
"Marsha aku khawatir sama Kamu.Aku tidak masalah jika sekarang kamu masih membenciku tapi tolong ikutin saja apa yang ku katakan hari ini..."pinta Arka lagi dengan nada yang sedikit lebih tinggi dari nada bicara Marsha.
Ini adalah hari terakhirku untuk bisa memandang wajahmu yang selalu ku rindukan Marsha.Jadi ku mohon,aku ingin melihat senyum kecilmu itu sebelum aku kembali ke London...
Episode sebelumnya tentang Arka.
_____________________________________
Marsh5a sudah berada di dalam mobil Arka.Gadis itu akhirnya menyerah dan mengikuti apa yang di katakan Arka.
"Sha,aku akan kembali ke London setelah ini.."Ucap Arka yang masih menatap lurus kearah jalanan di depannya.
Marsha menoleh kearah Arka,gadis itu tidak mengatakan apapun setelah Arka mengatakan hal itu.
"Sebelum aku pergi bisakah kesalah pahaman ini di luruskan?"tanya Arka sembari melirik sekilas kearah Marsha.
Marsha masih tidak bersuara.Gadis itu seakan hanya menyimak apa yang di katakan pria di sampingnya.
Mobil Arka sudah masuk ke dalam tempat parkir mobil di Apartemen Marsha.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"tanya Arka lagi,kali ini ia menatap Marsha sepenuhnya setelah memarkirkan mobil miliknya.
"Shaa..."
"Semoga perjalananmu selamat sampai tujuan.."ungkap Marsha sambil membuka pintu mobil di sampingnya.Seolah ia hanya ingin menyampaikan hal itu saja pada Arka.
Arka meraih lengan Marsha,lelaki itu berharap kepulangannya di Indonesia ini bisa memperbaiki hubungannya dengan Marsha.
"Sha,percaya sama aku.."ucap Arka mencoba membujuk kembali Marsha.
"Akan aku pikirkan Ka.Gak semudah itu aku bisa percaya lagi sama kamu.."balas Marsha sembari melepaskan pegangan tangan Arka dari lengannya.
"Tapi saat itu aku tidak ada niatan seperti itu sedikitpun,Sha.."bantah Arka membela dirinya.
"Pulanglah,langit sudah terlihat gelap..."ucap Marsha lagi sembari keluar dari mobil Arka.
"Dan sebenarnya aku tidak membencimu Arka,aku tidak bisa membencimu walaupun aku ingin.Tetapi aku juga masih terlalu sulit untuk memulai hubungan seperti dulu denganmu.Maafkan aku.." Setelah mengatakan hal itu Marsha menutup pintu mobil Arka dan masuk ke dalam lobby Apartemennya tanpa menoleh ke belakang sama sekali.
__ADS_1
"Apakah aku masih ada kesempatan memilikimu,Sha?"gumam Arka dalam hati,terlihat raut wajahnya yang tampak cemas dan kacau.
Di dalam lift menuju unit Apartemennya Marsha tidak bisa lagi menahan air matanya yang sejak tadi ingin merebak keluar.Beberapa kali ia mengusap kedua matanya untuk menghapus air matanya namun tetap saja tangisan itu seolah lolos begitu saja membasahi pipi Marsha.
Di dalam kamarnya Marsha menjatuhkan tubuhnya ke dalam tempat tidur.Ia masih terisak bahkan lebih keras dari saat dirinya berdiri di lift tadi.
"Maaf,aku terlalu takut untuk memulainya lagi Ka..."ucap Marsha lirih.
___________________________
Arka mengendarai mobilnya menuju bandara.Dava dan Raeviga telah menunggu kedatangan anak-anaknya sedari tadi.
"Kenapa mereka lama sekali.Sebentar lagi pesawat akan boarding.."ungkap Raeviga sambil sesekali menggedarkan pandangannya mencari sosok Arka dan Sashi.
"Sebentar aku akan menelponnya.."Dava mengeluarkan ponselnya dan menghubungkan panggilannya dengan Arka.
"Ka,Kamu dimana.Papa sama Mama kamu sudah menunggu di Bandara.Pesawat sebentar lagi akan lepas landas.."seru Dava ketika panggilan itu terhubung dengan Arka.
"Arka sudah dalam perjalanan Pa.Apa Sashi sudah datang juga?"
"Masih belum,Kamu cepatlah datang kesini.Tapi jangan terlalu ngebut Ka,hati-hati di jalan.."pinta Dava sebelum menutup ponselnya.
"Arka sudah dalam perjalanan.Aku akan menelpon Sashi sekarang.."jawab Dava sembari mencari kontak anak perempuannya.
Sama seperti saat menelpon Arka,Dava menanyakan keberadaan Sashi.Setelah beberapa menit mengobrol dengan anak gadisnya,Dava mengakhiri panggilan itu setelah mendapatkan kepastian jika Sashi juga akan menuju ke Bandara.
"Ada apa dengan mereka berdua?"tanya Raeviga masih dengan raut wajah yang nampak khawatir.
"Tenang saja,mereka sudah dewasa.Mungkin ada beberapa hal yang masih ingin mereka selesaikan.Mereka bukan anak-anak lagi sayang.."ucap Dava sembari menatap wajah Raeviga yang masih terlihat cantik bahkan di usia mereka yang tidak muda lagi.
"Rae,kenapa kamu masih sangat cantik?"ungkapan Dava itu seketika membuat Raeviga tersenyum manis mendengarnya.
"Apa kamu sedang ngombal sekarang? Dasar buaya.."balas Raeviga dengan tawa kecil terlukis di bibirnya.
Dava terkekeh geli,lelaki itu merangkul bahu Raeviga yang duduk di sampingnya.Raeviga menyandarkan kepalanya di bahu Dava.
"I love you,my wife.."bisik Dava pelan di samping telinga Raeviga.
__ADS_1
Raeviga mendonggakkan kepalanya menatap Dava.
"Aku juga sangat mencintaimu,pria mesum.."balas Raeviga dengan kekehan kecilnya.
"Astaga,kenapa Mama sama Papa udah kayak pengantin baru saja.."ucap Arka tiba-tiba yang sudah berada di belakang mereka.
Dava dan Raeviga membalikkan tubuh mereka bersamaan mendengar suara Arka di belakang mereka.
"Kamu baik-baik saja kan sayang.Kenapa kalian selalu buat mama khawatir.Jika ada masalah kamu bisa obrolin ke Mama atau Papa..."ucap Raeviga khawatir.
"Iya Ma,Arka baru saja bertemu dengan orang kedua yang sangat spesial bagi Arka.."jawab lelaki itu sambil berjalan ke samping Raeviga.
Spesial? apa kamu sedang mengatakan jika orang spesial itu calon mantu mama?"
Arka menghela napas kecil.
"Arka juga berharap seperti itu.Tapi sepertinya jalan ceritanya akan sedikit berbeda.."ungkap Arka,terlihat ekpresi wajahnya yang terlihat sedih.
Raeviga melihat kesedihan tergambar jelas di wajah putranya.
Astaga, aku benar-benar telah memiliki seorang anak yang telah beranjak dewasa.Bahkan sekarang dia sudah terlibat dengan masalah hati..
Begitu pula dengan Dava yang juga bisa melihat jika anak laki-lakinya terlihat sedih.Namun ia tau jika ia tidak berhak ikut campur jika menyangkut tentang hati atau cinta.Sebagai orang tua ia hanya perlu memberikan masukan apa yang seharusnya memang di sampaikan tanpa menghalangi sedikitpun hubungan keduanya.
"Apa Sashi sudah dalam perjalanan kesini?"tanya Arka mengalihkan pembicaraannya.Ia menyadari jika Orang tuanya kini menatapnya iba.
"Sebentar lagi dia akan datang.."jawab Dava sembari menepuk bahu putranya pelan seolah memberinya energi agar ia tidak rapuh.
"Kamu hanya perlu berusaha Arka.Jangan menyerah jika kamu di tolak sekali.Jika memang pilihanmu telah merasa benar,jangan menyerah dengan sia-sia.." penuturan Dava itu membuat Arka seolah memiliki seseorang yang telah mendukungnya.
"Terima kasih Pa.."ucap Arka sembari memeluk Papanya seperti anak-anak.
Raeviga yang melihat tawa Arka itu sedikit merasa lega.Setidaknya Dava telah membuat Arka sedikit memiliki sedikit energi untuk bangkit dari kegundahan hatinya.
"Ma,Pesawatnya udah boarding?"tanya Sashi tiba-tiba yang melangkah mendekat ke arah orang tuanya dan Arka.
"Apa anak perempuanku juga sedang terlibat masalah hati sekarang?"tanya Raeviga dalam hati melihat Sashi yang juga terlihat sedikit sembab.
__ADS_1
BERSAMBUNG