CINTA MALAM PERTAMA

CINTA MALAM PERTAMA
S3 - OPERASI KANKER DAVA


__ADS_3

Di tempat lain, Reni tersenyum licik membayangkan dirinya yang akan bersama Arka suatu saat nanti.


"Aku sudah jatuh cinta denganmu Pak Arka. Aku akan melakukan segala cara untuk mendapatkan anda"


[EPISODE SEBELUMNYA]


Raeviga terlihat tertidur di sebuah kursi di samping ranjang Dava. Di sisi ruangan lainnya terlihat Sashi dan Andreas yang juga nampak tertidur lelap dengan posisi duduk dan kepala yang di sandarkannya pada punggung Sofa.


Andreas terbangun dari tidurnya dan melihat Sashi yang tertidur pulas. Andreas menyampirkan Jas yang dipakainya untuk Sashi. Ia mengusap lembut wajah kekasihnya yang masih tertidur. Andreas melihat kearah ranjang rawat Dava. Namun ia tidak melihat sosok calon mertuanya itu. Hanya ada Raeviga yang tidur bertumpu pada ranjang rawat dan selimut yang telah membalut tubuhnya.


"Kemana Om Dava.." tanya Andreas heran.


Andreas melihat jam di tangannya. Masih pukul 03.45


Langit masih terlihat petang. Matahari belum terbit di langit-langit malam. Andreas berjalan keluar ruangan. Lorong rumah sakit masih nampak sepi. Andreas melihat dua orang perawat yang berjaga di Lantai ruang VIP


"Permisi, apa anda melihat Seorang pria yang di rawat di kamar 101?"


"Maksud anda apa itu tuan Dava?" ucap salah satu perawat pria itu.


"Iyaa benar. Apa dari anda ada yang melihatnya?"


"Tadi kami lihat Tuan Dava masuk ke dalam ruang Auditorium"


"Untuk apa Om Dava kesana?" ucap Andreas bingung.


Bukankah Auditorium hanya tempat untuk pertemuan dan meeting untuk apa Om Dava kesana.


"Dia bilang. Ia ingin berdiam disana beberapa menit"


"Baiklah terima kasih.." Andreas melangkah ke tempat yang telah di katakan oleh Perawat itu. Langkah Andreas telah sampai di depan ruang Auditorium. Ia melihat dari kaca pintu ruangan nampak Dava yang terdiam dengan raut wajahnya yang nampak serius.


Andreas masuk ke dalam ruangan. Dava mengenali sosok lelaki yang membuka pintu ruangan itu. "kemarilah.." pinta Dava.


"Apa yang Om Dava lakukan disini sendiri?" tanya Andreas tak mengerti.

__ADS_1


"Aku hanya ingin merefleksikan diri sejenak. Besok pagi adalah operasiku. Aku sedikit takut dengan beberapa hal yang aku khawatirkan.."


Andreas duduk di samping Dava. Ia seakan bisa merasakan kegelisahan yang sedang Dava rasakan.


"Tenang saja Om. Semuanya akan berjalan lancar. Semua dokter yang menangani operasi telah profesional.." ucap Andreas menenangkan.


Dava terkekeh kecil. Ia menepuk pelan bahu Andreas. "Bukan nyawaku yang aku khawatirkan. Tapi mereka yang selalu berdiri di sampingku. Istriku, anak-anakku, Mamaku jika terjadi sesuatu padaku nanti di ruang Operasi. Bisakah mereka menerima kenyataan pahit itu.."


"Andreas yakin Om Dava bisa sembuh. Banyak orang yang telah mendoakan kesembuhan Om. Dan tentu saja Yang Maha Esa selalu mendengar doa-doa hambanya.." ungkap Andreas berusaha memberikan pemikiran positif kepada Dava.


"Aku sangat mengkhawatirkan mereka, Andreas.."


"Om Dava jangan menyerah. Jangan putus asa.."


"Jika terjadi sesuatu kepadaku nanti. Tolong jaga Sashi. Dan sesekali jenguk lah Raeviga dan Mamaku. Pastikan mereka baik-baik saja. Bisakah kamu melakukannya Andreas?"


Andreas mengangguk mengiyakan. Ini memang sebuah musibah yang tak mudah untuk keluarga Hermawan hadapi.


****


Waktu masih menunjukkan pukul 6 Pagi namun Arka telah bersiap dengan pakaian kerjanya dan bersiap pergi.


Arka menyentuh wajah Marsha dan membenarkan ucapan Marsha. "Aku harus ke kantor sebentar. Ada pertemuan singkat dengan pegawai ku. Setelah itu akan langsung pergi ke Rumah Sakit. Papa operasi hari ini kan?" jelas Arka pada istrinya.


"Iyaa, Operasi hari ini. Aku akan kesana setelah Arsha bangun.."


"Baiklah aku pergi dulu. Bye sayang.." Arka mencium kening istrinya dan berbalik pergi. Namun Marsha menghentikan langkah suaminya dengan menarik ujung Jas yang di pakai Arka.


Arka menoleh melihat istrinya. "Ada apa sayang? kenapa wajahmu tiba-tiba nampak gelisah?"


"Apa..kamu akan menemui...wanita yang menelpon mu semalam?" tanya Marsha gugup. Untuk pertama kalinya Marsha mencurigai Arka memiliki hubungan di belakangnya. Walaupun hal itu seharusnya di singkirkan jauh-jauh dari pikirannya karena Ia yakin Arka sangat mencintainya. Namun rasa penasaran telah membelenggunya.


"Iya sayang. Aku menemuinya karena ada laporan penting perusahaan yang harus di berikan langsung kepadaku. Kamu kenapa? kamu sakit?" tanya Arka lagi khawatir.


"Bisakah kamu tidak menemuinya? aku memiliki firasat buruk tentang itu.."

__ADS_1


"Ada apa? kamu semalam bermimpi buruk?"


"Tidak, tapi kupikir.." Marsha menghentikan ucapannya karena suara dering telepon dari ponsel Arka tiba-tiba.


"Tunggu sebentar, aku akan segera kesana" ucap Arka menjawab telepon penting itu. Telepon dari pegawainya,Reni.


"Sayang, aku harus segera pergi sekarang. Jadi aku juga masih punya waktu untuk ke rumah sakit. Tidak apa kan?"


Mendengar jawaban itu, Marsha nampak kecewa. Namun ia tidak bisa egois kepada suaminya. Marsha hanya perlu mempercayai Arka sebagai kepala rumah tangganya.


"Baiklah, hati-hati. Ingatlah aku selalu mencintaimu.." ungkap Marsha yang membuat Arka beberapa detik tertegun. Sangat jarang bagi Marsha untuk mengatakan kata-kata romantis kepadanya. Wanita ini sangatlah pemalu.


"Aku juga sangat mencintaimu. Jadi kamu harus mengingatnya baik-baik" ucap Arka sambil tersenyum dan berjalan keluar rumah. Mobil yang di kendarai Arka telah melaju bersahut-sahutan dengan kendaraan lainnya.


Marsha menghela nafas berat. Ia terlalu mengkhawatirkan kesetiaan Arka padanya. Telepon Wanita itu semalam telah sukses membuatnya gelisah.


"Aku harap tidak akan badai di rumah tangga kita Arka.."


****


Dava telah masuk ke Ruang Operasi beberapa menit yang lalu. Setelah menggenggam erat tangan Raeviga lama kini mereka harus terpisah. Dava tengah berjuang melawan penyakitnya dan Raeviga yang memohon atas kesembuhannya pada Sang Ilahi.


Sashi menyandarkan kepalanya di bahu Andreas. Meremas kedua tangannya sendiri untuk menghilangkan kegugupan dan rasa gelisahnya saat ini.


"Aku yakin Papa bisa melewatinya.."


Di dalam ruang Operasi. Dokter Bedah telah bersiap di samping Ranjang Dava dan Peralatan penunjang telah siap di sampingnya.


"Tuan Dava, Apa anda telah siap? Saya akan melakukan Anestesi sekarang.." ucap Dokter itu.


"Iyaa dokter, saya siap.." setelah menjawab pertanyaan itu. Semenit kemudian Dava kedua mata Dava nampak berat. Dia terlihat mengantuk dan perlahan mulai kehilangan kesadaran penuh dan beberapa menit setelahnya tangan-tangan medis memulai operasi Pengangkatan kanker otak Dava.


BERSAMBUNG


Hai Readers,

__ADS_1


Terima kasih buat kalian yang sudah setia menunggu cerita ini. Saya menyadari banyak kekurangan dari novel ini tapi saya berharap kalian bisa menikmati cerita ini dengan baik.


Buat pembaca yang baik hati bak bidadari DUKUNG NOVEL INI YUK AGAR BISA MASUK DI RANKING JUMLAH VOTE. (VOTE VOTE VOTE NOVEL INI YA)


__ADS_2