
2 minggu berikutnya,
Arka merapikan bajunya sebelum masuk ke ruangan kerja Papanya.
"Pa.."Seru Arka menghampiri Dava yang tengah fokus dengan grafik penjualan perusahaan.
"Rapatnya 10 menit lagi.Apa sekarang kamu siap menggantikan Papa?"tanya Dava sambil menghampiri Arka yang berdiri di depan mejanya.
Arka menganggukkan kepalanya tegas,dengan pakaian formalnya ia terlihat sangat menawan.
"Papa percayakan semuanya kepadamu.." ucap Dava meneruskan perkataannya.
______________________
Di pertengahan rapat, Arka mendapatkan semua pesan singkat dari Sashi. Gadis itu mengatakan jika Angela hari ini akan menjalani operasi kankernya.
Arka memberitahukan kepada Dava, mendengar hal itu, Dava segera memberitahukan kepada Asistennya untuk menyelesaikan rapatnya hari ini.
Arka mengendarai mobilnya bersama Papanya.
"Apa kamu sudah mengetahui hal ini sebelumnya?"tanya Dava sembari mengkhawatirkan keadaan keponakannya itu. Arka mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya kepadaku dan yang lainnya?" tanya Dava sedikit dongkol. Dava sedikit kecewa,karena hal sepenting ini hanya di simpannya sendiri.
" Ini permintaan Kak Angela sendiri Pa.Arka gak bisa mengkhianati janji Arka pada Kak Angela.." ucap Arka berusaha menjelaskan semuanya. Dalam perjalanan Arka menjelaskan semuanya tentang penyakit yang di derita Kakak sepupunya itu.
"Kenapa gadis itu sangat tegar menghadapinya sendiri.."gumam Dava pelan.
___________________________
Di dalam rumah sakit, Arga dan Siska tengah duduk dengan berurai Air mata menatap kearah ruang operasi Angela. Sesekali Siska membenamkan wajahnya dalam pelukan suaminya.
Sashi,Andreas dan Raeviga juga tengah berharap cemas dengan operasi yang sedang berlangsung itu.
Arka datang bersama Papanya. Terlihat Dava langsung menepuk bahu Arga untuk menguatkannya.
"Angela pasti akan baik-baik saja.Percayakan semuanya pada tuhan dan dokter.." ucap Dava menguatkan saudaranya itu.
"Tante,maafin Sashi telah menyembunyikan hal ini sama Om dan tante.." ungkap Sashi sambil berjalan menuju Siska.
"Tidak sayang.Tante tau kalau Angela pasti telah menyuruh kalian diam.." Siska memeluk Sashi.
Operasi berjalan selama hampir satu jam setelah terlihat dokter yang mengoperasi Angela keluar dari ruangan Operasi itu.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Maura cemas.
"Operasi Pengangkatan rahim telah berhasil,sejauh ini belum ada tanda munculnya kanker baru.Namun Angela masih harus dalam pantauan kami.." Dokter itu menjelaskan.
Siska menanggis di pelukan suaminya.Ia kini harus menerima fakta jika Angela tidak bisa memiliki keturunan.
"Baiklah,terima kasih dok.."ucap Arga pada dokter yang menangani putrinya.
__ADS_1
"Bisakah kita menjenguknya sekarang?" tanya Raeviga oada dokter itu.
"Tunggulah 30 menit lagi..Saat ini dia masih dalam pengaruh bius.." ucap Dokter itu sebelum meninggalkan keluarga Dewantara.
30 menit telah berlangsung,mereka masuk ke dalam ruangan Angela bergantian. Karena peraturan rumah sakit yang hanya memperbolehkan pengunjung maksimal 3 Orang.
Arka masuk bersama Sashi,dan Andreas.
Mereka melihat Angela telah sedikit sadar.
"Angela.."seru Sashi sambil meraih telapak tangan saudara sepupunya itu.
"Sashi.."ucap Angela yang masih lemah dan dia tersenyum tipis melihat saudaranya itu.
"Kamu sudah berjuang Kak,kamu sembuh.." Sashi memeluk Angela sangat erat.
"Aku tau,karena aku bukan gadis yang lemah.."ucap Angela sedikit tertawa.
Raeviga,Siska, dan suami mereka mendengarkan ucapan Angela itu dengan perasaan sedih.
"Dia memang gadis kuat.."ungkap Raeviga dan memeluk Siska.
_______________________________
1 bulan kemudian,
Arka masih sibuk dengan pekerjaan di kantornya. Kini tanggung jawab Perusahaan ada bersama Arka. Dava tidak lagi mendedikasikan waktunya dengan perusahaan lagi. Ia kini menikmati hari-hari kencannya bersama Raeviga.
Arka selesai dengan urusan kantornya pulang 9 malam,ia menelpon Marsha namun gadis itu tidak menjawabnya.
Apa aku harus memberikannya besok? Akkh,tidak.Aku tidak ingin Menundanya lagi sejak kemarin.
Kemarin, Arka juga menunda waktunya untuk bertemu Marsha.Dia harus melakukan urusan bisnisnya ke luar kota beberapa hari.
Hari ini,ia tidak ingin menundanya lagi.Lelaki itu mengambil jas yang di sampirkannya dan berjalan menuju pintu keluar. Di dalam perjalanan,Arka masih berusaha menelpon Marsha namun panggilan itu kali ini sedang tidak aktif.
Apa sedang terjadi sesuatu?
Arka sedikit mempercepat laju kendaraannya.10 menit kemudian ia telah sampai di depan gedung Apartement Marsha. Dia segera berjalan menuju tempat Marsha.Dia mengetuk beberapa kali sebelum pintu itu benar-benar terbuka.
"Arka.." seru Marsha melihat Kekasihnya udah berada di depan Apartementnya.
"Apa terjadi sesuatu? sejak tadi aku menelponmu tapi tidak bisa.." keluh Arka pada gadis itu.
"Maafkan aku,sepertinya handphoneku mode silent. Aku tertidur karena sangat lelah hari ini.." kini bergantian Marsha mengeluh tentang kesibukannya hari ini.
"Bolehkan aku masuk.." tanya Arka karena sejak tadi Marsha hanya membiarkannya berdiri di samping pintu.
"Aakkh,baiklah.Tunggu sebentar.." Marsha menutup pintu Apartemennya lagi dan bergegas memberaskan barang-barangnya yang berserakan.
Kenapa dia datang malam-malam.
__ADS_1
Sedangkan di luar sana,Arka mengerutkan keningnya.
"Apa yang sedang dia lakukan di dalam.."keluhnya
Beberapa menit kemudian,Marsha kembali membuka pintu Apartementnya.
"Masuklah.." Marsha membuka pintunya sedikit lebar agar Arka bisa masuk.
"Kenapa sangat lama.Apa kamu sedang menyembunyikan pria disini.." ucapan Arka itu tentu saja membuat Marsha menatap marah kearahnya.
"Apa maksudmu? apa kamu kira aku sedang selingkuh.Menjengkelkan.."Marsha menjauh dari Arka dan duduk kesal di sofa.
Arka tersenyum tipis,ia menghampiri Marsha dan memeluk gadis itu.
"Bukankah aku pria.Jadi benarkan kalau kamu menyembunyikan lelaki saat ini.." Arka tertawa menjelaskan.
"Tidak, bukannya kamu waria?" ejek Marsha sambil meleparkan bantal sofa kearah Arka.
"Benarkah? akan ku tunjukkan kejantananku.Agar kamu percaya aku lelaki asli.." Arka membuat gerakan untuk membuka celana jeans-nya. Marsha dengan cepat menutipi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kamu gila! menyingkirlah.." Marsha menutup rapat-rapat kedua matanya membuat Arka terkekeh geli di buatnya.
Ia mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya dan memandang kearah Marsha yang masih menutupi wajahnya.
"Buka tanganmu,kamu pasti sangat senang melihatnya.." ucap Arka dengan nada yang masih menggoda Marsha.
"Tidak mau.Sialan.Pergilah jika kamu menjadi mesum seperti ini.." umpat Marsha dengan kesal. Bukannya marah,Arka semakin ingin mempermainkan kemarahan Marsha.
"Percaya sama Aku Sha..Ini akan membuatmu senang..." Kali ini Arka sambil menyentuh wajah lengan Marsha dan menggodanya.
"Arka,apa kamu mabuk? kamu sudah gila ya.." pekik Marsha lagi.
Arka membuka telapak tangan Marsha paksa.
"Lihatlah baik-baik.Apa yang sedang kamu pikirkan.." Marsha membuka kedua matanya perlahan.Ia menghela napas lega saat Arka tidak melakukan hal bodoh.
"Apa yang kamu pikirkan.Aku hanya ingin memberikanmu ini..." tunjuk Arka pada kotak cincin yang di pegangnya.
"Atau kamu menginginkan yang lain?" goda Arka lagi penuh selidik.
"Berhentilah menggodaku.."keluh Marsha kesal.
Arka mengeluarkan cincin itu dari tempatnya dan menyematkannya di jari Marsha.
"cantik.."puji Marsha pada cincin yang telah melingkar di jarinya.
"Sha, will you marry me?" Arka kemudian mengubah wajahnya dengan tatapan serius.Ia menatap penuh cinta kepada kekasihnya.Menunggu jawaban Marsha.
Sedetik kemudian,Marsha menganggukkan kepalanya dan memeluk Arka.
"Aku mau.Terima kasih telah mengenalkanku dengan cinta tulusmu.."ungkap Marsha dalam pelukan Arka.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Instagram : @ilyuaml1