
Pantai di malam hari yang terasa dingin namun terlihat sangat indah itu kini sedang di nikmati oleh pasangan yang sedang merayakan hari pernikahan mereka.
"Haruskah kita maen truth or Dare?" tanya Maura kepada pasangan yang terlihat sangat lengket di depannya itu serta pada Axel dan Ibu Dava,Laili.
"kalian main saja,ibu sudah tua untuk bermain seperti itu.."ungkahnya tertawa terkekeh di susul yang lainnya.
"Okey.."seru Dava menyetujui ucapan Maura sembari menatap ke arah Raeviga mencari jawaban dari istrinya.
"Aku ikut saja.."jawab Raeviga kemudian.
"Babe,kamu gimana? ikut kan?"tanya Maura pada Axel yang masih sibuk memanggang.
Axel menoleh dengan seruan istrinya,ia tersenyum kecil menghampiri wanita yang sedang duduk itu sambil membawa sepiring daging barbeque di tangannya.
"Iya beb,aku terserah kamu"ucapnya sambil duduk di sebelah istrinya.
Maura mengangguk senang,ia melihat barbaque yang tersaji di depan mereka dengan menuangkan bumbu extra pedas di atasnya.
"Ini untuk Dare-nya.."seru Maura menambahkan ucapannya.
Raeviga menelan saliva-nya melihat BBQ yang telah tercampur bumbu pedas itu.Lidah gadis itu tidak bisa bersahabat dengan rasa pedas yang terlalu berlebihan seperti ini.
"Kita mulai sekarang?"tanya Maura kepada mereka yang sedang menatapnya.
"Tunggu,kita pakai dadu online ini untuk angka putarannya.."timpal Axel sembari membuka aplikasi dadu kocok yang berada di ponselnya.
"Akhh,benar.."seru Maura menyahut.Pasangan itu sangat antusias dengan permainan yang akan mereka mainkan ini.Sedangkan Dava-Raeviga hanya menatap ke arah mereka memperhatikan setiap pergerakan pasangan yang di depannya itu.
"Start,di mulai dari Dava,Raeviga,Aku,terus kamu ya beb.."ucap Axel dengan menaruh ponselnya di tengah meja.
Laili yang sedang memanggang daging itu tersenyum memperhatikan mereka.
Dava mulai menekan layar Hp Axel dan dadu itu mulai berputar menampilkan titik-titik yang masih berputar.
"Enam.."seru Maura melihat dadu itu menampilkan titik hitam yang berjumlah enam.
"1..2..3..4...5..6.."seru Maura sembari memutar telunjuknya bergantian kepada orang yang duduk mengelilingi meja.Raeviga sudah sangat was-was karena ia sudah tau bahwa dirinya menjadi korban pertama.
"Akhh Raeviga,tepat sasaran.."serunya dengan tertawa senang.
"Truth atau Dare?"tanya Axel kemudian sambil menunjuk ke arah Raeviga yang terdiam memikirkan apa yang akan di ambilnya.
"Akh iya,kalau kamu pilih 'truth' maka yang memutar dadu berkesempatan memberikan pertanyaan.."jelas Maura kepada Raeviga yang sedang menatap Dava.
__ADS_1
"Tr-uthh.."ucapnya dengan ragu sembari menatap ke arah Dava.
Dava menatap Raeviga sambil tersenyum.Tangan kanannya memeluk tubuh Raeviga.
"sebelum aku,apa ada lelaki yang pernah menetap di hatimu?"pertanyaan Dava itu membuat Maura-Axel ikut menunggu penasaran jawaban Raeviga.Gadis itu sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan dari suaminya.Sedangkan wajah Dava sudah menatap lekat ke arahnya.
"Apa cinta monyet saat sekolah juga di hitung?"tanya Raeviga kepada mereka yang mengangguk mengiyakan.
"Astagaa!!"gumamnya gadis itu dalam hati.
"Hanya satu saat kuliah.."jawab Raeviga sambil melirik ke arah Dava melihat ekpresi suaminya setelah mengucapkan perkataannya.
Dava menatap tajam kepada Raeviga yang menyembunyikan wajahnya dari sorot mata dirinya.
"Berapa lama hubungan kalian? kenapa kalian putus? lelaki itu apa masih sering menelponmu? apa kamu masih bertemu dengannya?"pertanyaan beruntun itu keluar dari mulut Dava yang sudah menatapnya dengan ekpresi kecewa.Entah kenapa hatinya sedikit menggila ketika mendengar bahwa dirinya bukanlah cinta pertama Raeviga.
"Dava sedang mengintimidasi sekarang.."canda Axel melihat begitu banyak pertanyaan yang tertuju pada Raeviga.
"Menyenangkan.."timpal Maura sembari memandang pada Raeviga menunggu jawaban.
"Apa ini? apa sekarang kamu sedang mengintrogasi?"keluh Raeviga pada pertanyaan-pertanyaan itu,bahkan sekarang dia lupa apa saja pertanyaan tadi.
"bukan itu jawaban yang aku inginkan.Berapa lama hubungan kalian?"tanya Dava mengulang pertanyaannya membuat Raeviga mendengus kesal.
Laili menghampiri Dava dan memukul bahunya.
Dava tertawa kecil menjawab pertanyaan Mamanya.
"7 bulan.."jawab Raeviga singkat.Dava mengangguk masih menatap ke arah istrinya.
"kenapa putus?"tanyanya lagi
"Entahlah,aku di putuskan secara sepihak.."Dava mengangguk lagi setelah mendengar pertanyaan Raeviga.
"Kalian masih bertemu sampai sekarang?"
Raeviga menghembuskan napasnya frustasi.
Dasar lelaki Pencemburu!
"Bagaimana aku bisa bertemu dengannya lagi setelah aku di putuskan tanpa penjelasan!"ucapnya mendengus kesal.
Lagi-lagi Dava mengangguk mendengarnya.Ia tersenyum kecil melihat wajah malu dan ekpresi kesal Raeviga itu.
__ADS_1
"Sepertinya permainan ini harus berakhir.."ucap Dava sambil berdiri dari duduknya.
Maura-Axel mengangkat alisnya bersamaan mendengar perkataan Dava.
"kenapa?"tanya Axel bingung.
"Aku sudah tidak tahan melihat wajah manisnya.."keluh Dava dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Raeviga yang mendengar itu mendongak menatap Dava yang telah menatapnya dengan senyuman 'pemangsa'.
Astaga,dia sudah gila!
Maura dan Axel tertawa kecil mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dava.
"Akhh,seperti itu.Kurasa malam ini Raeviga harus bersiap-siap menerima serangan.."ucap Axel terkekeh geli.Raeviga melirik tajam seolah ingin menjahit mulut Axel itu agar tak bersuara.
Tanpa meminta persetujuan dari Raeviga,Dava dengan cepat menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke dalam penginapannya.Laili,Axel dan Maura yang menatap keduanya dari jauh tertawa cekikikan melihatnya.
"Dav,turunin.Aku malu.."seru Raeviga dalam genggaman tangan Dava di tubuhnya.
"Enggak buat malam ini sayang.."ucap Dava sembari membuka knock pintu dan mengunciny setelah masuk ke dalam.
Raeviga telah terbaring di atas kasur berukuran lebar itu sambil menatap ke arah Dava dengan gugup.Lelaki itu sedang mematikan lampu kamar mereka dan menggantinya dengan lampu temaram yang telah mendominasi ruangannya.
Dava telah mengunci tubuh Raeviga dengan berada di atas tubuh istrinya sekarang.Raeviga menelan salivanya dengan gugup.
Ini bukan pertama kalinya aku melakukannya tapi kenapa jadi segugup ini.
Dava tersenyum kecil menatap wajah istrinya di bawah lampu yang temaram.
"Aku tidak akan bermain dengan kasar malam ini,jangan gugup.."serunya sembari membelai lembut wajah istrinya.
Raeviga mengangguk kecil dengan memicingkan kedua matanya.Dava melesatkan ciuman menuntutnya di bibir Raeviga.Tangan Dava mulai bermain di daerah intim bagian atas milik Raeviga.
Beberapa menit kemudian,tubuh keduanya sudah terlihat polos tanpa busana.Raeviga memekik kesakitan ketika Dava memulai pergerakannya.
"Bermain dengan lembut katanya,omong kosong!"gumam Raeviga dengan desahan yang melesat keluar dari bibirnya.
Permainan bibir Dava sesekali berpindah pada leher jenjang milik Raeviga.
Udara di pantai malam ini yang terasa dingin membuat pasangan yang tengah meluapkan cinta mereka semakin memperdalam pelukan mereka.
-
__ADS_1
- Maaf ya baru Up sekarang,soalnya tadi siang lagi nonton drama Blood ( drakor lama) dan perasaannya ikut ke bawa sedih :( jadi feel-nya susah dapat buat nulis bab romantis ini soalnya masih ke bawa sedih karena drakor.
BERSAMBUNG