
[JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]
"sayang tubuh tuaku ini sudah tidak melakukan apapun yang membuat lelah
Jadi sangat wajar jika nafsu makanku sedikit berkurang."
"Kecuali jika sebelum makan.." Dava tersenyum menyeringai pada Raeviga.
"Dicium sama kamu.." lanjut Dava dan mendekatkan wajahnya mencium bibir Raeviga.
"Dasar otak mesum.." Raeviga mencubit pinggang Dava kecil membuat pria yang sudah menjadi kakek itu merintih kesakitan.
Episode sebelumnya
Raeviga melangkah pergi ke dalam dapur mengambil sesuatu.
"Sayang, masih aja jual mahal.." goda Dava dari ruang tamu.
"Daripada jual murah.. emang barang kiloan" balasnya dengan nada sedikit tinggi.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah mewah Dava. Mobil milik Andreas yang bersama dengan Sashi di dalam mobil.
"mampir yuk. Mama sama Papa pasti di dalem.." ajak Sashi sembari turun dari mobil Andreas.
"Baiklah, tapi aku tak bisa lama.." Andreas melangkah mendekati Sashi dan berjalan beriringan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Sashi.
"Ma..Paa.. Sashi pulang.." serunya ketika melangkah masuk ke dalam rumah.
"Loh sama nak Andreas juga.." sapa Dava melihat kehadiran Andreas di samping Sashi.
"Mama kemana Pa?" tanya Sashi yang tak melihat Raeviga.
"Di dapur, mama kamu sepertinya sibuk dengan kue yang di buatnya. Kamu liat saja sana.."
"Sekalian bawakan minuman dingin untuk Andreas,Sashi.." pinta Dava lagi.
"Iyaa Pa.."
Sashi berlari memeluk Raeviga yang nampak sibuk meletakkan kue yang di buatnya di dalam oven.
"Mama.." panggilnya anak gadisnya manja.
"Haduh Sashi jangan ganggu mama dulu. Kamu itu ya udah besar juga masih aja kayak anak kecil.." keluhnya, Kedua tangan Raeviga nampak sibuk dengan adonan kue di depannya.
"Ma, di ruang tamu ada Andreas tuh. Mama gak mau nyapa calon mantu mama gitu.." goda Sashi sambil mencicipi beberapa kue yang sudah matang.
__ADS_1
"Isshhh, kamu ya!" Raeviga memukul pelan tangan Sashi yang sejak tadi hanya membantu menghabiskan kue buatan Mamanya itu.
"Jangan di makan sendiri, tuh bawa ke ruang tamu. Buatin juga jus atau minuman segar gitu buat Andreas.." pinta Raeviga pada putrinya.
"Pelit banget sih punya nyokap" gerutunya pelan sembari membuat segelas milkshake untuk Andreas.
Sashi mengambil sebuah nampan kecil dan meletakkan milkshake dan kue buatan Raeviga di tempat itu.
"Aku bawa ya Ma.." ucap gadis itu berjalan ke arah ruang tamu dengan nampan di tangannya.
"Halo tuan-tuan ini makanannya sudah siap.." Sashi meletakkan nampan berisi makanan itu dengan hati-hati di bantu oleh Andreas.
"Bagaimana dengan pekerjaan Perusahaan Andreas? Aku dengar Axel memberikan tanggung jawab yang besar padamu.." tanya Dava membuka sebuah percakapan agar suasana ruangan itu tidak hening.
"Iya Om. Papa sudah memberikan tanggung jawab lebih untuk perusahaan. Namun hingga saat ini saya masih bisa mengatasinya dengan baik.." jawab pria muda itu sambil menikmati milkshake buatan Sashi.
"Oh astaga, bisa tidak jangan membahas masalah perusahaan. Jadi merasa lelah saat mendengarnya.." ungkap Sashi memandangi dua pria yang duduk di hadapannya.
"Kalo begitu kita ganti topik mengenai pernikahan. Kapan kalian rencana menikah?" tanya Raeviga yang sudah berjalan kearah sofa ruang tamu dan duduk di samping Dava.
Andreas memandangi Sashi. Menunggu jawaban gadis itu terlebih dahulu. Jika mengenai pendapatnya, Andreas sudah berencana menikahi gadis itu sejak satu tahun yang lalu.
"Kenapa kamu menatapku?" tanya Sashi saat menyadari Andreas memandanginya.
"Karena dari kamu yang sulit ku ajak nikah.." jawaban Andreas itu sontak membuat Dava dan Raeviga menatap kearah putrinya.
"Bukan begitu Mama. Sashi juga pingin kok menikah tapi tidak ingin secepat ini. Sashi masih ingin menikmati hari-hari Sashi tanpa kehidupan rumah tangga"
"Kamu bisa kan menungguku lagi?" tanya Sashi dengan ekspresi wajahnya memohon persetujuan Andreas.
"Aku akan menunggu hingga kamu siap.." Andreas menatap sayang pada Sashi dengan sikap manjanya.
Sashi berpindah duduk di sofa yang di tempati Andreas dan memeluk pria itu.
"Aku tau kamu pasti akan menungguku.." Sashi tersenyum kecil menatap Andreas.
"Lihatlah Andreas sangat baik menerima alasan kamu. Jika itu Papa pasti sudah mencari wanita lan" ucapan Dava itu membuat Sashi merajuk padanya.
"Papa Ikkh, jangan yang aneh-aneh dong bilangnya. Sashi percaya kok kalau Andreas akan tetap setia sama Sashi. Ya kan sayang?" tanya Sashi pada Andreas.
Andreas mengangguk membenarkan dan mengelus lembut ujung kepala Sashi.
Bagaimana aku bisa pindah ke lain hati jika setiap hari saja aku ingin melihatmu.
"Aku mau pulang dulu ya.Tante,Om saya pamit pulang dulu.." Andreas beranjak dari duduk dan berpamitan kepada kedua orangtua Sashi.
__ADS_1
"Aku antar sampai depan ya.." Sashi meraih telapak tangan Andreas membuat Raeviga dan Dava pasangan anak muda itu.
"Nganter ke depan rumah aja pakai gandengan.." sindir Dava dengan tawa kecilnya.
"Takut hilang Andreasnya Pa.." imbuh Raevig menggoda putrinya.
"Ikhh, syirik banget sih Papa sama Mama.." jawab gadis itu malu dan segera berjalan pergi menuju pintu depan rumahnya bersama Andreas.
"Aku pulang dulu ya..." pamit Andreas sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Iyaa. Hati-hati di jalan.." pinta Sashi pada kekasihnya itu.
Andreas akan membuka pintu mobilnya namun ia mengurungkannya dan berjalan kembali kearah Sashi yang masih menunggunya di depan pintu.
"Kenapa kembali lagi? ada yang ketinggalan?" tanya Sashi bingung dan akan masuk ke dalam rumah untuk mengeceknya.
Tangan Andreas menghalangi Sashi yang akan berbalik arah. Pria itu menatap lekat wajah kekasihnya dan sedetik kemudian mencium lembut bibir gadis itu.
"Ekkhmmm!" deham Dava yang sudah berdiri tak jauh dari tempat Sashi berdiri bersama Raeviga di sampingnya.
Sontak Sashi dan Andreas melepaskan tautan bibirnya. Kedua wajah mereka memerah karena malu karena di lihat oleh Dava dan Raeviga.
"Saya pamit Om, tante.." ucap Andreas dan segera berlari masuk ke dalam mobil. Begitu pula dengan Sashi yang segera masuk ke dalam kamarnya menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
"Kamu nih ganggu orang lagi mesra-mesranya.." ucap Raeviga, wanita itu tertawa kecil melihat apa yang di lakukan Dava.
"Kan cuma becanda, sayang.." Dava memeluk Istrinya dan merapikan rambutnya yang terlihat kusut karena terlalu sibuk dengan kue yang di buatnya.
"Bagaimana aku mampu meninggalkan wanita yang telah mengisi hari-hariku selama ini. Rae, aku berharap kamu selalu bisa tertawa seperti ini walaupun tanpa aku di sisimu. Tetaplah bahagia sayang.." ungkap pria itu tanpa mengucapkan langsung pada Raeviga.
"Ada apa?" tanya Raeviga bingung melihat Dava sejak tadi hanya memandanginya
"Tida ada" Dava mencium kening Raeviga lama dan mendekap tubuh wanita itu dalam pelukannya.
"Selalu tersenyumlah seperti ini. Kamu sudah berhasil mendidik anak-anak kita dengan baik." puji Dava pelan di telinga Raeviga membuat Raeviga tersenyum senang melihatnya.
BERSAMBUNG
Hai readers, maaf ya kalau sering terlambat update. Karena jujur untuk dapat waktu luang untuk menulis aku masih susah untuk mengaturnya. Waktuku banyak terbuang dengan jam kuliah, kerja dan hal-hal kecil seperti urusan keluarga. Jadi kalau mau nulis aku pasti tengah malem atau jam selesai subuh :(
Mohon dimaklumi ya :) terima kasih
Happy reading~
Caramellow
__ADS_1
Instagram : @ilyuaml1