepat ini. Banyak hal yang masih ingin ia lewati bersama dengan suaminya. Kematian memanglah sebuah takdir. Namun bukan seperti ini takdir yang ia harapkan untuk hubungannya.
"Tolong segera lakukan proses pengangkatan tumornya,Dok." pinta Marsha.
"Jangan ambil Dava dari sisiku,tuhan. Aku membutuhkannya. Dia adalah nafas dari kehidupan keluarga dan hatiku." serunya dalam hati.
[EPISODE SEBELUMNYA]
"Setelah melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang seperti CT Scan, EEG, atau biopsi dokter bedah saraf akan segera menangani Tuan Dava jika dirasa kondisinya cukup stabil untuk menjalani operasi" ucapan Dokter mengakhiri pertemuannya dengan Raeviga dan juga Marsha.
Di ruang tunggu Raeviga dan Marsha melihat kehadiran Laili, ibu dari Dava yang sedang memeperhatikan putranya yang terbaring lemah dari kaca pintu ruang rawat Dava. Dava masih dalam penanganan intensif, Dokter masih melarang keluarga pasien menjenguknya hingga kondisi tubuh Dava kembali stabil.
"Mama.." panggil Raeviga yang berdiri membelakangi Laili.
"Rae, Dava baik-baik saja?" tanya wanita tua itu yang kini duduk di kursi rodanya.
Derai air mata Raeviga tak terbendung lagi. Ia memeluk ibu mertuanya dan menangis dalam pelukannya.
"Mas Dava perlu di operasi Ma. Dia menderita tumor otak stadium 2"
"Tenanglah Rae, serahkan semuanya pada yang maha kuasa. Allah tau jalan yang terbaik untuk Dava. Dava pasti bisa melewatinya. Tenanglah"
Raeviga mengangguk dan menghapus sisa linangan air mata di wajahnya. Sashi menghampiri Raeviga dan memeluknya.
"Kata dokter papa bisa sembuh kan Ma?" tanya Sashi dengan harapan penuh untuk kesembuhan Dava.
"Kita minta sama Allah buat kesembuhan Papa,sayang" ucap Raeviga dengan senyuman kecil untuk menguatkan Sashi.
****
Ponsel Raeviga berbunyi, panggilan telepon dari Siska membuat perhatiannya teralihkan.
"halo" ucap Raeviga memulai pembicaraan.
"Rae, mama mertua mengatakan jika Dava menderita tumor otak. Bagaimana kondisinya sekarang? Mama melarangku untuk datang ke Rumah Sakit karena sudah banyak yang mendampingi Dava" sahut Siska ketika mendengar suara Raeviga.
"Dokter masih melakukan pemeriksaan lagi Sis. Jika hasil pemeriksaan cukup baik, mas Dava akan segera melakukan operasi pengangkatan tumor. Aku berharap ini segera selesai. Aku tak bisa melihatnya terbaring lemah seperti ini" jawab Raeviga dengan suara parau. Satu tangannya memijat kepalanya yang terasa berat.
__ADS_1
"Bertahan Rae, ini salah satu cobaan yang harus bisa di lewati. Aku yakin kamu bisa bertahan, begitu pula dengan Dava. Aku yakin Dava akan sembuh"
Raeviga melihat kearah ruangan Dava. Sorot matanya terlihat cemas dan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Aku juga mengharapkan itu Sis. Aku masih membutuhkannya untuk bersamaku" ucap Raeviga seiringan dengan helaan napasnya. Sashi berjalan mendekati Raeviga yang duduk tak jauh darinya dan mengenggam tangannya.
"Sashi yakin Papa sembuh" sahut Sashi seolah memberikan sedikit keyakinan pada dirinya sendiri dan juga Raeviga.
Raeviga mengiyakan ucapan Sashi dengan senyuman tipis terbentuk di bibirnya.
"Rae, aku dan mas Arga menunggu kabar Dava. beritahu aku jika Dava sudah selesai menjalani operasi. Kita akan segera kesana" pinta Siska.
Panggilan telepon itu terputus setelah Raeviga mengiakan ucapan Siska.
Andreas mendekati Sashi yang duduk bersama Raeviga. Ia menyentuh ujung kepala Sashi dan membelainya lembut. Dia sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Sashi dan melihat wajahnya.
"Sayang, wajah kamu pucat. Kamu baik-baik saja?" tanya Andreas mengkhawatirkan kekasihnya.
"Aku baik-baik saja"
Andreas mengalihkan tatapannya. Ia melihat kearah Raeviga yang menatap kosong dan bergumul dengan pikirannya sendiri.
Raeviga menolak ucapan Andreas. Dia tidak ingin meninggalkan Dava sedetikpun.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan kami Andreas. Tapi aku tidak apa. Aku masih ingin disini. Kamu ajak saja Sashi dan Mama. Biar aku yang menjaganya disini"
"tidak Rae, aku akan menemani kamu disini. Andreas, wajah Sashi terlihat pucat. Kamu antar dia untuk pergi makan sebentar" sahut Laili.
"Baik Oma"
Andreas melihat kearah Sashi. Gadis itu hanya diam saja. Andreas meraih telapak tangan kekasihnya dan mengajaknya untuk pergi ke sebuah kantin yang ada di Rumah Sakit.
"Aku tak ingin pergi" tolak Sashi.
"Sashi, pergi makanlah sebentar. Wajahmu pucat." pinta Raeviga pada putrinya.
Terdengar helaan napas dari gadis itu. Ia melihat kearah Andreas yang masih berdiri di depannya.
"Setelah itu kita akan kembali kesini kan? aku tak ingin meninggalkan Papa lama-lama"
__ADS_1
"Iya"
Mendengar jawaban Andreas, Sashi menyutujui ajakan Andreas dan beranjak dari kursi yang di tempatinya. Andreas dan Sashi berjalan pergi meninggalkan ruang tunggu. Tangan Andreas menggenggam erat telapak tangan Sashi.
"kamu ingin makan apa?"
"apa saja" jawab Sashi singkat dengan nada suaranya yang terdengar lemah.
"Kita pergi makan di luar ya. Mau steak?"
"Tidak, aku ingin makan di dekat sini. Kita pergi ke kantin saja"
Andreas mengiyakan permintaan Sashi. Sesekali ia melihat kearah kekasihnya gelisah.
****
Pesawat yang dinaiki Arka telah mendarat di Bandara Jakarta. Lelaki itu bersiap untuk turun. Pikirannya kacau. Ia berharap Papanya akan baik-baik saja. Supir pribadi Keluarga Hermawan telah menjemput kepulangan Arka. Pak Jo melambaikan tangannya ketika melihat bayangan Arka dari kejauhan.
"Tuan disini" lambai seorang pria yang tak lagi muda itu. Kerutan di bawah mata dan dahinya. Namun keluarga Hermawan masih tetap memperkerjakannya dengan baik walaupun usianya sudah tak lagi muda.
Arka menyadari keberadaan supir pribadi keluarganya itu. Ia berjalan mendekatinya.
"Pak Jo, apa yang terjadi dengan Papa?" tanya Arka ketika sudah berdiri tepat di depan Supir itu.
"Saya kurang tau tuan. Tuan Dava tiba-tiba jatuh pingsan saat berada di dalam kamarnya. Sampai saat ini saya belum mendapatkan kabar apapun" jawab Pak Jo sembari membuka pintu mobil untuk Arka.
"Antar aku langsung ke Rumah Sakit saja Pak. Aku ingin melihat kondisi Papa"
Pak Jo menganggukkan kepalanya menuruti ucapan Arka. Tak berselang lama, mobil itu segera pergi meninggalkan Bandara.
BERSAMBUNG
Hai Readers,
[jangan tanya kenapa saya baru bisa update sekarang ]
maaf ya udah buat kalian menunggu lama.
Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap bisa menikmati cerita ini dengan baik.
__ADS_1
Buat pembaca yang baik hati bak bidadari dan pangeran keong DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)