
[UDAH FOLLOW AKUN CARAMELLOW? YANG BELUM FOLLOW DULU YA]
"Dokter mengatakan jika darah mama kamu terlalu rendah sehingga membuatnya jatuh pingsan. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik..." jelas Axel sesuai pada Andreas sesuai apa yang disampaikan dokter padanya.
"Syukurlah.." Sashi bernapas lega mendengarnya.
Episode sebelumnya
Sudah lima jam Sashi masih berada di dalam kamar rawat Maura, Mama dari Andreas. Ia duduk di salah satu sofa di samping Andreas. Sashi melihat wajah Andreas nampak lesu dan cemas.
"Sayang, jangan khawatir tante Maura baik-baik saja kok.." bisik Sashi pelan sambil mengenggan tangan Andreas.
Andreas menatap wajah Sashi dan menyandarkan kepalanya di bahu Sashi.
"Jadi gini ya rasanya kalo cowok bersandar di bahu pacarnya.." ucap lelaki itu sambil tersenyum menatap Sashi.
Sashi menyunggingkan bibirnya membalas senyum andreas.
Axel yang duduk di sebelah ranjang Maura terlihat bahagia melihat kedeketan Sashi dan Andreas. Axel melihat kearah Maura yang tertidur dan terlihat pucat dan lemah.
"Lihatlah sayang. Andreas beruntung memiliki Sashi disampingnya.." gumamnya berbisik di telinga Maura.
Axel beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Andreas-Sashi.
"Andreas, kamu istirahatlah di rumah. Biar Papa malam ini yang menjaga mama kamu. Lihatlah Sashi sudah terlihat lelah.." pinta Axel pada putra semata wayangnya.
"Enggak Om. Sashi baik-baik saja kok.."
"Gak apa Sas. Kamu istirahat dulu. Kamu belum makan siang kan?" tebak Axel melihat sejak tadi Sashi hanya memakan satu buah apel pagi tadi.
"Andreas temani Sashi untuk makan siang. Kamu juga istrirahatlah. Kondisi mama kamu sudah stabil jadi jangan terlalu cemas.." pinta Axel lagi. Andreas menuruti ucapan Papanya dan mengajak Sashi untuk makan siang terlebih dahulu.
"Papa yang akan jaga Mama. Besok kita akan kembali lagi.." ucap Andreas pada Sashi.
Sashi mengangguk mengiyakan dan berpamitan terlebih dahulu pada Axel sebelum mengikuti langkah Andreas yang berjalan di depannya.
"Sas, kamu tunggu sini ya. Aku mau ambil mobil dulu.."
"Iya.."
Andreas melangkah pergi menuju tempat parkir. Sashi berdiri tak jauh dari pintu kaca rumah sakit. Tak lama mobil yang di kendarai Andreas berhenti tepat tak jauh dari tempat Sashi menunggu.
Andreas keluar dari dalam mobilnya dan membuka pintu mobil untuk Sashi. Salah satu tangan Andreas telah berada di atas kepala Sashi agar tak terbentur dengan atap mobil.
"Kita mau makan dimana?" tanya Andreas setelah masuk kembali ke dalam mobil
"Restoran biasanya saja.."
Tanpa bertanya lagi kepada Sashi, Andreas melajukan mobilnya dan pergi kearah tempat restoran favorit mereka.
"Kak Andreas, 2 minggu lagi aku akan mengikuti kontes national youth designer competition. Aku sudah mendaftar dan seleksi tahap pertama akan di mulai minggu depan.." Sashi terlihat antusias menjelaskan kompetisi yang akan ia ikuti nanti.
"Bukankah kompetisi ini nantinya akan berkesempatan masuk ke dalam fashion show internasional kan?" Andreas mencoba mengingat-ingat ucapan salah satu rekan kerjanya saat itu.
"Iya benar. Busana yang aku desain nanti akan di tampilan di Paris Fashion Week dan juga berkesempatan kursus di Institusi desain ternama di dunia. Dan masih banyak hadiah lainnya. Bukankah ini sangat perfect ?"
Andreas mengangguk membenarkan. Lelaki itu sekilas melihat senyum bahagia di wajah Sashi. Andreas mengengggam tangan Sashi dan menyemangatinya.
"Aku akan selalu mendukungmu.." seru Andreas menyemangati.
__ADS_1
"Terima kasih. Aku tau kamu pasti akan selalu mendukungku.." balasnya lirih sembari menatap Andreas selama perjalanan.
...****************...
"Tunggu disana. Aku akan segera menjemputmu.." jawab William sebelum panggilan teleponnya dengan Angela terputus.
Setelah obrolannya dengan William selesai, Angela bergegas menganti pakaiannya dan memoleskan sedikit makeup di wajah kuning langsatnya.
Setelah selesai bersiap Angela berjalan menuruni tangga menuju ruang tamu yang berada di lantai dasar. Ia melihat Kedua orang tuanya, Arga dan Siska sedang duduk bersantai di atas sofa menikmagi acara TV siang itu.
"Angela, kamu mau kemana siang-siang begini? ada acara?" tanya Siska yang melihat Angela dengan dress casualnya yang terlihat cantik.
"William mengajak Angela makan siang di luar ma.." jawab gadis itu sembari duduk di samping Arga.
"William? pria dari L.A itu?" tanya Arga mengingat pria yang mengantarkan Angela pulang semalam.
"Iya Papa. Menurut Papa, William baik atau tidak?"
Mendengar jawaban putrinya. Arga melihat Angela penuh selidik.
"Kalian berdua sedang menjalin hubungan? pacaran?"
Angela mengangguk membenarkan dan terlihat canggung ketika mengiyakan ucapan Papanya.
"Sejak kapan?" tanya Arga lagi dengan raut wajah seriusnya.
"Kenapa jadi introgasi gitu sih sayang.." Siska menatap kesal kearah Arga. Ia memberi isyarat kepada suaminya agar tidak terlalu menekan Angela dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Kenapa Ma. Papa memang harus tau. Bagaimana kalo laki-laki itu ternyata hanya memainkan perasaan Angela saja.."
"Papa kok ngomongnya gitu sih. William cowok yang baik kok.." seketika wajah Angela muram mendengar ucapan Arga.
"Angela, Papa sebagai orang tua harus bisa menilai dengan baik calon menantu papa nanti. Bagaimana nanti jika dia hanya mempermainkan perasaanmu saja..." jawab Arga terlihat cemas.
Siska yang duduk di samping suaminya menghela napas kecil. Ia mendekatkan wajahnya di telinga Arga.
"Kamu terlalu protektif pada Angela. Lihatlah dia jadi murung sekarang. Bukankah kamu dulu juga mantan playboy? jadi jangan terlalu mengekangnya sayang.."
Arga menatap kesal kearah istrinya.
"Playboy? sayang kamu kenapa membahas masa lalu.." Arga tak terima dengan ucapan Siska tentangnya.
"Jadi papa dulu playboy ma?" tanya Angela yang mendengar keluhan Arga.
"Papamu ini..."
"Sayang, jangan aneh-aneh.." Arga memotong ucapan Siska.
Siska menyunggingkan bibirnya tersenyum melihat ekspresi Arga yang terlihat kesal.
Berselang beberapa detik, bel rumah mereka berbunyi. Pelayan rumah Arga segera datang membuka pintu untuk tamunya.
"Nak William ya.." sambut Siska melihat seorang lelaki muda dari balik pintu rumahnya yang terbuka.
"Iya tante.."
Angela menghampiri kekasihnya dan mengajaknya untuk masuk ke dalam rumahnya.
Arga yang hanya duduk memperhatikan dari ruang tamu menatap lama kearah William.
__ADS_1
"Saya William Om, tante. Maaf saya datang tanpa memberitahu terlebih dahulu.." ucap lelaki itu sopan.
"Angela sudah bilang kok kalau mau pergi sama kamu." sanggah Siska sambil mempersilahkan William untuk duduk.
Pelayan membawakan minuman dingin untuk William dan beberapa camilan kering.
"Ayo di cicipi William.." ucap Siska lagi.
"Iya tante. Terima kasih" William mengambil gelas minuman di depannya dan akan meminumnya.
"Jadi kamu pacar Angela?" tanya Arga tiba-tiba membuat william tersedak oleh sirup yang sedang di minumnya.
"Papa.." seru Angela penuh penekanan.
William membenarkan posisi duduknya dan melihat kearah kedua orang tua Angela.
"Benar Om. Saya pacar Angela. Saya bersungguh-sungguh menjalani hubungan ini dengan Angela. Dia yang membuat saya memahami perasaan cinta yang sederhana ini. Angela gadis yang sederhana dan perhatian.Saya ingin menjadi bagian dalam hidupnya." William menjelaskan niatnya dengan wajah serius.
"Oke. Aku terima alasan kamu. Tapi ingat aku akan tetap mengawasi kalian. Jika kamu membuat Angela menangis dan sakit hati, aku tidak segan-segan untuk menjauhkan kalian.."
"Iya Om.." Sahutnya menyetujui. William menatap Angela dan tersenyum tipis kearahnya.
"Yaudah Papa, sesi introgasinya selesai. Angela mau keluar sama William dulu.." pamit Angela pada kedua orang tuanya di ikuti William.
"Hati-hati ya sayang.." sahut Siska yang mengantar kepergian mereka hingga halaman depan rumahnya.
Setelah kepergian Angela dan William. Siska menghampiri Arga dan memukul bahu suaminya pelan.
"Dasar, kamu terlalu keras dengan William. Padahal kamu dulu saja juga player. Gak ingat?" keluh Siska pada suaminya.
"Sayang..itu masa lalu.." tatap Arga pada Siska.
"Lalu? walaupun itu masa lalu tetap saja kamu pernah seperti itu. Jadi..."
Arga mendekatkan tubuhnya kearah Siska.
"Jadi apa?hmm?" Arga semakin mendekatkan tubuhnya dan mencium kening istrinya.
"Cukup membicarakan masa lalu atau pembicaraan ini akan berakhir di dalam kamar.." goda Arga pada istrinya.
Siska beranjak dari duduknya dan tersenyum menyirangi kearah Arga.
"Bagaimana jika itu yang aku inginkan.." balas Siska menahan tawanya.
"Jadi kamu mencoba memancingku.." Arga berdiri dari tempat duduknya dan mencoba menyusul Siska yang sudah berjalan mendahuluinya.
BERSAMBUNG NEXT EPISODE
Hai Readers,
Terima kasih buat kalian yang masih menunggu kelanjutan novel ini walaupun saya menyadari masih banyak kekurangan dari cerita ini, ketepatan waktu, dll
Saya berharap kalian bisa memaklumi saya yang masih belajar.
Komentar yang masuk di naskah cerita ini banyak yang mengeluhkan lamanya penerbitan cerita. Maaf ya sudah buat kalian menunggu. Karena kesibukan dan tugas-tugas kampus, saya susah untuk mengatur waktu. Karena kuliah dari beasiswa pemerintah jadi saya memprioritaskan nilai pendidikan saya terlebih dahulu.
Ya kan jadi curhat sesi curhat ini mah..
...Happy Reading guys....
__ADS_1
Salam hangat dariku di hari yang gerah ini.
Jaga kesehatan dan jangan lupa Vote cerita ini biar trending, like juga dan beri masukan di kolom komentar. (pengen nih ngerasain ceritaku masuk rating jumlah vote)