
[ JANGAN LUPA BUAT FOLLOW AUTHOR]
"Aaaadah..jaaiih.." celoteh Arsha yang seolah membalas ucapan Kakeknya.
Arka dan Marsha ikut tersenyum memperhatikan Arsha yang terlihat bahagia berada di pelukan Kakeknya.
...EPISODE SEBELUMNYA...
"Arsha, udah ayok turun dulu dari gendongan kakek. Tuh kasihan Kakek udah gak kuat.." pinta Arka pada anaknya.
Arsha menggelengkan kepalanya beberapa kali menjawab permintaan Arka. Sesekali gadis kecil itu tersenyum menatap wajah Dava, Kakeknya.
Dava membalas senyum cucu kecilnya itu.
"Kata siapa Kakek gak kuat. Nih otot tangan kakek kekar kayak gini. Ya kan Arsha.." ucap Dava sambil memanjakan Arsha yang terlihat bahagia dalam gendongannya.
Dava mengajak keluar Arsha yang masih dalam gendongannya untuk bermain di halaman rumah.
"Hmm, O..paa..Opaa" celoteh Arsha kesenangan ketika Dava mengajaknya bermain bersama.
Di dapur terlihat Marsha sedang membantu Ibu mertuanya yang terlihat sibuk dengan olahan berbagai hidangan makanan dan camilan di depannya.
"Gimana Marsha, gak kesusahan kan jaga Arsha sendiri?" tanya Raeviga di sela kesibukan mereka di dapur.
"Hmm, Sedikit sih Ma. Arsha kan sekarang udah lancar merangkaknya bahkan udah bisa berdiri sambil pegangan..." jawab Marsha, menjelaskan perkembangan buah hatinya pada sang mertua.
"Kenapa gak pake jasa babysitter aja sih, Nak? kamu takut Arsha kenapa-napa ya kalo pake babysitter?" tanya Raeviga seolah mengetahui kecemasan Marsha.
Marsha mengangguk mengiyakan ucapan Mama Mertuanya. Namun Marsha juga menjelaskan jika tak hanya itu saja alasan ia tidak menggunakan jasa babysitter. Marsha takut jika Putri kecilnya akan lebih dekat dengan pengasuhnya daripada dirinya sendiri.
"Gak semuanya seperti itu, Marsha. Setidaknya dengan adanya pengasuh, pekerjaan rumah tanggamu lebih ringan nantinya.." ucap Raeviga pada Marsha.
"Iya Ma. Tapi kalau saat ini Marsha tidak terlalu membutuhkan pengasuh. Pekerjaan rumah masih bisa di atasi kok,Ma.."
Raeviga tersenyum senang melihat sikap mandiri Marsha.
"Yaudah, Mama ikut tenang kalau Marsha masih bisa ngatasi semuanya..." setelah mengatakan hal itu, Raeviga meminta bantuan Marsha untuk menghubungi keluarga Arga dan Siska untuk bergabung dengan mereka.
...****************...
Sashi terkesima dengan kejutan yang di berikan Andreas untuknya. Cahaya lampu yang berkelip di sekitar mereka dan juga sebuah lagu romatis mengiringi kebersamaan mereka saat ini.
"Dinner Cruise! Ya ampun Kak Andreas sweet banget..." puji Sashi pada pasangannya.
Sashi memeluk lengan Andreas yang berdiri menatap gemerlip bintang di langit malam.
"Kamu suka?" tanya Andreas sambil menatap paras kekasihnya yang elok.
__ADS_1
"Suka, pake banget. Terima kasih, sudah mau menemani hari-hari Sashi sampai saat ini.." ungkap gadis itu dengan senyumnya yang mengembang.
"Terima kasih kembali untuk cintamu yang masih bertahan untukku, sayang.." balas Andreas dan mencium kening kekasihnya lembut.
"Kejutannya masih ada lagi. Liat ke atas langit dan hitung mundur mulai dari 5.." seru Andreas sambil menunjuk kearah langit malam di atas kapal pesiar.
Sashi mengerutkan keningnya, merasa penasaran dengan kejutan lain yang di berikan Andreas untuknya. Namun ia menuruti ucapan Andreas untuk menatap kearah langit dan mulai menghitung mundur.
"5..."
"..4"
"..3"
"...2...1.."
Drruuu.. Tuaar..Tuaarr..
Bunyi petasan warna warni di atas langit membuat Sashi sedikit terkejut. Ia mundur beberapa langkah ketika sebuah petasan meluncur ke udara. Andreas dengan sigap menyangga punggung Sashi agar tidak jatuh.
Andreas dan Sashi menikmati beberapa petasan yang meluncur ke udara. Hingga sebuah petasan terakhir yang meluncur bersamaan dan membentuk sebuah kata
A ❤ S
"Wuaahh" Sashi menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan menoleh kearah Andreas yang telah memandanginya sedari tadi.
Andreas tersenyum senang,ia meraih kedua telapak tangan Sashi dan mengenggamnya.
"Sama seperti kamu Sas. Kamu adalah orang terakhir yang telah membuat hidupku berwarna. Seolah duniaku telah sempurna dengan adanya dirimu. Terima kasih, telah mengizinkanku untuk tetap berada di samping kamu. I love you, babe.." ungkap Andreas penuh perasaan. Ia mencium telapak tangan Sashi dan memeluknya.
"Kamu adalah pria pertama yang kuinginkan menjadi kekasihku. Dan sepertinya pilihanku sangat tepat..." balas Sashi lirih. Di dalam pelukan Andreas, gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya.
"Permisi Kak, Dinner Cruise-nya sudah siap.." seru pelayan restoran yang telah berdiri di belakang Sashi-Andreas.
"Kamu udah laper kan? kita makan dulu yaa.."
Sashi menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Andreas.
Pelayan menunjukkan sebuah tempat yang telah di desain sangat indah dan romantis. Hamparan laut yang menyala biru menjadi pelengkap Dinner romantis mereka.
"Aku suka tempat ini Kak.. Sangat indah, lautnya bersinar biru.." seru Sashi yang masih kagum dengan suasana di sekitarnya.
Andreas tersenyum memandangi wajah Sashi yang terlihat senang.
"Duduklah, pelayan akan menyajikan makanannya.." ucap Andreas sembari menarik kursi sedikit ke belakang untuk Sashi.
Sashi menghampiri Andreas yang masih berdiri di samping kursinya. Sejenak Sashi menatap lembut Andreas, ia sedikit berjinjit dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Andreas.
__ADS_1
Andreas terkesiap dengan ciuman Sashi yang tiba-tiba. Namun perlahan Andreas menikmati moment manis mereka. Desiran ombak dan semilir angin malam telah menjadi saksi keromantisan cinta mereka.
...****************...
Di dalam rumah Dava terlihat seluruh keluarga besar Dewantara telah berkumpul di halaman rumah. Mereka menyiapkan peralatan untuk Pesta Barbeque. Dava, Arga dan Arka menyiapkan semua peralatan memasak sedangkan para wanita terlihat sibuk dengan bahan memasak dan keusilan Arsha.
"Arsha, gak boleh sentuh-sentuh ini ya. Ini bawang, nanti matanya perih..sakit.." ucap Marsha memperingati putri kecilnya.
Namun Marsha yang masih berusia 1 tahun itu tak menggubris ucapan Mamanya. Gadis kecil itu tersenyum memandanginya.
"Arsha sama Papa aja ya.." Arka dengan sigap membawa Arsha menjauh.
"Arsha sayang, sama papa dulu ya. Mama lagi masak.." imbuh Marsha lagi.
Arsha hanya tersenyum menanggapi ucapan Marsha.
"Anak pintar.." puji Arka pada putrinya. Ia menepuk lembut punggung kecil Arsha.
"Sis, kenapa Angela gak ikut?" tanya Raeviga di sela kesibukan mereka mencincang rempah-rempah masakan.
"Angela menghadiri pesta perusahaan dengan William.." jawab Siska singkat.
"Apa mereka.." tebak Raeviga penasaran.
"Aku belum tau,Rae. William sepertinya pria yang baik. Tapi semua itu biar Angela yang memutuskan.." imbuhnya lagi.
Di tempat yang berbeda, Angela nampak anggun dengan gaun modern-glamour berwarna biru pastel dari Versace. Angela berjalan berdampingan bersama William menuju tempat pesta. Beberapa pasang mata memperhatikan keduanya. Mereka terlihat cocok sebagai sepasang kekasih.
"Hai William, you look so handsome today.." seru seorang wanita yang memuji ketampanan William hari ini. William tersenyum kecil menaggapi ucapannya.
"Thank you, you're beautiful too.." balas William menyanjung kecantikan wanita itu.
Angela melepaskan tangannya dari lengan William. Ia terlihat malas mendengar obrolan mereka. Gadis itu akan melangkah pergi namun William dengan sigap kembali mengenggam tangannya.
"Mau kemana?" tanya William pada Angela.
"Terserah aku lah, lepasin.." jawab Angela ketus.
"Kamu marah denganku? apa yang salah?"
"Dasar tidak peka sama sekali.." umpat Angela dalam hati.
"Lepasin, ngobrol aja sana sama wanita cantik itu.." ucap Angela lagi.
William mengernyitkan kedua alisnya bingung. Sedangkan Angela sudah berjalan mendahuluinya di depan.
"Dia kenapa? apa aku telah melakukan hal yang salah." gumam William sendiri.
__ADS_1